Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Episode 23



Happy reading


Valerin Grayii mengigit bibir bawahnya, satu demi persatu jawaban atas teka-teki kehidupannya mulai terungkap. Kini, Valerin hanya bisa duduk diatas ranjang kasur ditemani oleh Panacea yang baru usai mengatakan mengenai buku Clandestine.


“Jadi, buku itu dibuat khusus untukku? Sementara kakakku sudah tahu semuanya, dia memintamu membuatkan buku itu.”


Panacea mengangguk “Bisa dibilang, buku itu adalah semua kisah pertualangannya tapi dibuat seperti buku-buku pengetahuan. Isinya memang penjelasan mengenai dunia ini, bahkan ada beberapa fakta lain yang tak seorang pun tahu.” Panacea berucap sambil memungut pakaian kotor Valerin yang sejak pagi sudah digunakannya “Tuan muda, Diablerie sudah ada beratus tahun lamanya. Dulu sosok mereka bukan tercipta dari virus melainkan dari energi gelap seorang iblis.” Panacea berjalan mendekati pintu kamar sang tuan muda “...Vampir adalah para Diablerie yang sempurna, kemudian berratus tahun kemudian seorang manusia ingin meniru hal itu. Terciptanya virus Obscure dan ras para manusia yang bisa menjadi penawar adalah kesalahan dan perbaikan dari manusia itu sendiri.” Panacea memengang gagang pintu “Selamat malam tuan muda, tidur yang nyenyak.” Panacea menghilang dari pintu yang kembali ditutup itu.


Valerin menyimak seluruh perkataan Panacea, sebagian dirinya penasaran sementara sebagian lainnya menganggap perkataan Panacea seperti cerita takahayul masa lalu “Tapi dunia ini kembali kuno setelah perjalanan yang maju, jadi tidak salah juga...” Valerin menghela nafas, kepalanya terasa pusing memikirkan semuanya.


“Masuk akal juga.”


Valerin Grayii, menatap dari jendela kamarnya. Malam kelam hujan yang sudah reda, bulan bersinar dengan terang. Sinar cahayanya masuk menerangi kamarnya, temaram. Valerin Grayii mengenakan piayama, sebelah kakinya tak mengenakan kaki prostetik. Sudah dibuka beberapa menit yang lalu.


“Friday... apakah dia sedang memiliki masalah?” Valerin berinisiatif mencari pria vampir itu, dia menuruni ranjang kasur dengan kesusahan. Valerin kini berada dilantai, kaki prostetiknya ada diatas meja. Tubuh kecil yang merangkak menuju meja itu, Valerin meraihnya bersusah payah. Dia pun buru-buru memasang kaki prostetik itu “Ha~ sepertinya akan lebih baik jika melekat terus.” Valerin menggapai nakas meja untuk membantunya berdiri.


Memang dia sudah terbiasa dengan kaki palsu ini, hanya saja jika digunakan untuk berlari atau bergerak dengan aktivitas besar. Tetap saja, dia akan kesulitan mungkin membutuhkan tongkat untuk membantunya berjalan. Mesin penggerak dengan bantuan perangkat lunak di zaman ini tidak ada lagi.


“Nanti, akan aku pikirkan.” Valerin berucap sambil berjalan keluar dari kamarnya, hari masih gelap. Dia berjalan di koridor manor seorang diri, Valerin ingin menuju lantai bawah. Setidaknya, dia curiga dengan gelagat Panacea yang menginginkan Valerin segera memasuki kamar.


Valerin masih berada di lantai dua, hendak menuruni anak tangga. Selain sepi dan hening, tidak ada siapapun selain dirinya “...Fr...riday...” Ucapan Valerin tertahan, setidaknya ia melihat belasan tubuh yang bergelimpangan di ruang tamu. Ruangan yang berhadapan dengan tangga yang akan dituruninya.


“Ah, tuan muda. Maaf atas penampilan yang berantakan ini.” Friday berucap dengan santai. Pria vampir yang tak mengenakan tuxedo hitam seperti biasanya itu, dengan kedua lengan yang digulung sesikunya “Ada beberapa penyusup yang keras kepala, tuan muda tidak lebih baikkah jika anda tidur?” Friday dengan kedua tangan berlumuran darah itu menatapnya dengan santai.


