Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Episode 4




Happy reading


.


.


.


 


 


“Tch, menjijikkan. Benar-benar menyebalkan...”Ujar Valyria sambil mengeraskan rahangnya, kehidupan seperti ini.


“Menyedihkan, hidup susah itu menyedihkan...”Gumam Valyria dengan lirihnya.


Valyria memijit kepalanya yang pening sendiri, akibat tak tidur baru terasa saat ini. Dasar insomnia, dia bermusuhan dengan hal itu. Suntuk dipagi hari, cerah dimalam hari “Apakah aku ini vampir? Kenapa jam tidurku berantakan sekali.”Gumam Valyria meruntuki dirinya.


Saat berbalik, Valyria berjalan melalui koridor gedung universitasnya. Dia berjalan dengan tenang dengan raut wajah yang tenang pula, biarpun kepalanya terasa pening akibat kurang tidur. Sepasang mata Violet Valyria melihat Tarra yang berlari dengan secarik kertas yang dibawanya. Gadis berjilbab merah muda itu tersenyum sumringan.


“Ini lihat! Pelelangan lukisan. Kau ratunya urusan ini, ayo ikut.”


Rupanya sepasang iris violet itu tertarik menatap secarik kertas brosur pelelangan lukisan ini “A-Amsterdam?”Kedua matanya melotot, nyaris melongo tak percaya.


“Ah sudahlah, masalah itu urusanku. Kebetulan acara ini Tante Tasya staff panitia penyelenggara.”Tarra senyum dengan ceria, dia menggegam tangan sahabatnya itu. Tarra teman terbaik yang Valyria punya. Satu-satunya orang yang Valyria percaya selain sang kakak.


“Terimakasih...”


“Oky doky, ayo aku anter pulang.”Diraih tangan Valyria bersamanya. Mereka menuju parkiran, dengan suka hati Tarra menjadi supir ekslusif untuk teman manisnya ini. Valyria Soga Kinaru.


Jika Valyria boleh berkata dengan jujur, dia menginginkan kehidupan masa lalunya kembali. Menatap langit disiang hari, warna cerah dan biru. Panas boleh saja terik, namun dia menyukai setiap rasa hangat itu menyapu dingin perasaannya. Valyria yang dibonceng oleh sepeda motor Tarra hanya bisa diam, menikmati hiruk pikuk macet dan klakson kendaraan yang berlomba-lomba berbunyi. Hidup damai seperti biasanya. Benak Valyria selalu berpikir demikian.


“Terimakasih Tarra, sudah mengantarku pulang.”Valyria memberikan helm itu kepada Tarra. Begitu baiknya Tarra ini kepadanya, sampai terkadang Valyria harus berkata dengan sungkan.


“Santai aja, eh... ada mobil didepan kontrakanmu. Apa paman dan bibimu datang?”


Valyria menengok, mobil itu memang terparkir disana. Pada teras rumah kontrakan yang tak seberapa itu, sepasang suami isteri itu menunggu disana “Tarra pulanglah, besok akan kuhubungi lagi.”Suruh Valyria, dia tak ingin teman baiknya itu melihat interaksi buruk dengan walinya ini.


Tarra mengangguk, dia kembali menghidupkan motornya kemudian melesat untuk pulang. Biarpun Tarra sempat khawatir, tapi kedua iris violet cantik Valyria begitu tangguh. Hal itu yang membuatnya sedikit lega.


Valyria, menatap dengan jengah. Percuma saja menolak, besok dan besok harinya lagi mereka akan tetap memaksa “Baiklah, aku akan kembali kerumah itu besok.”Valyria berucap sembari membuka pintu rumah kontrakannya, apakah Valyria akan menjamu paman dan bibinya itu? Tidak, dia tak berrencana semanis itu.


