Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Episode 28




.


.


.


“Tuan muda, anda tidak apa-apa?”


“Sebagai seorang link dari Pangeran Frederitch, anda bisa merasakannya tapi jangan menyiksa diri anda tuan muda.”


“Pana...” Panggil Valerin Grayii “Aku merindukan Frederitch...” Lirih Valerin Grayii dengan sepasang alis mengkerut satu, sepasang iris violet berkaca-kaca dan isak pelan yang masih gengsi dikeluarkannya.


Panacea tersenyum lembut, dia mengusap-usap punggung kecil Valerin Grayii. Menenangkan saudari sang tuan terdahulu “Tuan muda, mana tuanku yang selalu bersemangat ini?” Ucap Panacea, dia sadar manusia ini sedang merasakan perasaan tabu yang selama ini aneh baginya “Anda menyukai pangeran Frederitch bukan?” Tanya Panacea lagi.


Valerin Grayii menanggahkan tatapannya, seharusnya tidak perlu ia lakukan “Pana... Kenapa kau menatapku seperti itu?” Valerin Grayii sampai tak mampu bergerak menatap pelayan wanitanya yang kerap bersikap lembut kini menampaki wujud aslinya.


“Titah tuanku, juga keinginanmu... Sebutkan keinginanmu tuanku...” Panacea yang cantik, kini menatap sang tuan dengan wajah iblisnya. Selain gigi taring panjang, sepasang mata sklera mengitam dan sepasang tangan berkuku hitam panjang. Ia meraba dagu kecil Valerin Grayii dengan jemari kuku runcingnya “Ucapkan keinginanmu, kemudian kontrak diantara kita akan terbuat tuanku... Panacea Eerie ini akan terus membantu tuanku sampai seluruh ketamakanmu terpenuhi.” Seringai lebar kepada Valerin Grayii.


Sementara Valerin Grayii, memandangi Panacea Eerie dengan tatapan yang sulit diartikan. Pasti, ketakutan itu ada. Tapi Valerin merasa tidak terancam, dia mencoba menyentuh kuku runcing Panacea Eerie “Panacea, sejak awal aku sudah merasa ada yang berbeda padamu. Semuanya, keberadaanmu dan peranmu. Apakah posisimu untuk kakakku?” Tanya Valerin Grayii.


“...apakah kau tahu mengenai kematiannya?”


“Tuan muda, aku ingin kau membuat kontrak denganku.” Panacea Eerie dalam wujud sesungguhnya menguarkan kegelapan, hanya saja dia tetap menatap sendu gadis belia ini. Dia menganggap Valerin Grayii sangat berharga “Peninggalan berharga Earl Grayii...” Ucapnya didalam benak, bermonolog sendiri akan kalimat yang membuatnya sejauh ini.


Valerin Grayii merosotkan tubuhnya, terduduk diatas lantai kayu akasia yang mengkilap, sebagian surai hitam menutupi wajahnya “Apa yang akan kudapat jika menjalin kontrak padamu?” Valerin Grayii, menunduk. Menatap kehampaan lantai akasia dengan pandangan yang pudar oleh air matanya sendiri.


“Semua keinginanmu, aku akan membantu mewujudkannya.”


“...Kalau begitu, aku ingin membalas dendam kematian kakakku, kebenaran kematian kedua orang tuaku, dan menyelamatkan Frederitch.” Valerin Grayii, menyentuh kaki kanannya sendiri “Kemudian kebenaran mengenai kematianku...” Dia ingat, sensasi sakit dan penderitaannya dimalam itu. Dia harus juga ingat tubuhnya tentu sudah mati di waktu dan dunia yang berbeda.


Panacea Eerie menyeringai puas menampaki deretan gigi runcingnya “Tuan muda, apa kau bersedia membayarnya dengan jiwamu?” Suara Panacea mengeram dalam sunyinya malam.


Valerin Grayii mengangguk “Apakah kakakku juga seperti ini?” Setelah mengangguk, dia kembali bertanya.


Panacea Eerie kembali tersenyum dengan deretan gigi menyeramkannya “Itu rahasia antara iblis dan sang penjalin kontrak, tapi yang pasti isi kontrak kami berdua adalah melindungimu sampai tujuanmu selesai. Tuan muda...” Panacea Eerie meraih tangan Valerin, dengan jemari runcingnya ia melukai sedikit telapak tangan Valerin Grayii.


“Ah, lihatlah jiwamu yang bening.” Dalam sekali jentikan tangan, keluar setangkai Diphylleia grayi. Panacea Eerie kemudian mengoleskan darah Valerin Grayii pada setangkai bunga Diphylleia grayi “Avaritia, iblis ketamakan. Mengikat perjanjian dengan Valerin Grayii atas seluruh keinginannya.” Panacea Eerie menggumamkan mantra, berbunyi dengan bahasa yang asing, sampai pada akhirnya bunga Diphylleia grayi  tersebut hancur menjadi abu.