Sepasang iris mata violet Valerin bergetar, mereka bukan manusia yang terinfeksi "Apakah mereka sengaja mengincarku?" Mungkin beberapa pembunuh bayaran yang disewa seseorang untuk membunuhnya. Tapi tetap saja, Valerin Grayii merasa ketakutan.


Bibir merah ranumnya mengulum kedalam, menahan perkataan dari dalam benaknya “Apa yang sudah kau lakukan, Friday?” Valerin, ingin berjalan mundur atau sekedar kembali kedalam kamarnya.


“Melindungimu, tentu saja.” Friday terkekeh kecil.


Valerin membalikkan tubuhnya “Oh, begitu. Kalau begitu siapa mereka?” “Kuatkan dirimu, Valyria. Ayolah...”


Valerin berdiri menegapkan tubuhnya. Menatap langsung, sorot mata merah Friday yang menatapnya.


Tubuh tegap dan kokoh Friday tampak dari kemeja putih dengan rompi hitam yang basah, sepertinya selama hujan berlangsung pria itu ada diluar manor. “Hal seperti ini akan sering anda alami tuan muda, mereka pasti kiriman dari musuhmu. Sementara aku sendiri, tidak tahu. Kau yang lebih tahu.” Friday menyibakkan surai keemasannya kebelakang “Apakah tuan muda ini, tidak bisa tidur?” Sepasang gigi taring tampak dari deretan giginya yang tengah tersenyum lebar.


“Iya, tadinya begitu.”


“Ingin dibuatkan susu hangat, tuan muda?”


“Ide bagus, setelah membereskan kerjaanmu.”


Valerin berusaha tetap berada dalam posisinya sebagai seorang Earl. Gadis berwajah manis itu membalikkan tubuhnya, kembali ke kamar lagi dengan duduk dipinggiran ranjang kasur. Valerin menunggu kedatangan Friday.


“A...apa yang sudah terjadi padaku?” Valerin menatap rembulan yang bersinar terang malam itu. Valerin, mendengar suara langkah kaki dari sepasang sepatu yang mengetuk-ngetuk. Dia menatap pintu kamarnya yang terbuka “Friday! Kau cepat sekali... da-datang...” Kedua iris violetnya bergetar, tangan Valerin juga meremat sprei kasurnya.


“Master...”


Valerin Grayii. Kedua iris violetnya bergetar “...Apa?”


“Tuan muda!” Panacea tiba didepan pintu, dia langsung menendang sosok itu sampai tersungkur ke ranjang kasur Valerin.


Valerin berlari ke sisi kanan ruangan, dia terburu-buru berlari keluar kamar “Pana!” Valerin menarik tangan Panacea, kemudian mengunci kamarnya dari luar. Deru nafas Valerin tak beraturan.


“Valerin!” Friday langsung menubruk tubuh Valerin, mendekap dan membenamkan tubuh kecil itu kedalam tubuh kekarnya “Maaf, aku terlambat...” Ucap Friday.


“Uhm, tidak apa.” Wajah memerah Valerin, dia mendadak kikuk dan kaku.


Friday menatap kamar Valerin “Itu buatan, robot Diablerie dengan darah para vampir yang dicampurkan dengan darah Gandaria. Panacea seharunya kau mencegahnya masuk.” Friday tampak begitu marah.


“Maafkan, Yang Mulia Pangeran Frederitch. Sejak tadi menghadangnya cukup sulit, pergerakan Diablerie itu terlalu cepat.” Panacea menunduk, dia merasa bersalah.


Valerin baru usai mencerna semuanya “Jadi, gadis tadi dengan beberapa orang yang kalian hadapi datang secara bersamaan?” Valerin setengah memekik, sampai harus meremas pakaian Friday. Hatinya juga gusar, baru sadar betapa bahaya keberadaannya.


“Tch. Kenapa benda itu bisa sampai kemari!” Friday mendecih dengan wajah geramnya.


Valerin menggeleng dalam pelukan Friday “Tidak apa-apa.”


Friday langsung meraih tubuh Valerin dengan mudah “Kita harus menjauh dulu.” Ucap Friday yang menggendong tubuh Valerin.


