Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Season 2 : Episode 47




“Tidak ada hal yang perlu kukatakan kepadamu.” Ucap Valerin Grayii kepada Alphonse “Aku tahu...” Lanjut Valerin.


Sang Earl of Hortensiaburg, menatap sang king of DustBones tak bergeming “Kau ingin aku mengendalikan mereka semua? Sebelum itu katakan apa wabah semakin buruk ini juga ulahmu?” Tatap Valerin. Dia juga mengepalkan kedua tangannya, tindakan Alphonse Caleum yang baru ia ketahui itu memang keterlaluan biarpun Valerin sudah menduga, tetap saja Alphonse membahayakan jiwa-jiwa orang yang tak bersalah.


Alphose Caleum, sang raja sekaligus putera tertua Caleum. Dia tak terkejut jika Valerin Grayii dapat mencium rencananya, sebaliknya Alphonse bertepuk tangan “Bagus, bagus sekali. Semoga kau mengerti dengan tindakanmu, Earl...” Ucap Alphonse dengan seringai tipisnya.


“Val, sudah, lebih baik kita pergi...” William Rovana, mendekati arah langkah Valerin kepada Alphonse Caleum. Seolah William sudah tahu jika Alphonse berbahaya saat ini “Al, kau masih membutuhkannya, cobalah jangan bertindak membahayakan siapapun.” Bujuk William Rovana.


Valerin menggeleng seraya melihat William Rovana “Serius? Dia, keterlaluan berapa banyak ayah, ibu, anak, dan bisa saja keluargamu yang terinfeksi sia-sia.” Ucap Valerin Grayii.


Perkataan benar, menohok kelima Paladin of Dust Bones saat itu. William Rovana yang paling dekat dengan keluarga Kerajaan juga tahu, dia juga familiar dengan ucapan Valerin mengenai keluarga yang tak bersalah “Aku tahu rasanya, percayalah aku lebih tahu, tapi jangan gegabah dengan tindakanmu.” Bisik William Rovana. Tubuh menjulangnya itu menutupi arah pandangan Valerin kepada Alphonse.


“Dengar itu, kau bisa bukan?” William Rovana tersenyum lembut, dia melihat sosok Emelie dalam diri Valerin, sang adik yang sungguh dirindukan.


Frederitch, Pangeran ketiga dari ras Vampir elit. Dia sebenarnya mulai merasakan kejanggalan, Alphonse Caleum yang duduk di singasana itu sangat tenang “Bohong, jika dia tidak merencanakan sesuatu.” Batin Frederitch, benar saja. Setidaknya sebuah pistol dari saku jubahnya sengaja ditembakkan kepada William Rovana. Tapi pada satu tembakan lagi, Frederitch terpaksa mendorong tubuh William Rovana dan menarik tubuh Valerin menjauh.


“Wil-wiliam...” Kedua iris violet Valerin bergetar, percikan darah pun mengenai wajah manisnya yang tampak trauma. Bagi Valerin, orang kehilangan orang yang dianggapnya sebagai keluarga amat menyakitkan.


“Viscount!” Panacea menghampiri tubuh ambruk sang Viscount Rovana itu, dia pun terpaksa menguras seluruh energi sihir untuk memindahkan kelimanya ditambah pangeran Alex berpindah dari istana itu.


Detik selanjutnya, mereka berlima berpindah didepan sebuah kediaman sederhana. Panacea panik dengan menahan aliran darah yang keluar dari belakang tubuh William Rovana “Kumohon... kumohon...” Panacea menggeleng dengan panik.


Belum usai soal tertembaknya William Rovana, Pangeran Alexander yang terus berada disisi Leon Sirius malah menggila setelah melihat darah segar dari William Rovana.


“Jangan pangeran...” Leon tak berani melukai sang pangeran, dia hanya bisa menghadang si pangeran yang menjadi agresif itu bahkan kedua tangannya mulai menghitam nyaris menjadi Obscure lainnya.


Valerin Grayii hanya melotot menatap tubuh William Rovana yang dalam ambang kematian “Ti-tidak...” Dia terguncang dalam pelukan Frederitch yang berusaha menangkannya.


“Lakukan sesuatu!” Pekik Panacea, ia menatap Valerin dengan mata berkaca-kaca “Energiku habis kau dengar?! Selamatkan dia! Kau dokter! Kau penyembuh, kau Avicenna!” Jerit Panacea dengan panik.


