
“...Elli.”
Biarpun suara itu kecil, tapi Ellis bisa mendengarnya. Sang pangeran kecil yang ada didalam gendongan Ellis berucap memanggil namanya dengan pelan. Ellis tersenyum dengan lebar “Kenapa Yang Mulia?” Tanya Ellis dengan lembut pula.
“Uhm...” Bibir kecil bocah itu merapat, seperti mengulum sesuatu akibat menahan ucapannya. Sementara wajah bocah kecil itu sudah merah sempurna.
“Katakan saja Yang Mulia.” Ellis yang berjalan pelan menyusuri halaman belakang istana, sesekali mengusap puncak kepala sang pangeran dengan lembut.
Beberapa maid yang tengah membersihkan kandang kuda, sempat tersenyum malu-malu “T-tuan Francieli... Yang Mulia Victorine...” Salah seorang maid menyapanya dengan mengangkat ujung rok panjang seraya menunduk hormat.
“Hay, maaf kami menganggu kerjaan kalian.” Senyum Ellis mengembang manis.
Berbeda dengan bocah kecil yang ada didalam dekapan kedua tangan Ellis, dia meraih pipi Ellis dengan wajah masamnya “Tidak boleh...” Oh, Ternyata pangeran kecil ini cemburu melihat Ellis yang ramah dengan para maid.
“Oh ya, Yang Mulia lucunya... Maaf, Maaf.” Ellis mendekap gemas anak kecil itu, tak lupa mengecup puncak kepalanya.
.
.
.
Brakh!
Suara pintu yang dibuka dalam satu kali banting “Yang Mulia!” Seorang wanita dengan gaun indah bermahkota permata berdiri diambang pintu, ruang sang raja.
“Luciana, kenapa?”
“Victorine menghilang!”
“Tenanglah Luciana, dia bersama Ellis...” Sang raja berucap sambil membolak-balikkan kertas diatas mejanya “Noah, bagaimana menurutmu Ellis?” Tanya sang raja kepada Noah Cyprus, seolah sengaja mengabaikan sang ratu yang masih panik di ambang pintu.
“Ellis? Tentu luar biasa Yang Mulia, dia ahli pedang diusia yang sangat muda bahkan pengetahuannya sangat luar biasa.” Ujar Noah menjelaskan.
“Sudah kuduga, Remington tidak pernah salah...”
“Benar Yang Mulia, kudengar dari Mathias, Ellis-lah yang mengusir penyusup kemarin malam dan menggagalkan terror batu berbahaya pada jubah Yang Mulia...”
“Benar sekali, Ellis memang berpotensial...”
Sang ratu mengepalkan kedua tangannya, dia pun beranjak pergi bersama para pelayannya “Tch, apanya yang bagus dari pemuda desa itu.” Cibir sang ratu.
Bertepatan saat itu, dia melihat Ellis yang mengendong sang putera mahkota Dust Bones. Malahan bocah kecil itu lelap tertidur di gendongan Ellis dengan nyaman.
“Kau!” Sang ratu menghampiri Ellis, kemudian melayangkan tamparan pada wajahnya.
Ellis terdiam dengan kedua mata emasnya yang membulat “Y-yang Mulia Luciana...” Gumam pelan Ellis, dia tidak mengetahui kesalahannya.
“Kau menjijikkan!” Sang ratu meraih puteranya dengan kasar. Bahkan puteranya itu sampai terbangun akibat perbuatan ibunya.
“Maafkan hamba Yang Mulia.” Ellis langsung menurunkan seluruh tubuhnya ke lantai, berlutut sembari menatap ke bawah.
Sang ratu memicingkan tatapannya kepada Ellis “Begitulah seharusnya, kau memang rendah seperti itu, ketahui kedudukanmu!” Cibir sang ratu dengan menggebu-gebu.
“Baik, Yang Mulia...”
Bohong jika tamparan itu tidak sakit, pipi Ellis jelas tampak memerah. Tapi Ellis memasang tampang yang tenang.
