Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Episode 44




.


.


.


“Panacea?” Valerin menghela nafas sambil cepat-cepat mengusap air mata yang keluar dari pelupuk kedua matanya. Sejak tadi, dia berada di luar rumah yang berada ditengah-tengah padang aster putih.


“Ah, aku melihat-lihat. Pemandangan disini mirip sangat rileks. Nostalgia rasanya.” Lanjut Valerin lagi, tentu saja berpura-pura.


Panacea melihat Valerin yang sedang berdiri disana, gadis dengan mantel kelabu kebesaran itu berdiri disana sehabis menangis beberapa saat yang lalu “Tuan muda, apa anda baik-baik saja?” Ujar Panacea.


Valerin mengangguk singkat sambil menahan isaknya “Yah, aku akan selalu mencoba baik.” Valerin berusaha menahan isak tangisannya.


“Kupikir aku mampu menghadapinya.” Ucap Valerin lagi “Ah ya, kediaman lamamu mirip seperti rumah lama kami. Maksudku, rumah lamaku didunia asalku.” Ucap Valerin mengenang masa lalu sesekali melihat rumah dengan lantai dua, bentuknya memang nyaris mirip seperti rumah lama keluarga Kinaru.


“Ini adalah tempatku, dulu tempat ini adalah gerbang terbaik untuk menuju ke semua lokasi.” Panacea turut menatap padang luas bunga aster putih yang tumbuh disekitarnya, tepat didepan mereka sebuah dinding menjulang berdiri kokoh disana “Itu, itu adalah gerbangnya. Boerhavia.” Ucap Panacea.



“Aku paham sekarang...” Valerin menatap Panacea dengan nanar “Kau, menjaga tempat ini dan gerbang itu?” Ucap Valerin, dibalas anggukan oleh Panacea.


“Apa yang ada dibalik gerbang itu?” Tunjuk Valerin.


“Hanya sebuah petaka, kehancuran dan bencana.” Jawab Panacea.


Valerin mengamati gerbang itu, biarpun terletak lumayan jauh. Sangking besarnya gerbang itu sampai dapat dilihat tinggi dan kokohnya walaupun tertutupi kabut tipis disekitarannya “Itu dia, bagian terluar dari Obscure...” Melalui kedua mata Valerin yang violet itu, dia bisa melihat petaka yang ada dibaliknya.


Panacea membungkam “Leluhurmu, bertaruh dengan kejeniusan, pengorbanan dan keteguhan. Siapa sangka, hanya sebuah batu yang singgah ke tanahmu malah menciptakan petaka sebesar itu. Mereka yang terinfeksi Obscure hanyalah sebagian kecil, justru sesuatu yang ada didalam sana sudah menyatu dengan hal yang kau sebut tuan muda, sayangnya anda benar.” Panacea melipatkan kedua tangannya ke dada “Sesuatu itu yang sudah mengubah masa ini, nyaris seluruhnya.” Ucap Panacea, sambil melepaskan tudung yang menutupi sebagian wajahnya “Aku adalah iblis yang masih terikat dengan keinginan seorang Valerin Darly Kinaru, sebenarnya dia menginginkan dua hal. Melindungi adiknya dan sesuatu yang ada dibalik sana.”


Valerin Grayii menatap gerbang berdinding beton raksasa itu, dia pun mengangguk dengan pelan “Apalagi yang lebih gila? Sekarang aku juga mendengar kenyataan dan kehampaan.” Valerin Grayii terkekeh pelan “Jangan bilang jika Crave Rose ingin menyerang Dust Bones untuk sesuatu yang ada dibalik tembok itu.” Valerin Grayii tersenyum simpul.


“Maka dari itu mereka menginginkan aku, Dust Bones dan Crave Rose. Selama ini aku keliru kupikir karena aku tapi yah... Itu aku!” Valerin berteriak “Kakakku! Tak mungkin mau kau melindungiku tanpa sebuah alasan, iya bukan?” Valerin mengusap wajahnya dengan kasar, ia cerdas untuk tahu reaksi dari Panacea.


“Aku keliru... Selama ini akulah yang keliru.” Lanjut Valerin.


“Val...” Frederitch menginterupsi ucapan Valerin, pria itu tiba disana dengan raut wajah yang sulit diartikan oleh kata-kata.


“APA?!” Valerin meneriaki Frederitch “Apa kau ingin bilang jika aku sesuatu yang bisa membuka gerbang itu sampai kau, kakakku dan Panacea mati-matian melindungiku karena aku sebuah kunci? Aku sebuah bahan bakar? Dan aku tak memiliki pilihan lain untuk terbuang didunia aneh ini?” Kilatan pada sepasang iris violet Valerin berbinar, dia memang tak sadar dengan sikapnya yang begitu emosional ini. Tapi jelas Valerin meledak-ledak dengan amarahnya, hingga ia tak sadar mengalami perubahan.


Surai hitam pendeknya memanjang dengan lembut, berwarna perak dan kedua iris mata violet Valerin yang berkaca-kaca itu semakin berbinar dengan cantik “Apalagi? Sungguh, apalagi?” Isak Valerin. Emosionalnya habis digantikan oleh isak tangisannya.