Panacea Eerie menyentuh dahi Valerin Grayii “Tubuhmu terasa panas, tuan muda.” Ucapnya kepada Valerin Grayii yang terdiam dengan tenang.


Valerin Grayii menatap dengan sepasang mata sayu, wajah memerah padam dan deru nafas yang tak beraturan. Ia sudah tak tidur berhari-hari, makan pun tak beraturan “Fr...Friday...” Racau Valerin Grayii seperti berhalusinasi menatap Friday dihadapannya. Kelelahan dan dehidrasi, Valerin Grayii mengabaikan dirinya dengan fatal.


Panacea Eerie menggeleng “Manusia, memang menyebalkan.” Panacea Eerie menggendong tubuh kecil Valerin Grayii. Angin yang berhembus, setiap jendela terbuka membuat kain horden itu bergerak seiringan. Sosok Panacea Eerie yang berjalan menggendong Valerin Grayii dalam gelap perlahan-lahan kembali berubah seperti sedia kala.


Ia dan Valerin Grayii yang sudah lelap tertidur itu. Sudah tiba didalam kamar Valerin Grayii. Panacea meletakkan tubuh sang tuan ke ranjang kasur, dia menggantikan pakaian Valerin Grayii bahkan mengelap tubuh sang tuan agar kembali bersih. Disana ia melirik sebuah tanda lain pada bahu kanan Valerin Grayii. Simbol bunga tengkorak atau Diphylleia grayi sementara tanda lain simbol bunga mawar tampak ada dileher jenjang nan putih dari Valerin Grayii “Manusia yang rakus, demi ambisimu. Menanggung penderitaan dalam sekali pikul. Valerin Grayii.” Panacea Eerie usai menggantikan pakaian tidur Valerin Grayii, ia menyelimuti tubuh kecil itu “Manusia menarik sepertimu, hanya ada sekali terlahir setelah ratusan tahun lamanya. Jiwa cantik serapuh kaca.” Dia tersenyum puas sambil menghilang dalam kegelapan malam.


Menyisakan Valerin Grayii yang tertidur lelap diranjang kasur, wajahnya memerah karena demam. Dalam tidur Valerin Grayii, ia juga gelisah. Seolah dilanda oleh mimpi buruk yang menghantuinya, hingga peluh keringat memenuhi sekujur tubuhnya.


“Engh...” Valerin Grayii merematkan kedua tangannya sendiri. Bergerak gusar dalam tidurnya, sang empu tubuh itu pasti tengah dilanda mimpi buruk.


_o0o_


“Kau harus bangun, mengerti?”


Valerin Grayii bersusah payah membuka kedua kelopak matanya, ia jelas mendengar suara itu. Suara berat bernada lembut yang menyapu indera pendengarnya, sontak. Valerin Grayii menerjabkan kedua matanya terbuka. Menyentak sekujur tubuhnya beranjak dari lelap berkepanjangan.


Sadar-sadar, Valerin Grayii mendapati dirinya duduk disebuah padang ilalang luas dengan hangat mentari menyapu kulitnya “Dimana?” Tanyanya pada diri sendiri.


“Ruang dan waktuku, wilayah sihirku. Memang tak seberapa lama tapi setidaknya beberapa pesanku bisa sampai padamu. Val...” Simpul senyuman dari si surai keemasan itu kepada Valerin, bersama tatapan teduh musim panas dari raven blue kelam itu.


Valerin Grayii menatap pria yang duduk disebelahnya, entah berapa lama tak bersua. Tapi yang pasti deru kerinduan dari dada Valerin Grayii mengalir hangat. Menatap tak percaya, sementara air mata deras mengalir membasahi pipinya “Frederitch... Friday...” Sekaligus dipanggilnya nama itu.


“Iya itu aku.”


Pria itu terkekeh pelan, sungguh lucu melihat raut konyol dari Valerin Grayii kepadanya, dia menangkup wajah Valerin Grayii kemudian ditatapnya dengan seksama “Secara teknis bukan ragaku, hanya jiwaku berkomunikasi melalui link yang sudah kita buat bersama. Hubungan ini, mengizinkan energiku sampai padamu. Syukurlah...” Pria itu mengulum senyuman.


“Hiks... hiks...” Valerin Grayii terisak menangis semakin kencang.


Frederitch Drew Raymond gelagapan “Eh, kenapa Val?”


“Jadi, selama ini kau kemana?!”


“Aku...” Pria itu menatap sendu “Percuma berusaha mencariku, tapi yang pasti aku ingin kau pergi jauh-jauh dari Dust Bones.” Tak tahan, Frederitch memeluk tubuh kecil itu kedalam dekapannya. Paling tidak ia rasakan aura kehidupan hangat dari Valerin Grayii yang bisa dijangkaunya dengan waktu yang singkat ini “Aku rindu padamu Val, sungguh... maafkan aku.” Ucap Frederitch.


“Aku juga, sangat rindu...” Valerin Grayii membalas pelukan itu.


