
.
.
.
“Bagaimana, apakah kalian mengerti?” Valerin duduk diatas sebuah sofa usai menjelaskan siasatnya untuk mengatasi wabah Obscure di desa Utara ini.
Keempat anggota Paladin of Dustbones diam bersamaan, tatapan mereka terkagum-kagum kepada sang Earl Grayii yang duduk sembari menyilakan kedua kakinya.
“Luar biasa, rencanamu sederhana dan luar biasa. Bravo!” William Rovana bersorak kegirangan nyaris saja memeluk tubuh kecil ramping sang Earl Grayii itu, jika tak ditatap tajam oleh Friday saat itu.
Valerin yang diam-diam menatap Friday terkekeh pelan “Rapat singkat ini rasanya sudah selesai jika kalian tak memiliki pertanyaan, selagi menunggu sampai tengah malam lebih baik kita semua beristirahat dulu. Oh iya, Friday bisa ikut aku sebentar?” Ucap Valerin sambil beranjak berdiri dari sofanya.
Selayaknya manor sendiri, Valerin dan Friday jalan bersamaan menaiki lantai dua. Mereka terlampau acuh mengabaikan Panacea, Leon atau bahkan William Rovana sang pemilik kediaman ini.
“Hey Panacea, apakah mereka sudah sedekat itu? Ah maksudku, aku tahu memang sejak dulu Frederitch dan Valerin dekat tapi tak seintim ini?”
“Mereka sekarang ini, lebih melekat dari apapun yang anda duga Viscount Rovana.”
“Sudah kuduga, mereka memang aneh sejak kutemui saat itu. Apa lagi Earl Grayii sudah ditandai oleh vampir seelit Raymond itu.”
“Terus bagaimana tanggapan Yang Mulia Nikolai? Dia pasti sudah tahu bukan?” William Rovana semakin penasaran, tak habis berpikir sejak tiba-tiba saja menghilang kini Valerin kembali malah dengan sosok pengganti barunya. Valyria Soga Kinaru.
“Tidak kurasa, Yang Mulia seharusnya tidak tahu.”
Leon Sirius dan William Rovana mengangguk bersamaan “Oh...” Ucap mereka begitu kompak.
“Tapi sosok Valyria ini lebih brilian daripada Valerin kakaknya yang naif. Bahaya juga sampai Yang Mulia Nikolai tahu, lebih baik kita rahasiakan ini.”
Panacea mengangguk setuju “Benar, sulit mempercayai Yang Mulia Nikolai daripada Ratu Alexandria yang terdahulu. Keberadaan tuan muda pun harus dijaga, apalagi saat hendak kemari pesuruh Puteri Primavera sempat mengejar kami.”
“APA?!” Leon Sirius terkejut “Ma-maksudmu puteri Primavera? Kakaknya Pangeran ketiga Frederitch?”
Panacea mengangguk “Sungguh disayangkan, Tuan Valerin yang asli tewas ditangan puteri Primavera. Maka dari itu Yang Mulia Frederitch merasa bersalah untuk bertanggung jawab menjaga Valyria Soga Kinaru adik satu-satunya tuan Valerin yang terdahulu.”
“Oh sekarang sudah jelas, itulah kenapa mengherankan Yang Mulia menjadi seorang pelayan serta menyebut dirinya sebagai Friday.” Leon Sirius yang jenius juga menyimpulkan dengan cepat, mantan assasin ratu Alexandria itu mengangguk-angguk “Bahkan pangeran Alexander sendiri turut berbahaya posisinya, Yang Mulia Nikolai memang tak segan bahaya jika sampai ia tahu Puteri Primavera juga mengincar Earl Grayii.”
“Masalahnya tak hanya itu...” Panacea memandangi kedua pria berbeda iris mata itu “Ada hal yang lebih berbahaya lagi, tuan muda sebenarnya...”
***
Valerin berdiri ditepian balkon yang menghadap pemukiman penduduk. Sayangnya jejeran rumah itu sudah lama tertinggal, begitu terbengkalai dan hanya diselimuti kabut tipis. Valerin menghela nafas, mereka berada disebuah kamar yang tak terpakai ini. Friday yang Valerin tahu hanya berdiri dibelakangnya tanpa bersuara sepatah kata apapun.
