Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Episode 6




Happy Reading


.


.


.


 


 


 


Valyria Soga Kinaru, berjalan seorang diri usai acara pelelangan lukisan itu. Dia berrencana untuk kembali ke hotel untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah, berjalan seorang diri pada hari yang sudah larut malam. Dipinggiran trotoar, melintasi gang sempit diantara gedung-gedung. Tepat satu langkahnya melintas, kedua mata violet Valyria membulat.


“Hmp!”Mulutny dibekap, oleh tangan besar dengan sarung tangan hitam. Bruggh—tengkuknya pun dipukul, hantaman itu membuatnya pingsan tak sadarkan diri. Valyria yang sayup-sayup melihat seorang pria bertopeng hitam mengangkut tubuhnya dengan mudah, bahkan Valyria masih bisa merasakan tubuhnya yang dilemparkan kedalam mobil. Terlalu sakit kepalanya, sampai-sampai tak berdaya hanya untuk berteriak meminta pertolongan. Nampaknya, ia telat diculik oleh seseorang.


‘Sadarlah Valyria’ atau ‘Ayo, bergeraklah!’  otak, hati dan raganya tak bisa kompromi.


Tubuhnya yang terasa ringan diangkat keluar dari mobil “Aku di-dimana?”Sayup-sayup Valyria mampu berucap dengan lirih, namun itu terakhir perkataannya karena setelah itu bibirnya tampak diplester oleh lakban hitam. Kedua tangan dan kakinya pun sama-sama dirantai, bukan tali. Tapi sama saja, justru terasa lebih sakit untuk kulit putih mulusnya.


“Sakit...”


Valyria hanya bergumam dalam hatinya, sepasang tangan dan kakinya benar-benar sudah kemerahan oleh rantai itu. Tubuhnya diletakkan pada sebuah altar, kemudian dibaringkan. Dingin dan keras. Gaun hijau tuanya yang tak dilapisi oleh mantel pun terasa ngilu dengan dingin, Valyria mengigil samar.


“Apa yang akan mereka lakukan kepadaku?”


Sepasang iris mata Valyria menatap sekelilingnya, ruangan gelap dan asing. Dia terus bertanya pada dirinya sendiri, apa yang akan terjadi terhadapnya? Pastilah bukan hal yang baik “Tolong...” Valyria bergumam dalam hatinya, dia tak bisa bicara serta tak berdaya. Valyria berharap seseorang akan menolongnya.


Pintu itu terdengar terbuka, Valyria segera menoleh. Kedua iris violetnya membulat, netranya bergetar takut serta menggeleng dengan cepat. Valyria menatap pria buncit itu, dengan begitu takut. Ia melihat kekehan dengan wajah mesumnya, dibarengi beberapa orang berjubah hitam yang tak Valyria tampak wajahnya. Kemudian, mengelilingi altar itu dengan masing-masing lilin yang dipegangnya.


“Bunga kecilku! Valyria.... Valyria... Valyria...”Pria menjijikkan itu menyentuh dagu Valyria, dia terkekeh dan menjulurkan lidahnya. Hendak menjilat wajah Valyria, namun Valyria segera memalingkan wajahnya.


“Sudah kubilang bukan? Jangan suka menolakku, kini kau ada didalam genggamku. Valyria Soga Kinaru.”Sekali lagi pria buncit itu mencengkeram dagu kecil Valyria.


Valyria menatapnya dengan sepasang mata yang menajam, raut wajah yang tentu saja menantang, dia ingin menolak atau bahkan melepaskan diri. Namun dirasanya percuma, biar pun begitu Valyria tetap menggeleng. Bahkan kedua tangannya mulai luka, mengeluarkan darah berkat Valyria yang berusaha menyentak kedua tangannya.


“Oh, rupanya gadis kecil ini tampak terpaksa. Yudha, apa kau yakin memilih gadis ini? Kau masih bisa memilih pengantin ritual yang lain.”