Hal itu menyadarkan Valerin Grayii “Benar...” Gadis bersurai perak itu mengangguk, dia mulai mendekati William Rovana, meraih tangan pucat pria itu “Maafkan aku...” Ucap Valerin.


William Rovana yang sekarat menatap dengan sayu diiringi senyum sendunya “Bukan salahmu...” Ucapnya dengan pelan, dia juga membalas pengangan tangan Valerin “Jaga dirimu...” Lanjutnya lagi.


Valerin Grayii terisak, dia menggeleng dengan cepat “Kumohon dengar aku, aku senang berada didunia ini, hidupku berubah. Kau tahu, aku hanya seorag Valyria sebelumnya, aku tak pernah benar-benar berada didalam keluargaku.” Ujar Valerin, sepasang matanya violetnya berbinar, surai peraknya pun tampak berkilau saat itu “...Aku ingin menyelamatkanmu, aku ingin kau hidup.” Dengan secara tak sengaja, Valerin menyalurkan energinya. Secara ajaib, William Rovana berangsur-angsur membaik walaupun tidak semaksimalnya.


Pemandangan itu tak luput dari perhatian Frederitch, die melongo tak percaya namun sempat menutup mulutnya sendiri “Bahaya, dia benar-benar mirip.” Batin Frederitch juga.


Saat Valerin menoleh, dia melihat Leon Sirius sudah memengangi tubuh pingsan pangeran Alexander “Kau memberinya darahku?” Tanya Valerin.


Pemuda itu mengangguk “Kita didepan kediaman kakakku, Edward Sirius. Kurasa dia masih bertugas, tidak masalah kita masuk lebih dulu saja.” Ucap Leon sirius.


“Val, kenapa?” Frederitch menyentuh puncak Valerin, dia heran dengan gelagat Valerin yang tampak mencari sesuatu.


Valerin Grayii segera berjalan dengan cepat, dia menyusuri koridor utama “Elmer! Mario! Garret! Julia! Mai!” Pekik Valerin dengan panik sambil menyusuri rumah itu.


Sebaliknya Frederitch, ia memandangi salah satu dinding yang terdapat bekas goresan dalam. Kemudian kembali menyusul langkah Valerin “Val tunggu...”


Valerin berhenti ketika melihat salah satu kayu pada lantai itu sedikit terbuka, mendapati Elmer yang kotor menyembul keluar dari basement itu “Tuan...” Lirihnya, sambil keluar dari tempat itu untuk langsung memeluk Valerin Grayii.


“Ya Tuhan! Syukurlah!” Valerin Grayii langsung memeluk bocah kecil itu, dia melirik satu persatu anak yang keluar dari sana “Kalian tidak apa-apa?” Tanya Valerin.


Mereka serentak mengangguk, kemudian Mario mulai berbicara “T-tuan Odolf menyuruh kami masuk kedalam sini, mereka datang ketika tuan Edward pergi bekerja. Kemudian tuan Odolf tidak pernah membukakan pintu ini.” Jelas Mario.


“Tuan baik, tuan Odolf hilang...” Ucap Elmer juga.


“Val?! Kau menitipkan mereka disini?” Frederitch sedikit meninggikan suaranya.


“Maaf tidak memberitahu.” Ucap Valerin “Aku terpaksa melakukannya.” Lanjut Valerin lagi.


“Kau harusnya paham, lihat sekitar tempat ini. Aku tak tahu apakah tuan Odolf selamat tapi aroma para vampir sangat tebal ditempat rumah ini.”


Valerin Grayii menunduk “Maaf, ini salahku.” Ujarnya lagi.


Panacea tiba dengan langkah terburu-buru, ia mendengar suara pekikan Valerin “Tuan muda, apa anda baik-baik saja? Aku mendengar suaramu berteriak.” Ucap Panacea.


Valerin menggeleng “Aku baik-baik saja, hanya tuan Odolf hilang saat menjaga anak-anak.”


“Oh, mereka sudah melakukannya...” Panacea melirik Frederitch “Rumah ini habis didatangi para vampir.”


Frederitch mengangguk “Benar, cakaran mereka ada disetiap dinding. Kurasa tuan Odolf sempat melawan...” Frederitch menghela nafas “Aku tahu dalangnya, pasukan yang gopoh seperti ini biasanya pasukan terbawah milik Lemaire. Untuk beberapa tugas sederhana, dia akan mengeluarkan pasukan vampir liar.” Jelas Frederitch sambil menyentuh pundak Valerin “Aku akan memastikannya sendiri...” Ucapnya lagi.