Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Season 2: Episode 53




 


 


“Bagiku yang sudah kenal kematian...”


“Eh?” Valerin terduduk, dihamparan ilalang yang bergoyang-goyang lembut “Aku, seharusnya aku pingsan? Ini mimpiku bukan?” Ucapnya sambil melihat kekiri dan kanan.


Valerin Grayii, menatap sekelilingnya. Ini adalah rumah lamanya, rumah yang masih terasa sebelum semua tragedi melanda. Rumah tempat kedua orang tuanya ada beserta kakak laki-laki tersayangnya masih hidup. Keluarganya masih utuh.


“Valyria...” Panggil sang ibu, wanita bersurai hitam panjang mengenakan gaun pesta berwarna biru tua “Kamu anak perempuan sayang, rapikan rambutmu.” Ucap sang ibu membelai surai hitam Valerin, surai hitam lamanya. Warna sebelum bangkitnya kekuatan terpendam seorang Valyria Soga Kinaru, dulu kala.


Sang ibu menyelipkan sebuah jepit bermata batu ametyst. Batu berwarna violet kemilau di rambut malamnya “Puteri ibu yang cantik, puteri ibu yang berani. Puter kecil ibu yang berhati besar.” Puji sang ibu tersenyum kepadanya.


“Sayang, dimana dasiku. Oh ya! Valyria, wah, wah. Lihat violet kecilku.” Sang ayah langsung mengecup puncak kepala Valerin, pria bersetelan jas rapi dengan surai perak yang disisir klimis “Panggil kakakmu, kita akan bersiap pergi ke pesta paman Tobi.” Ucap sang ayah lagi.


Valerin familiar dengan kejadian ini, tapi ia merasa melupakannya. Ingatan semasa kecilnya “Kak Darly...” Panggil Valerin, bersemu merah nan bahagia melihat sosok sang kakak semasa remaja. Nostalgia yang menyenangkan, masa-masa sang kakak yang sangat menyayanginya. Pemuda bersetelan jas rapih itu terkekeh pelan “Keke... lihat dirimu, cantik sekali seperti angsa kecil.” Ujar sang kakak meraih tangan Valerin dengan erat.


“J-jangan tinggalkan aku!” Pekik Valerin.


Dia terlonjak, sontak duduk dari ranjang kasur. Seutuhnya terbangun, kesadaran selama tiga hari itu benar-benar menyeretnya kembali pada ingatan lama, ingatan masa kecil yang dilupakan “...Kak Darly.” Gumam Valerin pelan. Dia tersadar pada kamar dikediaman Sirius.


“Valerin! Kenapa?” Alexander, sang pangeran kedua. Tiba di ambang pintu, mengenakan jubah tidur dengan sebuah pelita ditangannya “Aku kebetulan lewat, mendengarmu berteriak. Apa kau baik-baik saja?” Ucap pemuda itu.


Valerin mengangguk “Berapa lama aku tidur?” Tanya Valerin, meraih pitah merah yang ada dinakas meja. Mengikat surai peraknya.


“Tiga hari, kau terlelap tiga hari.” Alexander, tampak lebih kurus. Dia tersenyum sekenanya.


“Bagaimana kondisimu?” Tanya Valerin sambil beranjak berdiri “Apakah ada tanda-tanda Al, akan kemari.” Valerin menatap tajam Alexander.


Pemuda itu menggeleng “Aku lebih baik, nona Panacea bilang virus didalam tubuhku berangsur-angsur hilang karena darahmu. Sebaliknya Alphonse, kau kenal dia.” Ujar Alexander dengan pasrah “Dia tidak akan berhenti sebelum keinginannya tercapai.” Lanjutnya lagi.


“Aku tak mengerti keinginannya.”


“Kau sudah tahu Val, dia menggila semenjak tahu hubunganmu dengan Frederitch. Ditambah dendamnya kepada Crave Rose sejak lama”


“Aku yakin, bukan hanya itu. Katakan apa yang sudah ia perbuat di Dust Bones?”


“Aku tidak yakin, tapi yang pasti. Projek vampir dan Obscure dia dapatkan dari desa selatan, isi penelitian milik seseorang yang sudah akrab dengan vampir. Emelie apalah namanya, kudengar dari kakak dengan samar.”


“Sudah kuduga.” Valerin memijit pelipisnya yang berdenyut “Emelie Rovana memberikan hasil penelitiannya kepada Alphonse, itulah asal wabah Obscure semakin menyebar cepat karena anomali antara virus dan genetik vampir.” Valerin berucap “Crave Rose juga terancam, dimana Frederitch?!” Sontak Valerin berlari keluar kamarnya.


Dia sempat menabrak Panacea “Tuan muda kemana?” Ujar Panacea mengekori langkah Valerin.


“Frederitch! Dimana dia?!” Langkah kaki Valerin yang cepat itu terdengar ke seluruh penjuru koridor pada malam hari. Dia menggila, mencari sosok pria pirang itu.


“Ya Tuhan Val, kau kenapa panik?”Giliran William Rovana baru keluar dari kamar menatap keheranan Valerin, namun sama dengan Panacea, dia  pun mengekori gadis bersurai perak itu berlari “Memangnya Frederitch kemana?” Bisik William kepada Panacea disebelahnya.


Panacea menggeleng pelan “Ini malam, bagaimana bisa tuan muda ah nona muda seperti itu.” Khawatir Panacea.


Bukan Valerin jika tidak bisa menemukan Frederitch, dia membuka pintu keluar rumah kediaman Sirius. Disana ia melihat Frederitch, bersama seseorang dengan hal yang tak terduga.


