
Menyisakan mereka berdua, Valerin Grayii hendak beranjak berdiri bahkan lupa dengan kaki kanannya yang tak terpasang kaki prostetik. Beruntungnya saat itu sang raja mencegah pergerakan Valerin Grayii.
“Val, Val... tidak apa-apa tetaplah berbaring.” Ucap Alphonse, sang raja Dustbones.
Valerin Grayii mengangguk “Maaf...”
“Tidak perlu minta maaf cantik, kau hanya perlu beristirahat dengan baik.” Ucap Alphonse sambil duduk dipinggiran ranjang kasur Valerin Grayii “Kau membuatku khawatir.” Ucap pria dengan jubah hitam itu, pakaian resmi kerajaan dengan banyaknya lencana pada tuxedo hitamnya. Pria yang tak kalah rupawan itu membelai paras Valerin Grayii dengan lembut.
Valerin Grayii langsung menghindar “Anda tak seharusnya meluangkan waktu untuk bawahan sepertiku.” Valerin Grayii memalingkan wajahnya.
“Ah maaf...” Alphonse tertawa kecil “Val, aku ingin bertanya sesuatu.”
“Apa? Katakan saja.”
“Apakah kau dan Frederitch membuat kontrak link?”
Valerin Grayii sontak memengang lehernya, dia menatap tak percaya “B-bagaimana kau bisa tahu?” Valerin Grayii langsung menatap si Raja muda itu.
“Itu bukan apapun, tak masalah. Link tak berbeda jauh dengan sebuah hubungan antara keduanya.” Alphonse menghela nafas “Tapi kali ini berbeda, dulu link oleh vampir dan manusia dianggap perbudakan.” Alphonse meraih tangan kiri Valerin Grayii kemudian menggengamnya dengan erat.
“Apa Frederitch bersikap baik denganmu?”
Valerin Grayii perlahan mulai menghapus prasangka buruknya terhadap sang Raja, Alphonse ini. Dia mengangguk “Apakah seorang link seburuk itu?” Tanya Valerin dengan kedua matanya yang berkedip polos.
“Jika sesama vampir itu akan berarti pasangan, bisa kekasih ataupun persaudaraan. Tapi jika bersama manusia, mereka tak lebih dari ternak hidup. Makanan para vampir, dikonsumsi darahnya sepanjang hidupnya sampai mati. Setelah itu kontrak link akan selesai.”
“Aku pikir Frederitch tak seperti itu.”
Tatapan Alphonse menajam dengan sekilas, ia sembunyikan dengan baik dari senyuman lebarnya “Aku juga berharap begitu, jika sesuatu terjadi jangan sungkan mengatakannya padaku.” Alphonse ingin terus memengang tangan Valerin.
Namun, Valerin segera melepaskan tangannya “Kemudian anda, ada perlu apa kemari?” Valerin berucap dalam hati setidaknya kawan-kawannya memaksa masuk kemari, entahlah siapa Viscoun Rovana, Leon Sirius atau Panacea dan Cerise. Sungguh, Valerin berharap perbincangan mereka segera berakhir “Ayolah... cepat pergi.” Valerin berucap dalam hati.
“Tidak, bukan apapun hanya ingin menyampaikan pesan kepadamu. Jika panti asuhan yang kau inginkan sudah kubangun, letaknya di dekat istana Dust Bones. Oh, iya. Kudengar dari Edward jika kau membantu tim mereka ya? Sungguh seperti yang diharapkan dari Grayii.” Alphonse tersenyum kepada Valerin “Berkat dia aku tahu, kau ingin membantu anak-anak terlantar di pusat kota bukan? Mereka sudah ditebus oleh kerajaan sekarang sudah dipindahkan ke panti asuhan itu.”
Valerin Grayii senang bukan main, dia tak menyangka sang raja mau repot-repot mengurus hal seperti ini “Sungguh? Kau melakukan itu semua Alphonse.” Valerin yang tersenyum lebar sampai kedua pipinya bersemu cantik.
“Benar, aku melakukannya untukmu.”
