Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Season 2: Episode 61





“Aku tahu, kau didalam. Keluarlah!” Gebrakan pintu, disusul terbantingnya pintu kayu itu.


“Paman Tobi! Tolong aku!” Wajah panik seorang Frederitch yang menggendong tubuh Valerin Grayii dalam gendongannya.


Seorang pria bertumbuh tinggi dengan bekas luka melintang diwajahnya, menggaruk kepala dengan setengah menguap “Oh, Frederitch. Kenapa bisa kemari?” Pria itu kembali menguap dengan malas.


“Tolong, aku, bodoh.” Diakhir ucapan Frederitch penuh penekanan. Sengaja ia lakukan, karena Valerin Grayii dalam gendongannya jauh lebih gawat.


“Oh...” Pria itu menunduk sambil memperhatikan wajah tidur Valerin Grayii yang begitu damai “Dia, koma ya?” Ucap pria itu menatap Frederitch.


“Tch.” Deciha Frederitch terdengar. Dia menggendong Valerin untuk dibaringkan pada sebuah kursi kayu panjang “Val, bertahanlah.” Ucap Frederitch sambil mengecup tangan itu, kemudian meletakkannya seraya meremat pelan.


“Oh, aku mengerti kenapa kau panik, dia... kekasihmu bukan?” Sang paman kembali melebarkan pintunya “Wah, banyak tamu. Masuklah para anak muda.” Ujarnya lagi kepada William, Alexander dan Leon.


Sebelumnya Leon memberikan plakat dari sang penasehat terlebih dahulu “T-tuan... Ini merupakan tuan Rugh menitipkan plakat ini kepadamu. Kemudian berpesan...”


“Seorang pangeran untuk kujaga bukan?” Pria itu memotong ucapan Alexander dengan cepat “Baiklah, baiklah, aku tahu itu. Berarti si tua Rugh sudah tiada.” Ucap pria itu mengibas-ngibaskan tangannya.


“Paman.”


“Iya, keponakanku yang manis.”


Frederitch mengepalkan tangannya “Buat, dirimu, berguna.” Ujar Frederitch sambil memamerkan kedua taring runcingnya.


“Ha...” Pria itu menghela nafas “Baiklah, tapi teman-temanmu belum mengenalku bukan? Namaku Tobias Cross, mantan jenderal dari Crave Rose.” Pria itu berjalan amat santai ke dapurnya. Terdengar bunyi gerusan dan tumbukan singkat, kemudian kembali dengan secangkir minuman berwarna kuning pekat “Kau ingin dia lebih baikan bukan? Beri dia minum ini.” Ujar sang paman kepada Frederitch.


Frederitch memberikan minuman itu dibantu oleh William yang sedikit mengangkat tubuh Valerin untuk minum.


Valerin memang masih belum sadar namun setidaknya deru nafasnya mulai stabil.


“Gadis gandaria itu sudah mencapai ambang batasnya, energi kehidupannya tampak sudah banyak diserap oleh Obscure ditambah sepertinya gadis ini petarung yang tangguh.” Tobias Cross terkekeh kecil “Sangking tangguhnya, sudah bisa dipastikan dia sudah menyelamatkan ribuan jiwa terinfeksi Obscure.” Ujarnya lagi giliran menatap sang keponakan yang tampak diam dengan dukanya “Kau memilih kekasih yang berumur pendek daripadamu, Frederitch.” Ujarnya lagi sambil memengang pundak Frederitch.


Pria itu, menatap Valerin lebih seksama “Ini perasaanku saja kalau gadis ini mirip seseorang.” Ucap pria itu menyibak poni panjang Valerin.


“Earl Grayii?” Ucap Tobias Cross.


Frederitch menggeleng “Anak bungsu mereka, Valyria Soga Kinaru. Tapi, sekarang namanya Valerin Grayii.” Jawab lesu Frederitch.


“Oh, aku mengerti.”


“Sekarang, bagaimana caranya untuk mengembalikan Valerin?”


