
“Apa yang rencanakan, tuan muda?”
“Menggulingkan Dust Bones setelah pernikahan Pangeran Frederitch.”
“Jadi, kau mengorbankan cinta dan perasaanmu?”
“Tidak masalah, aku tak perduli.”
“Bernekat besar, sama seperti para leluhurmu. Benar-benar seorang Grayii yang berani menanggung resiko.”
“Aku tidak akan berhenti, tidak akan berhenti disini.”
“Seperti permintaanmu, tuan muda...”
Bulan yang bersinar terang, bias kelabu melalui danau yang memantul binar dengan jernih. Valerin Grayii, menatap malam tersebut dengan kedua sinar violet pada kedua matanya. Ia duduk disana, mengenakan gaun berkilau warna putih bersih. Surai peraknya tergerai dengan bebas, turut bergerak mengikuti angin yang berhembus.
“Aku, apakah masih terlihat seperti tuan muda?” Valerin tersenyum menatap Panacea. Senyuman yang anggun dengan raut wajah pedih.
Panacea mengerti raut wajah itu, dia mengangguk pelan “Apa anda yakin, menghadiri pesta undangan para dewan di Istana Dust Bones?” Tanya Panacea “Lady Grayii...” Imbuh Panacea turut tersenyum, tuan mudanya ini hanya sampul bagian depan, sejatinya Panacea juga tahu jika Valerin memang cantik.
“Tentu aku yakin, kesempatan ini sangat baik untuk mengertak Al. Setidaknya sampai dia menahan serangan kepada Crave Rose, semoga Alphonse segera sadar dan mengakhiri kegilaannya.” Valerin menunduk sayu “...Karena aku yang diinginkannya. Bukan begitu?” Ucap Valerin lagi.
Panacea menyentuh pundak terbuka Valerin, karena gaunnya memang berlengan pendek sebagian “Apa anda siap?” Tanya Panacea lagi “Anda tak bisa bertangan kosong kekandang hariamu, setidaknya jika hatimu yakin. Ambillah, sesuatu yang seharusnya untukmu berdiri tegak. Lady Grayii...” Ucap Panacea sambil mengayunkan tangannya. Dalam satu jentikan sebuah gelang berbandul ametyst ada ditelapak tangan, dia memberikan itu kepada Valerin Grayii “Earl Grayii yang terdahulu terbiasa bertarung menggunakan senapang, sebaliknya anda, sangat mahir bertarung dengan sebuah pedang. Aku hanya memoles hal kecil dari peninggalan Earl Grayii terdahulu, kurasa ini akan cocok denganmu Lady.” Jelas Panacea.
Valerin Grayii menyentuh bandul gelang itu tanpa sengaja, hingga berubah menjadi sebuah pedang dengan sendirinya “Ah, iya... Aku tidak juga bisa bertarung, tapi setelah rambut hitamku berubah menjadi perak, kurasa tubuhku jauh lebih baik digerakkan.” Ucap Valerin sambil menggaruk ujung pipinya yang tidak gatal.
“Ras para ksatria memang sudah mengalir pada darahmu.” Panacea melirik Valerin, gadis itu masih memasang raut wajah murungnya “Kurasa, menculik pangeran Frederitch juga tidak buruk.” Panacea menyunggingkan senyuman.
“Apa?! Kau gila Pana.”
“Apa saja tuan muda, sungguh... kau ingin aku meledakkan Dust Bones? Kau ingin aku meracuni lady Berthan? Kau ingin aku menculik pangeran Frederitch, aku akan menurutinya tuan muda, asal hentikan sikap murungmu. Sungguh aku menyukai sosok kau yang memiliki ide dengan hati-hati daripada ide sakit hati.” Panacea berucap dengan cepat, dia menghela nafas juga “Aku juga lebih suka memanggilmu tuan muda, biarpun anda perempuan.” Lanjut Panacea lagi sambil memijat pelipisnya.
Sikap menggebu Panacea, tidak pernah disangka-sangka oleh Valerin. Dia pun tertawa “Hahaha... Kau mengkhawatirkanku Pana?” Tanya Valerin dengan tawa renyahnya.
“Apa yang kau pikirkan, Panacea? Aku baik-baik saja, hanya sedikit kesal.” Ujar Valerin “Karena Frederitch terlalu menghayati aktingnya.” Lanjutnya lagi sambil mengacungkan jemari telunjuk ke bibir ranumnya.