Mendengar keributan dari luar ruangannya, sang raja yang terusik keluar dari ruangan itu. Dia hanya melihat sang ratu yang berdiri membelakangi Ellis dengan Ellis yang masih berlutut merendah seperti itu “Luciana! Kau apakan anak itu?” Sang raja bertanya dengan raut wajah amarahnya.
“Y-yang mulia...” Luciana memalingkan wajahnya “Ellis, menggodaku... Makanya aku memberi dia hukuman.” Ujar Luciana dengan dusta.
Ellis menanggahkan tatapannya, dia tidak melakukan hal itu lagi pula dia seorang wanita didalam balutan pakaian pria “Tidak Yang Mulia...” Bela Ellis.
“Kau berbohong! Para maid-ku disini, katakan kalian melihat Ellis yang menggodaku bukan?”
Mau tak mau, semua maid yang ada bersama sang permaisuri mengangguk.
Kini, giliran Ellis yang menatap sang raja “Tidak mungkin Yang Mulia...” Ellis menggeleng.
Sang raja, Alphonse menghela nafas, dia mengenal perilaku sang permaisuri. Begitu pula dengan Ellis, dia juga mengetahuinya “Ellis, ikut aku keruangan...” Ujar sang raja berbalik tanpa memperdulikan sang permaisuri.
.
.
.
Wajah Ellis sangat murung kala itu, dia tidak tahu harus berbicara dan bersikap kepada Alphonse.
“Ck. Jelek sekali raut wajahmu Ellis.” Ledek Noah Cyprus.
Ellis menggeleng, ditekuk seluruh lehernya kebawah “Aku tidak melakukannya...” Lirih Ellis.
“Aku tahu.” Sambar sang raja. Alphonse Caleum.
Ellis segera menoleh kepada Alphonse yang sudah duduk di kursi kerjanya.
“Ellis, kemari... duduk disamping sini kemudian bantu aku dengan beberapa berkas ini.”
“B-baik Yang Mulia!” Sulit dipercaya, namun Ellis segera bergegas dengan tatapan riangnya.
Diam-diam Noah Cyprus tersenyum melihat gelagat Ellis dan Alphonse, bahkan dia mengamati keduanya bekerja. Dimulai dari Alphonse yang menjelaskan rinci setiap berkas itu kemudian diangguki oleh Ellis, Noah Cyprus yang kenal Ellis tentu tahu jika Ellis memang tanggap dan cerdas. Dibuktikan dengan Ellis yang cepat sekali memeriksa setiap gulungan berkas-berkas itu.
“...Sesuai arahanmu Yang Mulia, hanya wilayah Hortensiaburg yang sangat bebas dari Obscure sejak tiga tahun ini. Lihat, berkas ini hanya menuliskan nol kasus terinfeksi...” Ujar Ellis dengan semangat.
“Hm, benar juga, semua berkas wilayah di Dust Bones sudah kau periksa. Bagaimana menurutmu, Val?” Alphonse tampaknya tidak sadar dengan ucapannya sendiri.
Ellis tertegun, nama itu kembali dilontarkan untuknya. Tapi Ellis mencoba mengerti “Menunjuk seseorang yang bisa kembali menjaga Hortensiaburg, kemudian mungkin mendirikan menara pemantau disana. Lihat, jarak Hortensiaburg dan perbatasan memang tidak begitu jauh.” Jelas Ellis sembari menunjuk peta.
Alphonse mengangguk, dia pun menepuk pundak Ellis “Val, kau memang bisa diandalkan..”
“Ellis Yang Mulia, Ellis Francieli, bukan Valerin Grayii.” Sambil tersenyum Ellis berucap mengingatkan namanya.
Noah Cyprus pun heran, baginya Alphonse Caleum sang raja tak pernah segairah itu berbincang mengenai wilayah Dust Bones dan masalahnya. Bahkan sang raja menanggapi Ellis dengan baik “Dua kali, Alphonse... Kau menyebut nama anak itu dengan keliru.” Disini Noah Cyprus yang lebih tua berucap tanpa gelar sang raja. Dia memang masih memiliki kekerabatan dengan keluarga kerajaan. Baginya Alphonse sama seperti keponakan atau anaknya sendiri.
