
Alphonse, King of DustBones. Setidaknya dia sudah memijit pelipisnya sejak beberapa menit yang lalu. Pria itu duduk di singasananya dengan para menteri yang masing-masing melaporkan kejadian dari seluruh masalah dari semua penjuru Dust Bones.
Hingga, pintu dari timah itu terbuka. Menampaki tubuh pria muda yang berjalan terburu-buru, dia langsung membungkuk kepada Alphonse.
“Yang Mulia...”
“Leon Sirius, saudaraku.” Ucap Alphonse menatap Leon dengan tajam “Bawakan aku berita baik.” Katanya lagi.
“Earl Grayii, berhasil mendapatkan informasi dari Crave Rose tentang upacara membawa kembali leluhurnya dan wilayah Dust Bones yang cepat mewabah. Serta Yang Mulia...” Leon Sirius merasa tenggorokannya tertahan, seharusnya ia tak mengkhianati Valerin Grayii yang sangat baik hati itu “Dia seorang Gandaria sejati, kakinya sudah sembuh dengan ajaib, bahkan surai hitamnya sudah berwarna perak.” Ucap Leon Sirius.
Alphonse melebarkan kedua mata hijaunya, dia bahkan bertepuk tangan “...Kalau begitu dimana Earl Grayii? Dia harus mengatasi wabah-wabah yang merebah itu.” Ucap Alphonse “Kemudian Earl Grayii akan membantu Dust Bones menghancurkan kekuasaan Crave Rose.” Ucap Alphonse.
“Pasukan para Obscure, kau bayangkan itu Leon? Pasukan Dust Bones akan jauh lebih kuat dari pada Crave Rose, Earl Grayii harus memimpin pasukan itu. Sekarang dimana dia?”
Bagi Leon Sirius saat itu, dia menatap tak percaya “Tapi, Earl Grayii. Bukakah Earl Grayii seorang penyembuh dari wabah itu, Yang Mulia?” Leon berkata benar, memang perang tak bisa dihindari, namun Valerin Grayii orang yang bisa menyembuhkan Obscure sayangnya sang Raja memiliki ambisi lain.
“Leon Sirius, apakah terlalu lama bersama mereka membuatmu melunak?” Alphonse menatap tajam, dia bahkan turun dari singasananya. Mendekati pria muda itu dengan aura dinginnya “Kau mau Dust Bones memiliki masa depan yang buruk?” Ucapnya lagi.
Leon Sirius segera menggeleng, dia kembali berlutut kepada sang Raja “Ampuni, Yang Mulia.” Dia tak berkata apapun lagi, tapi jelas keinginan sang raja sangat keterlaluan. Mereka yang terinfeksi juga seorang manusia, Leon Sirius yang pernah selamat dari wabah Obsure menyimpan empati sendiri. Dia tak bisa berbuat banyak.
“Leon?” Suara Alexander lirih terdengar, pria itu berdiri ditepian ambang pintu yang terbuka.
Leon Sirius langsung menoleh sang pangeran kedua, Alexander Caleum “Y-ya Tuhan...” Lidah Leon Sirius terasa kelu, saat dilihatnya pangeran kedua sudah dalam kondisi yang buruk. Dia tampak pucat pasi dan begitu kurus, Alexander seorang campuran vampir. Walaupun vampir kebal terhadap Obscure, tapi Alexander terinfeksi “Bagaimana mungkin Yang Mulia? Pangeran Alex tak mungkin terinfeksi...” Leon Sirius menatap wajah Alphonse, pria itu hanya menatap dingin sang adik.
“Astaga...” Leon tak berkata apapun lagi, dia segera menghampiri Alexander “Kau tidak apa-apa, pangeran,” Leon mengusap-usap pundak Leon Sirius “Tak apa, kita akan cari Earl Grayii untuk membantumu.”
Alexander menggeleng “Tidak apa, Leon, aku tidak apa jika aku bisa berguna bagi Yang Mulia Alphonse.” Ucap Alexander masih sempat tersenyum.
