
Ellis berjalan keluar dari pabrik itu “Jika ada jalan damai, kenapa harus membunuh?” Celetuk Ellis kala itu. Dia yang terlanjur juga kesal, memilih meninggalkan pabrik tanpa berkata apapun lagi.
Ia berjalan dengan hentakan kaki yang kesal, amat sangat kesal. Ia menaiki kudanya, kemudian memacu dengan laju. Lamban laun wajahnya memerah panas, dan suhu tubuhnya turut sama. Sial, batin Ellis menggerutu. Ia lupa, jika masih dalam kondisi sakit. Sejenak ia lupa jika masih demam, tapi keluar dari sana temperatur tubuhnya memanas.
Hari menjelang senja, Ellis yang mulai tampak pucat masih memacu kudanya menjadi pelan. Ia memasuki jalan berbatu dengan kiri dan kanan pepohonan rimbun. Tidak ada siapapun, hanya hutan belantara ini.
“Ha... apakah masih jauh?” Kedua mata Ellis mulai sayu, ia tak lagi memandang jelas jalan yang ada didepannya.
“Aku...” Gumam tak jelas, ia pingsan dan terjatuh dari kudanya. Brukkkk! Tubuh Ellis terbaring tak menawan dijalanan tanah berbatu itu.
“Dia, pernah menjadi kesayanganmu, sekali...” Samar-samar suara mengalun lembut terdengar pada pendengaran Ellis, seketika seluruh tatapannya mulai gelap.
.
.
.
Ellis Francieli, terbangun dengan mendapati tubuhnya sudah berbaring pada padang aster putih yang luas. Kedua mata emas Ellis menatap sebuah dinding menjulang berdiri kokoh disana. Ia menukik alisnya dengan heran “Itu apa?” Tanya Ellis.
“Itu, itu adalah gerbangnya. Boerhavia.” Ucap seorang pria disebelahnya.
Ellis menoleh, yang ia tatap seorang pria muda. Tinggi tegap, memakai setelan pakaian serba putih, dengan jubah hitam yang menutupi kepalanya. Sangat jelas kedua mata Violetnya menatap hangat kepada Ellis, kemudian ia mengulurkan tangannya kepada Ellis lagi “Mari kubantu.” Ucapnya.
Ellis meraih tangan dingin itu “Kau siapa?” Tanya Ellis.
“Namaku... Valerin Daryl Kinaru” Jawab pria muda itu dengan senyum yang lebar.
Ellis menggeleng “Ada berapa banyak Valerin didunia ini?” Celetuk Ellis diiringi hela nafas “Namaku Ellis Francieli.” Jawab Ellis.
Pemuda itu tersenyum simpul, wajahnya yang rupawan mengukir senyuman yang hangat bagi Ellis yang menatapnya mulai merasa tenang “Tidak apa-apa, berarti takdir ingin kau hidup lebih lama tapi berbeda lagi jika ingatanmu pulih kembali, dia akan tetap mengikis hidupmu seperti dulu.” Ujarnya.
“Kau berbicara apa?”
Pemuda itu langsung menggeleng “Bukan apapun, bagiku ini sudah cukup hanya sekedar bertemu denganmu, percaya atau tidak, kita saudara.” Ia memengang pundak Ellis dengan lembut “Kata mereka, Valerin Grayii yang sebenarnya itu aku, namaku didunia yang kini kau tinggali.” Jelas pemuda itu.
Ellis membelalak, memang ia merasa familiar dengan pemuda ini namun Ellis tidak mengenalnya “Aku tidak tahu...” Jawab Ellis dengan pelan.
“Benar, kau hanya tak mengingatnya Ellis.” Mengalun lembut suara pria muda itu, ia beralih menatap lurus gerbang membentang yang ada didepannya. Tatapan pria itu tetap lurus kesana “Kau, memiliki sesuatu yang tak kumiliki, bahkan dia pun mengakuinya... Valyria.” Terakhir senyuman hangat pria itu mencelos perasaan Ellis sangat dalam. Begitu dalam dengan rindu.
Brakh! Suara kereta kuda yang berbunyi, dari roda yang tak sengaja menyenggol berbatuan jalan. Ellis langsung membuka kedua matanya, menerjab dengan cepat “Ngg...” Ellis bergumam.
“Jangan bangun, kau masih demam... berbaringlah dulu seperti ini.”
Suara itu, milik Alphonse Caleum, Ellis sadar jika tengah berbaring dipangkuan pria itu didalam kereta istana kerajaan “Hm...” Ellis berdeham setengah malu, wajahnya memerah, bagaimana bisa seorang ajudan berbaring tak sopan pada rajanya? Ellis langsung hendak beranjak duduk.