Alphonse menghela nafas seraya memijit pelipisnya “Maafkan aku Ellis...” Dia pun beranjak dari duduknya untuk menuju pintu ruangan “Tinggallah sebentar disini Ellis, aku akan mengambil cerutu di ruangan pribadiku.” Ucap Alphonse sambil menutup pintu ruang kerjanya.
Tatapan sendu Ellis kepada Alphonse, dia pun mematung di kursi itu seraya bersandar dengan lemas “Nah, paman... Siapakah Valerin Grayii itu?” Tanya Ellis.
“Entahlah, aku bertemu dengannya baru dua kali. Pertama saat pelantikan Alphonse dan kedua saat pertemuan dengan para dengan para menteri yang melaporkan kejadian dari seluruh masalah dari semua penjuru Dust Bones tiga tahun lalu. Seingatku, Earl Grayii menerobos masuk melalui langit-langit kaca aula utama.” Noah Cyprus berucap dengan ujung kalimat diiringi tawa kecil “Dia, mendarat dengan pelayannya. Kupikir begitu, siapa sangka orang-orang yang bersama Earl Grayii adalah paladin of Dust Bones.” Noah Cyprus meletakkan cangkir kopi yang dipegangnya.
“Apa itu Paladin of Dust Bones? Bahkan aku tidak tahu hal itu...”
“Benar, bahkan seisi istana tidak tahu anggota rahasia peninggalan Ratu Alexandria itu. Isinya orang-orang terpilih yang diutus ratu untuk misi membasmi wabah Obscure, tapi siapa sangka sang Earl sendiri yang menjadi penyebabnya.”
“Kurasa salah...”
“Ellis, kau tidak asal bicara bukan?”
“Tidak paman, kupikir mustahil saja, orang yang dicintai Yang Mulia merupakan orang yang kejam? Kupikir Earl Grayii itu begitu baik, hanya saja sesuatu membuat kita semua keliru...”
Noah Cyprus terperangah mendengar ucapan Ellis “Ellis, memang benar... Pemikiranmu sangat unik, tak heran kau sering disangka seperti Earl Grayii.” Ucap Noah Cyprus seraya beranjak berdiri, namun sebelum itu dia melemparkan sebuah gulungan pada Ellis “Itu, lokasi mansion Earl Grayii, sepertinya kau penasaran dengannya.” Ujar Noah Cyprus lagi.
Ellis segera menangkap gulungan itu “Oh paman! Terimakasih...”
“Tentu, tapi jangan terlibat lebih jauh, itu sama saja membahayakanmu Ellis...”
Ellis mengangguk “Baik paman...” Kini Ellis tersenyum riang lagi.
“Aku akan kembali ke perbatasan, kurasa saranmu mendirikan menara pemantau di Hortensiaburg tidak buruk, Ellis... sampai jumpa di musim dingin selanjutnya.”
“Tentu paman, musim dingin nanti aku akan berkunjung untuk menikmati sup lotus buatan bibi Cornelia, juga bermain dengan Poppy.”
“Kalau begitu, sampai jumpa nanti Ellis.”
“Baik, paman Noah.”
Noah Cyprus membuka pintu, dia sempat terdiam sejenak kemudian menoleh kembali “Ellis, perayaan ulang tahun Pangeran Victorine besok, jaga Yang Mulia dengan benar.” Peringat Noah Cyprus.
“Tentu paman, jaga dirimu juga.”
Sang jenderal tingkat tiga hanya mengangguk, kemudian pergi dari ruangan itu.
Menyisakan Ellis yang menatap gulungan usang itu, kemudian membuka gulungannya. Isinya berupa sebuah lokasi mirip denah yang digambar oleh seseorang “W.Rovana?” Ellis membaca ujung tulisan nama diujung gulungan tersebut.
“Mungkin ketika kerjaanku longar, akan kusempatkan berkunjung kesana...” Ujar Ellis seorang diri.