Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Episode 27




.


.


.


 


“Serius?!” Viscount Rovana menatap Valerin Grayii dengan kesal “Kau sangat aneh hari ini, kenapa denganmu Valerin?” Ucap Viscount Rovana dengan lantang.


“Master...”


“Tuan muda...”


Valerin Grayii menghela nafas dengan panjang “Friday pergi tanpa berpamitan, kemudian dia mengirim pesan melalui telepati katanya Cepat pergi dari Dust Bones, Crave Rose akan menyerang Dust Bones.” Ucap Valerin kepada Viscount Rovana “Kau tak percaya bukan? Aku nyaris gila memikirkan ini seharian, maaf atas sikapku yang merepotkanmu William.” Valerin Grayii mendudukkan dirinya pada sebuah sofa didalam restoran yang saat ini mereka singgahi.


Panacea dan Cerise yang saling bertatapan hanya bisa berdiri menunggui tuannya itu.


“Frederitch itu...” Viscount Rovana memainkan ujung cangkir berisi seduhan kopi panasnya “Tak memihak Dustbones dan juga CraveRose. Sejak dulu di akademik, dia memang seperti itu. Jelas jika dia mengkhawatirkan keselamatanmu, aku percaya ucapanmu Valerin.”


“Lagipula...” Valerin menyandarkan tubuhnya pada sebuah sofa di cafe ini, menghela nafas kesekian kalinya “Aku tak bisa menyusul kesana. DustBones akan melarang sebaliknya Crave Rose pun begitu.”


“Bisa jika kau mendapat bantuan dari perbatasan ataupun misi ke perbatasan.”


Valerin Grayii tergelak tawa “Setelah tahu mereka membeli budak? Kurasa tuan penguasa perbatasan tak seramah pemikiranku.” Tawanya sangat hambar, Valerin Grayii banyak memiliki masalah dipikiran dan diperasaannya.


“Memang...” Viscount Rovana menegak kopinya “Setidaknya kau bisa menjangkau Frederitch.”


Valerin Grayii dengan sepasang iris violetnya menatap Viscount Rovana yang duduk dihadapannya “Siapa Lady Rhea Bethan itu?” Raut wajah Valerin Grayii serius, tajam dan memicingkan kedua matanya.


Viscount Rovana bergidik “Kudengar begitu...” Dia menggaruk pipinya yang tak gatal sesekali melirik Panacea Eerie yang berdiri disebelahnya “Panacea Eerie, apakah –tuan- mu tak tahu soal ini?” Ucapnya sedikit berbisik.


“Tidak, Viscount Rovana Eerie...” Panacea menghela nafas kecil.


“Begini Val, Frederitch itu seorang pangeran ketiga di kerajaan Crave Rose. Kau tahu sendiri bukan? Tradisi, perjodohan dan tahta. Dia terikat dengan semua itu, Frederitch ini sejak dulu menjadi vampir yang berbeda...”


“Berbeda?” Valerin Grayii tertarik dengan pembahasan Viscount Rovana.


Pria bergelar Viscount itu mengangguk “Benar, dia dan Earl Grayii sahabat sejati. Kerap berdampingan bersama untuk keyakinan mereka. Frederitch yang tertarik dengan kehidupan manusia dan Valerin yang tertarik dengan dunia vampir bukan hanya itu, seluruh hal magis dia menyukainya.” Viscount Rovana meraih cangkir berisi cairan hitam bening yang mengepul hangat “Valerin Grayii yang kutahu orang jenius yang menarik perhatian kedua kerajaan besar didunia ini. Sekaligus dua ras yang saling bermusuhan, setelah tiga tahun lalu pelantikan Alphonse berbarengan dengan pelantikan si raja terbaru Crave Rose bersamaan dengan Valerin Grayii dan si pangeran Frederitch yang menghilang.” Viscount Rovana menatap wajah cantik Valerin Grayii yang menatap tak percaya “Kenapa Frederitch sangat mudah berkeliaran di Dust Bones? Karena Valerin Grayii sangat disayangi Ratu terdahulu, kau salah satu yang kebal terhadap hukum di Dust Bones. Kurasa baik Ratu Alexandria dan Alphonse sama-sama memiliki minat terhadapmu, kakakmu dan kau sendiri.” Viscount Rovana berkata panjang lebar.


“Oh, kalau Lady Bethan itu. Dia sudah dijodohkan sejak kecil dengan Frederitch. Tidak salah, saat menginjak usia dewasa mereka harus segera menikah. Tapi beruntung, selama Putri Primavera belum menikah. Pernikahan Frederitch dan Lady Bethan sendiri belum bisa berlangsung...” Viscount Rovana tersenyum simpul melihat reaksi dari seorang Valerin Grayii “Wajahmu memang sama dengan Valerin Grayii, kau belum mengatakan namamu yang sebenarnya Val—“ Viscount Rovana terperanjat, membelalak kedua matanya.


