
.
.
.
Dikhianati oleh klannya sendiri, Frederitch Drew Raymond sudah begitu pasrah dengan keadaannya. Seorang vampir memang berusia panjang, kebal terhadap berbagai senjata, namun tidak pada belati kecil berbahan perak yang memiliki sihir penangkal vampir didalamnya.
Sang pangeran ketiga bernasib buruk, terkurung didalam sebuah menara tertinggi di Crave Rose dengan penjagaan yang ketat. Dia memang sengaja dilumpuhkan, dibuat sekarat, kini berada dalam sebuah tabung kaca berisi cairan putih bening. Di sekitar tabung terpasang kabel dan selang yang tersambung oleh sebuah mesin.
“Frederitch Drew Raymond? Pangeran ketiga, yang mereka katakan sebagai pembelot di Crave Rose.” Ucap salah seorang alkemis didalam ruangan ini.
“Benar, dia pangeran berbakat. Sayang malah membelot dari keluarganya sendiri.”
“Oh pantas saja.”
Seorang pria berjubah putih memasuki ruangan itu, dia menatap raga Frederitch didalam tabung “Lukanya bagaimana?” Ucap pria paruh baya itu.
“Professor Dawn.”
“Oh biar kulihat sendiri, sebagai vampir elit penyembuhannya begitu cepat. Pantas saja dia diminta untuk di segel dalam tabung ini.” Ucap sang pria berjubah itu “Kalian sudah memindahkan jantungnya bukan?” Dia berkata kepada dua bawahannya itu.
“Sudah Professor.”
“Baiklah, jangan sampai seorang pun tahu letak jantungnya. Dia akan hidup dengan seluruh kekuatannya jika sampai jantung itu kembali.”
“Laksanakan, Professor.”
Ketiga orang itu tidak tahu, siluet seorang sudah mengawasi mereka secara diam-diam. Dia pun melesat dengan cepat pergi dari ruang menara itu.
***
“Valerin...Valyria... A-ah semo-ga belum terlambat. Cepat pergi dari Dust Bones, Crave Rose akan menyerang Dust Bones.” Kedua iris Valerin membulat sempurna, degup jantungnya terpacu dengan keras, gagang pintu kereta yang hendak diraihnya kini diremat amat kuat.
“Ha...ah...” Valerin menyeimbangkan nafasnya, dada bergerak kembang kempis. Seperti dilanda kepanikan hebat, lantaran mendengar suara pelayan vampirnya berkata didalam benaknya “F...Friday...” Ucap Valerin bergumam dengan lirih.
“Tuan muda, kenapa?” Panacea membuka pintu kereta kuda itu, karena sang tuan tak kunjung keluar. Dia dapati Valerin Grayii sudah pucat pasi dengan kedua mata yang membelalak “Tuan...” Ucap Panacea lagi.
“Pana!” Valerin meraih tangan Panacea, menggengamnya dengan erat “Apa yang Friday katakan sebelum dia pergi?” Kedua iris mata violet Valerin bergetar, seolah dia akan menangis saat itu juga.
“Sampaikan maafku padanya karena tidak menyambut pagi nanti.” Ulang Panacea mengucapkan perkataan sang pelayan berkedok pangeran vampir itu.
Valerin menuruni kereta kudanya, ia pun disambut oleh Cerise sang robot yang bertugas menjadi kusir kereta kuda ini. Valerin menatap Cerise dengan tampang lemahnya, Valerin bahkan terhuyung-huyung jika kedua gadis itu tak langsung memenganginya.
“Tuan muda!” / “Master!” Kedua gadis itu sama-sama berseru.
“Aku baik-baik saja.” Ucap Valerin mencoba menegapkan tubuhnya, dia baru saja tiba di pusat kota. Menemui jalan raya dan tempat yang sama tempo lalu, kini tak hanya Friday yang tidak bersamanya bahkan anak-anak jalanan itu pun tak tampak berkeliaran di pusat kota “Mereka... kemana mereka?” Ucap Valerin lagi.
Panacea mengambil inisiatif, dia meletakkan telapak tangannya pada punggung Valerin memberikan energi sihir kepada sang tuan muda agar staminanya membaik “Tuan muda, duduklah dulu dibangku itu.” Ucap Panacea menunjuk bangku taman yang menghadap air pancur.
“Cerise... maukah menjaga tuan muda? Aku akan bertanya kepada pedagang disekitar sini tentang anak-anak itu.” Panacea mengambil inisiatif lain, dia merasa khawatir dan heran dnegan kondisi Valerin yang tiba-tiba saja memburuk. Apalagi dia melihat tato mawar pada leher Valerin sempat bersinar sama menampaki simbolnya, biasanya tato itu akan tersamarkan jadi wajar jika Valerin tidak tahu “Sesuatu sudah terjadi kepada Frederitch, resiko link memang begitu. Berbagi suka dan duka.” Panacea menatap cemas sang tuan muda.
“Baik, nona Eerie...” Cerise membopong tubuh Valerin menuju bangku taman. Gadis robot itu sangat patuh, dia berjaga disana dnegan waspada.
