Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Episode 17




 


Valerin menatap desa terbengkalai, tak ditinggali siapapun selain kabut tipis yang menyelimuti nyaris keseluruhan desa ini. Ia masih menunggangi sebuah kuda bersama Friday yang ada dibelakangnya, kuda putih ini ditunggani sepasang berbeda ras. Awalnya Valerin canggung, tapi Friday yang memengang kendali kuda ini terlampau tenang. Ia pun berangsur-angsur merasa nyaman apalagi sesekali menyandar pada dada bidang Friday yang kokoh itu.


Panacea menunggangi kudanya sendiri, Valerin pun tak menyanggka jika gadis itu juga tangguh. Ia mengikuti dari belakang dengan kuda hitamnya.


Valerin tiba-tiba meremat baju Friday tepat didepan dadanya “Friday...”


“Tuan muda, kenapa?”


Bagaimana pun juga, Valerin merasakan perasaan tak nyaman yang menyelimuti sekujur perasaannya. Kedua iris mata violetnya berbinar diiringi air mata yang keluar “S-sakit...” Ucap Valerin meremat kemejanya sendiri.


“Efek samping, berarti tuan muda merasakan kehadiran mereka yang terinfeksi. Haraf untuk tidak panik tuan muda, bernafaslah dengan tenang.” Panacea memajukan kuda yang ia tunggangi. Berjalan berdampingan dengan Friday yang memengangi Valerin.


Valerin mengangguk, ia mencoba bernafas dengan menghirup aroma menenangkan dari Friday “M-maaf...” Valerin mengusak-ngusak ujung hidungnya pada dada bidang sang pelayan.


“Tidak apa, aku ada disini tuan muda. Sesuatu yang buruk tak akan menimpamu.”


“Hm, jangan tinggalkan aku.”


Friday menghela nafas, ia teramat gemas dengan sikap manis tuan mudanya ini “Pegang yang erat, tampaknya tamu-tamu sudah datang.” Sebelah tangan kiri Friday memengang pinggang si gadis Grayii itu dengan erat. Tangan kanannya dengan tanggung memengang kendali kuda, seolah bersiap untuk melarikan diri dari masalah yang besar.


Valerin dengan netra yang bergetar melihat gerombolan manusia yang tak normal, mereka bergerak dengan ganjil sementara seluruh pupil mata mereka memutih akan jamur.


“Itu... bukan lagi manusia.” Valerin bergumam.


“Ah, benar tuan muda. Mereka sudah kehilangan jati diri sebagai manusia, dalam keadaan ini mereka akan menyantap apapun yang hidup baik itu manusia atau vampir.”


Valerin menanggah “Bukankah Vampir kebal terhadap virus itu?”


“Memang kebal, tapi kami juga melawan musuh yang sama. Lihat mereka, para terinfeksi obscure itu akan menyantap apapun. Ras kami pun begitu...” Friday melaju memacu kudanya, mereka melintasi gerombolan manusia-manusia terinfeksi itu dengan melompat.


Kuda yang mereka tunggangi bergerak dengan cepat, beruntung para manusia terinfeksi itu bergerak sangat lamban. Mereka memasuki pusat desa yang sepi itu, sebuah manor tertinggal dengan kondisi yang bagus menjadi pilihan mereka.


“Tuan muda, istirahatlah disini.” Panacea sudah membereskan sebuah sofa yang awalnya berdebu itu.


Friday sedang membawa kuda-kuda itu kedalam ruangan lain setelah menggunci seluruh pintu dengan rapat lengkap dengan menahannya dengan kayu-kayu yang dipaku. Tak mungkin kuda-kuda mereka dibiarkan diluar, itu sama saja memberi santapan kepada para terinfeksi obscure.


“Bagaimana perasaanmu sekarang tuan muda?”


“Baik Pana, aku hanya sedikit heran.”


“Bagaimana tuan muda?” Panacea membantu membuka mantel dan topi yang dikenakan Valerin.


“Mereka bergerak dengan aneh, apakah mereka buta dan tuli?”


“Seharusnya begitu tuan muda, apa anda membaca buku-buku mengenai Obscure?” Friday baru tiba, ia membawa sebuah tas kotak yang sejak meninggalkan manor Grayii. Bahkan Valerin tak tahu isinya, tapi setelah Friday mengeluarkannya isi tas itu semuanya berupa senjata. Dimulai dari pistol, senapang, belati, dan peluru “Mereka tak akan mati jika tak diberikan serum ini.” Friday mengeluarkan sebuah peluru berisi cairan violet terang.


“Apakah itu virus obscure?”


Friday ingin menjawab, namun ia menatap dengan ragu “Tuan muda...” Friday dengan tenang duduk disebelah tuannya. Ia meraih telapak tangan itu dan meletakkan peluru itu didalam genggam Valerin “Ini antidote, sintetik dari darah kaum Gandaria. Jumlahnya tak lagi banyak, berat untuk mengatakannya tapi kaum Gandaria memiliki darah yang mampu menyembuhkan...”


