Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Season 2 : Episode 52




Pria bersurai pirang, sang pangeran ketiga dari Crave Rose dengan nampan berisi teko teh beserta cangkir tehnya “Val...” Panggilnya dengan nada suram, kepala Frederitch Drew Raymond berkedut, melihat Valerin baru tiba diambang pintu kediaman komandan polisi kerajaan Dustbones dengan seorang gadis berpakaian pasien Rumah Sakit dibelakangnya.


“Kau hilang seenaknya, kau pikir lucu ha?” Frederitch langsung meletakkan nampan itu diatas nakas meja “Kemana saja kau ha? Hilang dan pergi sesuka hati, apa kau lupa jika kau menjadi incaran seluruh orang di muka bumi ini Valerin Grayii?” Ujar Frederitch sambil mencubit geram kedua pipi gempal Valerin.


“Mwaafkan akhu, tadhi akhu ingwin mengwatakhan...” Ucapannya tidak jelas karena Frederitch masih mencubit pipinya “Aw...aw...” Ringis Valerin Grayii kesakitan.


Frederitch melepaskan tangannya “Kemana saja?”


“Panjang, aku bahkan bertemu Lemaire tadi.” Ucap Valerin berjalan masuk “Ayo nona Sirius, ikut aku...” Ucap Valerin meraih tangan Sabrina Sirius.


“Apa?!” Frederitch dan William berucap bersamaan, William baru tiba dipapah oleh Panacea. Tapi, dia terkejut bersamaan dengan Frederitch.


“Tenang saja, aku tidak kenapa-kenapa.” Lanjut Valerin berjalan, dia malah berpas-pasan dengan dua saudara Sirius yang kebetulan berjalan bersama kearahnya.


Edward Sirius dan Leon Sirius, kedua pria itu menatap tak percaya gadis yang Valerin bawa bersamanya “Sabrina?” Gumam Leon Sirius.


“Ed... Leo...” Panggil Sabrina dengan kedua mata berkaca-kaca.


“Ya Tuhan, Sabrina... Kami pikir kau, kau astaga, kau sangat baik.” Edward berhambur pelukan kepada Sabrina Sirius. Disusul oleh Leon Sirius.


Menatap reuni itu, Valerin Grayii tersenyum “Syukurlah...” Ujarnya menatap ketiga saudara itu saling berpelukan.


Frederitch menepuk pundak Valerin Grayii “Kau sengaja bukan?” Tanya pria pirang itu sambil menggeleng.


“Tidak juga. Kupikir, mereka salah menganggap Sabrina Sirius. Dia memang sembuh dari Obscure dengan keinginan jiwanya yang kuat, alasan mereka menahan Sabrina Sirius di Rumah Sakit Jiwa adalah agar dapat mempelajari orang yang terbebas dari Obscure.” Jelas Valerin sambil melipat kedua tangannya didada “Kemudian Lemaire datang kesana, bukan. Dia memang sudah ada disana, menagih buku Coalesce untuk rencana lain dari Al...” Ungkap Valerin menatap Frederitch.


“Kau harus mempelajari buku Coalesce, hanya tinggal kita berdua. Kau harus mengagalkan rencana Crave Rose dan aku harus menghentikan kegilaan Alphonse.”


“Earl Grayii, biarlah kami membantumu juga, jasa kau untuk membawa kembali adik kami Sabrina. Kami berterimakasih...” Ucap Edward Sirius.


Valerin menggeleng “Dia tak gila, dia hanya sengaja dianggap gila agar tidak ada siapapun mempercayai ucapannya. Bukan begitu nona Sirius?” Wajah Valerin yang cantik tersenyum penuh arti. Gadis tomboy itu memiringkan kepalanya menatap Sabrina Sirius.


“Benar, Earl... Mereka sengaja membawaku ke Rumah Sakit, agar jauh dari Ed dan Leo. Disana, aku dipaksa berkomunikasi dengan orang yang terinfeksi oleh Obscure, kalau tak salah... mereka ingin membuatku kembali menjadi ras gandaria, tapi aku tidak pernah bisa.” Sabrina Sirius menunduk “Hanya Earl Grayii yang begitu baik mempercayaiku, kau... apakah juga Earl Grayii?” Tanya Sabrina Sirius menatap Valerin.


“Iya, aku Valerin Grayii.” Jawab Valerin dengan senyuman. Biarpun dia tahu, maksud Sabrina Sirius adalah kakaknya, Valerin Darly Kinaru. Tapi Valerin tak pernah putus asa, dia masih sosok Earl Grayii yang orang-orang kenal. Melanjutkan langkah kakaknya, mendengar ucapan Sabrina Sirius, membuat ujung perasaan Valerin merindu sosok sang kakak yang tiada “A-aku, akan keluar sebentar...” Valerin Grayii menahan isak, dia kembali keluar dari kediaman itu.


Frederitch memandang Panacea, keduanya mengerti. Panacea yang mengangguk lebih dulu “Tolong Pangeran, saat ini nona muda pasti merasakannya.” Ucap Panacea.


“Benar Frederitch, Valyria pasti rindu dengan Valerin.” Lanjut William Rovana.


“Eh, Valyria?” Sabrina Sirius terkejut.