“Bisa kau mengatakan semuanya dengan jujur?” Ucap Valerin tak sudi berbalik menatap Friday.
“Baiklah, bagian mana yang ingin kau ketahui Valyria?”
Valerin tersentak kaget, perasaannya menolak untuk kembali dipanggil dengan nama kehidupan terdahulunya “Valerin saja...” Pinta Valerin tersenyum gentir.
“Baiklah, katakan bagian mana yang ingin kau ketahui Valerin?”
Valerin merasa, jika Friday memiliki alasan untuk semua ini “Apakah kau yang menggiringku dibunuh oleh mereka?”
“Aku tak mengerti ucapanmu.” Ucap Friday tanpa embel-embel tuan muda, ataupun nada ramah yang kerap kali ia lakukan. Ucapannya terkesan dingin dan acuh.
“Aku sudah mati, asal kau tahu.”
“Jika itu bisa kau tanyakan pada iblis yang melakukan perjanjian dengan kakakmu.”
“Siapa?”
“Panacea, dia iblis. Dia bisa jadi siapa saja.”
“Pantas saja, semua ini sudah menjelaskan semuanya.” Valerin menunduk, ia meremat kedua tangannya sendiri “Kenapa kau berpura-pura menjadi pelayanku?” Ucap Valerin ragu-ragu membalikkan tubuhnya untuk sekedar menatap Friday.
“Aku tak berbohong, hanya belum mengatakannya saja.”
Valerin menanggahkan tatapannya, mencoba menatap langsung sepasang iris indah yang Valerin masih menerka-nerka warna apakah yang berubah “Kau...” Valerin tertahan, sepasang iris raven blue itu menatapnya dengan gentir juga “Berarti, aku yang berbohong padamu mengakui diriku sebagai Valerin padahal itu bukan namaku. B-bukan?” Perasaan Valerin berkecamuk “Lantas, apakah kau tahu bagaimana kakakku bisa tewas?” Valerin menatap raut keraguan dari Friday yang jelas terpampang didepannya ini.
“Kakak keduaku, Primavera yang membunuhnya...”
Valerin bagai disambar petir di siang hari. Kedua iris violetnya bergetar, pelupuk air matanya mulai meluap belum saja tumpah ruah “K-kau tahu?”
“Kau bisa lakukan itu bukan?” Tangis Valerin menjadi, tangisannya yang penuh kesedihan itu tumpah ruah “Kau bisa menolong kakakku bukan?” Valerin mendekati Friday, memukul-mukul dada bidangnya dengan pelan berulang kali “Kau...” Tangis Valerin.
“Maafkan aku.” Nada yang penuh penyesalan itu keluar dari seorang Frederitch Drew Raymond “Aku menyesal, sungguh menyesal tak bisa menolong sahabatku sendiri. Maafkan aku.” Ucap Friday sambil meraih kedua tangan Valerin untuk digenggamnya dengan erat.
“Aku tak punya siapapun lagi di dunia ini, selain kakakku.”
“Kau memilikiku Valerin.” Ucap Friday dengan bersungguh-sungguh “Itulah kenapa aku menandaimu, kau memilikiku. Vampir hanya bisa sekali menandai seseorang, kau memengang kendali atas diriku. Kau bisa bahkan menyiksaku jika kau mau, Val...”
Valerin langsung menatap Friday dengan kedua mata yang berkedip-kedip menggemaskan “Aku tidak.” Wajah sembab itu menatap Friday setengah kesal “Aku tak akan melakukan hal itu asal kau tahu.” Ucap Valerin seraya mengusap ujung air matanya.
Friday tak tahan untuk tertawa, dia memengang dahinya sendiri “Sungguh Val? Bagaimana bisa kau menyembunyikan saudari semanis ini, tuan mudaku. Apakah kau masih mengizinkan untuk tetap menlayanimu?” Tak diduga Friday bersipuh didepan Valerin, selayaknya gentleman yang memengang tangan Valerin dengan lembut. Ia pun tak segan-segan mengecup puncak tangannya.
