Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Episode 2




Happy Reading


.


.


.


 


Kabar mengenai kematian kakak laki-lakinya itu baru ia terima pagi ini, tepat pada pukul tujuh pagi. Dari sebuah ponsel genggam yang dipegangnya, dia hanya bisa bergetar dengan kedua mata membelalak namun air mata dari pelupuk matanya hampir jatuh. Mengairi, wajah manis yang sembab. Namanya Valyria Soga Kinaru, baru berusia delapan belas tahun. Kini setelah batang kara, kemudian harus kehilangan sosok penyokong kehidupan utamanya. Sang kakak.


“...Baik, saya akan ke sana. Saya akan membawa kakak saya untuk segera dimakamkan serta mengambil barang-barangnya.” Begitulah telepon itu diakhiri, oleh seorang gadis beriris violet yang menatap nanar.


Tubuhnya langsung lemas, berpegang pada nakas meja yang ada disampingnya. Terisaklah dia dengan seluruh kepedihannya. Mengutuk takdir yang kejam, setelah kedua orang tua yang meninggal saat dia masih begitu kecil. Kini kakak laki-lakinya, yang tercinta. Tulang punggung keluarga, penyanggah hidup sebagai satu-satunya keluarga yang dimiliki. Tapi dihari senin pagi ini, Rumah Sakit Jiwa tempat sang kakak direhabilitasi selama tiga tahun lamanya. Ditemukan tewas bunuh diri, akibat melompat dari lantai tiga gedung rumah sakit.


“Hiks...Kak... Kak Darly...” Air mata itu mengalir deras.


Berada pada titik terrendah dalam kehidupannya. Duka seseorang terjadi dalam beberapa tahap. Mulai penyangkalan, marah, menawar, depresi dan penerimaan. Hampir setiap manusia mengalaminya, untuk orang yang kau kasihi. Pedihnya kehilangan tak mungkin dapat diukur oleh angka bahkan menafsirkannya ke kata-kata pun tak akan dapat teruraikan.


Hanya beberapa perawat yang ia kenal, beberapa polisi dan orang-orang penyelidik yang hadir dalam pemakaman sang kakak. Sanak saudara pun tak ada yang datang, mereka sangat tak perduli akan nasib dua bersaudara Kinaru ini.


“Nona Valyria Soga Kinaru, saya polisi yang menginvestigasi kasus kakak anda. Hasil visum sudah keluar. Apakah anda mau mendengarkannya?”


Apa yang akan kau tunggu dari orang yang berduka? Gadis malang itu hanya menatap linglung. Antara sedih dan bingung dengan kelanjutan hidupnya, satu-satu keluarga yang menyambung kehidupannya hanya kakaknya seorang.


“Valerin Darly Kinaru, itu nama kakakku. Aku mengenal kakakku dengan baik, biarpun dia gila. Dia tak mungkin menyerah dengan kehidupan ini!”


“...Nona tenang dulu, anda sangat dibutuhkan dalam penyelidikan ini.”


Iris violet itu menatap kosong seorang pria dengan kemeja hitam rapi yang menjadi lawan bicaranya itu “Aku tahu! dia tak mungkin bunuh diri. Seseorang pasti sudah melakukannya...” Kedua tangannya dikepal. Menyalurkan seluruh emosionalnya disana.


“Begitulah kondisinya, patah tulang servikal dan kehilangan darah. Namun yang mengganjal disini, kaki kanan yang putus.”


“...begitu ya?” Kedua iris matanya menatap kosong, sambil meremat kedua tangannya.


Gadis yang tengah berduka itu, malah disibukkan oleh berbagai pertanyaan dari polisi dan administrasi dari Rumah Sakit yang harus dibayarnya. Gadis yang baru saja memasuki studi lanjutannya diperkuliahan itu, harus merelakan uang tabungan yang ia simpan selama ini untuk melunasi semua pengobatan sang kakak selama berada tiga tahun dalam perawatan kejiwaan.