“A-apa maksudnya, pangeran Frederitch berpura-pura?”
Valerin hanya senyum-senyum, sambil mengeluarkan pisau kecil dari balik gaun putihnya “Karena, aku juga harus berpura-pura sejak diawasi oleh benda ini.” Ujar Valerin sambil melemparkan pisau kecil itu mengenai sebuah drone kecil yang terbang keluar dari balik semak-semak. Drone itu langsung rusak “Aku sadar sudah lama diawasi oleh Crave Rose, siapa sangka mereka punya teknologi seperti dizamanku.” Ucap Valerin sambil menginjak drone kecil itu hingga menjadi serpihan.
“Semuanya berjalan sesuai rencana.” Valerin mengulum senyuman.
.
.
.
“Kami sudah sepakat Panacea, mulai dari perjalanan pulang dari kota Clematis untuk berpencar. Frederitch akan menggunakan Lady Rhea sebagai umpan mendapatkan kembali posisi dan jantungnya, sementara aku. Aku sendiri yang akan menghentikan Alphonse. Aku terpaksa melakukannya sejak kami sadar sudah lama dimata-matai oleh Crave Rose.” Valerin berbicara di dalam sebuah kereta kuda yang membawa kedua gadis berlainan gaun ini pergi ke Dust Bones “Selain itu, aku tidak bisa melibatkan teman-temanku lebih jauh. Maaf merahasiakannya darimu, Pana.” Ucap Valerin tertunduk.
Panacea meraih tangan Valerin “Tidak apa-apa, Lady.” Ucap Panacea yang beranjak membantu memasang sebuah topeng pada Valerin “Kita sudah sampai di Istana Dust Bones, cobalah untuk tetap seperti sejak awal Lady.” Panacea membantu mengikatkan pita pada topeng itu.
“Kita menyamar, bukan? Melihat dirimu yang masih dikenal sebagai seorang pria.” Panacea mengenakan topeng lainnya juga “Aku akan melindungi, Lady.” Ujarnya lagi.
“Iya, kita menyamar.”
Ketika pintu kereta kuda itu dibuka, seorang pengawal yang bertugas menjemput paratamu termaksud Valerin Grayii mengulurkan tangannya. Valerin pun keluar bersama Panacea.
“Aku selalu bertanya-tanya, sebenarnya apa yang dipikirkan Alphonse? Diluar sana wabah sedang merembak luas, dia masih sempat berpesta.” Bisik Valerin kepada Panacea.
“Undanganmu, Lady.” Seorang pengawal menghadang mereka.
Berkat sihir Panacea, dia mampu membuat undangan lain yang sebenarnya tidak mereka terima “Silahkan masuk Lady.” Ujar Pengawal itu membukakan pintu aula depan istana Dust Bones.
Valerin menjadi sorotan, akibat gaunnya yang tidak biasa itu. Warna putih dengan kemilau yang cerah, surai perak yang tak dimiliki banyak orang dengan paras wajah cantik tertutupi oleh topeng.
Valerin mengulum senyuman, dia memang sengaja. Dia ingin perhatian Alphonse untuk tertuju padanya, sehingga meminta Panacea memberikan kemilau pada gaunnya “Cinderella Obscure datang...” Ujar Valerin dengan pelan.
Valerin melirik satu per satu dewan yang datang, bahkan ia melihat para jenderal berpangkat tinggi yang turut hadir “Bagus, sesuai rencana.” Gumam Valerin.
Seseorang dengan topeng merah tiba-tiba saja berada dihadapan Valerin, dengan senyum ancamannya “Oh ya, Oh ya, siapa Lady yang sangat cantik ini?” Ujar Lemaire dengan kedua mata yang baik-baik saja. Memang, karena dia vampir dan mampu berregenerasi. Luka pada kedua kelopak matanya sudah sembuh.
Valerin tahu, jika Lemaire mengenalinya. Lagipula simbol mawar merah dileher Valerin tidak bisa hilang, dia menutupinya dengan surai perak yang tergerai panjang “Namaku, Valery Snow. Kemudian siapakah tuan yang gagah ini?” Valerin sengaja memelankan suaranya dengan malu-malu, ketika dia melirik ke arah kanan. Sosok sang Raja Dust Bones tengah berbincang dengan para dewan, sama halnya dengan Valerin, Alphonse Caleum pun turut meliriknya.