“Panacea...”
“Iya tuan muda?”
“Maaf merepotkanmu.” Valerin berucap lemas, masih sanggup tersenyum. Ia menyandarkan punggungnya dibangku kayu itu “Jika sudah mendapatkan informasi, segera kemari ya.” Ujar Valerin lagi.
Panacea mengangguk, gadis berpakaian maid wanita itu pun segera berlari kecil menuju pertokoan sekitar. Sementara meninggalkan sang tuan muda bersama robot wanita yang mengklaim sang tuan muda sebagai masternya.
Sepeninggalan Panacea, Valerin menatap sendu pancuran air dari patung guci itu mengucurkan airnya kepada kolam. Perasaanya cemas dan sedih menjadi satu, saat ini Valerin hanya memikirkan Friday aka Frederitch yang pergi tanpa mengatakan padanya “Kesalahanmu adalah meninggalkanku...” Ucap Valerin dengan lirih “Pergi dari Dustbones sebelum Crave Rose menyerang ya? Seharusnya kukatakan ini pada Alphonse... Tapi apakah mereka percaya.” Valerin berkata kepada dirinya sendiri.
Cerise yang berdiri dengan patuh menatap Valerin sesekali berkedip-kedip “Master, apakah master memikirkan pemuda vampir itu?” Ucap Cerise.
“Apakah aku kelihatan seperti itu, Cerise?”
“Tidak tahu, program dalam diriku tidak mengetahui ucapan master.”
Valerin tersenyum hambar “Begitu ya?” Kini Valerin malah berprasangka buruk kepada Frederitch “Apakah kau sengaja pergi, seharusnya sejak awal aku tahu. Kau bahkan sudah memiliki tunangan. Lantas, aku ini siapa untukmu?” Valerin mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku tangan memutih, sepasang iris violetnya sudah berkaca-kaca, sedetik kemudian riak air matanya tumpah ruah.
“Master...” Cerise bingung, hanya saja wajahnya tetap tanpa ekspresi “Apakah master merasakan sakit?” Tanyanya lagi.
Valerin Grayii enggan membalas ucapan Cerise, dia mengabaikannya. Sibuk menitikkan air mata sampai terisak dengan pelan.
“Ini ambillah, kau jelek jika menangis Earl...” Sebuah sapu tangan tampak disodorkan didepannya.
Valerin Grayii menanggah, menatap seorang pria yang tersenyum kepadanya “...Maaf, wajahku tampak memalukan.” Ucap Valerin meraih sapu tangan itu, kemudian mengusap air matanya dengan kasar “Seorang pria tak boleh cengeng, maafkan aku...”
“Kau perempuan, dilihat darimana pun.” Pria itu duduk disebelah Valerin, dia meraih puntung rokok dari saku mantelnya “Kau tak bersama Frederitch?” Ucapnya lagi sambil menghidupkan korek kayu.
Valerin menghela nafas “Menurutmu, jika aku bersama gadis ini apakah aku bersama Friday?” Valerin balik bertanya.
“Viscount Rovana, cibiranmu mirip seorang wanita yang bergosip.” Valerin setidaknya cukup merasakan kesedihannya berkurang “Jadi, kau menguping pembicaraanku bersamanya. Oh, pantas saja kau jadi tahu jenis kelaminku yang sebenarnya. Kebiasaan mengupingmu itu sunggung buruk.” Valerin terkekeh pelan.
“Seperti itulah, aku tak sengaja mendengarnya.”
“Viscount Rovana...”
“Kau bisa memanggilku William, kita sudah saling kenal.” Ucap Viscount Rovana sambil menghembuskan asap rokoknya.
Valerin menunduk sejenak “Maaf, atas ideku. Malah menyakiti perasaanmu mengenai adikmu...” Ucap Valerin dengan lirih.
Viscount Rovana mengusap puncak kepala Valerin Grayii “Kau sudah berbuat hal yang benar Valerin, sekarang bisa kau katakan kenapa menangis? Kemudian siapa gadis yang ada disampingmu itu?” Ucap Viscount Rovana.
“Aku cemas kau akan menertawakan alasanku menangis.” Valerin meringis canggung “Kemudian dia, namanya Cerise. Robot Diablerie yang semalam mencoba menyerangku, tapi tak masalah. Dia sudah baik, aku sudah memperbaikinya.” Valerin berkata dengan suara riangnya.
Panacea baru saja tiba, dia menghampiri sang tuan yang duduk bersama Viscount Rovana “Selamat pagi, Viscount Rovana.” Sapa Panacea.
“Oh, setidaknya kau bersama Panacea Eerie.”
Rambut hitam Valerin Grayii bergerak lembut saat angin pagi bertiup, rambut pendek itu sedikit berantakan. Sementara sang empunya rambut memandang dengan lurus dari kedua iris violet cantiknya “Cerise, tugas pertamamu.” Valerin Grayii berucap dengan nada yang dingin.
“Baik Master...”