“Benar, gadis ini begitu kecil. Darahnya tak mungkin bisa kita gunakan dalam jumlah yang banyak.”


“Tapi tak dipungkiri ladies and gentleman, gadis ini begitu rupawan.”


Tatapan beberapa pasang mata itu, menginginkan akhir kehidupannya. Valyria yang melihat hal itu hanya bisa menatap ngeri “Orang-orang gila...Bohong, Bohong, bohong, aku tak ingin berakhir begini...” Ah, Valyria hanya berteriak didalam batinnya. Berbicara dengan hati dan mulut yang terbekap.


Kedua mata Valyria membulat, yang didengarnya dari perbincangan orang-orang itu adalah tahap-tahap detik kematiannya yang tak lama lagi “Kumohon...” Valyria memejamkan kedua matanya “Akhirnya aku, Valyria Soga Kinaru mati menjadi tumbal orang-orang sekte gila ini.”Valyria membatin, dia menghela nafas. Putus asa, rasanya sudah percuma.


Kedua matanya mulai berkaca-kaca, dia benar-benar tak ingin berakhir disini. Kedua tangannya terkepal hingga buku-buku tangannya memutih “Hiks...” Terisak oleh tangisannya yang tertahan dengan plester dibibir manis itu.


“Kak Darly, tolong aku...”


Valyria menggumam nama sang kakak, berharap keajaiban akan menghampirinya. Hingga kaki kanannya mati rasa Syrashhh—darah mengalir deras dari kaki kanannya yang sengaja diamputasi dengan tak manusiawi.


“Hmmmppphhhh!” Tubuh Valyria mengejang, hingga memusungkan keatas. Sakit teramat sakit, kedua air matanya mengalir deras dengan pilu “Sakit... tolong aku...” Valyria, tak lagi bisa merasakan kaki kanannya, sementara ia masih bisa melihat orang-orang itu yang berada disekelilingnya tertawa bersahut-sahutan. Iya, menertawakan kematiannya yang tragis.


“Maafkan aku Tuhan, dikehidupanku begitu banyak hal yang belum bisa kulakukan... Ah, mati tak buruk juga. Jika, jika saja kesempatan kedua itu ada... Andai saja...”


Valyria mengadahkan tatapannya yang sayu, dia hanya berkata pada hatinya. Sementara semakin banyak darah yang keluar itu membuat tubuhnya terasa begitu lemas, rasa nyeri itu sudah tidak bisa dikatakan oleh perkataan. Tanpa anastesi lokal, diamputasi oleh pedang yang tampak tajam itu. Valyria masih bisa menatapnya, menatap semua orang yang melakukan ritual dengan suka citanya.


Berduka? Valyria sudah putus asa. Kesadarannya sudah diambang batas, hingga kepalanya memiring dengan pelan bersamaan dengan kedua kelopak matanya yang perlahan-lahan menutup dengan rapat “Tarra, aku tak bisa menemanimu lagi...” Bahkan didetik-detik kematiannya, Valyria masih mengingat sahabat baiknya itu. Masih ada bayang-bayang gadis berjilbab yang tersenyum riang kepadanya, kemudian kilas balik kehidupannya bersama kedua orang tua dan kakak laki-lakinya.


“Ah, kematian itu... Tak buruk juga...” Gumam Valyria. Membatin untuk terakhir kalinya dikehidupan ini.


.


.


.


.


Sosok mungil itu, mulai bergerak gelisah dalam tidurnya. Hingga kedua kelopak matanya terbuka menampaki sepasang iris violet dengan netra yang membesar “Huh?”masih berbaring dengan menolehkan kepalanya menatap jendela yang terbuka itu, taman dengan bunga-bunga hortensia ungu menyambut pemandangan pertama setelah bangun tidur ini.