Valerin membuka kipas lipatnya, menutupi sebagian wajahnya “Pan- ah maksudku, Mrs. Miranda, tuan gagah ini ingin berdansa dengan anda.” Ujar Valerin tertawa sekenanya sambil mendorong Panacea ke arah Lemaire.
“Ah, um. I-iya, S-selamat malam Tuan...” Panacea mengerti maksud Valerin ketika melihat si surai perak itu melesat, dia sempat mengangguk “Apakah anda keberatan jika saya yang menggantikan dansanya?” Ujar Panacea tersenyum.
Valerin berjalan kearah Alphonse, ketika iringan suara violin turut berbunyi, diikuti oleh musik dansa dari para pemusik. Menandakan waktu berdansa akan dimulai. Valerin mengenali Alphonse dari balik topeng emasnya, kedua mata hijau itu menatap Valerin dengan tajam.
Langkah Valerin yang ringan, dia satu-satunya seorang Lady yang mendekati Alphonse “Yang Mulia...” Ucap Valerin membungkuk dengan hormat.
Masquerade Ball, merupakan pesta ini. Dihadirin orang-orang penting dari seluruh penjuru Dust Bones, musik alunan meriah seperti lupa dengan jeritan rakyat yang menderita Obscure “Maukah, anda berdansa bersamaku?” Ajak Valerin dengan tatapan tak kalah tajamnya “Atau anda lebih senang mendengar alunan musik penderitaan?” Sindir Valerin seraya tersenyum miring.
“Ah, tidak sopan sekali Lady ini? Dimana tata kramamu? Siapa kau?” Salah seorang jenderal menyelutuk.
“Kalau begitu maaf, namaku Valery Snow. Untuk saat ini.” Ucap Valerin sambil tetap menatap sang Raja muda Dust Bones.
Alphonse Caleum tertawa kecil, wajahnya benar-benar tenang. Dia meraih tangan Valerin dengan lembut “Tentu saja Lady Snow, bagaimana mungkin bisa menolak ajakan Lady secantik dirimu.” Ujar Alphonse tersenyum sangat lebar.
“Apa? Kenapa dia malah—“ Masih berkecamuk dengan batinnya, Valerin sudah berada ditengah-tengah dansa. Alphonse menggengam tangannya dengan erat, menatapnya dengan lekat dan menyentuh pinggang ramping itu dengan pelan “A-ah, Yang Mulia begitu bersemangat.” Valerin malah kikuk.
“Kau cantik...” Ujar Alphonse mendekatkan tubuhnya pada Valerin.
“Kau sangat indah.” Alphonse dengan kedua iris hijau emeraldnya menatap Valerin.
“Aku jatuh cinta kepadamu, Valerin Grayii.”
Kedua mata violet Valerin membulat sempurna, Valerin mendadak memundurkan langkahnya ditengah-tengah tarian dansa. Itu justru membuat tubuhnya tidak seimbang akibat menginjak gaunnya sendiri “Apa katamu?” Panik Valerin.
Tubuhnya sudah ditangkap oleh Alphonse dengan mudah “Kau tahu itu, Val...” Ujar Alphonse dengan sendu pada kedua matanya.
“Aku melakukan ini semua untukmu.”
“Kau tidak.” Sergah Valerin setengah memberontak “Kau membahayakan semua orang.” Ujar Valerin dengan kilat pada kedua matanya.
Alphonse menyentuh wajah Valerin “Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.” Ujar Alphonse lagi.
Valerin menggeleng, rencananya bukan seperti ini. Dia harus mengungkapkan semua kebusukan Alphonse didepan orang banyak “Dengan ilmu dari Emelie Rovana, kau sengaja membuat wabah merebah ruah! Menjadikan adikmu sendiri sebagai bahan percobaan!” Valerin berkata dengan lantang.
Sontak membuat seluruh tamu undangan menatapnya “Apa yang dikatakan lady itu.” Bisik-bisik para bangsawan mulai terdengar riuh.
Valerin melepaskan diri dari Alphonse, menatapnya dengan mata berkaca-kaca “Kau bahkan ingin membunuhku, Al.” Ujar Valerin setengah tak percaya.