“... Aku tahu” Valerin langsung memotong ucapan Friday “Apakah aku diperebutkan oleh Crave Rose dan Dustbones?”


Kedua netra raven blue Friday melebar, bersamaan dengan Panacea yang juga tak menyangkal terkejut. Mereka sebenarnya ingin jujur, hanya menunggu saat yang tepat. Mereka tak ingin Valerin Grayii semakin tertekan dengan kondisinya. Tapi gadis itu sudah lebih dahulu menduga.


“Tuan muda...”


“Friday, Panacea dengar... Menurutmu kenapa selama ini aku diam saja?”


“Karena aku, memiliki tujuan untuk tetap masuk kedalam dunia kakakku. Valerin Darly Kinaru orang yang selama ini kalian anggap sebagai tuan, aku hanya ingin mengetahui kebenaran atas kematian kakakku.” Lanjut Valerin seraya meremat peluru itu.


Valerin tersenyum simpul “Lagipula kehidupan ini begitu menyenangkan, maaf jika aku sudah egois untuk menikmatinya...” Semu kemerahan wajah Valelrin membias dengan cantik.


Tidak tahan, Friday meraup tubuh Valerin dan memeluknya “Jangan dipaksakan, kelak kami akan menceritakannya secara perlahan.” Ucap Friday.


“Benar tuan muda, untuk saat ini kita memiliki misi. Tinggal menunggu anggota lain tiba, maka kita akan memburu semua obscure itu sampai tuntas.” Panacea ikut menggengam tangan Valerin dengan erat. Maid muda itu tersenyum dengan manis “Kami, akan melindungi tuan muda.” Ujarnya lagi.


“Ah, Tarra... apakabar. Setelah kematianku, aku menemukan orang-orang baik lagi. Teman-teman baru.” Ujar Valerin dalam hati, ia tersenyum dengan haru.


Tok.. tok...


“Earl! Earl! Kami sudah sampai.”


Ketiganya tersentak kaget, yang bereaksi pertama adalah Panacea “Mereka datang.” Ucap Panacea sambil berjalan membukakan pintu dengan susah payah.


Disana menampaki dua orang pria muda dengan tas besar dipunggung mereka masing-masing. Salah satunya Valerin tahu, karena pernah bertemu sekali sementara pria lainnya itu baru ditemui oleh Valerin Grayii.


“Selamat datang kembali tuan muda, Leon Sirius datang bersama Viscount William Rovana.”


Pria bersurai hitam dengan sepasang mata hijau terang itu tersenyum dengan lebar “Hai, Earl selamat datang di Desa Utara.” Ucapnya dengan cengiran lebar.


“Tunggu...” Valerin menaikkan sebelah alisnya “Viscount Rovana? Bukan kau yang menangangi wilayah ini?”


“Earl! Seperti rumornya, kau benar-benar amnesia?!”


Friday yang masih memeluk pinggang Valerin menatap dengan malas “Rovana... berbasa basimu cukup, kau memang gagal bilang saja.”


“Hai! Hai tuan Friday. Kalau itu... hehe, maafkan aku Earl karena lama berkunjung ke Crave Rose jadinya meninggalkan desa utara sampai terbengkalai.”


“Omong-omong, bagaimana manorku ini? Cocok jadi markas sementara bukan?”


“Apa?! Ini kediamanmu?!” Valerin terkejut bukan main. Oh, ternyata tugasnya begitu berat.


Valerin menghela nafas sambil memengangi dahinya yang berdenyut "Viscount Rovana ini benar-benar..."


"Tuan muda, kenapa?" Friday berucap cemas.


"Tidak apa-apa, hanya tak habis fikir. jadi Viscount Rovana ini anggota terakhir Paladin of Dustbones?"


Pria itu mengangguk "Ya, benar. aku pun salah satu penjaga armor Paladin of Dustbones. Penyimpanannya ada diruang bawah tanah."


Leon Sirius yang sedari tadi diam langsung bertepuk tangan "Bagus, kita hanya harus mencari sumber infeksi kemudian membasmi mereka."


"Tapi tuan muda sedang lelah." Panacea mengimbuhi, dia mendekati Valerin.


"Tapi kita butuh darah Earl Grayii untuk beberapa senjata."


"Tidak masalah." Valerin malah antusias, menurutnya ini hal yang baru dan unik "Tak ada bedanya dengan Friday yang meminum darahku bukan?"


"APA?!" Leon Sirius dan Viscount Rovana berseru bersamaan.


Friday tertawa dengan nada mengejek "Tuan muda, milikku." Ucapnya dengan bangga.


 


.


.


.