Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Episode 13




Valerin menompang dagunya dengan tatapan malas, lihatlah seluruh meja makan penuh dengan makanan beserta buah-buahan. Sejam yang lalu setelah Valerin bangun tidur, ia sudah diceramahi oleh pelayan prianya. Dimulai dari Valerin yang senang tidur larut malam, terlalu banyak menghabiskan waktu didalam manor, atau bahkan Valerin yang memaksa dirinya agar cepat berjalan.


“...Tuan muda kali ini biar jadwal harian akan saya buat, pola hidupmu benar-benar berantakan. Ya Tuhan, bagaimana mungkin anda bisa hidup seperti ini.”


“Ah, lihat anda hanya mengaduk-ngaduk saladnya.”


Valerin menghela nafas “Friday, saladnya hambar. Tidak manis.”


“Friday bersemangat hari ini, ya nona Eerie.” Ucap tuan Odolf yang sedang membawa nampan berisi dessert kue-kue manis.


Panacea yang berada diluar ruang makan sedang mengganti bunga dari sebuah vas  “Benar, Friday akan lebih memperhatikan tuan muda lagi.” Ujar Panacea dengan datar, sebenarnya ia hanya bingung. Ingin menjauhkan Valerin, namun tampaknya itu sulit.


“Sepertinya tuan muda juga menyukai Friday.”


Panacea sampai menghentikan aktivitasnya, ia menatap pria tua yang tersenyum itu dengan heran.


“Isteriku juga seperti itu, kadang memarahi kebiasaan buruknya adalah sikap seseorang yang menyayanginya. Friday sudah sering seperti itu, tampaknya tuan muda juga tak menolak. Hubungan mereka memang unik.”


“Ah begitu ya...” Panacea tertawa hambar. Ia tak mengerti maksud ucapan pria tua itu, namun turut memperhatikan keduanya.


.


.


.


Valerin berjalan seorang diri di kebun halaman belakang mansion ini, angin yang bertiup lembut turut mengoyang-goyangkan surai pendek selehernya. Masih pagi, udara pun masih segar. Valerin Grayii menghembuskan nafas dengan pelan, ditangannya terdapat sebuah buku. Ia memutuskan untuk membaca buku itu di sebuah bangku yang ada ditaman.


“Hortensia... bunga violet ini sama seperti dikediaman lama kami.” Gumam Valerin, kemudian beralih membuka buku agenda peninggalan sang kakak. Lembar pertama dilihatnya masih tertulis aktivitas-aktivitas biasa, hingga sebuah lamanan pembatas disana mulai menuliskan hal berbeda.


“1. Klan Gandaria


Klan yang kebal akan virus obscure, beberapa anak yang terlahir dari klan gandaria memiliki darah yang bisa menjadi penawar penderita obscure.”


Valerin meneguk ludahnya sendiri, tempat yang disangkanya indah ini cukup memiliki sisi yang seram “Obscure... Virus yang membuat seseorang agresif, tak terkendali dan bahkan melukai orang-orang disekitarnya.” Valerin Grayii masih membaca setiap lembar halaman itu, selain menjelaskan asal-usul wabah Obscure, Klan Gandaria sampai manusia dan vampir yang hidup berdampingan. Wabah Obscure tak bisa menginfeksi vampir yang sejatinya ras immortal, namun bisa menginfeksi manusia. Parahnya lagi, virus itu merupakan senjata biologis yang diperuntungkan untuk melawan para vampir justru malah berakhir mewabah.


“Seluruh catatan kakak, sangat membantu.” Valerin menutup bukunya. Tak terasa ia nyaris membaca setengah bagian dari buku itu.


“Buku Clandestine ya?”


“Apakah itu nama buku catatan ini?”


Friday tersenyum, ia datang dengan trolly makanan “Anda selalu menyebutkan Clandestine pada buku itu.” Ucap Friday sambil menyurahkan teh panas dari teko kedalam cangkir.