“Nah begitu, besok kami akan menjem—“


Brakh. Pintu itu ditutup dengan sangat tak lembut, biarkanlah. Valyria segera mengunci pintunya. Membiarkan kedua pasangan suami isteri itu mengomelinya, Valyria menutup kedua telinganya dengan tangan lentik kering itu. Tak ingin mendengar, menolak untuk tahu ucapan mereka yang tak berkenan dihatinya.


Valyria tertunduk, dia bukan gadis yang cengeng. Valyria hanya tak mau apapun lagi untuk kehidupannya, dia tahu semua orang akan mengincar kekayaan mendiam orang tuanya. Termaksudlah walinya ini, Valyria merasa sudah sepi. Dia mengintip melalui jendela, kedua pasangan suami isteri itu sudah pergi. Valyria menghela nafas lega.


Dia berjalan kearah kamar, sempat menatap kunci yang sempat diberikan kepadanya oleh orang misterius itu “Kenapa, aku lelah untuk mencari tahunya.”Ujar Valyria walaupun meraih kunci itu dan digenggam bersamanya.


Valyria, duduk ditepian ranjang kasur bututnya. Nyaris tak lembut lagi. Disana buku sang kakak ada diatasnya, masih dengan secarik surat-surat yang berserakan. Namun Valyria meraih buku itu lagi. Membuka lembar pertamanya.


“Uh, um?”Dahi Valyria mengeryit, jelas kertas didalam buku itu menjadi kosong. Tanpa tulisan sang kakak akan agenda-agenda kehidupannya selama perkuliahan “Apakah aku berhalusinasi? Tak ada apapun disini?”Valyria bergumam, tak menyerah dia meletakkan kunci itu disebelahnya kemudian membuka halaman lain dari buku tersebut.


“Ya Tuhan, tidak mungkin...”Buku yang dipegangnya itu, mulai menggoreskan tintanya yang berjalan dengan cepat. Seolah dengan ajaibnya seseorang tengah menulisnya disana, Valyria merasa aneh akan buku ini. Takut dan seram, namun tetap dipegangnya buku itu hingga lembar-lembar kosong itu menuliskan narasi yang cukup panjang.


Gemetar tangan Valyria yang membuka lembar halaman itu, sepasang iris violetnya membaca setiap kata dalam kalimatnya. Semuanya, mengenai sang kakak dan kedua orang tuanya, mengenai dunia yang terselubung didunia ini, mengenai kemustahilan yang hanya menjadi dongeng penghantar tidur, dan tragedi yang terjadi. Semuanya, Valyria membaca semuanya.


Brugh. Bunyi buku itu yang jatuh kelantai kayu itu. Sementara kedua tangannya bergetar dengan hebat, tak kalah sama dengan sepasang iris violet yang menatap tak percaya.


“Aku... kakakku... Ayah... ibu...”Berucap seorang diri, Valyria berusaha jika dirinya hanya kelelahan akibat tak tidur semalaman.


“Aku lelah... Aku ingin. Tidur...”Valyria merebahkan dirinya, dia tak sanggup lagi. Membiarkan rasa kantuk menyelimuti seluruh tubuhnya.


Valyria terbangun saat hari sudah menggelap, itu pun karena ponselnya berdering berulang kali. Valyria mengusak kedua matanya sambil melihat ponselnya “...Ya Tuhan, Tarra.”Valyria pun bergegas dengan meraih jaketnya. Malam itu juga ia pergi menuju halte bus untuk menemui temannya.


Valyria baru dikabari jika ibunya Tarra masuk Rumah Sakit, setelah penyakitnya kembali kambuh. Valyria cukup tahu soal ini, latar belakang pendidikan yang tengah ditempuhnya ini berada disekitaran kesehatan dan masalahnya. Sama dengan sang kakak, Valerin. Valyria pun sengaja mengambil jurusan yang sama seperti sang kakak, yang dianggap seperti rolemodel kehidupannya. Panutannya yang sudah tiada lagi.