Benar, kakaknya menderita depresi, delusi dan halusinasi yang berat. Pria itu pada awalnya merupakan sosok ibu, ayah dan kakak baginya. Pria dengan tatapan teduh, penyabar dan lembut. Kakaknya yang jenius, usai lulus perkuliahan langsung diterima bekerja pada salah satu Rumah Sakit di London. Kemudian kembali dengan gelagat yang aneh. Dia sering mabuk, mengkonsumsi obat tidur dan lebih kasar. Puncaknya ketika ia begitu depresi tanpa mengatakan masalahnya kepada, adik kecilnya itu.


Tiba saat matahari sudah mau tenggelam, dengan langit citrusnya. Gadis itu masuk kedalam rumah kontrakan yang kumuh itu “Ah... Aku lelah.” Ujarnya dengan datar, sambil melemparkan tubuhnya pada sebuah ranjang lusuh itu.


Bruk. Bunyi koper hitam yang jatuh kelantai karena tak disandarkan dengan elok, sepasang iris violetnya hanya melirik. Melihat koper berisi barang-barang kakaknya, kebanyakan isinya hanya pakaian.


Koper butut itu pun terbuka karena terjatuh, beberapa pakaian itu keluar dari ujung koper yang terbuka. Salah satunya sebuah buku bersampul hitam yang menyembul diantara pakaian itu.


“Hm?” Sebelah alisnya menaik, buku itu menarik perhatiannya. Dia pun melangkah dengan kaki kecil yang kurus. Berjalan dengan pelan, kemudian berjongkok untuk memungut buku bersampul hitam itu. Saat membuka halaman buku itu, beberapa amplop surat lolos dari sana. Jatuh berserakan dilantai kayu yang reot itu.


Tangan lentik dengan kulit putih pucat itu memungut salah satu amplop tanpa tanggal dan tempat pengiriman “Dijaman seperti ini masih ada yang mau menggunakan surat ya?” Dia berkata seorang diri, kala melihat surat yang dilipat dengan cap surat bermotif bunga mawar itu. Kertasnya pun tampak kuno, terlihat dari warnanya yang kusam.


 



Kedua matanya membaca setiap secarik kertas. Tampaknya dua orang ini saling bertukar surat dengan akrab “Earl? Prince? Aku tak mengerti... apakah kakak berhalusinasi separah ini. Ya Tuhan...”Gadis itu meremat secarik kertas itu “Kenapa kak? Kenapa kak Darly” Suaranya terucap dengan lirih. Sudah tak terbendung lagi, kepedihan dan kenyataan yang harus ditelan oleh seorang gadis muda ini.


Namun, dia kembali menguatkan hati untuk membuka buku bersampul hitam ini. Sebuah buku dengan tulisan tangan sang kakak, dia sangat mengenalinya. Bergetarlah tangan lentik itu untuk membuka halaman lain dari buku harian ini. Sepanjang yang ia baca hanyalah tulisan agenda kegiatan keseharian sang kakak semasa hidupnya, sebelum bekerja dan masih diyakini sebagai mahasiswa. Itu dilihat dari setiap jadwal belajar yang ada disana.


Tetes demi tetes air matanya turun menjatuhi kertas didalam buku yang ia baca, betapa dia sangat merindukan sosok kakaknya. Mungkin akibat kelelahan menangis, dia pun tertidur dengan posisi asal diatas ranjang kasur buruk itu.


Tok...tok...tok


Suara ketukan pintu, terdengar nyaris keseluruh rumah kontrakan sederhananya ini. “Engh~” Gadis itu melenguh, meregangkan tubuhnya. Mengucek-ucek matanya yang masih kantuk, ketika sadar hari sudah malam. Tampak dari jendela yang lupa ditutupnya itu.


“Hoam~ aku ketiduran ya? Tadi rasanya masih sore...” Gadis itu bermonolog sendiri. Melirik jam dinding bututnya yang menunjukkan pukul delapan malam. Dia mengaku masih lelah.