Valerin Grayii yang dirudung rasa senang mengangguk dengan riang “Terimakasih, Al.” Ucap Valerin.
Alphonse Caleum tertegun “Kau bilang apa?”
“Terimakasih. Kenapa?”
“Bukan, kau memanggilku apa?”
Valerin memiringkan kepalanya “Al, aku memanggilmu Al? Kenapa?”
Alphonse Caleum membulatkan kedua mata zambrudnya “Val, tetap panggil namaku seperti itu ya?” Pinta Alphonse dengan meremat kedua tangan Valerin dengan erat. Sementara dibenaknya, ia teringat akan seseorang ‘Al... Jangan lupakan janji kita’ Sialnya, suara itu tiba-tiba saja membekas dibenaknya.
“Al... S-sakit...” Valerin merintih pelan, pasalnya Alphonse meremat kedua tangannya sambil melamun.
Alphonse langsung beranjak berdiri sambil melepaskan tangan Valerin “Ah, maaf... Ka-kalau begitu permisi, oh iya. Kau bisa menjadi pengajar di panti asuhan itu jika kau mau.” Raut wajah Alphonse mendadak datar. Bahkan ia terburu-buru keluar dari kamar Valerin Grayii.
Brukkhhh—Alexander Caleum, sang pangeran kedua dari Dustbones menerobos masu kekamar Valerin usai sang kakak keluar dari kamarnya “Hey, kalian berbincang apa? Kenapa lama sekali?” Celetuk pemuda itu kepada Valerin Grayii yang masih mencerna situasi. Alexander melihat Valerin Grayii yang diam dengan kebingungan.
“Val, kenapa?”
“Alphonse, mendadak aneh saat kupanggil Al...”
“Ah... begitu...” Alexander mengangguk mengerti “Dulu, dia memiliki teman sejak kecil. Tak salah dia juga memanggil kakakku Al. Mungkin dia teringat, setahuku tidak ada yang memanggilnya seperti itu. Yah... kau tahu sendirikan jika bukan Yang Mulia paling hanya kakak karena aku adiknya.” Alexander membawa keranjang berisi roti madu “Kau mau?” Tawarnya.
Valerin Grayii mengangguk “Akan enak jika kita makan bersama, tunggulah diruang tamu aku akan kesana.” Ucap Valerin dengan senyum simpulnya.
“Baiklah, aku akan menunggu diluar bersama yang lainnya.”
“Oh mereka belum pulang?”
Alexander menggeleng “Belum, kami memang ingin menjengukmu.” Alexander kembali menutup pintu kamar Valerin Grayii “Akan kupanggilkan kedua pelayanmu ya.”
“Ah, tolong. Terimakasih Alex.”
Valerin Grayii memilah-milah baju dari lemari, usai dibantu oleh Panacea memasangkan kaki prostetiknya. Kini, ia hanya meminta Cerise menemani bersiap-siap. Sementara Panacea, Valerin memintanya untuk menyiapkan para tamu cemilan dan teh tentu saja dibantu tuan Odolf.
“Cerise, apa kau bisa berkebun? Memasak? Atau berkemas?” Ucap Valerin sambil memilah pakaiannya, pilihan Valerin jatuh pada blouse atasan renda berwarna putih dengan celana hitam panjangnya. Kemudian memasang sebuah pita pada kerah lehernya.
“Melindungi, master.”
Valerin meringis akan kebodohannya, dia lupa. Cerise mungkin robot yang diciptakan untuk bertarung “Tentu saja, apakah master sebelummu seperti aku?”
Cerise mengangguk cepat “Master, pin.” Cerise dengan cepat memasangkan pin batu amethyst pada dasi pita Valerin “Master, tidak pernah lupa memakai ini. Warnanya cantik seperti mata master.” Ucap Cerise, sepasang mata merahnya menatap Valerin.
“Terimakasih, kau membantuku.” Valerin pun berjalan keluar dari kamarnya, diikuti Cerise.
Surai hitam pendek selayaknya laki-laki tertata tanpa krim yang merapikan rambutnya. Jadi, surai lembut Valerin tampak ikut tergoyang-goyang saat sang empunya tubuh bergerak. Sepasang iris mata violet Valerin menatap ruang tamu yang ramai, semua orang yang dikenalnya turut menikmati teh sembari berbincang.