“Didepanku, kejar seorang pria berjubah yang sekarang sedang berjalan berbelok kearah timur. Tepat di perempatan gang yang sempit. Tangkap hidup-hidup.” Ujar Valerin Grayii memerintahkan Cerise.
Gadis robot Diablerie itu mengangguk patuh, seperti perkataan Panacea. Dia bergerak dengan cepat dan lincah mengejar pria itu.
“Tuan muda, Panacea ingin mengatakan jika beberapa anak itu sudah dibawa kembali oleh pemiliknya...”
“...aku tahu...” Ucap Valerin dengan singkat, ternyata gadis berpakaian necis ini sudah menyadari pria itu. Sejak pertemuannya tempo lalu direstoran, dia sadar sudah diawasi oleh pria itu “Mereka, dipaksa bekerja sebagai budak. Bekerja dijalanan, salah seorang anak yang mengadahkan tangan kepadaku sempat kuabaikan. Dari sana aku sudah menyadari raut wajah kesalnya, dia semakin kesal saat aku mengajak anak-anak itu makan bersama daripada memberikannya uang.” Valerin menjelaskan dugaannya “Bahkan sejak sampai di pusat kota, dia sudah mengawasiku. Mungkin, dia akan sengaja menggunakan anak-anak itu kemari namun sayang aku sudah menatapnya secara langsung yang berarti aku sudah menyadari rencananya.” Ucap Valerin lagi.
“Tuan muda memang hebat.” Puji Panacea.
Viscount Rovana bersiul “Wow... Bahkan hanya menatap saja kau bisa tahu?”
Valerin Grayii menggeleng “Masih dugaan, makanya aku meminta Cerise menangkap pria itu untuk bertanya langsung.” Kata Valerin lagi.
Selang tak berapa lama, Cerise dengan tampak datarnya membawa pria itu yang sudah babak belur dan memohon ampun “Master, Cerise berhasil menangkapnya.”Ucap gadis itu.
“Dimana mereka?” Ucap Valerin Grayii tanpa basa-basi.
“A-ampun tuan, ampun... mereka sudah dijual oleh Earl Bethan.”
Baik Valerin, Panacea dan Viscount Rovana sendiri tersontak kaget. Mereka sama-sama menatap tak percaya, jelas saja ini sudah keterlaluan.
Plakkk—Valerin yang geram menampar pria itu sampai tersungkur jatuh “MEREKA! MANUSIA!” Teriak Valerin dengan deru nafas menggebu-gebu, Valerin Grayii tak pernah seemosional ini.
Panacea melebarkan kedua matanya tak percaya “Tuan muda tenanglah...” Panacea memengangi pundak sang tuan.
“Tch.” Valerin mendecih “William. Kau kenal anggota kepolisian atau apalah disini?” Tanya Valerin.
“Tak perlu repot-repot, perdagangan budak ilegal di Dust Bones. Lihat, beberapa polisi kerajaan sudah ada kemari.” Ucap Viscount Rovana, dia menatap Valerin Grayii sejenak “Anak jenius, tanggung dan berani. Berbanding terbalik dengan Valerin yang asli.” Ia tersenyum kecil.
“Earl Grayii, tak disangka bertemu kembali disini! Lama tak berjumpa Earl.” Seorang komandan polisi kerajaan mengenalinya “Oh, orang ini memang buron kasus perdagangan budak. Anda membantu, Earl...” Ucapnya lagi.
Valerin Grayii tak kenal komandan polisi kerajaan ini “Siapa Earl Bethan itu?” Tanya Valerin tanpa berbasa-basi.
“Ah...” Pria itu juga terkejut dengan sikap ramah Valerin Grayii yang berbeda menurutnya.
Viscount Rovana menengahi “Eh, hai Ed! Lama tak berjumpa, yah... kau tahu, Earl Grayii mengalami kecelakaan kepalanya terbentur dan kakinya seperti yang kau lihat.” Viscount Rovana merangkul Valerin Grayii dengan sengaja.
“Oh, maafkan Earl. Baiklah, Komandan Polisi Kerajaan Dust Bones. Edward Sirius.” Pria itu mengenalkan dirinya “Earl Bethan itu, seorang penguasa di perbatasan. Sayangnya, wilayah itu kebal akan hukum dari Dustbones maupun CraveRose. Budak-budak yang sudah dijual tak dapat kami bebaskan.”
“Anak-anak. Mereka manusia.” Ralat Valerin Grayii dengan raut kesalnya.
Edward Sirius tersenyum ramah “Seperti kata adikku, Valerin Grayii memang orang yang memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi.” Ucapnya lagi.
“Oh, hanya aku saja yang memiliki rasa kemanusiaan ya?” Entah kenapa, Valerin Grayii hari ini lebih emosional. Padahal biasanya dia akan tenang dan pendiam, kali ini dia meledak-ledak dengan mudah.
Viscount Rovana terkekeh canggung “S-sudah ya Ed! Kami masih memiliki misi, selamat pagi.” Ucap Viscount Rovana secara paksa menarik pergelangan tangan Valerin Grayii menjauh dari kelompok kepolisian kerajaan itu.
.
.
.