Frederitch melepaskan pelukannya, dia memengang kedua bahu Valerin Grayii “Dengar, waktuku tak lama. Tapi kumohon jangan percaya ucapan Theo Lemaire, dan seluruh anggota keluarga kerajaan Crave Rose. Mereka mengincar nyawamu, kemudian di ruang bawah tanah. Tepat pada buku ketiga di rak kayu pertama, ada sebuah benda. Aku ingin kau melihatnya, sesuatu harus kau ketahui...” Ucap Frederitch dengan sungguh-sungguh “Dan maafkan aku. Kemarilah.” Sekali lagi, Frederitch meraih tubuh yang bergetar samar itu, sang empunya tubuh sudah pasti menangis dengan pilu. Sesekali tangan lebar itu mengusap punggung kecil Valerin Grayii.


“Jaga dirimu baik-baik. Valerin...”


Valerin Grayii, membuka kedua kelopak matanya perlahan-lahan. Hal pertama yang ia lihat ketika terbangun adalah Cerise yang sedang memasangkan sebuah kain untuk mengompres dahi Valerin Grayii.


“Master, sudah bangun?” Tangan buatan robot itu menyentuh dahi Valerin Grayii “Sensor aktif.” Dalam seketika, robot manusia itu dapat mengetahui suhu, nafas, nadi dan tekanan darah Valerin Grayii dengan instan “Suhu 36 derajat celcius, pernapasan 20 kali permenit, nadi 74 kali permenit, tekanan darah 110 per 80, kesimpulan tanda vital normal.” Ucap Cerise dengan tatapan datar seperti biasanya.


Kriet...


Panacea tiba dengan trolly makanannya, membawa semangkuk sup yang masih hangat dengan segelas susu hangat “Pagi tuan muda, anda belum makan apapun sejak kemarin.” Ucap Panacea mendekati ranjang kasur Valerin Grayii.


Valerin Grayii mengangguk lemas, dia pun beranjak menduduki tubuhnya “Sudah berapa lama aku tidur?” Tanya Valerin Grayii sambil meraih semangkuk sup yang diberikan oleh Panacea.


“Master, sudah tertidur selama tiga hari.”


“Uhuk...” Valerin Grayii yang sedang menyesap supnya langsung terbatuk.


“Tuan muda, berhati-hatilah...” Ucap Panacea memberikan segelas air putih kepadanya “Tuan muda memang demam tinggi selama tiga hari, anda mengabaikan kesehatan.” Panacea membantu Valerin dengan menyuapi sup dan bubur.


Valerin hanya membuka mulutnya kemudian menerima sesuap sup dari Panacea, wajahnya mencebik masam. Lucu dan menggemaskan.


“Aku sedang kesal saja.” Ucap Valerin Grayii.


“Oh kau kesal sampai harus mengabaikan kesehatanmu selama tujuh hari?” Dokter Louisa berdiri diambang pintu bersama pangeran Alexander dengan senyum sumringannya.


“Hai Val, aku membawakan roti madu.” Pangeran Alexander mendekati ranjang kasur Valerin Grayii “Kau masih demam?” Ucapnya meraih tangan kecil Valerin Grayii kemudian meletakkannya pada pipi tirusnya sendiri “Syukurlah, tidak sepanas kemarin. Iyakan Louisa?” Pangeran Alexander tetap senyum sumringan.


Leon Sirius tiba dengan tergopoh-gopoh, menarik sang pangeran menjauh dari Valerin Grayii “Maaf atas perilaku tak sopan Pangeran Alexander, Earl...” Ucap pria itu.


“Alex! Valerin sedang sakit, tak bisa kau ajak bermain.” Datang juga Viscount Rovana. Ia mengomeli pangeran Alexander.


Mendadak kamar sang Earl of Hortensiaburg ini menjadi ramai akan pengunjung. Bahkan ia masih memakan supnya, tapi tiba-tiba Valerin memasang wajah murungnya. Ia hanya menunduk sambil mengabaikan suapan dari Panacea.


Mereka tampaknya mengerti dengan perubahan raut wajah Valerin Grayii, semua yang dialami Valerin Grayii beberapa hari lalu sudah mereka ketahui dari Viscount Rovana dan Panacea Eerie yang senantiasa merawat sang tuan sejak ia jatuh sakit.


“Earl Grayii, bagaimana keadaanmu?”


Suara itu terdengar dari ambang pintu yang sama tepat disamping Dokter Louisa, suara berat yang terucap dengan ramah.


“Yang Mulia Alphonse, maaf bahkan aku tak bisa menyambutmu dengan baik.” Valerin Grayii mau tak mau menatap pria itu.


Alphonse Caleum mengulum senyuman “Bisa tinggalkan kami berdua?” Ucapnya yang otomatis membuat semua rekan-rekan dari Valerin Grayii keluar dari kamar sang Earl termaksud kedua pelayannya.


.


.


.