“Ini perintah, berbaringlah dulu setidaknya sampai di Istana nanti.”
Ellis mau, tak mau pun mengangguk. Ia memilih kembali berbaring dipangkuan Alphonse yang sambil membaca secarik kertas ditangannya “Yang Mulia, bagaimana bisa aku berakhir disini?” Tanya Ellis.
“Kulihat kau jatuh ditengah jalan, kudamu sudah berlari cukup jauh, siapa sangka manusia yang kukira mati itu kau? Bukannya istirahat, kau malah berkeliaran di tengah hutan.” Alphonse, jelas-jelas mengomeli Ellis.
Ellis yang melirik secarik kertas yang dipegang Alphonse, menyadari simbol cap dari kediaman pengacara Whitebruse. Ellis mengeryitkan dahinya “Itu, bukankah dari kediamanan Whitebruse?”
Alphonse mengangguk singkat “Benar, Whitebruse akan membantu proses perceraian dengan Luciana, setidaknya bukti-bukti kebusukannya sudah terkumpul.” Ucap Alphonse.
Ellis langsung membalikkan posisi berbaringnya menghadap wajah sang raja, tatapannya tak terima saat itu “Apakah Yang Mulia tidak memikirkan perasaan Pangeran Victorine? Dia teramat kecil untuk tahu kedua orang tuanya berpisah.” Celetuk Ellis.
“Oh, kalau begitu tinggal cari ibu baru untuk Victorine...” Alphonse berucap dengan santai, gelagatnya sangat tak hirau.
Ellis beranjak duduk, ia melawan perintah sang raja yang amat konyol ini “Yang Mulia, memang benar Felix Melian bersama Ratu Luciana...” Ellis membungkam, ia sadar belum memberitahu penglihatannya malam itu kepada Alphonse.
“Hm...” Deham Alphonse, kini kertas yang ia baca tak lagi menarik untuk kedua mata emeraldnya. Namun beralih, kepada Ellis si surai pirang dan bermata emas itu. Ia menyentuh dagu Ellis dengan lembut “Kupikir kau tak mencurigai Luciana, tapi siapa sangka kau lebih dulu tahu kebusukannya, parahnya lagi permaisuriku sudah lama berselingkuh dibelakangku selama berbulan-bulan...” Bisiknya ditelinga Ellis “Kini, kurasa seseorang pengganti Luciana sudah berada didepanku.” Ucap Alphonse dengan senyum simpulnya.
“Yang Mulia, apa maksudmu?”
“You’re once of my true love, Ellis...” Alphonse meraih puncak tangan Ellis kemudian mengecupnya “Kau tahu, akibat menolak perintah bukan?” Kilat pada kedua mata emerald sang raja menatap langsung emasnya Ellis yang membelalak tak percaya.
Ellis meneguk salivanya sendiri, antara takut dan bingung “...Yang Mulia, aku...” Perlahan Ellis menarik tangannya dari genggaman Alphonse.
Alphonse yang tak sudi kembali ditinggal oleh Ellis memilih untuk mendesak Ellis, Alphonse memasang raut frustasi, kemudian menarik kembali tangan Ellis untuk mendekati tubuhnya “Ellis kumohon, apakah aku terlihat mempermainkanmu atau tidak bersungguh-sungguh?” Tanya Alphonse dengan tatapan memelasnya.
Ellis tidak sanggup, rajanya meminta sesuatu yang tak sanggup ia kabulkan, Ellis hanya manusia biasa yang bekerja mengabdi kepada sang raja bukan untuk sebagai pendampingnya tapi perasaan Ellis menggebu dilain kata, perasaan kecilnya cukup ragu “Sebagai ajudan Yang Mulia, keselamatanmu merupakan prioritasku tapi kumohon Yang Mulia bukan seperti ini...” Ellis tidak melemaskan tangannya yang diremat oleh Alphonse kala itu, biar bagaimana pun Ellis masih berhati baik “Apakah aku juga terlihat bukan seperti ajudanmu? Nah, Yang Mulia, biarkan aku menjadi perisaimu, tulangmu dan tangan kananmu. Tapi untuk menjadi separuh hatimu, Ellis Francieli ini tidak akan sanggup.” Ellis berucap dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Jika dikatakan ia jatuh cinta kepada Alphonse, tak juga sepenuhnya benar. Tapi sebagian juga terasa begitu nyata mencintainya. Ellis dilemma.
“Ellis, apa kurangnya aku untukmu?” Alphonse meraih wajah Ellis, bahkan paras manis itu ia belai dengan lembut “I wish you could be mine...” Ujar Alphonse.
