
Tok...tok...
“Yang Mulia.” Ucap Ellis sambil membuka pintu.
“Ellis, dari mana saja? Seluruh pelayan yang kukerahkan mencarimu sia-sia.”
“Ellis...” Suara itu muncul dari balik ruangan yang menampaki dirinya yang hanya ditutupi handuk dibagian bawahnya. Hal sewajarnya jika Ellis memang lelaki, melihat tubuh kekar yang terbentuk dari tuannya itu membuat wajahnya memerah dan segera membalikkan tubuhnya .
“Err… Bisakah kau pakai baju dulu Yang Mulia.”
Pria berparas tajam dan tampan itu menaikkan sebelah alisnya “Eh … Ellis kan laki-laki seharusnya santai saja?” Alphonse berucap dengan jahil sambil berjalan kearah meja kerjanya yang luas dan megah, Disekelilingnya berjejer susunan buku yang tertata rapi di lemari-lemari mahoni .
“Ellis…bisakah kau kesini sebentar”
Ellis mendekatkan tubuhnya walaupun rasa gemetar terasa begitu kuat, Apalagi pria itu tidak memakai satu helai baju pun kecuali handuk yang melilit bagian bawahnya.
“Ellis cek beberapa berkas disana mengenai tatanan kerajaan, Aku ingin setelah ini kau pergi ke Hortensiaburg dan menghadap Jenderal Cyprus katakan padanya jika aku sedang dalam tugas kemudian berikan dia gulungan isi laporan perencanaan benteng disana.” Kedua mata itu tak menatap Ellis dan sibuk pada pikirannya.
“Ellis?”
“I-iya Yang Mulia?”
“Apa kau demam? Wajahmu merah.” Alphonse nyaris menyentuh dahi Ellis. Tapi Ellis malah menepisnya sampai mendorong tubuh Alphonse.
Namun sayang, Kakinya yang masih basah itu terpeleset oleh karpet dan terbanting bersamaan tubuh Ellis yang lebih kecil darinya. Ia menahan tubuhnya agar tak terhimpit oleh kedua tangannya yang kekar .
Kedua mata itu bertemu, terhanyut pada pandangan yang sama . Terdiam oleh detak jantung masing-masing sehingga hirup udara mereka yang mulai selaras beriringan menghembus. Alphonse baru sadar jika Ellis begitu indah ditatap pada jarak yang begitu dekat .
“Yang Mulia” Kedua pipi Ellis memerah terlihat begitu menggemaskan.
“handukmu terlepas” Kini kedua wajahnya yang memerah ditutupi oleh kedua tangan mungilnya .
“ Ha? Kenapa memangnya bukannya kau juga punya?” Ellis benar-benar tidak tahan dan mendorong tubuh Alponse menjauh darinya .
“Bukan begitu bodoh ?” Gerutu Ellis. Kemudian terdiam, teringat akan ucapan Friday beberapa waktu lalu. Kemudian kepalanya berdenyut kembali.
“Ellis?” Dipanggilnya sosok yang terdiam dan mematung itu. Alponse berusaha mengintip raut wajah yang terlukis darinya. Matanya memerah sembab dan kedua pipinya memerah belum lagi bibir merah ranum itu memaju kedepan.
“Permisi Yang Mulia...” Ellis bergegas keluar dari ruangannya seraya membawa gulungan itu.
Sebelumnya...
“Ah, nostalgia rasanya...”
“Apa maksudmu?”
“Tidak, hanya kau...”
“Aku?”
“Baiklah, akan kuceritakan siapa Valerin Grayii ini.” Pria bersurai pirang itu menatap Ellis dengan serius.
“Seorang Earl dari Hortensiaburg, Avicenna yang menangani Obscure, salah satu anggota paladin of Dust Bones. Kukatakan semua yang kutahu, Valerin berusaha menghentikan obscure hingga mengorbankan dirinya, kekayaannya, keluarganya dan rekannya. Valerin bukan pengkhianat seperti yang mereka kira, tapi seseorang membuat Valerin tampak seperti itu...” Pria bersurai pirang panjang itu berdiri, kemudian menyentuh puncak kepala Ellis “Hm, seseorang melakukan hal yang sama sepertiku dulu.”
Ellis menepis tangannya “Kau kenapa?” Ujarnya dengan kesal.
“Oi Ksatria galak” Friday melemparkan sebuah kunci kepada Ellis “Jika kau masih beruntung, kau bisa menuju sebuah pabrik keluarga Grayii. Oh, ini letak pabrik itu.” Friday meletakkan secarik kertas diatas meja Ellis.
“Kau harus melihat sesuatu yang mungkin saja kau lupakan Ellis.” Ujar Friday kemudian langsung melompat dari jendela itu.
.
.
.
Ellis gampang penasaran dan ia cukup kesal akan hal itu, kuda yang dipacunya sejak siang terjal dalam perjalanan hingga menjelang sore. Kedua mata emas Ellis terperangah menatap, lahan luas yang kosong hanya ditumbuhi bunga-bunga Hortensia berwarna ungu.
Disana, hanya didirikan sebuah tenda markas dadakan Dust Bones dengan sebuah bendera resmi dari Dust Bones.
“Tuan Francieli...” Salah seorang prajurit junior mendatanginya. Kemudian dengan baik hati membawa kuda Ellis ke kandangan kuda lainnya.
“Terimakasih... eh, namamu?” Tanya Ellis sembari tersenyum.
“Mario tuan Francieli, sungguh kehormatan bisa berbincang dengan Ajudan Yang Mulia.”
Ellis menggeleng “Bukan apapun... Oh, iya kau prajurit junior kenapa bisa berada diluar istana? Bukannya kalian hanya bertugas di istana ya?”
“Ah begini tuan, saya sempat tinggal cukup lama bersama Earl Grayii hingga diadopsi oleh keluarga Sirius.” Jelasnya.
“Oh, begitu...” Ellis pun berjalan lebih dulu “Aku akan menemui Jenderal Cyprus, senang mengenalmu Mario...” Ucap Ellis juga.
Tangan Ellis menepikan tirai pada tenda tersebut, kemudian masuk kedalam tenda “Paman Cyprus!” Seru Ellis tak lupa memberikan gulungan yang dipinta oleh Sang Raja.
“Ellis!”
“Kenapa paman di Hortensiaburg? Bukan diperbatasan?”
“Tanyakan pada Mathias yang tiba-tiba saja menukar pasukannya kesana.” Kekeh kecil Noah Cyprus.
“Apakah ini Hortensiaburg? Sepi sekali, penduduk juga jarang tinggal diwilayah ini, oh kalau kediaman Earl Grayii dimana?”
Noah Cyrus beranjak berdiri sambil membuka tirai yang lain “Lahan kosong dengan puing-puing bekas bangunan itu merupakan kediamannya.” Ujar Noah Cyprus seraya menunjuk puing-puing bangunan itu.
Aroma teh chamomile, manis pie lemon, suara gemersik daun, hingga mekar-mekar hortensia yang bisa Ellis ingat dengan samar.
“Kau mampu melaluinya Val, lebih mampu dari yang kau kira...”
“Aku mencintaimu...”
Brakkhhhh?! Ellis menggebrak meja kecil didalam tenda tersebut, kedua matanya membulat dan bergetar samar-samar. Ellis mengingat hal samar seperti pernah dilaluinya.
“Ellis, kenapa?” Noah Cyprus panik melihat tingkah Ellis yang mendadak berubah itu.
“Ah bukan apapun paman, maaf Ellis ingin mencari udara keluar sejenak.” Dengan senyum sumringan Ellis buru-buru keluar dari tenda itu.