“Aku... Tentu saja boleh Friday.” Valerin tersenyum manis, ia pun ikut menunduki tubuhnya dihadapan Friday “Frederitch, terimakasih...” Sepasang tangan Valerin tak canggung melingkar pada leher tegap Friday.
Rasanya Friday yang tak menyangka itu, terdiam beberapa saat. Walaupun tidak lama, ia turut membalas pelukan Valerin dengan erat “Ucapanmu benar, adikmu yang tangguh ini sudah merubuhkan pertahananku. Valerin.” Friday berucap dengan seorang diri, kali pertamanya ia merasakan pelukan dari seseorang yang bahkan tak pernah dirasakan dari keluarganya sendiri. Valerin begitu hangat, biarpun diawal pertemuan mereka Valerin terkesan dingin serta bertindak tiba-tiba. Kini, Friday tahu. Seorang Frederitch Drew Raymond, tak menyesali sudah menandainya “Kraup...” Bunyi gigitan Friday yang tiba-tiba pada leher jenjang Valerin aka Valyria itu.
“Engh...” Valerin meringis pelan, Friday bertindak tanpa ia ketahui “A-appahh... ya-yang kau lakukan...” Valerin berusaha meraup udara yang terasa menipis, sekujur tubuhnya pun panas saat ini.
Friday mengecup leher itu dengan puas “Makan tentu saja” Friday yang tampan tersenyum sumringan dengan menompang tubuh kecil Valerin “Kau tahu. Kita bisa telepati...” “Kau dengar suaraku?” Friday tersenyum kecil.
“Hm?!” Seru Valerin terkejut ketika suara Friday tiba-tiba ada dibenaknya “Bagaimana bisa?” Valerin memengang kedua bahu lebar Friday sambil melongo menatapnya.
“Tentu saja bisa, aku sudah menandaimu. Jika kau mau pun kau bisa memerintahku sesukamu, caranya libatkan perasaan terdominan.”
“Begitukah? Kemudian, apakah keuntunganmu setelah menandaiku?”
“Kenikmatan makan tentu saja.”
“Selain itu?”
“Biasanya seorang vampir menandai seseorang jika ia ingin menjadikannya pasangan.”
“Oh, maaf menganggu.” Panacea langsung menutup pintu kembali.
Valerin beranjak berdiri dengan wajah merahnya “Bukan seperti itu Pana?!”
“Kalian berdua diam dan saling bertatapan bagaimana mungkin nona Panacea tak menduga sesuatu yang lain?” Si jahil Viscount Rovana sudah dengan kekehannya yang berdiri dibelakang Panacea.
“Memangnya kenapa?”
Valerin menghela nafas, Friday masih pecicilan hanya disaat-saat tertentu saja bersikap cool “Tak mencerminkan seorang pangeran.” Cibir Valerin sambil berjalan keluar dari kamar.
Dihadiahi suara tawa dari Viscount Rovana yang melihat Friday tertohok dengan raut wajah bodohnya “Haha kasihan sekali Yang Mulia Frederitch.” Viscount Rovana memengangi perutnya.
“Kenapa Earl?”
Valerin tak sengaja berpas-pasan dengan Leon Sirius dengan beberapa tumpuk handuk ditangannya “Bukan apa-apa, hanya Friday yang bertingkah bodoh.” Kesal Valerin.
“Oh, begitu jika Yang Mulia Alexander ada disini pasti suasana lebih riuh.” Ucap Leon sambil memberikan handuk kepada Valerin.
“Apakah kami dekat?”
“Bukan anda, tapi Earl Grayii yang terdahulu sempat satu akademi yang sama dengan Yang Mulia Alexander dan Yang Mulia Frederitch.”
“Oh jadi apakah saat kalian berkunjung Alexander tahu jika Friday adalah Frederitch?”
Leon Sirius tampak berpikir “Sepertinya tidak, dia begitu polos dan bodoh. Penyamaran Yang Mulia Frederitch sebagai pelayan memang tidak mencolok.”
“Ah, biarkan saja.” Valerin mendadak memasang wajah yang serius.
“Sudah hampir waktunya, bukan?”
“Benar Earl.”
.
.
.