Ellis mengangguk “Aku hanya Ellis Francieli dari desa Lotus, Yang Mulia...” Tegas Ellis lagi kali ini dengan binar sendu pada kedua mata emasnya.
Mendengar hal itu, sekali lagi untuk kesekian kalinya Alphonse ditolak oleh Ellis “Baik itu kau yang dulu ataupun sekarang tetap menolakku, ya?” Tatapannya murka, hingga Alphonse mendorong Ellis ke ujung bangku dan merauh rakus bibir kecil Ellis.
“...Ini aku Alphonse, saat ini, kali ini kau memilikinya Ellis...” Tangan lebar Alphonse menepikan sebagian surai emas Ellis, tatapannya sendu dan frustasi. Ia cukup putus asa untuk menaklukkan Ellis Francielie. Pria itu pun menunduk seraya memengang kedua bahu Ellis “Maafkan aku.” Ujar Alphonse.
Ellis yang memerah hanya menatap Alphonse, perasaanya hangat. Siapa yang akan normal saja jika sehabis dicumbu oleh sang raja yang tampan rupawan ini, Ellis memalingkan pandangannya sementara ia sendiri merasa bibirnya merah membengkak.
“Selamat malam Ellis.”
“A-apa?” Ellis mendongkak tak percaya, ketika sang kusir membukakan pintu. Ia sudah tiba di penginapan Wood Remington. Ellis menuruni kereta, tapi masih sempat memandangi Alphonse yang kini tak sudi lagi menatap wajah Ellis. Bahkan Ellis sendiri menyadari tatapan kecewa dari Alphonse kepadanya. Berlalunya kereta kuda itu dimalam hari, meninggalkan Ellis yang berdiri dan mematung seorang diri.
Ada yang tak beres dengan perasaan Ellis, ia merasa kecewa dengan reaksi Alphonse “Kenapa?” Ucap Ellis sambil memengangi kerah bajunya sendiri.
“Ya Tuhan! Ellis!” Lyn Sander berseru, dengan kain berbulu domba yang ia pegang segera ia pasangkan pada tubuh Ellis “Kau masih demam, tapi berkeliaran...” Lyn mendadak diam membisu.
Kedua mata Ellis merah, sementara raut wajah datarnya dengan basah dari air mata yang tak berhenti-henti keluar. Mengenaskan, seorang Ellis tampak begitu sedih.
“Kau kenapa?” Tanya Lyn yang baru pertama kali melihat raut sesedih ini dari seorang Ellis.
Ellis mengalihkan tatapannya kepada Lyn “I’m once of his true love, Lyn...” Ungkap Ellis dengan banjir air matanya kepada Lyn.
“Apa maksudmu Ellis? Berbicara yang jelas.”
“Yang Mulia, dia mengatakan jika ia mencintaiku, sekarang aku harus bagaimana Lyn? Aku akan berdosa, jika mencintai rajaku sendiri? Lyn, aku hanyalah ksatria.”
Lyn, sulit mempercayai perkataan Ellis. Tapi Ellis tampak jujur kala itu “Masuklah, angin malam akan memperburuk keadaanmu.” Lyn tidak berkata apapun lagi, ia menarik tangan Ellis untuk serta merta masuk kedalam penginapan.
Secangkir susu hangat, baru dibuat oleh Lyn. Pria muda itu mengikat ekor kuda surai panjangnya “Minumlah, setelah tenang ceritakan semuanya kepadaku.” Ujar Lyn yang meletakkan secangkir susu hangat itu didepan Ellis.
Lyn beranjak berdiri, nyaris hendak menutup pintu yang terbuka sebelum sebuah tangan wanita menahannya “...Maaf, apakah penginapan ini masih terdapat kamar kosong?” Ujar seorang wanita bersurai cokelat karamel dengan sepasang mata kelabu yang berseri.
Lyn Sander tertegun dengan wanita itu, ia tampak dalam perjalanan jauh karena tampak dari kudanya yang membawa banyak bawaan “Silahkan masuk nona...” Ujar Lyn mempersilahkan masuk gadis muda itu.
Ia memiliki bekas luka diwajahnya, tapi gadis muda itu tetap tampak cantik apalagi senyumannya tidak pernah pudar itu “Selamat malam tuan...” Sapanya dengan ramah kepada Ellis yang kala itu sedang duduk didepan perampian sedang menikmati secangkir susunya.
“Ah, kamar nomor 22 dilantai atas.” Lyn memberikan kunci itu kepada sang gadis “Anda bisa naik keatas, sementara kuda anda biar aku saja yang menyimpannya. Kami memiliki tempat peristirahatan untuk kuda juga.”