Valyria baru turun dari bus yang berhenti didepan halte bus rumah sakit. Valyria bergegas menuju ruangan unit kritis di Rumah Sakit itu, tepat didepan ruangan itu Tarra sudah berdiri bersama anggota keluarga lainnya “Tarra...”Valyria memanggil nama sahabatnya itu kemudian memeluknya “Bagaimana keadaan ibumu?”Ucap Valyria dengan lembut. Sepasang mata violetnya, sempat melihat melalui pintu kaca yang ia tangkap pandangannya akan seorang wanita yang berbaring dengan alat-alat life support pada tubuhnya. Valyria melihatnya, mengetahuinya dan hal yang paling ia benci dari dirinya itu. Jiwa wanita yang ia lihat tersenyum kepadanya, nyaris pergi dari raga kritis itu. Benar, Valyria bisa melihat kematian seseorang, memperkirakan kematian dan bisa mengetahui seberapa sulit penyakit itu disembuhkan. Kemampuan ini sudah ia dapatkan sejak lahir, tapi baru ia sadari belakangan ini.


Valyria pura-pura tak tahu, itu lebih baik untuk menjaga perasaan Tarra “Tarra, tenanglah. Lebih baik kau duduk dulu...”Ujar Valyria membawa Tarra untuk duduk dibangku ruang tunggu, Valyria prihatin menatap Tarra yang sangat bersedih itu. Dia tak henti-henti mengusap pundak Tarra yang bergetar samar. Kehilangan seseorang yang dikasihi? Valyria serasa dipaksa mengenang kematian sang kakak. Satu-satunya anggota keluarga yang tersisa. Setidaknya, yang paling dikasihi.


“Valyria, kau lihat kondisi ibuku bukan? Bagaimana keadaannya akan membaik, kan?”


“Kita berdoa yang terbaik, Tarra...”Valyria hanya menatap sendu sahabatnya itu, sembari mengusap-usap pundak Tarra dengan lembut. Setidaknya, menenangkannya disana.


Tepat saat jam dua belas malam, ayah Tarra menghampiri ruang tunggu. Valyria yang ada bersama Tarra, dia menyampaikan kabar kematian sang ibu. Kematian ibunya Tarra.


Valyria bisa melihat  kesedihan yang histeris dirasakan sahabat baiknya itu, Valyria tak bisa melakukan hal yang banyak biarpun dia tahu. Takdir tetaplah takdir. Tidak ada yang bisa melarikan diri dari takdir. Valyria hanya menatap Tarra yang menangisi sang ibu dari luar ruang unit kritis itu.


“Kau bisa melihatnya, nona?”


Valyria terkejut bukan main, sepasang iris violetnya melebar. Dia langsung menoleh kearah seorang gadis yang ada disebelahnya, sejak kapan berdiri disampingnya? Valyria pun tak tahu “K-kau? Bagaimana kau bisa tahu?”Valyria menahan suaranya, biar bagaimanapun dia tak boleh membuat keributan ditengah berduka ini.


Wanita muda yang mengenakan hoodie hitam itu hanya mendelik “Hanya menerkanya, nona...”Ujarnya sambil berjalan melintasi Valyria. Setelah berkata seperti itu, dia malah berlalu tanpa memperdulikan Valyria.


“Apa-apaan gadis itu? Aneh.”Valyria menggerutu kesal, dia pun mengabaikannya.


Valyria, masih menemani Tarra. Dia berada di rumah Tarra sejak malam tadi, beruntung ini hari minggu jadi Valyria bisa menemani Tarra seharian. Omong-omong ibunya Tarra, sudah dimakamkan sejak pagi tadi. Kini suasana berduka dirumah Tarra masih terasa, dimulai dari sanak saudara yang datang berbela sungkawa. Valyria malah menemani Tarra dikamarnya, dia hanya menenangkan Tarra yang berbaring dengan wajah sembabnya.


