Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Season 3: Episode 80




Ellis terbangun dengan kepalanya yang terasa amat berat itu, Ia terbangun berkat berisik cicit para burung dari jendela dan juga berkas cahaya mentari pagi. Ellis juga mendapati Lyn yang ketiduran dengan posisi duduk tepat dipinggir ranjang kasur Ellis, sementara kepala Lyn bersandar ditepian kasur itu dengan sangat tidak elegan.


“Lyn...” Ellis membangunkan Lyn.


Pemuda itu menerjabkan kedua matanya, ia melotot menatap Ellis “Kenapa? Apa ada yang sakit?” Tanya Lyn was-wasan.


Ellis menggeleng “Pergilah ke kamarmu, kau sudah merawatku semalaman. Terimakasih.” Kata Ellis sambil tersenyum simpul.


Lyn mengangguk sambil melepaskan handuk kecil yang menempel di dahinya Ellis “Aku tak bisa istirahat sekarang, seperti yang kau tahu, ini pagi dan para pengunjung penginapan harus sarapan.” Ujar Lyn seraya beranjak.


“Akan aku bantu...”


Lyn menaikkan sebelah alisnya, menatap Ellis dengan validasi “Serius? Kau masih harus istirahat, bodoh.” Celetuk Lyn sambil keluar dari kamarnya Ellis.


Ditinggal dalam kesendirian dikamarnya, tangan Ellis tak sengaja menyentuh sepasang senjata perak kembar dari balik selimutnya. Ellis nyaris melupakan dua benda dari Earl Grayii itu. Kini, Ellis hanya menatapi kedua senjata itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Pabrik, tampaknya hanya tempat itu yang bisa menjawab rasa penasaranku.” Ellis buru-buru beranjak dari ranjang kasurnya, ia teringat akan ucapan Friday mengenai pabrik keluarga Grayii. Memang kertas itu sudah hilang, tapi Ellis sudah mengingat rute perjalanannya.


Jangan tiru tingkah Ellis Francieli ini, usai mengganti baju dengan kemeja putih dan celana panjang berwarna cokelat. Ellis memasang sepatu bootsnya, kemudian tak lupa memasang jubah hitam. Senjata itu pun dibawanya turut serta, tak ketinggalan pedang pemberian Remington yang digantung pada ikat pinggang kulit dipinggang rampingnya.


Ellis sudah memengang gagang pintu, ia urungkan “Lyn, sibuk dibawah, gawat kalau ketahuan.” Ellis pun mengunci pintu dari dalam, kemudian mulai membuka jendela kamarnya. Maka Ellis, memilih melompat dari jendela itu.


Ellis menaiki kuda, ia pun berjalan melintasi pusat kota dengan memacu kudanya dengan cepat.


Memakan waktu satu jam, mulai dari jalan berbatu kerikil hingga tiba di pabrik tua peninggalan keluarga Grayii. Baru saja tiba didepan pabrik itu, ia teringat akan sesuatu dengan samar.


“Satu hal yang kau miliki dan tak semua orang miliki bahkan saudaramu sendiri, sekarang kau hanya perlu percaya kepada dirimu sendiri. Keberanianmu adalah kekuatanmu, puteri kecil kami.”


Ucapan dalam benak Ellis, membuat perasaan Ellis mencelos dengan hangat. Rasa kerinduan yang amat sangat besar saat menampaki pabrik ini, tanpa berkata lagi. Ellis langsung masuk kedalamnya.


Kedua mata Ellis menerjab, Pabrik yang sudah lama ditinggalkan itu seperti ruangan berteknologi muktahir. Seperti markas seseorang. Ellis pun terdiam didalam ruangan itu dengan sejuta perasaannya yang bercampur aduk.


“Selamat datang, di markas Paladin of Dust Bones.” Suara seorang wanita terdengar dari belakangnya, saat Ellis berbalik ia menatap tiga orang pria dan seorang wanita.


Mereka berempat melangkah bersama memasuki pabrik itu, keempatnya memiliki wajah familiar dan sudah Ellis temui diberbagai tempat yang berbeda. Mereka, Friday, Nona Panacea, Tuan William dan seorang pengawal dari Pangeran Alexander.


“Kami mengerti perasaanmu dan kebingunganmu.” Wanita bersurai merah bata itu mendekati Ellis setidaknya dengan membungkuk hormat lebih dulu “Namaku Panacea Eerie, seorang pelayan dari Earl Grayii sekaligus salah satu anggota dari Paladin of Dust Bones.” Ujar wanita itu dengan senyum penuh harunya kepada Ellis.


Ellis yang bingung hanya menerjabkan kedua mata emasnya “B-baik... A-aku...”


“Ellis Francieli, Ksatria dari Dust Bones, ajudan pribadi Raja Alphonse Caleum.” Giliran pria bersurai cokelat “Namaku William Rovana, mungkin aku pernah menjadi Viscount, sama seperti nona Panacea, aku pun salah satu anggota dari Paladin of Dust Bones.”


“K-kita bertemu dikediaman Earl Grayii...” Ujar Ellis dengan pelan.


“Leon Sirius, dulu menjadi assasin khusus sebagai kaki tangan Yang Mulia Alphonse sekaligus pelayan pribadi Pangeran Alexander. Aku juga salah satu anggota dari Paladin of Dust Bones.” Ujar Leon Sirius.