“Ah, aku berharap menegak kopi disiang hari. Lihatlah, aku cukup merasa ngantuk.” Ucap Valerin menyandarkan punggungnya “Ini tak lebih dari buku catatan, oh iya... Apa kau tahu kopi akan enak jika ditambah susu.”


Friday mengangguk “Besok permintaan tuan muda akan dihidangkan saat siang hari.” Friday menyodorkan teh hangat itu kepada Valerin.


“Uhm~ aroma chamomile ya...” Valerin meraihnya, langsung saja menegak teh hangat buatan Friday itu.


Valerin sempat melirik Friday ketika menegak teh hangat itu “Kalian, mengabaikan fakta jika aku seorang wanita serta bukan seorang Valerin Grayii.” Valerin menyeringai kecil, sesuatu yang dialaminya pasti tidak baik-baik saja. Kediaman manor megah ini, seolah menolak kenyataan yang sesungguhnya.


“Itu tidaklah penting untuk sekarang tuan muda.”


Valerin menaikkan kedua bahunya dengan acuh, benar ia juga tak terlalu memusingkan hal itu. Lagipula, Valerin mengalami keuntungan disini. Hidupnya makmur dan sejaterah.


“Raja Dustbones mengirimiku surat, singkatnya ia memintaku pergi menyelidiki desa utara. Wabah itu meruah disana, bahkan ada beberapa vampir yang juga terinfeksi.” Ucap Valerin sambil menegak secangkir teh itu.


“Baik tuan muda, kuda akan dipersiapkan esok hari.”


Valerin melirik Friday, pemuda itu biarpun mahir berperilaku elegan namun raut wajahnya amat mudah ditafsirkan. Friday aslinya orang yang kaya ekspresi, Valerin terkekeh menyadari hal itu.


“Kenapa tuan muda? Anda tertawa tiba-tiba.”


Valerin menggeleng “Tidak, hanya ingin tertawa.” Gumam Valerin sambil menyilangkan kedua kakinya.


“Aku juga penasaran dengan wabah Obscure, jelas hal ini bisa sangat lama selesai jika tidak ditangani. Hey Friday, apakah tidak ada rumah sakit atau organisasi yang menangani?”


“Tentu ada tuan muda, anda salah satunya. Dari beberapa petinggi yang menangani wabah ini, dokter Grayii. Anda Earl yang handal dalam apapun.”


“Woah aku senang disanjung, sayangnya itu bukan ditujukan untukku.” Valerin berkata jujur saja. Baginya situasi ini aneh, sementara Valerin terlalu acuh untuk ‘sosok’ Earl yang disanjung-sanjung ini “Karena itu bukan aku, terus kenapa aku harus bersikap seperti bukan diriku?” Ultimatum ucapan Valerin Grayii. Ia memandang jenuh.


Friday tersenyum lebar “Anda benar-benar manusia yang menarik, tuan muda.”


“Aku tak mengerti, jelas jika aku tahu baik kau ataupun Panacea merencanakan sesuatu. Biarpun selama ini aku terkesan tak perduli, tapi aku bisa mencari tahunya sendiri. Kau dengar itu Friday? Aku tak suka dipermainkan.”


Friday terkesima, kedua netra raven bluenya melebar “Ah tuan muda, anda begitu menawan.” Friday benar-benar menyukai sosok Valerin Grayii yang berkata terus terang seperti ini, dia bahkan tak takut menatap dirinya dengan tatapan tajam itu “Ah lihatlah wajah manis yang takut menatap predator didepannya.” Friday berkata dalam batinnya, ia menutup mulut dengan tangan kanannya. Taring-taring itu tak sengaja keluar, ia membayangkan darah nikmat dari sosok semenawan Valerin.


“Kau kenapa?” Tanya Valerin.


“Tidak tuan muda, bukan apa-apa.”


Valerin menatap kedua iris mata raven blue Friday yang berangsur-angsur berubah memerah “Ah, kemarin malam juga begitu. Iris matanya memerah saat memiliki hasrat lapar ya?” Benak Valerin mengamati Friday dengan seksama.