“Valyria... Kemarin saat tahu kakakmu meninggal, apa yang kau lakukan?”


“...Bersedih, tapi tak larut. Menyembuhkan perasaan sulit itu susah, tapi...”Valyria mengepalkan kedua tangannya, hal yang ingin disampaikannya adalah ‘tapi aku sama sekali tak bisa mengetahui kematian kakakku.’Namun Valyria urungkan. Hal yang mustahil didengar ini hanya akan membuatnya seperti orang gila yang asal bicara “Tapi aku berusaha untuk ikhlas menerima keadaan.”Ujar Valyria sambil mengulum senyumannya.


“Bagaimana... kau bisa menghadapi hidup ini?”Tarra kembali bertanya.


Valyria, bukan orang yang senang menceritakan keluh kesah kehidupannya. Dia suka menyembunyikan hal itu “Seperti biasanya, kadang aku sengaja sibuk melukis atau menerima berbagai job cosplayer-ku biar rasa sedih terlupakan.”Valyria berusaha tersenyum agar Tarra tak lagi merasa sedih.


Pintu kamar Tarra berdecit, disana tampak seorang bocah kecil membawa sebuah nampan berisi makanan. Bocah itu dibantu oleh seorang wanita cantik yang menyapa mereka dengan ramah “Oh ada teman Tarra, perkenalkan Tasya Sinclair tantenya Tarra. Ayo Bobby berikan nampannya ke kakakmu.”Ujar wanita itu kepada bocah lelaki manis ini.


Valyria langsung menyambut nampan itu “Termakasih Bobby...”Ujar Valyria sambil mengusap puncak kepala Bobby. Bocah manis itu.


“Ini anakku, Bobby.”Ucap wanita itu ketika Bobby buru-buru menghampiri ibunya setelah memberikan nampan berisi makanan itu kepada Valyria. Dia bersembunyi dibelakang kaki sang ibu dengan malu-malu “Bobby memang pemalu.”Ujar Tasya Sinclair begitu kepada Valyria.


“Aku akan makan nanti, Tarra ingin tidur.”


Valyria mengangguk sambil meletakkan nampan itu diatas nakas meja “Kalau begitu, aku akan keluar dulu ya...”Ujar Valyria. Dia tahu Tarra sedang ingin istirahat, Valyria pun beranjak keluar dari kamar Tarra.


Sebenarnya, ini pertama kalinya Valyria bertemu keluarga besar Tarra. Selama ini jika Valyria berkunjung kerumah Tarra, dia hanya bertemu ayah dan ibunya. Maka dari itu Valyria menjadi canggung “N-namaku Valyria Soga Kinaru, tante Tasya...”Ucap Valyria yang menuruni tangga dari lantai dua kamar Tarra. Tentunya bersama wanita yang menggandeng tangan anak lelakinya itu.


“Ah, namamu cantik sekali. Wajahmu juga sangat manis, apakah kau bukan orang Indonesia? Tapi bahasa Indonesiamu lancar sekali.”Wanita itu terlalu supel berbincang dengan Valyria.


Sementara Valyria, dia hanya terkekeh nanar. Wajahnya ini sering disangka ‘bule’ oleh orang kebanyakan. Apalagi kedua iris mata violetnya “Ayah Valyria memang warga negara kebangsaan Indonesia, kalau ibu memang orang Belanda.”Begitu penjelasan Valyria terhadap tante Tasya.


“Oh pantas aja. Sama dong, Bobby juga campuran Belanda. Ayo sapa Kak Valyria Bobby...”


Bocah itu malu-malu menatap Valyria “...H-halo. Namaku Bobby balu ti-tiga tahun.”Gumamnya dengan kecil.


“Oh iya, Tarra sempat mengatakan padaku soal temannya yang jenius dalam seni. Apakah itu kamu Valyria? Mengingat, Tarra jarang sekali membawa teman ke keluarganya.”