Leon berhasil mencernanya “Tidak mungkin.” Gumam Leon Sirius, virus Obscure yang ada pada Alexander adalah buatan kerajaan Dust Bones. Tak heran jika wabah Obscure juga cepat merebah luas, Leon menatap sang Raja. Dia bergulat dengan perasaannya sendiri.
Tidak setelah pecahan kaca berjatuhan, langit-langit kubah kaca di aula ini pecah. Berkat usaha seorang Frederitch Second Prince of Crave Rose dengan Earl Grayii of Hortensiaburg didalam gendongan sang pangeran. Mereka mendarat ditengah-tengah aula, tepat didepan singasana sang raja. Kedatangan sejoli tak biasa itu membuat para menteri menatap keduanya dengan keheranan.
“Salam, Yang Mulia Alphonse.” Valerin Grayii turun dari gendongan Frederitch sambil menyibak surai perak miliknya.
“Valerin!” Sang Raja memasang wajah sumringannya menatap si gadis bersurai perak itu.
Tapi, kedua sejoli itu langsung dikepung pengawal istana “Penyusup! Gadis dan vampir itu penyusup!” ucap para prajurit.
“Oh, iya, Salam Raja, Earl Grayii dari Hortensiaburg. Paladin of Dustbones, pemimpin utama, Valerin Grayii.” Valerin Grayii ingin tertawa melihat para petinggi tak mengenalinya.
Suara riuh dari kepungan para pengawal, satu demi persatu tumbang oleh William Rovana “Hai, Alphonse...” Ucap William Rovana sambil melemparkan tombaknya dengan sembarang, diikuti oleh Panacea yang tiba dari antara kerumunan para menteri. Dia membuka tudung hitamnya seraya mengangguk kepada Valerin Grayii.
Mereka berdua berjalan mendekati Valerin dan Frederitch, berjejer berdiri disana menghadap sang raja.
Valerin sempat menoleh ke arah Leon Sirius, dia berharap pemuda itu berubah pikiran “Leon...” Panggil Valerin pelan.
Leon Sirius pun mengangguk, dia berdiri disebelah William Rovana. Lengkaplah sudah Paladin of Dustbones ini. Dengan Valerin yang berdiri ditengah-tengah, maju dengan langkah beraninya “Tidak ada hal yang perlu kukatakan kepadamu.” Ucap Valerin Grayii kepada Alphonse.
6 jam sebelumnya...
“Seharusnya kita ada di pusat DustBones?” Panacea terkejut, mantera transisi mereka hanya sampai menembus kediaman Grayii.
Mereka sudah berada didepan manor Grayii, kelimanya menyadari jika kediaman sang Earl Grayii sudah menjadi puing-puing bekas dibakar. Hangus tak tersisa, kediaman megah diantara padang bunga berkelopak ungu itu.
“Oh tidak...” William Rovana mengeluh pelan, dia langsung memengang pundak Valerin Grayii “Aku tahu rasanya Val, rumahku pun sama... Kuatkan dirimu.” Ucap William Rovana sambil menatap Frederitch.
“Val, kau baik-baik saja?” Frederitch bertanya pada tubuh mematung Valerin, yang diam membeku menatap kediamannya.
Valerin memejamkan kedua kelopak matanya sebentar, dia menarik nafas dan menghembuskan dengan pelan juga “Tak kusangka, dia benar-benar melakukannya.” Valerin Grayii berucap sambil membalikkan tubuhnya, dia berjalan kearah sebuah alat yang sudah dia letakkan sebelum meninggalkan kediaman itu.
Valerin Grayii menghubungkan dengan panel yang masih melingkar di lengannya “Kupikir aku tahu siapa, tapi lebih baik kita lihat dengan baik.” Valerin Grayii menunggu kedua alat itu terhubung, mirip seperti alat perekam yang terhubung di ponsel jika dijamannya dulu. Cara kerja dan sistemnya mirip, hanya seorang Valerin Daryl Kinaru-lah yang tahu rangkaian pembuatan alat ini, Valerin Grayii hanya mempelajari dari buku Clandestine.