Brakh— pintu itu terbuka, menampaki seorang gadis muda dengan kedua iris mata kosong menatap Valerin seorang “Master...” Ucapnya untuk kedua kali, melesat dengan cepat dengan sebuah kapak ditangannya.


“Tuan muda!” Panacea menghadangnya dengan sebuah kursi yang dilemparkan ke gadis itu “Pangeran Frederitch, titip tuan muda.” Ucap Panacea yang menghadangnya.


“Jangan! Frederitch kau membantu Panacea!”


Friday tak mengindahkan ucapan Valerin “Tanpa kau minta pun aku akan melindungi Valerin.” Ucap Friday yang melompat dari lantai dua ke lantai satu dengan mudahnya.


“Pana!” Valerin berteriak. Bahkan memberontak dalam gendongan Friday.


Panacea tersenyum, wajah cantiknya menatap Valerin dengan tulus “Berhati-hati tuan muda.” Ucapnya sebelum menghadapi gadis dengan tatapan kosong itu.


“P-pana...”


“Dari pada itu tuan muda, lebih baik kita obati dulu lukamu.”


Friday yang sadar, jika Valerin semakin tenang. Tak memberontak, tak berteriak lagi. Mulai menatap sang tuan dalam gendongannya “Tuan muda?”


“Katakan padaku, apakah kau dan kakakku membuat sesuatu?”


Valerin menatap Friday dengan kedua iris violet yang berkaca-kaca “Gadis itu, kenapa kau tahu jika dia robot? Kenapa kau tahu dia Diablerie?” Bibir Valerin yang gemetar berusaha berucap dengan jelas “Apakah kau dan kakakku membuat robot Diablerie itu?” Valerin membenamkan wajahnya, bersandar pada dada bidang sang pelayan vampirnya itu “...Sudah kukatakan, jangan merahasiakan apapun lagi. Friday...” Lirih suara Valerin nyaris terredam oleh keheningan.


“Kau tak sepenuhnya benar, tapi memang kakakmu yang membuat benda itu.” Friday mematap jalan koridor, berbelok ke kanan “Kemudian kesalahanku, membiarkan ciptaan kakakmu jatuh ke tangan kerajaan Crave Rose.” Ucap Friday meletakkan tubuh Valerin ke sebuah sofa ruang kerjanya.


Dia bersipuh didepan Valerin yang duduk disebuah sofa “Kaki ini...” Friday mengusap kaki kanan Valerin “Salah satu dari sekian banyak percobaan anggota tubuh robot yang kakakmu buat, pada akhirnya mereka hanya mesin.” Ucap Friday tersenyum kecil dengan menatap sendu seorang Valerin yang diam tanpa berkata-kata.


“...Dia ingin membuktikan jika vampir dan manusia bisa saling membantu, robot itu ada dengan kecerdasannya Valerin. Tapi kau berbeda, kau masih menyebutnya ‘gadis itu’ sekarang aku yakin untuk terus berada didekatmu.”


“Aku tak merahasiakan apapun...” Diraihnya tangan Valerin yang masih dibalut oleh serbet dapur. Kini, Friday membuka balutan itu. Kedua iris raven blue-nya berubah menjadi merah kembali saat melihat luka Valerin yang terbuka oleh ulahnya sendiri.


Valerin, merasakan jantungnya berdegup kencang. Ketika Friday mengecup lukanya serta menjilati bekas luka itu “F-Friday...” Kedua mata Valerin sayu-sayu menatapnya.


“Panggil namaku, Valyria...”


“H-hentikan, Frederitch...”


Friday menyeringai kecil, tangan Valerin kembali dikecup “Aromamu sangat manis.” Friday membaringkan tubuh Valerin keatas sofa “Tidurlah, lukamu sudah membaik.”


Benar saja ucapan Friday, luka ditangannya sudah sembuh dengan baik. Kedua iris mata Valerin berkedip-kedip polos.


“Tidurlah, tuan muda.”


Valerin langsung menarik ujung baju Friday "Kemana?"


"Ingin susu hangat bukan?"


Valerin Menggeleng pelan "Diam disini."


Friday tertawa kecil “Baik. Selamat malam, tuanku...”


.


.


.


bersambung