“Val!” William Rovana yang juga melihat tak percaya “Kau pasti bercanda kawan?!” Ujar pria itu.


Wanita bergaun merah yang tengah mencium Frederitch tersenyum penuh kemenangan “Hai... Earl Grayii.” Ujar wanita itu seraya bergelayut manja di lengan Frederitch.


Kedua tangan Valerin mengepal keras “FREDERITCH DREW RAYMOND!” Pekik Valerin, rahangnya mengeras. Seolah seluruh aura di sekitarnya menguar dengan kuat “Cih...” Valerin mendecih sambil kembali berjalan masuk. Diikuti oleh Panacea yang berjalan bersamanya.


“Frederitch, hey kawan, Valerin marah. Cepat kejar dia, kau tahu dia mencintaimu bukan?” Bujuk William Rovana, setengah tak percaya melihat Frederitch yang tampak terdiam.


“Lady Berthan. Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu, dengan situasi yang tidak disangka pula.” Ucap William mengangguk hormat “Tapi bisakah kau biarkan tunanganmu itu berbicara dengan kekasihnya dulu?”


“Tidak bisa Viscount Rovana, sekarang aku akan membawa Frederitch kembali.” Tatap wanita itu dengan licik “Karena jantungnya ada bersamaku, bukan begitu Frederitch?”


.


.


.


Perih perasaan dikhianati, Valerin Grayii sang Earl of Hortensiaburg. Menaiki sebuah kuda, melajut dimalam hari dengan kencang. Melintasi jalan berbatu menuju kediaman lama mansion Grayii. Sepanjang jalan dia menangis, terisak perih dengan kenyataan. Hal yang ditakutkannya terjadi saat ini.


“Hiks... kau meninggalkanku?” Isak Valerin Grayii, rasa sakit hati menyelubungi perasaannya. Dia berhenti dihalaman belakang mansion Grayii, kebun hortensia dengan puing-puing mansion diterangi sinar bulan malam ini.


Valerin turun dari kuda itu, dia duduk tertunduk disana dengan riak air mata yang terus mengalir deras “Jika, jika semuanya hanya mimpi. Jika kau juga bagian dari mimpiku, Frederitch.” Kedua tangan Valerin terkepal keras. Akhirnya dia hanya menangis disana, dihamparan hortensia ungu yang bergoyang kala angin malam meniup.


Paginya Valerin, menghadiri pemakaman tuan Odolf. Di desa tetangga, asal kediamannya. Mengenakan setelan pakaian serba hitam, Valerin tetap tidak menggunakan gaun. Dia tetap mengenakan pakaian pria formal.


Raut wajah Valerin yang datar, dia diam dengan tenang. Menatap keluarga tuan Odolf yang berduka “Maaf nyonya Odolf.” Ucap Valerin Grayii.


“Tidak apa-apa Earl. Sudah menjadi tugas kami turun temurun menjaga keluarga Grayii.” Ucap wanita tua itu dengan tangisannya.


Valerin tidak tega, rasa kehilangan memang pahit “Maafkan aku.” Ujar Valerin lagi sambil merangkul wanita tua itu, dia tidak ragu menyenderkan pundaknya untuk menjadi tempat menangis wanita tua nan rentan itu.


Pemakaman itu hanya dihadiri keluarga besar tuan Odolf kemudian William Rovana dan Panacea menemani Valerin. Ada pun pihak kepolisian yang bertugas mengawasi kasus ini, Edward Sirius juga ada disana.


“Earl, kau baik-baik saja?” Edward Sirius menepuk pelan pundak Valerin.


“Ya, aku baik.” Valerin memasang raut wajah datarnya.


“Oh iya, tuan Sirius bolehkah aku menitipkan anak-anak dikediamanmu.” Lanjut Valerin lagi yang berjalan beriringan dengan pria itu.


Edward Sirius mengangguk “Sabrina menyukai mereka, Tidak keberatan sama sekali Earl...” Ujar Edward Sirius.


“Kau mau kemana Val?” William Rovana meraih pundak Valerin, dirangkulnya pundak kecil itu “Kau tidak boleh nekat dengan patah hati seperti ini.” Nasehat William Rovana.


Valerin mendadak menghentikan langkahnya “Ppffftt... Hahaha.” Valerin tertawa dengan kencang.


“Tuan muda kenapa?” Panacea bertanya dengan cemas.


Valerin Grayii mengusap ujung kelopak matanya, dia tersenyum lebar malah mirip dengan seringai kecil. Kedua iris violetnya dingin menusuk, tidak seperti binar Violet hangat biasanya “Ah~ aku tak semudah itu putus asa, Frederitch akan kembali kepada tuannya.” Ucap Valerin sambil terkekeh pelan “Sementara itu, aku memiliki urusan dengan Alphonse.” Ujar Valerin lagi sambil melangkah dengan tegap lebih dulu.


“Dia merencanakan sesuatu.” Ujar William Rovana menatap Panacea Eerie.


Panacea menggeleng “Aku akan menyusulnya, permisi Viscount Rovana. Tuan Sirius.” Ujar Panacea berjalan cepat menyusul Valerin.


“Aku baru dengan Earl Grayii, apakah dia baik-baik saja?”


“Dia terlalu baik-baik sampai kuduga dia sangat baik menghancurkan orang lain.” William Rovana menggeleng “Dia iblis kecil yang manis, tuan Sirius. Cobalah jangan mencari masalah dengan Earl Grayii.” Peringat William Rovana.


“Ah, begitu ya.” Edward Sirius bergidik ngeri.