Ellis mengangguk, kemudian beralih menatap Friday yang kala itu hanya berdiri menghadap Ellis dengan tatapan dari kedua iris biru tuanya itu “Maaf atas sikapku kemarin, sungguh, aku tidak bermaksud seperti itu Ellis.” Helaan nafas dari Friday “Namaku Fredericth Drew Raymond, sebenarnya aku tak ingin mengakui ini tapi mereka bertiga sepakat untuk membongkar jati diri kami ketika bertemu denganmu. Baiklah Ellis, aku pangeran ketiga dari Crave Rose, sejauh mungkin menjauhi Crave Rose tapi darah Vampire kerajaan Crave Rose akan tetap mengalir ditubuhku.” Bersamaan dengan ucapannya itu, kedua mata biru Friday berubah menjadi merah lembayung “Aku pernah menjadi pelayan dari Earl Grayii, konyol bukan? Dan... salah satu anggota paladin of Dust Bones.” Kekehnya dengan kecil.


Bawah bibir Ellis digigit, ia membungkam atas kebenaran yang berhasil diketahuinya ini. Dia berdiri diantara orang-orang yang juga merupakan buronan karena dianggap bersekutu dengan sang Earl Grayii ini.


Friday yang kala itu dihadapan Ellis menatap dengan heran “A-apa maksudmu kenapa?” Tanyanya lagi.


Ellis memang bingung, tapi perasaannya tidak berbohong. Ellis amat bahagia bertemu dengan mereka berempat ini, tanpa Ellis sadari sendiri ia sudah menitikkan air mata haru “Aku tak mengerti kenapa?! Tapi aku menangis?! Eh... kenapa denganku?!” Ujar Ellis yang setengah terisak itu.


Panacea yang mendekati Ellis lebih dulu kemudian meraih kedua tangannya “Kami bersyukur dengan perasaanmu yang tak berubah, senang kembali bertemu denganmu Valerin.” Ujar Panacea sembari memeluk Ellis dengan erat.


Kedua mata emas Ellis sudah berkaca-kaca bahkan banjir dengan tangisan, ia menatap Friday yang membulatkan kedua matanya tak percaya. Sebelah tangan Ellis direntangkan untuk meraih tangan Friday “Aku tak mengerti... tapi aku bahagia bertemu kalian semua.” Senyum Ellis mengembang manis.


“Kau ini, bodoh!” Friday meraih tangan Ellis dan menggengamnya dengan erat.


“Selamat datang kembali kapten!” Seru William Rovana yang memeluk Ellis dan Panacea sekaligus “Kemari Frederitch! Leon!” Dia bahkan menarik kedua pria itu ikut serta dalam ajang berpelukan ini.


“Hahahaha...” Keempatnya tertawa terbahak-bahak, keempat teman misi lama yang kembali bertemu.


Berbincang dan bercengkerama bersama, didalam markas terselubung itu kelimanya saling berbincang. Kebanyakan menanyai Ellis dan ingatannya, tapi kali ini Ellis tidak menolak dianggap sebagai Valerin Grayii biarpun ia tak ingat sama sekali.


“Entahlah, aku tidak tahu.” Jawab Ellis Francieli.


“Jadi kau tak ingat jika kau kekasih Fredericth?” Celos William Rovana, sungguh teman yang tidak menutup-nutupi.


“Ha?!” Ellis menaiki sebelah alisnya “Kalau Valerin Grayii beda cerita, tapi aku masih Ellis Francieli kok.”


Kasihan, lirik William kepada Friday yang ada disebelahnya itu.


“William, diam.” Perintah Friday dengan mata merahnya, antara malu dan kesal kepada William.


Sementara yang paling anteng dan tenang hanya Panacea dan Leon yang sedari tadi hanya duduk dikiri dan kanan Ellis Francieli.


“Oh, iya, aku baru tahu kalau Yang Mulia memiliki adik.” Ellis menoleh kepada Leon.


Pemuda itu mengangguk “Hukuman yang berlaku kepada Pangeran memang cukup sulit, ia seperti terjebak disana.”


“Tidak jika Alphonse lengeser dari raja, melainkan jika Alexander sendiri rajanya.” Sambar Friday.


Ellis kala itu langsung beranjak berdiri “Maksudmu? Membunuh Yang Mulia?” Kilatan dari tatapan emas Ellis menyalang kala itu.


Friday mendecih, ia kesal dengan sikap Ellis “Tsk, asal kau tahu saja Ellis, asal kau tahu jika rajamu itu berbeda dari yang kau kira... dia licik, tidak sebaik yang kau kira.” Ujar Friday, nadanya meninggi.


Ellis berjalan keluar dari pabrik itu “Jika ada jalan damai, kenapa harus membunuh?” Celetuk Ellis kala itu. Dia yang terlanjur juga kesal, memilih meninggalkan pabrik tanpa berkata apapun lagi.


“Dia berubah, Earl Grayii itu...” Gumam Leon Sirius.


Panacea mengangguk “Ada baiknya ingatannya hilang, itu menekan kutukan dari Obscure yang terus menghisap energi kehidupannya tapi membawa kepribadian lain dari tuan muda, ini bukan hal yang baik untuk hubunganmu dan tuan muda, pangeran Frederitch.” Tegur Panacea dengan nada rendahnya itu.


Friday menggeleng “Kau harus tahu, selama ini aku mengawasi Valerin dari jauh, sementara Alphonse terus menerus mencari cara mendapatkan Valerin. Dia bilang jika kita dan Valerin buronan Dust Bones, tapi asal kalian tahu saja, Alphonse dan alchemist amatir itu bekerja sama untuk merubah Valerik ke Ellis.” Ujar Friday menggebu-gebu.


Mengetahui hal itu Panacea melotot tak percaya “Tidak mungkin”Katanya.