“Tidak, jago juga sih tante. Valyria hanya hobi melukis.”Valyria menggaruk ujung pipinya yang tak gatal. Tampaknya Tarra terlalu melebih-lebihkannya.


Wanita itu menepuk-nepuk pundak Valyria “Haha... Kalau begitu bawa lukisanmu besok, kita berangkat ke Amsterdam.”


“Eh?!”


“Tapi kita akan pergi tanpa Tarra, sepertinya dia masih perlu istirahat karena kesedihannya itu.”Ucap wanita itu dengan tatapan sendunya. Berdasarkan raut wajahnya, sudah pasti dia merasa sedih hanya saja tak ingin terlalu diketahui banyak orang.


Valyria termasuk peka terhadap reaksi itu, dia pun mengangguk “Tante, salam pada Tarra. Valyria mau pulang dulu... Terimakasih banyak tante Tasya.”Valyria pun tak bisa lebih lama disini, ingat akan paksaan paman dan bibinya untuk segera kembali kerumah asalnya. Valyria segera berpamitan.


Total, sebanyak dua malam Valyria tak menyentuh ranjang kasur bututnya. Alias tidak tidur dua malam, kini tubuhnya terasa lemas tapi harus berkemas. Barang-barang dirumah kontrakan belum dikemasi untuk kepindahannya hari ini “Ah... aku ngantuk.”Keluh Valyria setelah tiba didepan rumah kontrakannya.


Tubuh lemas dan lunglai. Valyria tetap mengusahakan semuanya selesai hari ini, beruntung barang-barangnya dirumah kontrakan tidak terlalu banyak. Dia pun bergegas mengemasi barang-barangnya, usai berkemas itu semua memakan waktu sebanyak tiga jam lebih. Tepat pukul empat sore, sebuah mobil sedan tampak berhenti didepan rumah kontrakannya. Valyria tahu, dia sudah dijemput. Valyria hampir lupa, dia memasukkan buku sang kakak dan kunci misterius itu dalam tas selempangnya.


“Nona Valyria...”Pria tua itu membungkuk hormat kepadanya, salah satu supir pribadi kediamannya dulu.


Valyria yang sudah berdiri didepan rumah kontrakan bersama sebuah tas besar disampingnya. “Pak Hasan, lama tak berjumpa. Oh iya barangku tak banyak, jika diletakkan dibagasi mobil akan muat kok.”Valyria masuk lebih dulu ke bangku penumpang, dia sempat meminta tolong pria itu untuk memasukkan tasnya kedalam bagasi.


“Nona, saya mulai hari ini diperkerjakan untuk menghantar nona oleh Tuan Julian.”


Valyria tersenyum miring, ingatkan selain paman dan bibinya dia masih memiliki seorang paman lagi. Paman Julian, sebenarnya dia cukup baik terhadap Valyria dan Valerin. Namun sayang, hak wali malah jatuh ketangan paman dan bibi yang menyebalkan ini. Sungguh sangat disayangkan jika paman Julian ada disini, setidaknya hidup Valyria dan Valerin akan lebih mudah. Ingin memaklumi pekerjaannya


“Tch. Aku sudah muak.”Valyria tak bisa lagi. Bahkan sang kakak meninggal tanpa kedatangan paman Julian. Niat baik paman Julian cukup tak berkesan untuknya, jika hanya memperkerjakan kembali supir pribadi mereka.


Perjalanan kerumahnya lumayan jauh, terletak didaerah pendesaan dengan lingkungan yang masih asri. Rumah itu paling mencolok dengan gaya reminiscence yang masih melekat. Saat tiba, Valyria menatap sendu rumah ini, rumah yang terbilang luas dikelilingi kebun Hortensia ungu. Ketika gerbang pintu masuk terbuka, Valyria masih bisa mengingat kenangan lama pada kediaman ini. Sendu sudah tatapannya yang terbilang sedih ini, dia pun menaiki anak tangga yang menuju pintu masuk “Aku pulang... Ayah, ibu, kak Darly...”Gumamnya dengan pelan, menahan deru perih perasaannya.