“Tidak ada keponakanku, takdirnya memang begitu.”


“Ada.” Suara seorang wanita dari ambang pintu. Seruan itu terdengar dengan nafas tersenggalnya. Panacea Eerie, berdiri diambang pintu dengan sebelah tangan memengangi ujung pintunya.


“Eh, Panacea Eerie?” Seru William Rovana.


“Ada, ada caranya dan beresiko.” Ujar Panacea mendekati Valerin Grayii, dia dengan cepat menusukkan sebuah jarum pada lengan Frederitch kemudian mengeluarkan jarum itu “Kalian, link, bodoh!” Seru Panacea Eerie.


Frederitch membulatkan kedua matanya, mengerti atas ucapan gadis bersurai merah yang dalam keadakan acak-acakan itu.


“Bangunlah, tuan muda.” Ucap Panacea beralih menusukkan jarum lain yang sudah diganti dengan darah Frederitch yang ada didalamnya, pasalnya Panacea menusukkan jarum itu tepat pada jantung Valerin Grayii pada dadanya.


Kedua mata violet Valerin Grayii langsung membelalak terbuka, dadanya pun membusung kedepan “Ugh...” Rengkuh Valerin Grayii yang baru tersadar.


“Wow, sangat bar-bar teknik itu.” Komentar Tobias Cross sambil melipatkan kedua tangannya didada.


“Val, Val?” Frederitch yang paling tak percaya saat itu, dia menggengam tangan Valerin Grayii dengan erat “Kau dengar aku? Val?” Tanya Frederitch lagi.


Valerin Grayii masih mengedip-ngedipkan matanya, dia melihat kesekeliling. Kemudian mengangguk pelan “Kita dimana, Friday?” Tanya Valerin.


“Huh?” William Rovana keheranan.


“Oh, Viscount Rovana.”


“Valerin, Serius?” Alexander juga heran. Sepeti menjumpai Valerin Grayii pada semulanya. Valerin Grayii yang dingin dan jarang bicara, Valerin Grayii yang serius dengan aura avicenna yang lebih datar.


Frederitch menegok kearah Panacea Eerie “Bagaimana bisa?”


“Itu resikonya, lebih baik dari pada melihat dia koma bukan?” Panacea Eerie menatap Valerin Grayii.


“Benar, itu resikonya, karena gadis ini lebih baik lupa sosok dirinya agar memperlambat obscure mengeruk energi kehidupan. Cara yang cerdik, membuatnya lupa menggunakan kekuatannya, siapa kau sebenarnya nona berambut merah?” Tobias Cross menelisik Panacea Eerie.


“Tobi, kau lupa? Aku sudah membuntuti Grayii sejak lama. Dari moyang hingga cicitnya, gadis ini anak dari Elios Grayii. Hanya dia yang tersisa Tobi.”


“Ha? K-kau? Alchemist Rie?”


“Benar, itu aku... Bagaimana kabarmu, Tobi?”


“Rie! Astaga, aku tak menyangka. Kau masih hidup!”


Tobias Cross tidak sungkan memeluk Panacea Eerie “Pantas saja, wajahmu selalu tertutup tudung hitam, tapi aku kenal suaramu. Kau hilang begitu saja tiga tahun yang lalu.” Ucap Tobias Cross.


“Hey!” Seru William Rovana dan Valerin Grayii secara bersamaan.


Valerin Grayii mendeham “Pana, kenapa kau kenal paman mesum itu?” Celetuk Valerin.


“Kau!” Tobias berseru tidak terima, namun dia mengulum senyuman “Ayahmu juga begitu, celetuk tajam yang sama seperti Elios. Bukan begitu Rie?” Pria itu menatap dengan lembut.


Panacea Eerie mengangguk “Maaf, gentleman semuanya, Panacea Eerie pelayan dari Earl Grayii. Seorang iblis yang sudah lama menjadi alchemist Rie.” Ujar Panacea.


