
“Yang Mulia...” Jajaran petinggi Dust Bones serentak menunduk hormat, dikala sang raja bersama ratu melangkah menuju ruang aula istana. Tentu bersama putera kecil mereka yang tengah berbahagia atas ulang tahunnya.
Ruangan berlantai keramik bundar yang luas dengan kubah kaca ditengahnya, sepasang mata emas Ellis menanggah menatap langit dengan taburan bintang “...Bintang ya?” Tanyanya dengan lirih.
Ellis berdiri didekat singasana sang raja, tubuh kecil dan rampingnya itu dibalut pakaian formal Dust Bones dengan pernak pernik permata pada kerah lehernya. Ellis mengenakan setelan jas serba putih yang menawan, apalagi paras Ellis yang indah ditambah dengan anting permata hitam yang hanya ada ditelinga kanannya. Sangat berbeda dari para ksatria yang berjaga lainnya. Ellis seperti permata yang berkilau dibelakang sang raja saat itu.
“Ellis, bersantailah kau bisa mencari teman berbincang malam ini.” Sang raja berucap dari singasananya.
Ellis menggeleng “Terimakasih Yang Mulia, tapi Ellis cukup disini saja.” Ellis menundukkan kepalanya dengan hormat, bahkan tangan Ellis diletakkan ke dada kirinya.
“Sayang, itu ayah dan ibuku...” Tak lama sang ratu berseru ketika rombongan dari kerajaan Anthesia memasuki ruangan, sang ratu juga meraih tangan sang raja untuk turun dari singasana menghampiri kedua orang tuanya.
“Ellis, titip Victorine ya.”Sang ratu berucap pada Ellis seraya melirik putera kecilnya yang duduk dengan tenang di kursi mahoni kecil tepat di dekat singasana.
Ellis mengangguk, dia merasa kasihan dengan putera mahkota ini. Ellis pun menghampiri sang putera mahkota dengan berjongkok didepannya “Hay, Yang Mulia... Apa kau mengantuk?” Tanya Ellis yang melihat sang putera mahkota dengan kedua mata sayu kantuknya itu.
Sembari menggusak matanya, bocah kecil itu mengangguk.
“Kemarilah...” Ellis meraih bocah kecil itu dalam gendongannya. Pundak Ellis terasa berat sebelah karena kepala bocah kecil itu langsung bersandar disana.
“Tuan Francieli...”
Ellis segera menoleh setelah mendengar ajudan dari Raja Harold memanggilnya itu “Selamat malam, tuan Melian...” Ellis tersenyum simpul, bersamaan dengan iringan musik dari para pemain biola di ruangan ini “Sepertinya dansa sudah dimulai ya? Sayang sekali, Yang Mulia Victorine malah tidur.” Ellis tertawa kecil seraya mengusap punggung Victorine dengan pelan.
“Begitu, anda penakluk anak kecil juga.” Komentar Felix Melian seraya melirik Victorine yang nyaman tertidur dalam gendongan Ellis.
“Ah, iya, bagaimana Raja Harold?” Ellis bertanya, tapi kedua matanya melirik sang raja yang berdansa dengan ratu ditengah-tengah aula istana.
“Yang Mulia, sedang berbincang dengan teman lamanya. Perbincangan mereka mungkin serius, makanya aku diminta menjauhi mereka sejenak...”
“Ah begitu ya...”
“Kau sendiri tuan Francieli, apakah tidak memiliki patner dansa?”
“Panggil Ellis saja, seperti yang kau lihat, patner dansaku pulas tertidur. Hehe...” Ellis tertawa sekenanya.
Tak lama ketika mereka berdua berbincang, Ellis melihat seorang pendeta bersama seseorang wanita mendekati mereka berdua. Pria tua dengan senyum hangat itu menghampiri Ellis “Panjang umur Yang Mulia, semoga diberkahi Tuhan atas seluruh hidup bahagiamu untuk Dust Bones.” Ujar pria tua itu.
Ellis membungkuk pelan, sedikit susah karena Victorine dalam gendongannya “Terimakasih Pendeta Colson, Yang Mulia akan senang mendengarnya...” Ujar Ellis juga.