Tok...tok...tok


Kembali suara ketukan itu terdengar, dengan langkah gontai. Dia pun berjalan untuk membukakan pintu. Didapatkan, seorang pria mengenakan setelan jas rapih tampak sudah berumur namun memiliki postur tubuh yang tegap.


“Anda nona Valyria Soga Kinaru?”


Gadis itu, Valyria mengangguk “B-benar...”


“Saya dari lembaga Asuransi, memberikan beberapa santunan asuransi kematian dari Tuan Kinaru, dan juga... Tuan Kinaru pernah menitipkan kunci ini untuk diberikan kepada nona.”


Sepasang mata violetnya menatap, sebuah kunci dengan motif bunga berkelopak putih berputik kuning. Dia bahkan tak mengetahui kunci itu, ketika Valyria hendak bertanya. Pria itu sudah sirna dari hadapannya “Eh?! Kemana perginya?” Valyria menegok kekanan dan kekiri. Celinga-celingu bingung, namun tak lama kedua bahunya menaik dengan acuh  “Ya sudahlah...” Ujarnya lagi sambil menutup kembali pintu rumah kontrakannya itu.


Valyria menghela nafas, dia memengang secarik amplop yang berlogo lembaga asuransi. Dia menatap sekeliling rumah kontrakan kecil dan sederhana ini, sudah sejak lama terasa sepi. Senyuman nanar itu terukir dari bibir ranum kemerahannya.


Kamar tak besar itu berserakan dengan kuas serta beberapa botol-botol cat acrylic. Dia mengambil sebuah canvas, lukisannya setengah jadi. Bahkan dengan penerangan lampu yang seadanya. Gadis itu tetap melanjutkan melukisnya, hanya itu hal yang dapat mengusir rasa gundahnya.


Pikirannya saat itu berkecamuk, kedua tangannya menari-nari lihai diatas canvas putih. Semulanya putih, namun kini sudah penuh dengan warna demi warna.


“Kakakku, Valerin Darly Kinaru... Meninggal diusianya yang baru dua puluh empat tahun. Tiga tahun lalu pulang kerumah kami, dalam keadaan depresi berat. Demi itu... kujual rumah peninggalan ayah dan ibu yang tak kuketahui keberadaannya pula. Demi pengobatan kakak. Lalu... warna merah tampaknya akan bagus setelah membuat sketsa wajahnya.”Dia bergumam sendiri, tangan lentiknya menggengam kuas yang baru saja dicelupkan oleh warna merah.


Kedua tangannya penuh akan cat-cat berwarna warni “...Aku tahu gejala halusinasi kakakku baru tampak setelah masuk Rumah Sakit Jiwa, tapi... apakah seseorang halusinasi tak memiliki penyebabnya. Bahkan kak Darly terus mengatakan nama seseorang... Ah, seharusnya dibagian mata harus diberi garis yang tegas.”


“...Frederick Drew Raymond. Nama itu yang disebutkan kebetulan sama dengan surat-surat yang kubaca. Apakah itu temanmu? Kenapa kau tak menceritakan apapun soal masalah dikehidupanku, Kak Darly...”


Pukul enam pagi, ketika suara kokok ayam tetangga terdengar. Matahari mulai tampak, namun udaranya terasa dingin. Gadis beriris violet itu menatap sebuah canvas dengan lukisan seorang wanita beriris merah yang berpose baru bangun dari tidurnya. Tatapan tajam sengaja dilukisnya, seolah mengatakan jika gadis yang dilukisnya itu bersiap menghadapi dunia ketika dia bangun dari tidur.


“Nah kak Darly. Apakah adik kecilmu ini, begitu tak berguna sampai-sampai tak kau ikut sertakan dalam masalahmu?”


“...Briar Rose, sang puteri tidur yang bangun menghadapi kenyataan.”