“Nona, bapak ingin menemani nona. Tapi tuan dan nyonya bilang hanya bisa menghantar dan jemput nona Valyria saja.”Pak Hasan yang membawa tas Valyria tampak menatap tubuh kecil itu, satu-satunya anak Kinaru yang tersisa. Dia sempat mengiba dan prihatin terhadap gadis muda ini.


Valyria hanya mengangguk, sambil mengulum senyuman “Tidak pak, terimakasih. Nanti kalau Valyria mau keluar pasti Valyria menghubungi bapak dulu. Salam dengan bu Sri dan adek Budi ya Pak. Kapan-kapan Valyria akan berkunjung kerumah.”Ujar Valyria dengan manis, Valyria sudah kenal keluarga pak Hasan. Memang dulu, keluarga Pak Hasan bekerja dirumah ini tapi semejak saat itu... semuanya sudah berubah. Dirumah besar yang megah ini, Valyria dipekerjakan seorang diri. Ulah siapa? Tentu semenjak paman dan bibinya menjadi wali pengganti orang tua.


Benar saja, saat itu pula kedua suami isteri itu baru saja pulang dari kota. Rasanya Valyria ingin segera kembali kekota, biar dirumah kontrakan sederhana sekali pun dia tak masalah asalkan bisa merasa bebas “Selamat datang kembali, Paman... Bibi...”Dengan raut wajah datarnya, Valyria menyambut kedua suami isteri yang menatapnya dengan arogansi.


“Dasar bocah tengil, disuruh pulang saja sangat sulit.”Cibir sang bibi melintasinya dengan tatapan sinis “Antarkan kopi kekamar paman Valyria.”Dilanjutkan oleh sang paman yang turut melintasinya.


“Baik...”Valyria mau tak mau harus menurut.


“Nona.”Pak Hasan, raut wajah pria berumur itu tampak tak tega. Masih diambang pintu memperhatikan nona kecilnya menjadi pelayan dirumahnya sendiri. Ingin membantu namun tak berdaya.


Valyria mengangguk dengan yakin “Tidak masalah pak, terimakasih atas keperduliannya. Lebih baik pak Hasan pulang saja, Valyria permisi kedapur.”Tutur kata Valyria begitu sopan, memang didik untuk menghormati yang tua tak perduli asal usulnya. Mungkin terbiasa, hal itulah yang membuatnya muak. Jika saja bisa melawan paman dan bibinya, itu beda hal “Merepotkan...”Helaan nafas Valyria sembari berjalan memasuki dapur.


Aktivitas melelahkan sejak sore tadi baru usai di malam harinya “Aduh... tubuhku sakit semua.”Keluh Valyria sambil meregangkan kedua tangannya. Tak dipungkiri, aktivitas di rumah melayani kedua orang itu cukup melelahkan.


Bibir ranum Valyria mengerucut maju “Aku ingin tidur.”Ucapnya dengan tampang yang sangat lelah itu.


Valyria merangkak naik keatas kasur empuknya, kamar lamanya. Luas dan nyaman. Setidaknya ia masih diperbolehkan menggunakan ruang pribadi saja sudah senang “Ah~ Oh iya, Tante Tasya bilang ingin mengajak ke Amsterdam ya? Hihi... senangnya. Tak sabar hari esok, semoga baik-baik saja. Nah, selamat malam kak Darly, ayah dan ibu...Valyria baik-baik saja disini.”Ujar Valyria sambil menatap langit-langit kamarnya, perlahan kedua mata cantik itu semakin mengantuk. Kemudian ia pun sudah masuk kedalam alam mimpi, ditandai dengan dengkuran halus dari pulasnya tidur seorang Valyria Soga Kinaru.


.


.


.