
Happy Reading
.
.
.
Friday membuka kancing teratas kemeja putihnya, usai membasuh diri. Dia kembali keruangan kerja sang Earl manor ini. Dilihatnya Valerin Grayii yang tertidur pulas. Dia sempat mengambil sebuah selimut, berjalan perlahan mendekati Valerin yang sedang tertidur di sofa panjang itu. Dia menyelimuti sekujur tubuh si manis.
“Yang Mulia Pangeran Frederitch...” Panacea berdiri diambang pintu. Wajahnya datar dengan bercak noda merah di wajah serta apron putihnya.
Friday menegakkan tubuhnya, pria dengan kemeja putih polos dan celana hitam itu berdecak kesal “Bentuknya mirip dengan buatan Valerin, apa kau lihat seri nomornya?”
Panacea mengangguk “Nomor tujuh.”
“Ini bukan suatu kebetulan, ulah siapa lagi kalo bukan Primavera...” Friday mendesah panjang sambil memijit ujung pangkal hidung bagirnya “Sekarang dimana benda itu?”
“Di ruang bawah tanah, rusak pada seluruh anggota gerak.” Panacea melirik Valerin yang tengah tertidur pulas itu “Apa nona Valyria baik-baik saja?” Tanya Panacea menatap sendu gadis berpenampilan lelaki itu.
“Tentu saja, aku akan pergi. Sampaikan maafku padanya karena tidak menyambut pagi nanti.”
“Baik, Yang Mulia Pangeran Frederitch.”
Friday yang berjalan itu menghentikan kakinya sejenak “Kediaman ini sudah diketahui Primavera, nanti pagi aku akan meminta ajudanku menghantarkan Valyria ke tempat yang aman sampai aku kembali.” Raut wajah Friday mendadak berubah cemas.
“Tidak perlu Pangeran, Panacea bisa menjaga tuanku.”
Friday mendecak sebal “Ck. Tentu saja harus, selama ini kau menahan diri! Lihat ulah kekuatanmu yang tak maksimal, Valyria harus aman bagaimana pun caranya.” Friday menghela nafas, mengeluarkan seluruh emosinya “Ah sudahlah... Temani dia ke kediaman Lady Rhea.” Friday sudah menuju keluar ruang kerja Valerin.
Dia langsung dihentikan oleh ucapan Panacea “Aku tak berpikir itu ide yang baik.”
“Kenapa lagi? Hanya dia yang paling netral, terus apa kau mau membawanya ke istana Dustbones? Oh tentu tidak setelah tahu kegilaan Alphonse, mungkin saja bisa ke kediaman Viscount Rovana. Tapi kau tahu sendiri pria itu tengah berkabung, bahkan dia sendiri mungkin menyimpan rasa kesal terhadap Valerin usai misi itu...” Ucap Friday menggebu-gebu. Jika menyangkut si gadis manis keturnan Grayii itu, dia tak bisa bersikap tenang “Aku tahu, aku tahu... Bisa saja dia akan sedih jika tahu kebenarannya.” Friday meletakkan tangannya ke leher tegapnya itu, sekarang dirudung kebingungan.
“Baik, Panacea mengerti. Selama Lady Bethan tidak mengatakan hubungannya denganmu Pangeran, kurasa akan baik-baik saja.”
“Tak perlu cemas, Bethan dan aku sahabat sejak kecil. Kami hanya dijodohkan, dia pasti mengerti setelah melihat tanda yang kubuat pada Valerin.”
Panacea membungkuk hormat “Panacea akan menjaga tuanku dengan baik.”
“Aku akan menjemput Valyria Grayii setelah urusanku selesai.” Pria vampir itu berjalan menuju koridor dalam kegelapan. Dia menghilang disana.
Panacea menatap Valerin Grayii “Tuanku...” Lirihnya sambil menutup pintu ruang kerja Valerin dengan perlahan.
Kriiek—pintu itu seutuhnya tertutup, menyisakan Valerin Grayii yang berbaring miring menghadap jendela kaca. Sepasang iris violet itu tak sepenuhnya tertidur, perlahan-lahan terbuka menatap rembulan dari jendela kaca “Frederitch... Sekali lagi kau menyembunyikan sesuatu dariku...” Seorang Valerin Grayii yang memasang wajah datar hanya menatap dengan kedua mata violet dengan sendu. Perasaannya menggelitik perih disana, Valerin pun berusaha memejamkan matanya lagi. Setidaknya, bibir ranum kecil itu harus meredam isak tangisan dalam keheningan ini.