“Dimana maid Margareta? Kurasa pemuda tampan sepertimu butuh teman bicara selain Yang Mulia kecil yang pulas tertidur ini...” Ucap pendeta Colson.
Ellis tersentak, dia memang tidak melihat wanita paruh baya itu sejak tadi, dia merupakan pelayan setia ratu yang membantu mengurusi putera Mahkota. Bahkan Ellis hanya melihat Victorine kecil yang duduk seorang diri lepas dari kedua orang tuanya yang kini berpencar berbincang dengan para bangsawan lainnya.
“Benar juga, dimana Maid Margareta?” Ulang Ellis.
Langkah dari Mathias Lavadula amat cepat, dia masuk melalui sisi kiri ruang aula dari balik tirai merah temaram itu dan langsung meraih lengan kiri Ellis “Syukurlah, Yang Mulia Victorine bersamamu...” Ujar Mathias.
“Math?! Kau mengejutkanku.” Ellis sedikit menepuk-nepuk bokong bocah kecil yang ada didalam gendongannya karena dia bergerak tidak nyaman akibat suara Mathias.
“Maaf Yang Mulia” Bisik Mathias “Ellis, kemari...” Pria itu sedikit menunduk disamping telinga Ellis untuk berbisik “Maid Margareta tewas di kamarnya, kami baru menemukan mayatnya rahasiakan ini dari siapapun, bahkan pihak selain Ksatria dan prajurit Dust Bones.” Bisik Mathias.
Ellis mengangguk singkat, dia berlaih memperhatikan sang raja dengan tatapan waspadanya “Sial, pekerjaanku jadi dua kali lipat melindungi ayah dan anaknya.” Keluh Ellis dalam batinnya.
“Ellis, aku serahkan ruangan ini kepadamu.” Ucap Mathias “Aku akan menyisir seluruh istana dulu...” Mathias berucap dengan tatapan serius, dia tetap tidak boleh mengatakan hal yang sudah terjadi.
Mau tak mau Ellis mengangguk, dia meraba gagang pedang yang ada di lingkar pinggang kirinya “Okay, asal jangan mabuk ya...” Cengir Ellis dengan konyol menutupi ketengangan yang Mathias rasakan.
Mathias tersenyum kecil seraya menggeleng “Okay, kau juga!” Mathias pun berlari kecil meninggalkan ruang aula.
“Tuan Francieli, apa sesuatu sudah terjadi?” Tanya Felix Melian.
Ellis menggeleng seraya tersenyum lebar “Mathias memang harus melaporkan keadaan diluar ruangan kepadaku, seperti yang kau lihat penjaga di ruangan ini tidak banyak karena kenyamaan tamu akan pesta ini harus tetap terjaga. Nah, tuan Melian... Bisakah kau jelaskan kepadaku bagaimana bisa batu dengan kandungan merkuri ada pada jubah Rajaku?” Ellis memang tersenyum, tapi ucapannya sangat mengintimidasi.
“Oh begitu, benar juga... memang Dust Bones primadona yang selalu diincar ya?” Ellis mendadak terdiam, perasanya menjadi sensitif, mulai dari mendengar suara-suara perbincangan seisi ruangan, bunyi gesekan cello, dentingan setiap gelas yang bersulang. Hingga langkah kaki seseorang.
Ellis menatap sang raja, bahkan dalam jarak satu meter dia melihat seorang pria yang mendekati sang raja. Kedua mata Ellis bisa melihat tembus akan pisau belati dari balik mantel pria itu “Gawat!” Ellis berseru dengan langkah yang cepat.
Trang...
Gesekan tajam antara pedang dan belati. Pedang Ellis tepat menghadang belati itu, bahkan tangan kiri Ellis masih menggendong bocah kecil yang tertidur itu “Tidak akan kubiarkan!” Sergah Ellis dengan tatapan tajamnya.
Seisi aula istana langsung riuh, para bangsawan yang hadir berhamburan keluar setelah melihat aksi Ellis yang menghadang penyusup itu.
“Ellis, kau membawa puteraku!” Ujar sang ratu.
“Ha, benar sekali Yang Mulia. Tanganku sibuk dan penuh.” Sarkas Ellis.
Beruntungnya pasukan Remington baru memasuki aula istana, membuat sang penyusup mencoba untuk melarikan diri.