“Apa kau lapar?” Valerin menyimpulkannya dengan cepat.


Friday tersentak kaget, dia pun tak mengubris “B-bukan seperti itu juga.” Katanya sambil membuang pandangan.


“Baiklah.” Ucap Valerin sambil menggulung lengan kemeja kanannya, ia meraih pisau roti kemudian menggores telapak tangannya “Minumlah, Friday...” Perintah Valerin sambil menyodorkan tangannya itu.


Friday tersenyum kecil, tatapannya sukar diartikan. Namun ia tetap meraih tangan Valerin kemudian menghisap luka pada telapak tangannya dengan pelan “Aku tak akan meminum terlalu banyak.” Balas Friday sambil menjilat bekas luka itu.


“Ha?!”


Panacea datang tergopoh-gopoh “Tuan muda, maaf. Aku tak tahu apa anda mengizinkan seorang penduduk desa ingin menemui anda.” Ucap Panacea sambil mengangkat ujung gaun maid panjangnya.


Valerin diam sejenak. Dia pun beranjak berdiri “Biar aku lihat sendiri.”


“Baik tuan muda.”


Sepasang suami isteri berdiri di beranda manor kediaman Grayii, tertegun sejenak Valerin Grayii menatap sepasang suami isteri dengan pakaian lusuh itu. Banyak ditambali oleh kain-kain bekas, kini Valerin paham kenapa Panacea tak langsung membiarkan mereka masuk. Biar bagaimana pun tata krama seorang bangsawan akan berbeda terhadap rakyat biasa.


“Earl Grayii, tolonglah kami...”


Seorang isteri, pasti seorang ibu. Ia menggendong bayi kecil didalam dekapannya “Anak kami sakit, dokter dipusat kota menolak menyembuhkan anak kami.” Jelas seorang isteri itu.


“Tolong tuan Grayii, kami diperintahkan pergi tanpa diberi penanganan apapun.”


Valerin Grayii berdiri diambang pintu, dengan Friday dan Panacea yang ada disisinya. Mereka bertiga sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing.


“Tuan muda...” Friday menyentuh telapak tangan Valerin.


“... aku tahu.”


Valerin mendekati pasangan suami isteri itu, telapak tangannya menyentuh puncak kepala bayi kecil yang malang ini “Suhu tubuhnya sangat hangat, kulitnya kasar, kemudian...” Valerin mengarahkan tangannya untuk mengamati kelopak mata bayi itu “Pucat, sangat pucat...” Iba Valerin sambil berjalan memasuki ruang tamu.


“Friday... Panacea... kenapa kalian diam? Lihat pasienku berada didepan.”


Friday dan Panacea tersenyum bersamaan, mereka menghela nafas lega “Memang beginilah tuan muda kami.”


Valerin memang tahu, berkat beberapa buku dan ilmu yang disukainya. Ia tengah memberikan termometer pada bayi itu, sesekali menuliskan hal-hal yang ditemukannya sebagai catatan “Sejak kapan, bayimu tidak menyusu lagi?” Ucap Valerin sambil beranjak berdiri.


“Sepertinya sudah tiga tahun lalu...”


“Alasan?” Valerin berucap dengan dingin.


“Anak kami menolak menyusui.”


Valerin menghela nafas “Baiklah tunggu sebentar.” Ucap Valerin sambil berjalan menuju ruang kerjanya. Valerin ingat beberapa catatan didalam buku Clandestine milik sang kakak, kunci yang dimaksud merupakan ruang bawah tanah. Isinya banyak formula obat-obatan yang jarang ditemukan pada saat ini, bahkan ada beberapa alat yang berfungsi untuk membantunya menyelesaikan pekerjaan. Valerin menuju ruang kerjanya karena ia meletakkan kunci itu disana.


“Tuan muda, anda melakukan apa?” Friday berdiri diambang pintu, mengintip Valerin yang sedang mengambil sebuah kunci dari atas meja.