***
Pagi-pagi sekali, tubuh kecil berperawakan manis itu mengguyur tubuhnya didalam kamar mandi. Usai membersihkan tubuh dengan handuk pada kepala dan tubuhnya, dia keluar dari dalam kamar mandi. Valerin berjalan ke lemari kayu untuk mengambil pakaiannya. Dia memilih kemeja putih, rompi berwarna kelabu, dasi pita berwarna senada serta celana kain pendek selutut.
“Tuan muda!” Panacea membuka pintu kamar Valerin dengan setengah panik, dia malah mendapati sang tuan muda yang sedang memasang kaus kaki dengan mengikat belt yang baru terpasang di betis mulusnya itu.
“Kenapa Pana?” Valerin berucap santai usai memasang kedua kaus kakinya, kini dia mengambil sepatu hitam yang mengkilap “Apakah Friday masih tidur?” Valerin mengambil pin batu amethyst untuk dikaitkan pada dasi pitanya, terakhir Valerin memasang jepit rambut pada poni panjangnya.
“Pangeran Frederitch bilang ia memiliki urusan dan tak bisa membantu pagi ini, tuan muda.”
“Aduh, jika memasuki mata akan gatal...” Komentarnya sambil membenahi tatanan rambut pendeknya “Ah, ya tak masalah...” Valerin menoleh kepada Panacea, dia mengulum senyuman cantiknya.
Panacea melongo, sang tuan muda bersiap lebih pagi dari biasanya bahkan seluruh dirinya sudah bersiap dengan benar “Maaf tuan muda, Panacea tak setanggap Friday...” Gumam Panacea sambil menunduk dengan menyesal.
“Jangan meminta maaf Pana, bahkan sejak awal aku sudah terbiasa seperti ini.” Valerin tersenyum manis, saat ia hendak berdiri dari tempat ranjang tidur. Valerin kehilangan keseimbangan “Eh?!” Valerin langsung terduduk kembali ke ranjang kasur itu.
“Tuan muda! Kenapa?!” Panacea menghampirinya, dia sadar kaki prostetik sang tuan sedikit sulit digerakkan. Dia berinisiatif mendekati sang tuan muda sembari merapalkan sebuah mantra “Feelstora Vadon!” Ucapnya sambil mengarahkan tangannya ke hadapan kaki prostetik Valerin.
Kaki Prostetik Valerin terasa lebih ringan digerakkan, bahkan seolah memiliki koneksi baik dengan saraf penggeraknya “Wah, tadi itu apa?” Tanya Valerin dengan polos.
“Mantra terbalik.”
“Aku tak mengerti Pana...”
“Tuan muda selama ini menginginkan kaki itu bergerak bukan? Benda mati yang tak bergerak bisa seolah-olah bergerak seperti benda hidup, matra itu memiliki kemampuan demikian dengan ditambah energi dari sang perapal mantra. Sekarang kaki prostetik tuan muda akan lebih muda dikenakan.”
Valerin tersenyum “Pertama-tama terimakasih, kedua kenapa kau bisa menggunakan sihir, dan ketiga bagaimana nasib gadis muda yang bertarung denganmu tadi malam?” Valerin beranjak berdiri dengan lebih mudah.
“Tuan muda sama-sama, kemudian Panacea Eerie ini memang mempelajari sihir seni hitam dan ketiga gadis itu ada diruang bawah tanah. Panacea terpaksa merusak seluruh anggota geraknya.”
“Begitu, begitu...” Valerin memengangi dagunya sendiri “Menarik...”
Panacea mengangguki ucapan tuan mudanya “Tuan Odolf masih menyiapkan makanan pagi, apakah tuan muda ingin makanan pembuka terlebih dahulu?”
Valerin menggeleng, dia keluar dari kamar dengan langkah bersemangat “Sambil menunggu tuan Odolf, mari menuju ruang bawah tanah. Kita harus menyapa gadis robot itu...” Valerin antusias.