“Selamat siang, permisi.” Valerin Grayii langsung beranjak berdiri. Tak ada raut wajah bersahabat lagi dari seorang Valerin Grayii, tak pula senyuman manis dan indahnya “Terimakasih atas informasinya...” Begitulah Valerin Grayii, tanpa berekspresi. Dia cepat merubah-ubah raut wajahnya. Sulit ditebak dan bertindak tanpa diduga.


Viscount Rovana langsung meraih pergelangan tangan Valerin Grayii “Tunggu, kau belum jawab pertanyaanku?” Viscount Rovana termaksud nekat, tak memperdulikan pengabaian Valerin Grayii.


“Untuk apa kau bertanya hal yang sudah jelas?! Aku Valerin Grayii, Earl Grayii of Hortensiaburg.” Ah, sepasang iris violet itu menusuk dengan tajam. Menyeringai tipis seperti iblis kecil yang menemukan pemujanya. Valerin Grayii menarik kasar kerah mantel Viscount Rovana “Kau... beruntung kuanggap teman.” Ancam Valerin Grayii berbisik ke daun telinga Viscount Rovana dengan kekehan meledeknya.


Viscount Rovana seharusnya berhati-hati dengan Valerin Grayii bukan karena vampir elit yang terus bersamanya, seorang gadis dengan ilmu sihir hitam yang tinggi sebagai pelayan wanitanya ataupun robot wanita yang memiliki kekuatan jauh dari kata normal. Melainkan, Valerin Grayii sendiri.


“Sampai jumpa lagi.” Dengan senyuman, Valerin Grayii melepaskan pegangannya pada kerah pakaian Viscount Rovana.


***


Dendam, mungkin itulah yang membawanya kemari. Rasa cintanya yang besar terhadap seorang kakak, Valerin Grayii sudah tahu untuk siapa pembalasan dendamnya ini berakhir. Pada sebuah langit kelam dengan sang dewi malam yang bersinar terang. Ruangan dengan penerangan lilin yang temaram, sesekali bergerak samar karena angin yang berhembus melalui jendela ruangan yang terbuka.


Seorang gadis berperangai kecil duduk dihadapan sebuah canvas. Sepasang tangan kecilnya menari dengan cepat, melukis semua siluet dari canvas itu.


“...Seharusnya aku tahu.” Gumam kecil dari bibir ranum berwarna merah itu “Sewaktu-waktu aku juga akan menggunakanmu, betapa kejamnya aku.” Valerin Grayii dengan gaun tidur putih polos sayangnya sudah penuh dengan noda cat warna disebagian gaun tidurnya “Kau... milikku.” Raut datar Valerin Grayii menatap lukisan dari canvas yang sudah dilukisnya sejak berjam-jam yang lalu.


Surai hitam pendek seperti model lelaki, turut gerak halus saat angin lagi-lagi berhembus pelan “Sudah seminggu ya?” Valerin Grayii dengan kedua tangan penuh akan cat malah memeluk kosong dirinya sendiri, merasa rindu akan seseorang.


Valerin Grayii sudah seperti itu sejak tujuh hari yang lalu, dia hanya berdiam diri di manor dengan menyibukkan dirinya melukis apapun yang ia inginkan. Ruang kerjanya sudah penuh dengan canvas-canvas yang berserakan “Aku lelah...” Valerin Grayii menyentuh gambar lukisannya. Lukisan seorang pria bersurai emas yang tampak tidur dengan setangkai mawar merah di genggamannya. Valerin Grayii menatapnya dengan sayu, mengingatnya dengan sendu sementara tangan berlumuran cat berbagai warna itu menyentuh potret lukisan. Membelai lukisan tanpa sang model dengan begitu lembut “Kembali... Haruskah aku menjemputmu? Aku memanggil namamu, Frederitch...” Selayaknya membelai objek hidup, Valerin Grayii mengecup lukisan itu.


Deg... Deg...


Kedua mata Valerin menerjab, seolah mendengar detak jantung seseorang yang juga memanggil namanya “Frederitch?” Valerin menoleh kehampaan ruangannya ini.


“Tuan muda?” Panacea terpaksa membuka pintu ruang kerja Valerin Grayii dengan kunci cadangan, ia khawatir akan kondisi sang tuan muda yang tak kunjung keluar kamar.


“Tuan muda, anda tidak apa-apa?” Panacea menghampiri tubuh kecil itu, dia menyentuh pundak sempit Valerin Grayii.


“Sebagai seorang link dari Pangeran Frederitch, anda bisa merasakannya tapi jangan menyiksa diri anda tuan muda.” Panacea berucap iba.


.


.


.


.


.