“Haaaa~ kamar hotel memang senyaman ini.”Menghela nafas panjang, dia masih berbaring malas-malasan dikasur empuk itu. Tatapannya melihat lilin diatas nakas meja kayu berukiran bunga kerangka transparant yang tampak familiar “Hm? diphylleia grayi, bunga kerangka ya... katanya kelopaknya tembus pandang. Wah, aku tak memperhatikan meja kayu yang diukir ini sejak pertama tiba kemarin...”Kembali berbaring dengan santai, bahkan selimut putih itu masih membungkus sebagian tubuhnya yang mengenakan piyama berwarna senada dengan ukuran kebesaran.


“Aku mimpi buruk tadi malam, rasanya kaki kananku—“Dia berucap, ketika mencoba menggerakkan kaki kanannya. Itu tak terasa sama sekali, sontak ia langsung menyibak selimutnya. Mendapati kaki kanannya yang sudah tak ada, namun tampak seperti sudah lama pulih dilihat dari bekas luka yang sudah tak disertai darah yang mengalir deras, tapi...


“Tidak mungkin! Tidak, tidak. Ini tak benar...” menyadari jika ia tak memiliki kaki kanan lagi, berarti mimpi buruk itu benar-benar dialaminya “Ahhhhhhhh, hiks... arghhhh!” Meraung dengan tangisan yang deras. Ia tak bisa menerima kenyataan ini.


Brakhh—pintu kamar itu dibuka dengan cepat, menampaki seorang pria muda dengan setelan jas pelayan rapi. Mendekatinya dengan langkah terburu-buru bersamaan dengan raut wajah cemasnya “Tuan muda... tenanglah, anda baru saja pulih.” Ujar pria itu tepat disisi ranjang kasurnya.


Aroma harum musky dari bunga Erythranthe moschata merebah ruah diindera penciumannya. Aroma maskulin yang segar dan nyaman. Gadis itu langsung menoleh, “Kau? Kenapa kau disini? Kenapa kakiku...”Direnteti oleh pertanyaan. Kedua tangannya meremas sisi kanan dan kiri sprei putih, pertanda ia juga tak kalah gusar saat itu “Katakan! Apakah aku sudah mati!”Gadis berwajah manis itu memasang raut wajah frustasi, bahkan kedua matanya menatap kosong. Perasaannya bercampur aduk.


“Apa yang tuan muda katakan? Apakah anda sudah lupa? Anda sudah lama tertidur untuk pemulihan operasi kecelakaan kaki anda, tuan muda saya akan menyiapkan teh hangat dan beberapa cemilan. Per—“


Menolehlah gadis bermata violet itu, wajah pria yang berdiri disampingnya  memiliki  ekspresi yang berbeda. Dia kenal dengan sepasang iris mata raven blue, beralis tebal, rambut bersurai keemasan, dan raut wajah yang datar. Tak tersirat emosi seperti senyumannya dikala itu “A-apakah aku sudah mati?”


“Anda tidak mati tuan muda, hanya pingsan selama tiga hari setelah menjalankan misi yang diperintahkan Yang Mulia Raja.”


Tak tahan, ia langsung meraih kerah kemeja putih pria itu “Apa kau pura-pura tak mengenaliku?! Kita bertemu diacara pelelangan itu!” Dia berteriak tepat didepan wajah rupawannya


“Tuan muda...”


“Namaku Valyria Soga Kinaru! Aku perempuan!”


Pria dengan setelan pakaian pelayan itu menghela nafas “Tuan muda, tenangkan pikiranmu.”Ujarnya sambil memengang kedua tangan Valyria “Namamu Valerin Grayii, anda seorang Earl di wilayah Hortensiaburg. Dibawah perintah kerajaan Dust Bones, sebagai salah satu kaum manusia yang berasal dari klan Gandaria. Apakah anda mengingatnya?”Tangan dengan dibungkus sarung tangan putih itu membelai wajah gadis bermata seindah batu amethyst yang menatapnya dengan terkejut.


“V-valerin? Val...valerin?”Gadis itu bergumam dengan nanar, akan nama sang kakak yang sudah meninggalkannya. Pria ini mengenal dirinya sebagai sang kakak, Valerin.