“Kenapa Friday bilang jika kak Daryl yang menciptakan robot Diablerie? Apakah Kerajaan Crave Rose sengaja mengambil hasil ciptakan kakak? Kemudian mengcopy bentuk lain lebih banyak, tapi gadis itu memanggilku ‘master’ Argh... Sebenarnya apa yang sudah terjadi?” Sambil melamun dalam perjalanan, sesekali Valerin mengeram ataupun kesal dengan sendirinya.
Panacea yang melihat raut wajah Valerin hanya diam saja, meskipun begitu dia tak mempungkiri sang tuan sangat menggemaskan “Kita sudah sampai tuan muda, berhati-hatilah...” Ucap Panacea sambil membukakan pintu ruang bawah tanah.
“...Master” Gadis itu berucap, dia terikat disebuah kursi kayu dengan kondisi rusak parah. Kedua tangan dan kakinya putus, tampak kabel-kabel yang keluar dari tubuhnya.
Valerin mendekati gadis itu “Hai, namaku Valerin Grayii. Kenapa kau berusaha menyerangku?” Sapa Valerin dengan tersenyum ramah.
Gadis itu menggeleng “Tidak master, tubuhku bergerak sendiri.”
“Uhm...” Valerin berjalan mengelilingi gadis itu, dia tampak berpikir sendiri. Sepasang mata violet Valerin jeli menatap sebuah simbol aneh pada lehernya “Pana kemari...” Ucap Valerin sambil menyibakkan surai merah muda gadis itu “Apa kau tahu simbol ini?” Tanya Valerin.
Panacea yang berdiri disamping Valerin mengangguk “Simbol mantera terlarang, digunakan untuk menghidupkan benda mati termasuk menghidupkan boneka-boneka.” Ucap Panacea.
“Apa kau bisa menghapus mantranya?”
Panacea berpikir sejenak “Mari kita coba...” Ucap Panacea sambil merapalkan sebuah mantera kembali “Unovu et Alius...” Ucapnya singkat, secara perlahan simbol dileher gadis itu memudar “Sudah tuan muda.” Kata Panacea.
“Bagus! Sekarang kita lihat kerusakan padamu.” Valerin dengan sepasang mata berbinarnya.
Sudah dua jam Valerin berada di ruang bawah tanah bersama Panacea yang membantunya, si gadis berpakaian pria itu tengah sibuk membenahi robot berbentuk manusia yang semalam mencoba menyerangnya.
Valerin Grayii menyeka keringat didahinya “Hufftt... satu lagi.” Ucapnya sambil menggengam sebuah obeng, Valerin Grayii memang cerdas. Dia bisa mudah mempelajari hal apapun, padahal bermodalkan buku catatan sang kakak. Dia bisa memperbaiki Diablerie berbentuk robot manusia ini.
“Tuan muda, anda melewatkan sarapan pagi.” Tuan Odolf sampai harus menyusul Valerin ke ruangan bawah tanah lengkap dengan nampan berisi sepiring roti panggang dan segelas susu hangat.
Cengiran lebar dari Valerin merekah manis “Panacea... Tanganku sedang sibuk, apakah kau mau menyuapiku?” Ucap Valerin berucap dengan manja.
“Tuan Odolf terimakasih...” Panacea sudah mengambil alih nampan itu, dia tersenyum kecil mengetahui sisi lain Valerin Grayii yang menggemaskan ini.
“Selamat dinikmati tuan muda, saya kembali ke dapur...”
Panacea hanya diam dengan tenang, dia memperhatikan Valerin yang tampak sangat mahir membenahi setiap kabel yang tersambung itu. Wajah serius Valerin benar-benar mirip dengan tuan terdahulunya. Terkadang Panacea merindukan sosok tuan terdahulunya, seorang iblis sepertinya merasa seperti itu.
Panacea menggeleng pelan menepis pemikirannya “Sudah selesai makannya tuan muda, anda menghabiskannya dengan baik.” Panacea membereskan peralatan makan “Tuan muda, Panacea akan meletakkan piring kotor ke dapur. Apa tidak masalah tuan muda sendirian?”
Valerin mengangguk “Terimakasih Panacea, ah iya, bilang tuan Odolf juga terimakasih atas makanannya.” Tanpa menoleh Valerin berucap. Dia masih sibuk membenahi robot itu.
Valerin memasang beberapa baut dilengan robot itu “Kulit buatanmu sangat mirip dengan manusia, pasti mastermu orang yang jenius.” Puji Valerin.