“Ck. Membuang waktu.” Valerin kembali pada sifat awalnya. Dia beranjak berdiri dengan raut wajah meremehkan “Ayolah, kita masih memiliki pekerjaan untuk—“ “Eh?” Batin Valerin bergumam. Pasalnya, tubuh Valerin Grayii mendadak lemas seolah sulit beranjak berdiri.


“Hampir saja.” Frederitch menangkap tubuh kecil yang nyaris jatuh itu “Val—tuan muda kau tidak apa-apa?” Cemas Frederitch, dia tahu, Valerin Grayii kembali pada sosok awalnya. Kaki kanan yang sempat tiada, bahkan Valerin tidak ingat cara menggunakan kemampuannya.


“Mn.” Valerin Grayii mengangguk, melirik kaki kanannya yang masih ada “Kenapa ya? Padahal kakiku...” Valerin Grayii bahkan tidak bisa menggerakkan ujung jari kaki kanannya.


Frederitch tersenyum kecil “Jangan dipaksakan, tuan muda, anda sedang lelah dalam perjalanan yang jauh.” Frederitch tidak masalah meski harus kembali berpura-pura. Dia kembali menjadi sosok pelayan yang dikenal oleh Valerin, tapi ini lebih baik “Mn, tidak apa, jika Valerin lupa.” Ujar Frederitch seraya menggendong tubuh kecil itu seperti bridal.


“Kita berada dikediaman Tobias Cross, jenderal Crave Rose. Demi melindungi Clandestine yang anda hilangkan di desa utara.” Ucap Frederitch tentu saja dusta.


Valerin Grayii mengangguk “Benar juga, Alphonse pasti terobsesi untuk memilikinya.” Wajah Valerin serius.


“Jenderal Cross, terimakasih atas perlindungannya. Anda luar biasa dan sangat membantu.”


Tobias Cross pun bingung, sikap keponakannya yang berubah serta kekasihnya yang berperilaku aneh. Tapi Panacea memengang pundak pria itu sambil menggeleng “Akan kujelaskan nanti.” Bisik Panacea Eerie.


“Terus kau mau membawaku kemana, Friday?” Tanya Valerin.


“Istirahat, anda harus istirahat.” Ujar Frederitch dengan senyum tegarnya, membawa Valerin Grayii ke salah satu kamar yang ada didalam rumah kayu ini.


Menatap kepergian keduanya. Yang hilang saat pintu kamar tertutup.


Alexander yang lebih dulu berucap “Pangeran Frederitch pasti kuat, dia sangat mencintai Earl Grayii...” Ujar Alexander.


“Yang Mulia, memang benar.” Timpal Leon Sirius.


“Valerin kembali seperti semula, pasti karena tadi. Aku memang tidak mengerti, tapi aku tahu situasi saat ini. Lupanya seorang Valerin Grayii akan membawa petaka kedepannya untuk kita.” Ujar William Rovana.


“Ha, apa maksudmu anak muda?” Celetuk Tobias Cross.


“Hai, paman mesum seperti kata Valerin. Namaku William Rovana, bukan bocah usiaku pun 26 tahun. Kau memang jenderal, tapi kau tidak akan bisa menebak pergerakan Alphonse. Ancaman kita semua.” William Rovana sambil melipatkan kedua tangannya didepan dada. Tatapannya menantang Tobias Cross, tidak mau mengalah.


Tobias Cross merenggutkan dahinya “Ah, takdir yang sempit. Aku dipertemukan dengan anak-anak teman lamaku. Jika kau anak Sebastian maka raja yang sekarang anak dari Ozias. Ck, bahkan Elios memiliki puteri secantik itu sampai keponakan bodohku jatuh cinta kepadanya.”


William Rovana melongo tak percaya “Ha? Kau dan ayahku saling kenal?”


“Bocah, kau pikir aku hidup sesingkat manusia?” Tobias Cross memerahkan kedua mata hijaunya seraya tersenyum meledek.


.


.


.