
“...kau benar.”Jawab Friday dengan pelan.
“Oh, iya, aku ini pria tahu! Bukan wanita, seperti katamu barusan.”Ellis mendengkus.
Friday hanya tersenyum, baginya, Valerin dalam karakter yang begini sangat menggemaskan “Aku tak tahu, apa yang sudah menimpamu, sampai kau lupa seluruh dirimu, Val.” Batin Friday sambil mengusap-usap puncak surai pirangnya Ellis “Apakah rambutmu memang pirang?” Tanya Friday meskipun ia tahu, ada teknik khusus alchemist yang bisa merubah warna rambut bahkan mata.
Ellis mengangguk dengan polos “Ehm, sepertinya. Karena aku juga menemukan beberapa helai rambut hitam, mungkin karena aku banyak pikiran ya? Hehe...” Cengiran polos Ellis lagi.
Friday menggeleng, ia tak pernah melihat sosok Valerin-nya seperti ini sebelum-sebelumnya “Bagaimana keadaan Dust Bones saat ini?” Tanya Friday.
Ellis tampak berpikir kemudian mengangguk “Kurasa, Yang Mulia tertimpa masalah, karena aku tak sengaja melihat Felix Melian dari kamar sang Ra—“ Ellis memerah, ia berbincang hal yang tak senonoh kepada Friday dengan gamplangnya. Plak, Ellis menampar pipi gempalnya sendiri.
“Kau gila?” Friday buru-buru mendekati Ellis sambil memengangi pipi Ellis yang memerah itu “Kau tiba-tiba saja memukul dirimu, apa kau tidak apa-apa, Val?” Sesungguhnya Friday keceplosan, tak sengaja berucap akan nama sang kekasih.
Ellis mendadak murung, ia mulai bosan kerap kali disangka sebagai Valerin Grayii “Aku tahu, pasti ujung-ujungnya begini.” Ellis pun beranjak berdiri, menatap seluruh rumah kosong ini sebagai pengalihannya “Aku memang tak tahu ini dimana, tapi aku merasa familiar dengan tempat ini. Wilayah ini, seperti menyimpan trauma sendiri untukku. Kau lihat?” Dengan tatapan kesal bercampur murung itu, Ellis menatap Friday “Aku jelas-jelas memiliki kedua kaki, tapi merasa pernah kehilangan satu kaki dengan sangat-sangat tragis.” Ucapan itu adalah pengakhir Ellis, untuk dia beranjak pergi dari kediaman itu.
Friday membungkam, sadar akan tindakannya sudah mencelos perasaan Ellis sang Valerin yang lupa ingatan itu. Friday meremat surai pirangnya sendiri, sembari mengerang “Sial! Gagal lagi, kenapa aku terus gagal bahkan disaat Valerin sudah ada didepan mataku.” Ia mengepalkan kedua tangannya, menyusul Ellis sama saja membuat Ellis lebih kesal kepadanya. Friday menghela nafas, ikut beranjak berdiri “Aku kembali mengamatimu, diam-diam, Val...” Helaan nafasnya panjang, tapi lelah tidak lagi bersamanya.
.
.
.
Malam dengan langit taburan bintang, Ellis sudah berjalan cukup jauh, ia menutup wajahnya dengan tudung jubah putihnya sementara satu-satunya senjata yang dimilikinya hanya pedang yang tergantung dipinggang ramping Ellis.
Perasaan Ellis kecewa, padahal ia cukup senang bertemu lagi dengan Friday. Tunggu, senang pikir Ellis, buru-buru gadis berperawakan pria muda itu menggeleng “Bodoh! Kenapa aku bisa senang bertemu dengan Friday?” Ellis meruntuki dirinya sendiri.
Sadar jika Dust Bones masih cukup jauh, Ellis berhenti berjalan ditengah-tengah hutan belantara ini, ia menanggah menatap langit yang terang akan perlip para bintang.
“...apakah aku? Valerin Grayii?” Tanya Ellis.