“Master memang hebat.”
Valerin membulatkan kedua iris violetnya, dia sangka jika sejak tadi robot ini tidak aktif tapi ternyata dia memiliki kesadaran “E-eh?! Ah, iya... Kupikir kau tak aktif...” Valerin sedikit terkejut.
“Aku bukan mastermu.” Ucap Valerin lagi.
“Master itu master.”
Valerin terkekeh pelan “Baiklah jika kau keras kepala, siapa namamu?”
“Nomor tujuh...”
“Akan susah memanggilmu dengan angka, apakah kau ingin kuberi nama?”
Tanpa ekspresi dari wajahnya, robot wanita itu berkedip-kedip “Akan menyenangkan, master...” Ucap robot wanita itu.
“Kalau begitu...” Valerin sambil memasangkan kaki cadangan prostetik lainnya ke robot wanita itu, tanpa diduga-duga ukurannya memang pas seolah memang sudah menjadi bagian untuk robot ini “Rambutmu berwarna pink, kedua mata merah dan wajahmu yang mirip boneka cantik. Cerise... namamu Cerise...” Valerin berdiri sambil menegapkan tubuhnya.
“Nama yang indah master, terimakasih...”
“Coba berdiri Cerise, aku sudah selesai memperbaikimu.” Ucap Valerin.
Robot wanita itu berdiri kemudian langsung berlutut kepada Valerin Grayii “Master, Cerise akan mengabdi kepada master.” Ucap robot wanita itu kepada Valerin.
“Ah apa yang kau katakan Cerise... Berdirilah.” Valerin ternyata jauh lebih pendek dari robot wanita itu, jika dipikir-pikir Valerin memang lebih pendek dari Panacea “Ah tubuhku saja yang memang kecil...” Valerin menceletuk sebal.
“Master?”
“Ah bukan apa-apa Cerise.” Valerin tertawa hambar.
Panacea baru kembali tiba, dia juga terkejut menatap robot itu “T-tuan muda?” Ucap Panacea mendekati tuannya.
“Pana, ini Cerise... jika dia tak memiliki siapapun. Dia akan tinggal bersama kita.”
Panacea sudah menduga, Valerin Grayii memang berhati lembut “Baik, tuan muda.” Panacea tersenyum kecil setidaknya dia sedikit lega. Robot wanita itu memang memiliki ketangguhan setidaknya orang yang melindungi Valerin Grayii semakin banyak “Tuan muda. Seseorang diluar ingin menemui anda.” Panacea teringat dengan tamu mereka pagi ini.
“Siapa?”
“Tuan Lemaire...”
Valerin yang merasa penasaran langsung bergegas menuju ruang tamu, diikuti oleh Panacea dan Cerise. Kedua gadis berbeda penampilan itu mengekori langkah Valerin. Hanya saja Valerin tiba-tiba berhenti saat berada di lorong koridor “Ah, Panacea carikan pakaian untuk Cerise.” Ucap Valerin.
“Master?”
“Cerise, ikuti Panacea. Ganti dulu pakaianmu dengan pakaian yang baik kemudian temui aku di ruang tamu utama.” Ucap Valerin yang sudah berlari lebih dulu.
“Baik, master.”
Saat sampai diruang tamu. Valerin Grayii menatap seorang pria muda berpakaian militer kerajaan sedang menikmati secangkir tehnya yang sedang dituangkan oleh tuan Odolf. Valerin Grayii menatap heran. Tapi, dia dengan tenang menghampiri pria itu.
“Selamat pagi, Earl Grayii...”
Valerin melirik sebuah pedang bersarung yang menggantung dipinggangnya. Sekilas simbol mawar merah itu mengingatkannya dengan beberapa simbol pada amplop surat milik sang kakak “Apakah dari Crave Rose?” Gumam Valerin dalam hati.
“Earl tampak bingung, Perkenalkan Earl. Ajundan pribadi Yang Mulia Frederitch, Theo Lemaire.” Ucap pria itu mengenalkan dirinya. Tampaknya seumuran dengan Friday , dia memiliki postur tubuhnya tegap dan tinggi, kulitnya cokelat matang, dengan kedua iris mata obisidian yang terang.
Valerin Grayii menelisik kembali “Valerin Grayii, Earl manor Grayii pengawas wilayah Hortensiaburg, tuan Lemaire.” Ucap Valerin.