Frederitch tak tahan, dia pun menghampiri Valerin untuk langsung dipeluknya “Maaf Val, sungguh maafkan aku. Perkataanmu benar, kami melindungimu dari Crave Rose dan Dust Bones. Kami tak ingin kau jatuh ditangan salah satunya, maaf malah aku yang ingin menyerahkanmu kepada Crave Rose.” Ucap Frederitch meremat tubuh Valerin dengan erat.


“Aku tak ingin kau terluka, kami tak ingin kau mengalami hal buruk.” Ulang Frederitch lagi.


Panacea ikut mengusap-usap pundak Valerin yang bergetar akibat sedang menangis itu “Benar, tuan muda. Walaupun Crave Rose memang menyebalkan.” Celetuk Panacea.


Valerin yang berada dalam rangkulan Frederitch sampai mengalihkan tatapannya “Aku pertama kalinya mendengarmu komplain.” Ucap Valerin.


Valerin membalas senyuman “Maafkan aku Frederitch, Maaf juga atas sikapku tadi Pana...” Ucap Valerin.


“Aku mengerti.” Frederitch mengecup puncak kepala Valerin “Kau harus tahu sesuatu Val.” Dia menangkup wajah manis Valerin.


“K-kenapa?”


“Selamat, kau sudah menjadi Gandaria yang sejati saat ini.” Ucap Frederitch sambil menepikan helaian surai perak Valerin yang memanjang itu “Kau sangat-sangat cantik.”


Valerin berkedip-kedip, dia memengang ujung rambutnya yang panjang hingga sepinggang. Surai hitamnya berubah keperakan “Bagaimana?” Ucap Valerin keheranan.


“Tuan, ah... tidak lagi dengan tampilan secantik ini nona muda, anda tak sengaja membangkitkan bakat alami dari keturunan Gandaria. Sejatinya manusia dengan ras Gandaria memiliki surai perak dengan mata violet, ksatria menembus kegelapan. Selamat nona muda...” Panacea memengangi Valerin dengan segera “anda mungkin tak membutuhkan kaki itu lagi.” Ucap Panacea dengan tersenyum simpul.


“Maksudmu ap—“ Bungkam dan terdiam, Valerin melototkan kedua matanya, mengganti raut wajah kesakitan untuk melanjutkan ucapan itu.


Frederitch memengangi Valerin “Katakan kenapa?”


“Gandaria, kemampuan alami dari fisik seorang manusia yang jauh lebih baik. Sembuh kembali...” Ucap Panacea.


Valerin mengatur nafasnya, agar nyeri pada kaki kanannya dapat berangsur reda “M-maksudmu, aku berregenerasi?” Ucap Valerin sangat tak menyangka “Aku bukan amoeba?!” Teriak Valerin selanjutnya, benar saja. Kaki kanannya sembuh kembali, atau... tumbuh kembali seperti sedia kala.


“Ya Tuhan... yang benar saja?” Ucap Valerin sambil berpegangan pada Frederitch yang tak kalah keheranan.


Frederitch senantiasa memengang bobot tubuh Valerin "Val, apa kau masih merasakan sakit?" Ucap Frederitch.


Valerin mengangguk singkat, melihat hal itu Frederitch tak ragu langsung menggendong tubuh Valerin. Dia kembali membawa masuk Valerin kedalam rumah "Kau harus kembali istirahat." Ucap Frederitch yang berjalan melintasi William Rovana dan Leon Sirius yang sedang menyajikan teh untuk Viscount Rovana itu.


"Apa mereka sudah berbaikan?" Tanya William saat melihat Panacea melintasi mereka.


Panacea meringis pelan, takut jawabannya salah "Aku tak mengerti dengan manusia." Ucap Panacea sambil kembali berjalan menyusul Valerin.


Disana William Rovana hanya bisa menggeleng pelan.


"Apakah itu buruk?" Tanya Leon Sirius sambil menuangkan secangkir teh hangat.


"Kau sendiri bagaimana? Kau masih pelayan Alex bukan?"


Pertanyaan William Rovana membuat Leon Sirius terdiam "Benar, sesuatu juga ingin kuberitahukan kepada Earl Grayii." Ucap Leon Sirius.


"Ya, aku tahu." Ucap William Rovana sambil menyesap tehnya "Lebih baik kau katakan, kau harus memilih tuan Sirius." Lanjutnya lagi.


"Loyalitas kepada Yang Mulia tidak berubah Viscount Rovana."


William Rovana meletakkan secangkir tehnya "Benar, kau lihat. Valerin sudah memiliki surai berwarna perak. Artinya dia sudah begitu mampu mengendalikan Obscure. Kini alasanmu untuk melaporkannya sudah jelas tuan Sirius. Alphonse ingin tahu, itulah alasanmu didalam tim ini."


Leon Sirius cukup terkejut, siapa sangka William Rovana yang tampak tak pernah serius itu bisa menerka semuanya. Jika dalam mode serius nyaris sama dengan Earl Grayii.


"Aku dipihak Valerin, dia seperti adikku." Ucap William Rovana sambil tersenyum lebar.