Kedua iris violet itu menatap kosong, akan lukisan indah yang baru saja diselesaikannya itu. Tangannya menggengam kuas itu terlalu erat, sampai kuas kayu itu pun patah “Kak Darly... Aku janji, pasti akan membalaskan dendammu!” Bibir bawahnya digigit, akan semua perasaan sesak yang sulit pudar disanubarinya. Kakaknya tercinta, kehilangannya adalah hal yang paling menyakitkan yang pernah dirasakan gadis beriris violet itu.


Membersihkan diri dengan air yang dingin, gadis itu mandi didalam kamar mandi kecil yang sempit. Bahkan airnya lumayan kotor, dia tak mampu membayar uang pengairan air kemudian menggantikan kebutuhan air hanya dengan menadah hujan pada sumur yang ada dibelakang halaman rumah kontrakan ini. Hidup yang kurang dari kata mampu, dia mengalami hal itu selama tiga tahun ini. Hidup sendiri dengan melarat.


Usai mandi, surai hitam panjang itu dia keringkan dengan handuk. Hari ini dia tetap memutuskan untuk pergi kuliah, setidaknya dia tak akan putus kuliah. Beasiswa masih menanggung biaya perkuliahannya sampai lulus. Jika hidup dengan ekonomi yang baik, gadis beriris violet ini mungkin akan menjadi gadis yang berbakat dan terawat. Dia jenius, berbakat dan periang. Dulunya, sebelum semua musibah yang menimpa kehidupan Valyria Soga Kinaru ini.


Menyeduh kopi hitam pagi ini dengan sarapan roti kemarin yang sengaja dia sisakan. Tapi tenang, Valyria gadis yang kreatif. Dia membakar roti itu dengan mentega, setidaknya memakan roti kemarin dengan hangat akan menambah ***** makannya.


“Ada berita apa pagi ini?”Valyria mengambil sebuah koran kemarin, yang sengaja ia ambil dari kantor polisi. Setidaknya dia tak ketinggalan issue-issue hangat seminggu ini, dia meneguk kopi hitam panasnya kemudian melahap roti bakarnya “...Hm? Membosankan.”Valyria pun mendelik acuh, sambil melipat kembali koran itu. Dia beranjak membereskan peralatan makannya kedapur, mungkin dia akan mencucinya setelah pulang dari Universitas.


Tok...tok...tok...


Suara ketukan pintu itu terdengar. Valyria pun meraih tas ransel bututnya, dia segera membuka pintu rumah kontrakan itu. Disana dia melihat seorang gadis manis dengan jilbab merah mudanya “Hai! Selamat pagi Valyria yang imut...”Gadis itu terkekeh, dia memang benar. Valyria memang cantik, manis dan imut. Terutama warna iris mata tak biasanya itu, begitu langkah dimiliki oleh orang-orang.


“Hentikan itu Tarra.”Valyria, hanya berkata datar. Dia keluar dari rumah kontrakan kemudian mengunci pintunya.


Tarra, nama gadis berkerudung pink itu. Teman baiknya sejak memasuki perkuliahan, berkat Tarra pula, Valyria menghemat biaya transportasi pulang dan pergi ke Universitas. Gadis berkerudung pink itu akan dengan senang hati menjemput Valyria.


“Bagaimana keadaanmu hari ini? Kukira kau akan izin tak masuk kuliah hari ini.” Tarra menaiki motor maticnya, dia juga memberikan sebuah helm kepada Valyria.


Valyria tak langsung menjawab. Dia meraih helm itu dan memakainya “Aku baik-baik saja.”


Tarra, menatap dengan prihatin. Namun dia langsung merubah raut wajahnya dengan tersenyum sambil menghidupkan motornya  “Ayo berangkat!”


Valyria Soga Kinaru, tergolong mahasiswi yang populer dikalangan pengajar namun tidak dikalangan mahasiswa lainnya. Dia tak perduli, mungkin karena kepribadiannya yang tampak tak ‘ramah’ pada teman-temannya. Valyria hanya tak suka berpura-pura, dia pun lelah bersikap baik dengan semua orang.