“Woah, kau sudah baikan Val?” Viscount Rovana menerjap tatapan.
Valerin tak langsung menjawab, ia duduk lebih dahulu pada sebuah sofa “Aku ingin bertanya, sebenarnya aku ini memiliki keahlian dan pekerjaan apa saja?” Ucap Valerin sambil meraih secangkir teh yang Panacea berikan kepadanya.
“Dokter dan pemilik pabrik pengobatan Grayii Pharmacy.” Jawab dokter Louisa dengan santai “Oh, obat demam dan vitamin sudah kuberikan kepada pelayan wanitamu.”
Viscount Rovana giliran menjawab “Kapten kami, ketua dari Paladin of Dustbones.”
Valerin Grayii mengeryitkan dahinya “Apa tak masalah kau ucapkan seperti itu William? Ada dokter Louisa dan Alex disini.” Valerin menatap heran.
Leon Sirius mengangguk “Dokter Louisa mantan dari paladin of Dustbones, posisi sekarang diisi oleh pangeran Frederitch. Sementara pangeran Alex, dia sudah tahu semuanya.” Leon menjelaskan dengan tenang. Seperti, biasanya.
“Aku! Aku!” Alexander mengangkat tangannya dengan antusias “Valerin itu jenius, cantik dan kuat.” Cengiran lebarnya terpancar dari paras tampan berkelakuan anak-anak itu.
“Iya juga sih.” Valerin Grayii tertawa hambar “Aku juga seorang pengusaha pengobatan ya? Jangan sampai pabrik itu terbengkalai, berkat kebodohanku.” Valerin Grayii berucap dalam hati, setelah ini dia harus kembali mengurusi pabrik keluarga Grayii.
“Jangan bilang kau tak ingat apapun?” Dokter Louisa yang mengamati Valerin menyadari raut wajah bingungnya.
Valerin Grayii lagi-lagi tersenyum hambar “B-bisa dibilang begitu?”
“Sebelumnya aku hanya tahu kau seorang dokter kemudian ketua dari para paladin. Tapi kurasa nyaris semua bidang bisa kau kuasai. Aku melihat lukisan yang berserakan diruanganmu, aku bisa tahu kaki prostetik yang kau gunakan, serta sampai isu-isu kau membantu para polisi istana karena menyelesaikan kasus perdagangan budak. Tidak mengherankan jika itu, kau lulusan akademi militer Dust Bones.” Dokter Louisa mulai mencurigai Valerin, dia memicingkan kedua matanya “Seingatku kau, bertubuh tegap dan atletis, bukan ramping dan mungil. Kemudian, kemana kegesitanmu bertarung seperti di akademi saat itu? William, Frederitch dan aku bukankah kita berteman? Kau tak mengingat kita bertiga? Bahkan kau menganggap Frederitch seperti pelayanmu daripada sahabatmu. Nah, Valerin kau ini siapa? Kau berbeda.” Dokter Louisa merenteti pertanyaan.
Semuanya tergantung oleh Valerin Grayii, jawaban ada padanya. Ketika seluruh mata menatapnya dengan keheningan, tak satupun orang diruangan itu berbicara.
Valerin Grayii merematkan kedua tangannya “Dokter Louisa...” Valerin menanggahkan kepalanya sambil tersenyum “Namaku Valerin Grayii, memangnya siapa lagi?” Valerin Grayii tersenyum manis.
“HA?!” Dokter Louisa terperanjat kaget “K-kau? Apa maksudmu?”
“Tidak penting Valerin Grayii mana yang dulu kau kenal, dihadapanmu saat ini. Akulah Valerin Grayii, sudah kujelaskan bukan?”
“Kau bercanda bukan?” Dokter Louisa terheran-heran.
Valerin Grayii menganggeleng “Apakah itu aneh?”