“Oh, kalau begitu terimakasih.” Ujar gadis muda itu seraya tersenyum.
“Ellis, aku akan mengurus kuda nona ini, bisa kau antar nona ke atas? Jangan lupa, kau harus istirahat juga.” Pinta Lyn yang langsung keluar dari penginapan, kemudian kembali menutup pintunya. Menyisakan sepi dan hening antara sang gadis muda dan juga Ellis kala itu.
Ellis beranjak berdiri menghampiri sang gadis “Namaku Ellis...”
“Francieli, aku tahu itu.” Sang gadis setengah berbisik dengan waspada, ia menatap Ellis dengan serius “Namaku Sabrina Sirius...” Ujarnya lagi.
“Bagaimana kau bisa mengetahui namaku?”
Sang gadis muda menggeleng “Besok, temani aku menemui kenalan lamamu, barangkali kau bisa mengingatnya kembali. Nona Francieli, aku tak bisa terlalu dekat denganmu didalam penginapan ini. Bahkan dinding pun sudah menjadi telinga pemuda bermata violet itu...” Bisik sang gadis muda tampak berwaspada “Kalau begitu selamat malam tuan.” Kemudian merubah dengan cepat raut wajahnya dengan senyuman lebar itu. Ia menunduk hormat, kemudian berjalan lebih dulu menaiki anak tangga menuju lantai dua.
“Ellis!” Belum usai dengan rasa keterkejutannya terhadap gadis muda itu. Ellis mendapati Remington yang tiba dengan raut wajah paniknya “Yang mulia! Yang Mulia menjatuhimu hukuman? Apa kau baik-baik saja?” Seru Remington yang langsung mendekap Ellis.
“A-apa katamu?” Ellis tertawa hambar, baru beberapa menit bertemu dengan Alphonse kemudian sang ayah angkat malah berucap seperti itu.
“Bukan kau Ellis tapi ayahmu.” Dibelakang Remington, ada sosok Mathias Lavandula dengan dua orang prajurit dibelakangnya “Sayang sekali Remington, bahkan kau terbukti sudah menyembunyikan pembelot dari Crave Rose selama ini.” Ucap Mathias.
“Oh, Tuhan kepalaku ingin pecah.” Ellis dalam batinnya. Ia tersentak kaget, mendapati sang ayah angkat yang harus ditangkap oleh temannya sendiri “Math! Dia Remington, bagaimana bisa Dust Bones menangkap ksatrianya sendiri?!” Sergah Ellis.
“Kalau itu, tanyakan kepada sudaramu yang berkeliaran bebas di Dust Bones.” Mathias yang ramah, tak lagi tersenyum hangat kepada Ellis “Kami juga akan menangkap mata-mata Crave Rose itu.” Katanya lagi.
“Lyn bukan berasal dari Crave Rose!”
“Ellis!” Bentak Mathias “Jika kau terlibat lebih jauh lagi, kau juga akan bernasib sama, kumohon jangan mempersulit kewajibanku.” Biarpun begitu Mathias masih menatap tak tega kepada Ellis. Ia menghela nafas “Remington, sahabat ayahku, kumohon Ellis ini pun sulit bagiku.” Pinta Mathias.
“Tidak!” Ellis mengeluarkan pedangnya, ujung emosinya membeludak kala melihat Lyn yang sudah dirantai kedua tangannya “Lepaskan Lyn!” Sergah Ellis.
“Cukup Ellis!”
“Ayah tap—“ Ucapan Ellis tertahan, kala itu ia juga melihat Lyn yang menggeleng dengan tatapan memohonnya.
“Jangan libatkan dirimu lebih jauh, ya” Ucap Lyn dengan simpul senyumannya.
“Biarkan Ellis, memang salahku, cukup tinggal disini dan tunggu kami pulang. Ya?”
Tatapan Remington teramat rapuh kepada Ellis. Ellis mengangguk biarpun perasaannya benar-benar berat “Maafkan aku...” Gumam Ellis yang menatap keluarganya ditangkap.
“Ellis, setidaknya tunggu keputusan para petinggi Dust Bones, semoga Yang Mulia mempertimbangkannya.” Ujar Mathias yang juga meninggalkan penginapan itu.
Kriet... Brak...
Pintu yang tertutup itu mengundang sunyi bagi Ellis, selain para tamu penginapan yang tak banyak dan suara hentakan kaki dari luar yang bisa Ellis dengar “...Jangan ambil keluargaku, Alphonse... Hiks...” Tubuh Ellis yang semula berdiri, kini merosot terduduk. Ia bersimpu pada lantai kayu mahoni yang licin itu. Seorang diri.