Brukhh. Tubuhnya sengaja disenggol, oleh beberapa gadis yang melintasi beserta sahut menyahut akan tatapan sinis yang mereka berikan. Valyria tahu, namun tak mengubris. Dia bahkan memengang pergelangan tangan Tarra yang saat itu malah naik pitam “Sudahlah... Tidak penting.” Valyria berkata dengan raut wajah malasnya, dia menghela nafas dan berjalan lebih dahulu menuju lorong koridor universitasnya.


Kelasnya ada diujung universitas, Valyria dan Tarra berbeda jurusan namun masih berada pada satu gedung yang sama “Nanti, aku jemput ya? Dadah Valyria...” Ujar gadis berkerudung merah muda itu. Sembari melambaikan tangan, dia pun berlari pada sisi arah yang berbeda.


Valyria hanya menatap gadis seusianya itu, dia pun memasuki kelas. Meletakkan tas bututnya diatas meja dan menduduki tubuhnya dengan tenang “Membosankan...” Gumamnya seorang diri sembari menyelipkan surai hitam panjangnya pada daun telinga.


“Good Morning class, oh... Valyria! Nanti bantu bapak mengoreksi uas minggu lalu.” Pria buncit itu tersenyum pada Valyria. Bagi teman-teman sekelasnya, mereka akan berdecak iri. Namun bagi Valyria, itu adalah hal yang menyebalkan.


Jenius dan pintar. Terkadang pula ceroboh, Valyria dulu sebenarnya gadis polos yang periang. Sehangat mentari dengan senyumannya yang senantiasa merekah manis, setidaknya sebelum berbagai masalah menghampirinya. Itulah yang membuat Valyria tak memiliki banyak teman, Tarra adalah satu-satunya gadis yang paling keras kepala untuk menjadi temannya. Walaupun berulang kali diacuhkan oleh Valyria. Kini, Tarra malah selalu ada untuk Valyria sebagai teman baiknya.


Menghela nafas, Valyria mengetuk pintu yang terbuat dari akasia itu “Permisi pak Yudha. Saya datang untuk mengoreksinya.”Valyria termasuk yang sering dimintai bantuan oleh para pengajar, dia terbiasa dengan wilayah perkantoran para pengajar.


“...Ah, Valyria. Bunga kecilku... Kemari-kemari.”Pria paruh baya berperut buncit itu menepuk-nepuk pahanya.


Valyria menatap dengan datar, dia berjalan untuk duduk dikursi didepannya “Saya sudah mengatakannya selalu, tidak tertarik...”


“Ah, tapi bapak bisa membiayai kehidupanmu. Bunga Kecilku.”


“...Jadi, tidak ada tumpukan kertas yang perlu dikoreksi bukan? Kalau begitu saya permisi.”Valyria beranjak dari duduknya. Tanpa berbasa-basi lagi dia pun berjalan keluar dari ruang kantor itu. Valyria menutup kembali pintu ruangan “Tch, menjijikkan. Benar-benar menyebalkan...” Ujar Valyria sambil mengeraskan rahangnya, kehidupan seperti ini. Dia sudah sering ditawari hal-hal yang bertolak belakang dengan seharusnya.


“Menyedihkan, hidup susah itu menyedihkan...” Gumam Valyria dengan lirihnya.


Pria buncit itu tertawa sambil mengusap-usap dagunya “Ah... Cantik! Begitu cantik dan berkharisma! Khekhekhe, bunga kecil... Tubuhmu yang begitu indah. Kita akan segera bertemu kembali, Earl Grayii.”


“Ah, jantungku berdebar-debar menantikannya...” Ujar pria buncit itu tersenyum dengan wajah anehnya, menatap kepergiaan dari Valyria Soga Kinaru itu.


 


 


.


.


.