Dalam kesendirian, Ellis termenung, sadar jika ia tak memiliki ingatan jelas semasa kecilnya. Jika pun ada, sangat tipis dan samar. Ellis meremat gagang pedangnya “Lyn... Remington... kuharap kalian baik-baik saja.” Ellis menunduk, sungguh kesendirian ini membuatnya perih, tanpa terasa kedua mata emas Ellis sudah mengeluarkan air mata.
“ELLIS!” Suara teriakan itu terdengar dari jauh “Ellis!” Sekarang semakin dekat. Ia menoleh kebelakang, mendapati Lyn yang sedang memacu kudanya dengan cepat.
“Ya Tuhan! Terimakasih, terimakasih, sungguh aku takut setengah mati!” Ucap Lyn Sander sang pria bersurai hitam panjang itu dengan cemas, bahkan kedua mata violetnya sudah berkaca-kaca. Ellis langsung dipeluknya, dirangkulnya dengan erat “Kau tidak apa-apa?” Tanya Lyn menatap Ellis, juga melirik anting permata hitam yang kerlip-kerlip bercahaya kecil kala itu. Ia menghela nafas.
Ellis mengangguk, kemudian kembali memeluk Lyn “Aku takut...” Gumam Ellis nyaris menangis kembali.
Lyn langsung mengelus puncak kepala Ellis dengan lembut “Remington, maksudku ayah, ia mendapat kabar dari Yang Mulia tentang kau yang menghadang pasukan dari Brunia itu.” Lyn mengepalkan tangan kanannya “Aku ceroboh, sangat ceroboh, bisa saja Ellis diculik oleh kaki tangan Crave Rose.” Gumamnya dalam batin.
“Ayo kita pulang, ayah sudah menunggumu, biarpun cukup jauh tapi kita masih bisa sampai ke Dust Bones.” Ucap Lyn Sander.
Bagi Ellis, sosok Lyn seperti saudara laki-lakinya, ia dan Lyn menaiki kuda bersama. Meninggalkan wilayah terasingkan itu.
Dari kejauhan yang gelap, sepasang mata merah menyalang sudah memperhatikan Ellis dan Lyn dalam amarahnya sendiri “Oh, ternyata kau, Alchemist yang sangat licik...” Bisik suara Frederick Drew Raymond itu.
.
.
.
Ellis berwajah pucat, turun dari kuda dengan uluran tangan Lyn yang lebih dulu turun dari kudanya.
“Kau pucat, sekali...” Lyn berucap khawatir sembari menggandeng Ellis.
Ellis menggeleng, baginya ini bukan masalah, mungkin karena kelelahan “Aku hanya kelelahan.” Tepat berada didepan penginapan Wood Remington, bahkan suasana kota masih hening dirudung pagi-pagi buta ini. Total jam yang mereka tempuh untuk sampai ke Dust Bones, sekitar tiga jam.
Lyn Sander, pria muda dengan surai hitam panjang dengan paras rupawan yang indah, ia anggun dan lembut kepada Ellis. Maka, dengan senang hati, setiba didalam penginapan. Lyn membopong tubuh Ellis, menggantikannya pakaian dan membantu membersihkan tubuh Ellis yang terasa mulai menghangat “...Kau demam.”Ujar Lyn sambil memengang dahi Ellis.
Sementara Ellis, sudah pulas tertidur dengan wajah memerah dan suhu tubuh yang menghangat itu.
Lyn menyelimuti Ellis, kemudian buru-buru menuruni anak tangga ke dapur.
Ia menerjab maka, dikala menatap sosok Alphonse dan sang ayah angkat menerjang pintu amat keras “Kau,bagaimana kau bisa menemukan Ellis?” Tanya Alphonse,raut wajahnya jelas sangat khawatir.