“Ellis! Kau tidak apa-apa?” Remington sempat menghampiri anaknya terlebih dahulu.
“Aku baik, lebih penting lagi dengan penyusup itu.”
Tangan lebar sang raja menyentuh pundak Ellis “Berikan Victorine pada Luciana, Ellis... untuk seukuran anak muda, kau cukup tanggap mengayunkan pedang sambil membawa bayi dalam gendonganmu.” Ujar sang raja.
Ellis pun memberikan Victorine pada sang ratu “Mohon maaf ratuku, Yang Mulia Victorine terpaksa dibawa dalam menghindari serangan penyusup tersebut.”
Plak...
Sebuah tamparan melayang pada pipi kanan Ellis “Kau sengaja membawa puteraku dalam bahaya bukan? Kau mencoba mengkhianati Dust Bones dengan membawa puteraku. Kau sengaja bukan?!” Teriak sang ratu.
“Ah, aku mengerti sekarang...” Batin Ellis sambil mengusap pipi kanannya. Dia tak menjawab amarah sang ratu, malah berlari dengan gesit untuk menangkis sebuah anak panah yang melayang dari arah berbeda.
“Benar Yang Mulia, aku sudah mengkhianati diriku sendiri untuk melindungi orang yang tak menghargai usaha orang lain. Ampuni ksatria yang rendah ini Yang Mulia, hukuman seberat apapun akan kuterima setelah ini.” Ujar Ellis yang berdiri didepan sang raja dengan pedang bergagang putih yang dipegangnya.
Semua orang terperangah dengan kecepatan dan ketepatan Ellis, namun Ellis hanya menatap dengan sendu “Tuhan, maafkan aku...” Ucap Ellis yang melemparkan pedangnya sepeti sebuah busur yang mengenai papan dart board.
Tubuh seseorang jatuh dari atas, tergelatak dengan pedang Ellis yang menancap didadanya.
“Terimalah jiwa orang ini kepadamu, kebahagian dalam surga yang indah terlepas dari dunia yang kejam ini. Amin.” Ellis berdoa kepada tubuh manusia itu, jika diingat, ini pertama kalinya Ellis melakukannya pada manusia. Dia memang handal berpedang, tapi perasaannya berlawanan dengan membunuh.
“Cari seluruh penyusup!” Perintah remington pada pasukannya “Ellis, tetap bersama Yang Mulia... Jangan paksakan dirimu, nak.” Ujar Remington sebelum beranjak pergi.
Alphonse Caleum menatap punggung sempit Ellis yang masih berdiri didepannya itu, dia takjub sekaligus tak menyangka dengan tindakan Ellis “Valerin Grayii, sekalipun tampak licik dan begis, bahkan dia tak membunuh penjaga yang menjaga kurungannya dulu.” Tatap Alphonse pada Ellis yang masih enggan menatapnya.
“Yang Mulia, lima penyusup berhasil ditangk—“ Mathias terkejut ketika tahu pedang Ellis menancap pada seseorang. Lebih menyeramkan lagi tatapan Ellis dikala itu, sendu, tajam dan kosong. Emosinya yang bertabrakan bisa Mathias lihat.
“Mathias, Bawa Luciana ke tempat Yang Aman.” Perintah Alphonse.
“Baik Yang Mulia!” Mathias segera membimbing ratu dan putera mahkota meninggalkan aula. Sesekali melirik Ellis yang masih mematung itu.
Alphonse mendekati Ellis, dia menyentuh pundak Ellis dengan pelan “Kau sudah melakukan hal yang terbaik, Ellis...” Ucap Alphonse pada Ellis yang masih memunggunginya.
“Y-yang Mulia...” Ellis menoleh dengan mata yang berlinang air mata, pipi yang memerah dan sembab “A-apakah Tuhan akan marah pada perbuatanku?” Cicit Ellis dengan lirih.
Ruangan aula yang sudah kacau itu, berserakan dengan pecahan kaca gelas dan alat-alat musik yang rusak. Menyisakan keduanya yang saling berhadapan.
“Maafkan aku Ellis...” Ujar Alphonse sang raja sekaligus mendekap tubuh kecil itu dalam pelukannya.
“Huwaaa...” Tangisan Ellis pecah disana.
.
.
.