“Tentu saja aneh?! Kau? Bagaimana bisa? Jelas-jelas kau orang yang berbeda, kemana Valerin Grayii yang asli?!” Tiba-tiba saja Dokter Louisa tampak tak sabaran, dia bahkan meninggikan suaranya.
Valerin Grayii menyilakan kedua kakinya, menatap lurus kearah Louisa dengan tampang malasnya “Pana...” Panggilnya kepada Panacea.
“Baik, tuanku.”
“Oh Alex lihat! Kucingku berlari ke luar gerbang!” Valerin berucap dengan nada yang dibuat-buat.
“Dimana? Dimana?” Alexander bertanya sambil beranjak.
“Cerise, cepat tangkap!” Perintah Valerin Grayii.
Gadis robot itu langsung melesat dengan cepat, diikuti oleh Alexander yang penasaran. Mereka berdua berlari keluar dari kediaman manor Grayii untuk menuju halaman lepas manor Grayii. Valerin hanya berdusta, pura-pura mengalihkan Alexander dengan sengaja mengirim Cerise untuk menjaga Alexander. Menyisakan mereka yang sudah mengetahui rahasia Valerin Grayii.
“Pana, apakah ada semacam sihir yang menghapus ingatan seseorang?”
Panacea mengangguk.
“Apa yang kau katakan? Apa kau ini, jangan mengaku-ngaku sebagai Earl Grayii. Kau bocah penipu!” Tunjuk dokter Louisa kepada Valerin Grayii “William! Kenapa kau diam saja dengan tenang?!” bahkan dokter Louisa berteriak kepada Viscount Rovana.
Valerin Grayii meletakkan secangkir tehnya ke atas meja, ia duduk bersandar sambil menahan dagu dengan sebelah tangannya “Tch. Berisik sekali.” Ucap Valerin Grayii.
“Apa katamu?! Kau penipu!”
Valerin Grayii mendelik acuh “Kenapa kau harus perduli akan Earl Grayii ini? Jika kau, ah... “ Valerin Grayii mengangguk “Wanita, kau menyukai Valerin Grayii bukan?”
“Kau—“ Dokter Louisa terdiam, ucapan Valerin Grayii memang benar. Sosok terdahulu Valerin Grayii yang membuatnya jatuh hati. Bukan Valerin seperti ini “Iya! Bukan Valerin penipu sepertimu!” Dokter Louisa melebarkan matanya, ketika Valerin Grayii sudah berada dibelakangnya.
“Selamat malam...” Seringai kecil Valerin Grayii, sambil memukul tengkuk dokter Louisa dengan cepat “Hufft... Sekarang hapus ingatannya mengenai Valerin Grayii, buat dia hanya mengingatku seperti saat ini.” Ucap Valerin Grayii yang berdiri didepan Dokter Louisa yang sudah tak sadarkan diri.
“Baik, tuanku.”
Valerin Grayii menatap Viscount Rovana dan Leon Sirius secara bergantian “Maaf atas ketidaksopananku, permisi.” Valerin Grayii beranjak meninggalkan ruangan tamu bahkan sempat berpas-pasan dengan Alexander yang membawa kucing dalam gendongannya “Alexander... maaf tidak bisa menemanimu, ya. Aku harus bersiap-siap ke Panti Asuhan.” Ucap Valerin dengan senyum terpaksa seraya berjalan melintasi pemuda itu.
“Dia, kenapa Leon?” Bingung Alexander “Ah, Louisa kenapa berbaring dilantai?”
“Jangan ganggu Earl Grayii, dia masih belum pulih dan oh, Louisa? Dia sedang sakit.” Acuhnya Leon Sirius sambil beranjak berdiri juga “Ayo kita kembali ke istana pangeran.” Leon Sirius menarik pangerannya itu untuk segera meninggalkan mannor Grayii.
Viscount Rovana menghela nafas “Nona Panacea, Dokter Louisa bisa aku yang bawa pulang?” Ucap pria itu “Keretaku diluar juga menganggur.” Jelasnya lagi.
“Baik, Viscount Rovana...” Panacea Eerie hanya mengangguki ucapannya. Dia membantu pria itu membopong tubuh wanita yang masih pingsan ini.
.
.
.