Lyn menegak salivanya sendiri, sesuatu tengah ia rahasiakan “...T-temanku, pedagang diperbatasan Crave Rose, melihat rombongan Brunia membawa pemuda dengan jubah bersimbol Dust Bones. Kupikir itu Ellis, ya, Ellis, karena aku dan Ellis sudah seperti saudara.” Lyn berucap gelagapan, namun ia berhasil menutupinya.
“Dia dimana?!”
Lyn menghadang langkah Alphonse, surai hitam panjang yang tergerai halus itu itu bergerak “Tidak boleh, Ellis demam dan kelelahan karena siapa juga Ellis seperti itu.” Kilatan iris violet Lyn sander jelas kala itu. Ia kesal kepada Alphonse.
Remington, tertegun mendengar penuturan Lyn yang menurutnya sangat berani itu, ia mendeham terus menghampiri putera angkatnya itu “Yang Mulia, Lyn hanya mengkhawatirkan Ellis.” Remington bahkan sengaja membungkukkan tubuh putera angkatnya kepada Alphonse “...Lyn, kau bersikap tidak seharusnya kepada Yang Mulia.” Bisik Remington.
Alphonse mengangguk, biarpun terdapat raut takpuas kala itu “Ellis, kubiarkan istirahat sampai sembuh total, setelah itu katakan padanya untuk menghadapku.” Ujar Alphonse yang bergerak meninggalkan penginapan Wood Remington diikuti rombongan prajurit pribadinya.
Remington menghela nafas kemudian menatap putera angkatnya itu, baginya Lyn Sander seperti anaknya sendiri. Ia menyayangi Lyn dan Ellis seperti anaknya “Tolong, hentikan sikap seperti itu Lyn, ayah tak mau jika posisi Ellis malah semakin bahaya.” Nasehat Lyn Sander.
Lyn mengangguk “...maafkan aku, ayah.” Ujarnya menyesal. Sama halnya dengan Lyn, yang tidak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tua, baginya Remington sosok ayah yang sesungguhnya. Lyn menganggumi sosok Remington dan mencintai sosok Ellis.
“Sekarat, rawatlah saudarimu dengan benar, kasihan dia. Terlalu banyak terlibat masalah semenjak berada di istana.”
“Baik, ayah...”
Remington menatap Lyn yang melangkah ke dapur, ia menggeleng kecil kemudian duduk disalah satu bangku yang ada disana. Ia pun sama lelahnya, bahkan mendengar kabar jika Ellis mengambil langkah yang terlalu berani demi melindungi sang Raja. Remington yang dikala itu berada di desa kecil bagian timur dari Dust Bones, berkuda bagai dikejar setan. Ia baru tiba di penginapan, hanya bisa melihat Lyn yang sudah menaiki kuda.
Remington heran, Lyn mengaku tidak bisa berkuda sejak tiga tahun lalu ia menemukan Ellis dan Lyn yang berjalan berdua menantang badai salju yang lebat itu. Remington yang tengah menatap Lyn yang sibuk meracik obat dari dedaunan didapur, mulai melamun. Teringat akan tiga tahun lalu...
Tiga tahun lalu...
Dalam misi pemantauan, kelompok Remington terdiri atas para ksatria muda. Ia menjaga para pemuda itu seperti anak-anaknya sendiri, Remington memang sudah berkepala tiga. Namun sudah lama melajang, alasannya karena ia gagal menikahi kekasihnya hanya karena mereka berbeda. Ras dan kerajaan, manusia dan vampire.
“Danielle...” Gumam Remington sembari menatap liontin kecil yang terpasang foto seorang wanita. Tatapannya sendu dan pasi. Didalam tenda yang diterjang badai salju, Remington hanya diam terduduk didalamnya.
Malam dingin dengan badai salju yang menerjang, samar-samar ia mendengar suara batuk dari seseorang. Remington langsung keluar dari tenda, yang ia dapati hanya seorang pemuda bersurai putih yang tengah membopong seorang gadis mungil yang bersimbah darah.
“Tolong...” Pintanya kala itu.
“Masuk kedalam tenda.” Perintah Remington.