Kedua raven blue itu menatapnya “Benar, itu namamu tuan muda.”Ujarnya dengan lembut.


“Tuan mudaku, manusia indah yang diberi anugerah berlipat ruah dari sang Pencipta. Itu anda, Tuan muda... Satu-satunya yang tersisa dari Klan Gandaria.” Ujar pelayan pria itu sembari meraih tangan gadis beriris violet dengan mengecup punggung tangannya.


Diambang pintu, seorang gadis mengenakan pakaian maid sudah berdiri dengan raut wajah tak kalah datarnya “Friday, hentikan. Tuan muda baru saja sadar, jangan menganggunya.”Ia tiba dengan membawa sebuah wadah berisi air hangat dan handuk. Berucap dengan datarnya pula “Jangan bertindak tak sopan kepada T.u.a.n Kita...”Ucapnya dipertegas pula kata ‘tuan’dalam ucapannya yang bernada dingin itu.


Pria muda itu menundukkan tubuhnya dengan hormat “Ah, maafkan atas ketidak sopanan ini Earl Grayii... Senang melihat anda kembali dikediaman Manor Grayii ini. Kalau begitu... Saya akan kembali lagi untuk menghantarkan teh dan cemilan untuk tuan muda.”Sepasang taring runcing tampak pada deretan giginya saat pria muda itu berucap. Ia pun beranjak dari kamar sang tuan.


Menyisakan maid muda dan tentu saja gadis beriris violet dengan tubuh diam mengkaku beserta tatapan kosongnya.


Tangannya diletakkan kepada dahinya sendiri, kemudian tertawa dengan kencang “Hahaha... Kau lihat ini Valyria! Kau tak mati, kakimu benar-benar buntung sebelah! Oh Valyria hahaha... diriku dikenal dengan kakakku sendiri.”Ujarnya dengan kedua mata kosong namun tertawa dengan kencang, frustasi dan rasanya dia masih menyangkal semua yang sedang menimpanya itu.


Maid muda bersurai merah terang dengan sepasang iris hazel itu menatap iba “Tuan muda... Anda harus tenang, baru saja pulih.”Ujarnya mendekati gadis bersurai hitam itu “Dengar, aku akan selalu menjagamu tuan muda.” Maid muda itu membantu sang tuan untuk duduk, dia semakin tak tega saat melihat tubuh kecil itu meringkih kecil bahkan getaran samar pun tampak. Kini, gadis beriris violet itu tampak mulai menangis pilu.


“Oh Tuhan... kau sudah menghukumku lagi? Aku lebih baik mati saja dari pada kembali hidup sebagai sosok orang lain.”


“Tuan muda...”Maid muda itu jauh lebih mengerti, akan perasaan penyangkalan dan seluruh kebingungan tuan mudanya ini. Namun dia pun tak berdaya “Tuan muda, lihat... kita pernah bertemu bukan?”Berucap dengan lembut, maid muda itu mendekatinya.


Perlahan-lahan, gadis beriris violet dengan mata sembab itu menatap sang maid “Kau?”Benar, mereka sempat bertemu singkat di Rumah Sakit. Saat mengunjungi ibu Tarra yang dikabarkan tengah jatuh sakit.


Maid itu mengangguk “Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Kembali hidup sebagai orang lain tak akan begitu buruk, apalagi ini adalah kehidupan orang yang juga menyayangimu. Tuan muda.”


“Katakan padaku! Kau tahu semuanya tentang kakakku bukan? Valerin Darly Kinaru...”


“Tuan muda, sebelum itu anda harus membersihkan diri dan berganti pakaian. Harap tuan muda akan menuruti ini.”


“Tapi kau harus janji menceritakannya!”


“Baik tuan muda, tapi ada beberapa hal yang harus ditunda untuk diketahui. Bersabarlah tuan muda, ini demi keamananmu juga...”


 


.


.


.