Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Season 2: Episode 48




“Valerin...”


“Iya?”


“Kau memikirkan Frederitch, bukan?”


Sebelum menjawab, Valerin mengulum senyum seadanya. Dia menggeleng pelan “Kau harus diam dengan tenang, jika tidak ini akan sulit.” Ucap Valerin Grayii memengang blade 10, ia sempat menghela nafas sejenak “Ini akan sakit, tapi beruntung, pelurunya tidak masuk begitu dalam.” Ucap Valerin Grayii lagi, sudah mengenakan gloves bedah pada kedua tangannya yang siap beraksi.


Sang Viscount yang tengah berbaring tengkurap itu hanya mengangguk “Aku pernah menjadi kolonel, perang, luka dan peluru. Aku sudah biasa menghadapinya.” Ucap William Rovana dengan nada bicara yang tenang.


“Aku tak tahu soal itu...”


“Ya, ini adalah satu hal yang tak kau tahu, karena kau terlalu banyak tahu.” William Rovana terkekeh bangga, seolah dia sedang memenangi lomba maraton dengan mendali emasnya.


Valerin menggeleng saja, dia langsung mengores permukaan kulit sang Viscount, sebelumnya Valerin memang sudah melihat banyak bekas luka dipunggung lebar itu. Beberapa ada bekas sayatan, cambukan dan bekas peluru “Aku akan menjahitnya.” Valerin berhasil mengeluarkan peluru itu, memang tak masuk begitu dalam, sekali lagi William Rovana beruntung menurut Valerin.


“Aku ingin kau menerima sesuatu dariku.”


“Apa itu?” Valerin Grayii selesai menjahit punggung William Rovana, sekarang ia sedang membalut perban melingkar ke seluruh punggung dan perut. Agar pendarahannya lekas berhenti.


William Rovana duduk perlahan dipinggiran ranjang kasur, dia menepuk-nepuk sisi sebelahnya agar Valerin duduk disamping dirinya “Kemari...” Ucap sang Viscount.


Valerin membuka gloves pada kedua tangannya, dia sempat mencuci tangan dalam sebuah wadah berisi air kemudian dia pun duduk tepat disebelah William Rovana “Kenapa?” Tanya Valerin sambil mengikat asal surai perak panjangnya.


William Rovana memberikan sebuah kalung dengan liontin yang bisa dibuka, isinya foto dirinya bersama Emelie sang adik, bagian lainnya secarik kertas yang sangat kecil “Ambillah...” Kata William Rovana menyodorkan kalung itu kepada Valerin.


Valerin Grayii pun meraihnya, dia membuka liontin itu dan mengambil secarik kertas kecil “...L’Histoire se Répète” ucap Valerin membaca secarik kertas kecil yang sudah usang itu. Mengerti maksud tulisan itu Valerin Grayii pun membulatkan kedua matanya “Emelie Rovana dan kakakku saling mengenal?” Tanya Valerin Grayii.


William Rovana mengangguk “Emelie adalah orang pertama yang bertemu dengan Valerin Darly Kinaru saat dia tiba ke Dust Bones, sama halnya dengan kakakmu, adikku Emelie juga menggilai ilmu pengetahuan.” Ujar William Rovana menghela nafa sejenak kemudian memejamkan kedua kelopak matanya.


“Aku ditugaskan ke perbatasan saat wilayahku sendiri terkontaminasi, Emelie juga seorang dokter dan mencintai kekasihnya disana, saat itu aku merelakan Emelie karena aku tahu itulah keinginannya.”


“Maaf, aku sama sekali tidak bisa berbuat banyak untuk Lady Rovana.”


“Emelie nekat, sama nekatnya denganmu, seiring waktu berjalan banyak kemiripan antara Emelie dan dirimu, kau tak salah. Secarik kertas yang ada didalam liontin ini adalah bagian sebuah buku yang saat ini sedang dicari oleh para kaum vampir.”


“Aku ingin kau menerima benda ini Val, bagi Emelie ini sangat penting dan orang yang tepat memengangnya adalah kau.” Lanjut William Rovana menghela nafas dengan panjang “Kau adikku juga, jika saja Valerin masih hidup, kita berempat bisa berbincang bersama. Alangkah menyenangkan...” Ujar William Rovana tersenyum kepada Valerin Grayii.