Dalam pengamatan Remington akan keduanya, ia mengira mereka berdua bersaudara karena kemiripan warna iris mata violet yang sama itu. Bahkan, keduanya memiliki rupawan yang seiras pada wajah keduanya.
“Kumohon, jangan mati...”
Remington tertegun, mendengar ucapan dari pemuda itu. Ia sibuk dengan kedua tangannya yang mahir mengobati, mulai dari menjahit luka diperut gadis itu sampai meracik daun-daun dari tas usang yang ia bawa.
“Kalian, kenapa bisa seperti ini?”
“Kumohon, carikan air untuk dia.” Bukan menjawab, pemuda itu meminta Remington. Dari kedua iris violet pemuda itu, bahkan memerah karena nyaris menangisi sosok gadis bersurai hitam pendek itu.
Remington mengangguk, malam yang panjang ia habiskan untuk membantu pemuda itu mengobati sang gadis yang malang ini.
Pagi menyingsing, barulah badai berhenti. Remington duduk didepan tendanya, berjaga air yang mendidih dari api unggun. Biar pun pagi, salju masih belum pudar dari musim.
Pemuda bersurai panjang itu keluar dari tenda, ia pun duduk disamping Remington “Namaku Lyn Sander, terimakasih Tuan sudah membantu.” Ujar pemuda itu.
“Reminton, namaku anak muda.” Ucap Remington yang memberikan gelas berisi cokelat panas.
“Terimakasih...” Pemuda itu meraih cangkir gelas dengan kedua tangannya. Jika saja ia diam, Remington pasti mengiranya anak perempuan karena pemuda itu memang memiliki paras yang rupawan dengan surai perak panjangnya.
Pemuda itu merasa berhutang penjelasan kepada Remington “Namaku Lyn Sander, aku berasal dari Crave Rose, bukan aku... tapi Makerku, sementara aku tak memiliki kampung halaman.”
Remington tertegun ia langsung menatap pemuda itu “Maker? Kau bilang.”
Pemuda itu mengangguk pasrah “Benar, Makerku bernama Danielle Cross, seorang Alchemist yang membuat manusia campuran ras gandaria.”
Grep, Remington meraup kedua bahu pemuda itu kemudian menatapnya “Kemana Danielle sekarang?”
“Dia, sudah lama meninggal.” Ucap Lyn.
“Aku mengenalnya, dia kekasihku, sudah begitu lama tak bertemu, tahu-tahu ia sudah meninggal. Bagaimana bisa vampire yang hidup ratusan tahun lamanya malah bisa meninggal?”
Lyn menunduk, kemudian meraih tangan Remington menuju dadanya “Ini... kau pasti tahu betapa pentingnya jantung bagi vampire?”
Remington langsung menatap sedih “Pasti, Danielle sangat menyayangimu sampai memberikan hidupnya.” Remington mengarahkan tangannya mengusap puncak kepala pemuda itu “Apakah kau mau menjadi anakku, Lyn?”
Lyn tampak diam berpikir, kemudian teringat sesuatu, ia mengeluarkan kalung dari lehernya “Ada hal yang ingin kupastikan, jika kau mengenal Maker-ku.” Ujar Lyn “Apakah kau memiliki kalung yang lain? Disini hanya secarik nama dengan tulisan Maker Danielle, isinya Wood Remington, aku tahu ia selalu menceritakan kisah kekasihnya kepadaku sepanjang hidupnya.”
Remington berkaca-kaca, ia mengeluarkan kalung sejenis dari sakunya “Bagaimana aku bisa lupa? Itu kalung kami, kalung yang kami buat untuk saling mengingat satu sama lain.” Remington tak bisa menahan sedihnya.
“Begitu...” Lyn menunduk dengan tatapan sendunya. Sebuah kebetulan, yang membawanya tetap tertolong.
“Sekarang giliranmu anak muda, apa yang terjadi pada kalian?” Tanya Remington.