“...Tidak ada yang tersisa?”
“Dia tak berada disini, Yang Mulia, seperti yang anda lihat.”
“Kupikir, kau Jenderal handal yang mahir menemukan pengerat dengan mudah... Jenderal Lemaire.”
Rekaman suara itu mulai samar-samar terdengar, tapi Valerin mengenali dua suara itu. Dia mengangguk dengan menatap Frederitch “Aku rasa, mereka diam-diam bekerja sama. Masuk akal, Alphonse dan tuan Lemaire... Menurutku Lemaire ingin Crave Rose dengan membantu Alphonse.” Ucap Valerin.
Frederitch juga mengangguk “Ceroboh, tapi aku juga butuh bukti itu.”
“Kita...” Ralat Valerin “Kita butuh bukti ini bersama, setelah menemui Alphonse.”dia melihat rahang Frederitch mengeras, dia tahu Frederitch juga merasa kesal. Tapi disini, Valerin ingin mereka menghadapi bersama “Kita bersama, kita akan melakukannya bersama dimulai dari Alphonse kemudian Yang Mulia Nikolai, tuan Lemaire ini menjadi kunci kita. Dia pasti tahu sesuatu sampai memilih bekerja sama dengan Alphonse.” Ucap Valerin memengang pundak Frederitch, dia menenangkannya.
Si surai perak Valerin beralih menatap Leon Sirius yang masih terkejut “Aku ingin menyampaikan penemuanku, kuharap kau berpura-pura tidak tahu sesampainya di Istana.” Kata Valerin Grayii “Mereka yang terinfeksi saat aku jatuh sakit kemarin itu, bukan virus Obscure yang biasa. Aku tak bisa merasakan kehadiran jiwa mereka yang terikat, melainkan mereka benar-benar mati hanya diikat dengan perintah yang sama. Dalam arti sederhana, Virus Obscure sudah dibuat lebih baru lagi oleh Alphonse, kemudian sengaja ia sebar ke penjuru Dust Bones...” Ucap Valerin Grayii.
“Aku... tak mengerti bagaimana Yang Mulia tega melakukannya.”
“Ya, kau akan lebih merasa gila lagi jika. Virus itu jauh lebih kuat karena sudah dicampur dengan DNA Vampir.” Ucap Valerin lagi.
Leon Sirius mengusak rambutnya “Ha... Jangan bilang, dia melakukan percobaan itu pada Vampir. Mereka kebal bukan?” Leon Sirius dengan raut frustasinya menatap Valerin.
“Mungkin saja, jika ada DNA campuran manusia.” Valerin menatap Leon Sirius dengan tegar, dia berusaha. Menjaga kemungkinan yang akan buruk terjadi “Dugaanku...” Lanjut Valerin lagi.
“Oh, oh Ya Tuhan Tidak... tidak mungkin.” Leon Sirius nyaris menitikkan air matanya “Pangeran Alex tidak tahu apa-apa soal ini, dia terlalu polos bagaimana mungkin Yang Mulia tega...” Leon Sirius menggeleng.
“Kita akan memastikannya, jika Alex berada dalam kondisi kurus, pucat, dan mirip seperti penderita Obscure. Dia masih bisa diselamatkan dengan darahku.” Valerin Grayii segera menghunuskan injeksi berbentuk pen ke lengannya, kemudian memasukkan tabung kecil itu kedalam sebuah bandul kalung.
Dia berjalan mendekati Leon Sirius dan memasangkan rantai kalung itu “Hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantumu...” Ucap Valerin Grayii “Kau begitu setia kawan terhadap Alex, dia memang bodoh. Tapi anak itu sangat menghormatimu...” Ucap Valerin Grayii lagi sambil tersenyum
“Segera berikan darahku ketika keadaannya semakin memburuk...” Pesan Valerin Grayii.