“Ah, nona Sirius. Dia memang mirip dengan Earl Grayii, semua orang pun mengiranya sama. Tapi gadis yang sudah membawamu keluar itu adalah Valyria, adik dari Earl Grayii. Dia Earl Grayii yang saat ini.” Jelas William Rovana.


“Ha?!” Seluruh orang diruangan itu berseru bersamaan. Karena mereka, nyaris tidak pernah melihat Valerin Grayii bertarung. Itu semua karena Valerin Grayii bertubuh kecil dan tampak rapuh.


.


.


.


Matahari tenggelam, berakhirnya senja. Valerin Grayii berdiri di teras halaman kediaman Sirius. Dia menutup kedua kelopak matanya, kemudian Valerin mulai duduk di teras itu sambil memeluk kedua lutut yang dilipatnya sendiri “Tenang sekali.” Ucap Valerin hanya mendengar gemersik angin dengan tumbuhan gandum yang mengering.


“Val.” Frederitch datang dengan nampan berisi teko teh panas dan sepiring kue kering “Kau mau kue cokelat? Kudengar dari Valerin, rasa manis akan membantu memperbaiki suasana hati.” Ucap Frederitch sambil meletakkan nampan itu disebelah Valerin, dia pun duduk disana juga. Melakukan hal yang dilakukan Valerin, melihat hamparan gandum mengering yang bergoyang oleh angin.


“Apa yang sudah kulakukan selama ini benar?” Gumam Valerin menyembunyikan sebagian wajahnya dengan lipatan kedua tangannya “Aku tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti.” Cicit Valerin dengan pelan.


“Sudah benar, kau sudah melakukan amanah yang Valerin katakan padamu. Sejauh ini kau sudah berusaha agar mengendalikan obscure, hal kecil pun tetap usaha yang benar. Aku mengawasimu selama ini, jadi tenanglah.”


Valerin menoleh kearah Frederitch, tepat setelah tenggelamnya malam. Angin bertiup menyapu surai emas berkilau miliknya, sepasang mata biru tua Frederitch terpancar hangat nan tulus. Pemandangan yang tak pernah Valerin lihat dari sosok Frederitch yang selama ini memanggilnya sebagai ‘tuan muda’. Valerin segera memalingkan wajahnya, dia tersenyum kecil “Aku sudah bilang bukan, kini hanya ada kau dan aku. Tinggal kita berdua saja yang melanjutkan misi ini, apanya mencegah perang dan wabah obscure. Setahuku, dunia yang ini tak bisa diselamatkan lagi.” Sendu tatapan Valerin.


“Kau lupa memiliki kami Earl.”


Valerin menoleh, dibelakangnya ada Panacea, William dan Leon yang berdiri sambil terkekeh pelan.


“Sepertinya, kau menanggung masalah itu sendiri. Tanpa tahu kau memiliki kami, teman-temanmu.” Ucap William Rovana lagi.


Valerin menggeleng “Kau akan babak belur, jika beruntung malah menghadapi kematian.” Ujar Valerin “Bagiku yang sudah kenal kematian...” Iris violet Valerin tidak berbinar. Wajahnya yang sayu sendu, menyedihkan namun menyeramkan disaat yang bersamaan.


“Gawat, tuan muda dipengaruhi.” Panacea Eerie dengan terpaksa memukul tengkuk Valerin, sengaja tidak menyadarkannya. Tubuh Valerin langsung tergeletak tak sadar “Maaf, tuan muda berada dibawah pengaruh Obscure. Dia bisa tak terkendali jika tidak seperti ini.” Ucap Panacea sambil meletakkan kepala Valerin dalam pangkuannya.


“Benar, terakhir kali dia tak terkendali, kedua iris violet itu sama seperti ini.” Frederitch mengambil tubuh Valerin untuk digendongnya “Ah~ sayang sekali, teh itu harus dibuang jika kau tertidur. Valyria...” Frederitch mengaktifkan linknya, simbol mawar pada leher Valerin mendadak timbul “Setidaknya Valerin harus tidur beberapa hari.” Ucap Frederitch mengangkat tubuh itu dengan mudah.


“Kau menyegelnya lagi?”


“Benar, itulah tujuanku membuat link padanya. Melumpuhkan sesaat, Valerin seperti pisau bermata dua, jika dia tak terkendali. Manusia dan vampir akan dihancurkan secara bersamaan, jika dia mampu mengendalikannya, dia akan menyelamatkan manusia dan vampir. Ini adalah tugasku untuk mengawasinya, Panacea Eerie sedangkan tugasmu hanya menjaganya. Kau harus sadar hal itu.” Frederitch melintas masuk seraya menggendong tubuh Valerin yang tidak sadarkan diri.


William Rovana mulai mengerti, dia pun memengang pundak Panacea “Kita akan tunggu perkembangannya.” Ucapnya lagi.


“Aku tak menyangka, Earl Grayii sangat istimewah. Wajar jika semua orang mengincar dirinya.” Leon Sirius berujar, dia mengkerut heran.


Panacea mengangguk “Tuan muda pasti bisa mengendalikannya, ini hanya masalah waktu.” Ujar Panacea, dia turut susul mengekori langkah Frederitch “Maaf Viscount Rovana, aku pelayan Earl Grayii.” Ucap Panacea lagi sambil tersenyum.


William Rovana mengangguk “Terimakasih nona Eerie...”