“Anda lebih menggemaskan dari cerita orang-orang.”
“Eh, maaf?”
Pria itu menggeleng “Tidak Earl, bukan apapun. Yang Mulia memintaku untuk menghantarmu ke kediaman Lady Rhea.” Ucap pria itu lagi.
“Tuan Lemaire, maaf... Siapa Lady Rhea itu? Kemudian kenapa juga Frederitch ingin aku kesana?” Valerin memasang raut wajah tenang, sebenarnya dia sudah tahu hanya pura-pura tidak tahu saja.
Pria itu tersenyum ramah “Lady Berthan, anak dari Earl Christopher Berthan dan Lady Annette. Earl wilayah perbatasan Crave Rose dan Dust Bones.”
“Tuan Lemaire, maaf aku memiliki ingatan yang buruk. Bisa katakan, kenapa aku harus kesana?” Valerin Grayii, memasang senyuman ramah dengan sepasang sorot mata yang tajam “Sungguh, Lady Rhea ini tak begitu aku kenal.” Lanjut Valerin lagi.
Panacea, baru saja menghampiri Valerin. Dia kenal pria berpakaian militer kerajaan Crave Rose itu “Tuan Lemaire, tuan muda pernah mengalami kecelakaan. Ingatannya cukup buruk, sementara kakinya pun sama. Tuan muda tidak ingat Lady Rhea.”
Barulah pria berkulit tan itu mengerti “Perintah Pangeran untuk membawa Earl Grayii sementara waktu di kediaman Reigan. Pangeran mengkhawatirkan kondisi Earl.” Pria itu beranjak berdiri, dia bersih teguh menatap Valerin dengan sepasang iris obisidiannya “Berbeda, Earl Grayii bersikap berbeda.” Theo Lemaire bergumam, ia mulai mencurigai sang Earl Grayii.
Sekali lagi Valerin mengulum senyuman manisnya “Maaf, aku menolaknya.”
Panacea membelalakkan kedua matanya, dia cemas. Sementara ini kubu Crave Rose memang berseteru dengan Dust Bones, dia takut jika sang Earl malah memicu pertikaian.
“Mungkin Friday lupa—ah, maksudku Frederitch mungkin saja melupakan jadwalku saat ini, aku memiliki janji dengan anak-anak di pusat kota. Lain kali, saya akan mengunjungi kediaman Reigan dengan resmi. Terimakasih atas bantuannya, tuan baik hati.” Dengan diimbuhi sepasang pipi memerah manis dengan senyum yang menawan.
“Ekh... Earl Grayii benarkah ini dia?” Theo Lemaire sampai mendeham, dia juga mengakui jika Earl Grayii saat ini dua kali lipat lebih manis dari gadis asli “A-anda begitu, kalau begitu selamat pagi Earl Grayii...” Bergegaslah ajundan muda itu pergi dari kediaman Grayii.
Sementara Valerin Grayii sudah terkekeh, dia sudah menduga karakter dari Theo Lemaire ini “Aku masih bisa mengatasi ajundannya Frederitch. Tapi, tunangannya itu belum tentu bisa kuatasi. Jadi lebih baik menghindari masalah, bukan begitu Panacea?” Ucap Valerin sambil melipatkan kedua tangannya di dada.
Panacea memandang gugup “B-bagaimana bisa, tuan muda mengetahuinya?”
“Menduga, tapi dari raut wajahmu tampaknya benar.” Valerin merengangkan tubuhnya “Ah~ tapi tak masalah, kau tak perlu menyembunyikan rahasia dariku Pana. Kau bukan Friday, pria itu senang menyimpan rahasia.” Valerin juga berjalan keluar dari manor itu, dia tidak marah dengan Panacea “Kau mengerti, Pana?” Lanjut Valerin.
“Baik, tuan muda.”
“Bagus, ayo ikut aku ke pusat kota. Cerise, apa kau hanya diam disana?” Tegur Valerin pada Cerise sang robot wanita yang berdiri di pojok ruangan.
“Baik master.” Ucap robot wanita itu.
Valerin sudah berada diluar ambang pintu manor Grayii “Tuan Odolf titip manor, ya... Aku pergi dulu.” Ucap Valerin setengah berteriak.
“Berhati-hatilah tuan muda.”
.
.
.
Bersambung