“Keruang bawah tanah.”


“Menurutmu tuan muda, bayi itu sakit apa?”


Valerin menatap Friday, ia berjalan pelan biarpun secara ajaib terbiasa menggunakan kaki ini “Malnutrisi, beberapa obat pereda demam akan baik diberikan.” Ucap Valerin dengan tenang.


“Mau ditemankan menuju ruang bawah tanah tuan muda?”


Valerin mengangguk “Iya, aku payah sekali tidak tahu letak ruangan itu dimana.” Valerin tersenyum hambar. Ia benar-benar tak habis pikir dengan dirinya sendiri.


Untung saja Friday pelayan yang pengertian, dia membawa sebuah lentera berjalan lebih dahulu pada lorong ruang bawah tanah yang gelap. Valerin dengan tenang berjalan dibelakangnya “Valerin, penakut akan gelap. Tapi gadis ini benar-benar berbeda... Menarik” Tak banyak hal yang dilakukan Friday selain membimbing jalan dan melirik si tuan muda yang manis.


“Friday, apakah kita sudah sampai?”


“Hm, benar tuan muda.” Friday mengulurkan tangannya untuk diberikan kunci itu kepada Valerin.


Ia langsung memberikan kunci itu kepadanya “Kunci ini kudapatkan dari pria paruh baya.” Ucap Valerin dengan jujur.


“Ah begitu ya? Kunci ini memang selalu ada bersama anda, tuanku.”


Valerin sempat memandang Friday dengan heran. Seolah pemuda itu sudah mengetahui sebelumnya, tapi Valerin berusaha untuk tenang. Ketika pintu itu dibuka, dia masuk lebih dahulu.


Hanya ruangan luas dengan rak-rak buku, perkakas yang tersusun rapih, sebuah sofa dengan perampian. Dibandingkan ‘gudang penyimpanan’ ruang bawah tanah ini cocok disebut dengan ruang santai “Apakah hanya seperti ini ruangannya?” Valerin mendekati sebuah rak-rak peralatan yang ia tahu, biarpun kebanyakan sudah terlihat usang “Wah! Stetoskop, membantu sekali.” Ucap Valerin girang saat melihat stetoskop dengan gagang berwarna perak ini.


“Masih ada satu ruangan lagi disudut kanan, ruangan penyimpanan wine...” Ucap Friday sambil turut mendekati Valerin, dia menggeser sebuah rak buku yang ada disebelah Valerin.


Valerin mungkin kali pertamanya melihat senjata-senjata indah itu, kedua mata violetnya berkilau riang “Aku tak tahu, tapi apakah senjata ini semuanya milik Valerin?”


“Benar tuan muda, anda mahir menggunakannya terutama ini...” Friday mengembil dua buah revolver kembar berlapis perak “Beberapa peluru anda campurkan dengan cairan khusus yang bisa melumpuhkan obscure, tidakkah anda begitu hebat tuan muda.” Ucap Friday memberikan dua buah pistol itu.


“Ah, i-iya... lebih baik kita kembali.” Valerin menatap sebuah toples dengan tulisan yang ia tahu “Ini dia!” Valerin membuka toples berisi serbuk putih itu, dia mencium kemudian mengecapnya sedikit “Tak salah lagi, pasti ini.”


“Kenapa tuan muda?” Friday kerap kali menggodanya, dia berada disamping Valerin bahkan deru nafas hangatnya terasa pada leher Valerin.


“O-obat pereda demam, kenapa kau tak memberikannya kepadaku kemarin?”


“Oh iya, Friday ini lupa.” Ucap pelayan itu dengan cengiran lebarnya.


Valerin memasang raut masam, jelas-jelas jika Friday sedang menjahilinya “Aku akan membungkusnya menjadi beberapa bagian, tak kusangka beberapa obat lain juga ada disini. Bantu aku membungkusnya.” Ucap Valerin.


“Baik tuan muda.”


.


.


.