Valerin Grayii mengangguk, momen seperti itu jika benar terjadi akan sangat menyenangkan. Tapi dia dan William Rovana sama-sama kehilangan saudara yang mereka kasihi, maka dari itu Valerin mengangguk sambil memasang kalung itu pada leher jenjangnya “Jika aku boleh tahu, buku seperti apa yang kau maksud?” Tanya Valerin sambil mengeluarkan sebuah chip kecil dari sakunya kemudian memasukkan chips itu kedalam liontin pemberian William Rovana “Ah, ini Cerise dan programnya, suatu saat nanti aku juga membutuhkan benda ini untuk membuat kembali Cerise.” Jelas Valerin Grayii.


William Rovana terkekeh kecil “Emelie pernah bilang, Clandestine adalah jurnal pribadi seorang Avicenna Valerin Grayii, kakakmu, isinya lebih kepada Dust Bones dan Obscure. Sementara buku Coalesce adalah jurnal pribadi seorang Avicenna Emelie Rovana, isinya jurnal riset dari kaum vampir, berisi informasi kesatuan yang utuh dari seorang Vampir. Memang gila, Valerin kakakmu dan Emelie Adikku sama-sama merencanakan menyelesaikan buku itu, sekarang buku Coalesce ada di timur Dust Bones, sebuah kota bernama Clematis.” William Rovana menjelaskan hal lain yang tak Valerin Grayii ketahui, si pria bergelar Viscount itu pun merebahkan tubuhnya miring menghadap Valerin “Perpustakaan Clematis, dijaga oleh seorang campuran vampir dan manusia. Disana kau akan menemukan banyak orang seperti itu, ajaklah Frederitch bersamamu, sementara aku dan Panacea akan tetap disini menjaga anak-anak.” Lanjut William Rovana.


Baru saja Valerin Grayii keluar dari kamar tempat William Rovana, dia melihat Frederitch yang berdiri dengan melipat kedua tangannya didepan dada, ia bersandar di dinding itu sambil menatap Valerin Grayii “Bagaimana?” Tanyanya.


“Beruntung peluru itu tak berada sangat dalam, hey, aku ingin mengatakan sesuatu.”


“Katakan saja...”


“Kau tahu, jika Clandestine tidak sendirian, ada buku sejenisnya yang membahas mengenai vampir, buku itu ditulis oleh Avicenna selain kakakku.”


Kedua mata crimson milik Frederitch membulat “Sungguh? Aku baru tahu, kukira buku itu hanya kabar burung di Crave Rose, ternyata seorang manusia yang menulis soal vampir itu benar.” Ucap Frederitch amat bahagia.


“Benar, dan orang itu adalah Emelie Rovana.”


“A-apa?” Frederitch tersentak “Adik William?” Lanjutnya lagi.


Valerin Grayii mengangguk “Kita akan ke Clematis, mengambil buku itu sebelum para petinggi dari Crave Rose tahu. Bahaya saja jika sampai buku itu ada ditangan tuan Lemaire.” Ujar Valerin Grayii.


“Benar, Lemaire memang berbahaya dan jauh berbahaya lagi jika sampai buku itu ada ditangan Nikolai. Tunggu apa lagi, kita harus kesana, jaraknya tidak lama jika aku membawamu.” Ucap Frederitch meraih tangan Valerin Grayii.


"Benar, selain itu hanya kita berdua yang bisa membawa buku itu, Panacea akan disini menjaga William dan Pangeran Alexander, hanya kita yang bisa..."


Frederitch meraih lengan Valerin kemudian dia pegang dengan erat "Maaf, sungguh maaf." Ujar Frederitch dengan kedua mata tajamnya, wajah memelasnya yang mendekati leher Valerin Grayii.


Krauk...


Suara ngilu terdengar melukai perpotongan lehernya, kedua gigi runcing itu menusuk leher Valerin dan menegak rakus darahnya. Seketika tubuh Valerin yang lunglai sudah berada dalam dekapan Frederitch.


"Tidak apa-apa, tenanglah. Kau bisa meminumnya." Valerin berucap dengan tenang.


Hingga Frederitch yang mendengarnya pun menyudahi kegiatan itu, dia segera memeluk Valerin "Maaf, aku akan selalu bersamamu..."


“Dan aku akan membawamu kesana dalam perlindunganku.” Lanjut Frederitch.


Valerin hanya bisa tertegun, tentang bagaimana seriusnya wajah Frederitch saat ini mengucapkan kata-kata itu "O-okay..." Gumam Valerin dengan wajah memerahnya.