Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Episode 22



 


 


 



Happy Reading


.


.


.


 


 


“Nah, apakah kau tahu semuanya?”


“Tidak sepenuhnya. Valerin-ku”


“Oh, baiklah. Aku tak memiliki waktu untuk seorang pria yang kekanak-kanakan, minggirlah.” Sorot mata Valerin Grayii kala itu menajam.


Alphonse  Caleum tersenyum kecil dengan sikap Valerin Grayii yang mendadak berubah itu “Seseorang menolakku? Itu baru kau Valerin, baru kau yang pertama kali berani berkata seperti itu.” Alphonse menatap kagum, sosok Valerin tak ragu menolaknya serta merta.


Valerin yang tak perduli, beranjak berdiri setelah meletakkan gulungan kertas diatas bangku kursi yang sempat didudukinya “Selamat siang Yang Mulia, terimakasih atas perhatiannya.” Valerin membungkuk sedikit. Kini dengan raut wajah datarnya, dia membalikkan tubuh hendak pergi dari kebun bunga ini.


“Apa kau ingin tahu apa yang terjadi pada Valerin? Kemudian kenapa alasanmu bisa ada disini?”


Pernyataan dari Raja muda itu memang berhasil menarik perhatian Valerin untuk memberhentikan langkah kaki Valerin Grayii “Tidak perlu, Yang Mulia.” Valerin tanpa membalikkan tubuh, ia juga mengulas senyuman disana “Aku tahu, kau bukan orang tanpa pamrih Alphonse.” Valerin pun melanjutkan langkah kakinya.


“Tuan muda...” Friday menghampiri Valerin yang baru berjalan keluar dari gerbang istana.


Valerin Grayii, tersenyum dengan lebar. Dia mengarahkan tangannya kepada kepala Friday. Biarpun bersusah payah berjinjit akan perbedaan tinggi tubuh mereka, Valerin tetap berhasil mengusap puncak kepala Friday dengan lembut “Anak baik, kau tidak membuat masalah bukan?” Valerin terkekeh pelan.


Friday tersenyum kecut, dia menahan raut wajah kesalnya “Tuan muda yang manis, bisa hentikan?” Ucap Friday.


“Tentu saja. Ayo kita pulang.” Valerin meraih pergelangan tangan Friday.


Interaksi keduanya yang tabu, kalangan bangsawan dan pelayan. Seorang manusia dan vampir, seorang gadis biasa dan seorang pangeran. Dari jendela pada sebuah menara, seseorang telah memperhatikan keduanya. Sorot mata hijau yang terang tampak menatap tak suka “Valyria Soga Kinaru...” Ucapnya memandang Valerin yang terkekeh berjalan beriringan bersama Friday.


Brak. Suara pintu ruangannya terbuka dengan kasar. Seorang pemuda dengan cengiran lebarnya pun datang.


“Kakak! Apa kau melihat Valerin?”


“Earl Grayii sudah pulang Alex.”


“Ah, cepat sekali...”


“Yang Mulia, Maaf menganggu. Pangeran Alexander tak sengaja masuk keruangan ini.”


“Ah Leon, kebetulan. Bisa berbicara sebentar.”


“Baik Yang Mulia.”


“Alex?”


Pria itu mengulas senyuman, ia mengusak puncak kepala sang adik “Alex mau ikut aku bekerja?” Ucapnya bernada dengan lembut.


Pangeran kedua Dust Bones itu segera menggeleng “Tidak, membosankan. Alex mau ke dapur istana saja.” Ucap pangeran kedua itu melenggang lebih dulu keluar dari ruangan megah sang raja muda ini.


Alphonse Caleum melirik pintu yang tertutup itu “Earl Grayii sudah membawa laporannya kepadaku. Menurutmu bagaimana?” Alphonse menduduki kursi kerjanya, diatas meja yang banyak berserakan berkas dia menompang dagu tirusnya dengan tangan kanannya.Baik, Yang Mulia. Sekitar dua ratus penduduk terinfeksi virus Obscure, sementara upaya penawar tidak dilakukan melainkan diubah dengan rencana alternatif dari Earl Grayii. Tidak ada korban jiwa diantara anggota Paladin, sementara Viscount Rovana sempat mengatakan ingin mengundurkan diri dari posisinya sebagai anggota Paladin of Dustbones.”


Alphonse Caleum tersenyum seraya menanggahkan kepalanya  “...Kulihat Earl Grayii membuat kontrak link dengan Pangeran Frederitch.”


Leon Sirius, melebarkan kedua matanya. Ucapan dengan nada dingin dari Raja Dustbones ini membuatnya sedikit gemetar ketakutan “B-benar, Yang Mulia.”


“Aku menemukan sesuatu yang menarik. Leon Sirius, Vampir dan manusia apakah bisa hidup berdampingan?”


“Yang Mulia... Hal semacam itu, pasti tidak boleh.”


“Itu hal yang menarik Leon.” Alphonse Caleum, memandang dengan sepasang mata hijau nan terang lengkap dengan senyuman tipisnya yang merekah “Begitu menarik...” Ulangnya lagi.


***


Valerin Grayii, menuruni tangga kereta kuda dibantu oleh Friday. Sang tuan kediaman manor Grayii, disambut oleh pelayan wanita dan koki tua dengan hidangan makanan di ruang makan yang sudah tertata dengan rapi. Kebetulan ia tiba disaat senja nyaris menelan mentari, hari hendak berganti malam.


“Selamat datang tuan muda.” Panacea sedang meletakkan piring dan alat makan yang akan digunakan oleh Valerin.


“Kenapa kalian lebih cepat mempersiapkannya? Tidak masalah, kalian bisa bersantai juga.” Valerin berjalan menuju meja makan, setelah dibantu Friday yang menarik kursi yang berada di hadapan meja makan “Friday, kau tak lelah? Kau bisa mandi atau berganti pakaian dulu.” Ucap Valerin. Tentu saja dipandang dengan heran oleh ketiga pekerjanya itu. Valerin bersikap seolah bukan seorang bangsawan terhadap pelayan-pelayannya ini.


“Tuan muda memang berhati lembut, tidak ada tuan sebaik anda.” Puji tuan Odolf yang meletakkan seiris daging panggang diatas piring kosong Valerin “Sangat beruntung bisa bekerja dengan anda.” Pria tua itu tersenyum.


“Terimakasih tuan Odolf, wah sepertinya enak.”


“Silahkan dinikmati Tuan muda.”


Valerin tak langsung memakan, dia memperhatikan pelayan dan kokinya yang berdiri menghormatinya. Valerin mungkin tak begitu mengetahui kehidupan para bangsawan sepertinya, dia mengulum senyuman “Friday apakah kau tak masalah dengan makanan manusia?” Tanya Valerin.


“Tidak masalah tuan muda, selain rasanya yang akan terasa hambar namun tidak masalah. Kami terkadang akan memakan makanan manusia juga.”


“Kalau begitu duduklah disana.”


“Maaf tuan muda?”


Valerin yang mengerti, mengambil gelas kosong. Menggunakan pisau bersih yang belum digunakan untuk memotong steak. Ia menggores telapak tangannya sendiri. Menuangkannya kedalam gelas sampai setengah bagian.


“Tuan muda!” Friday langsung membalut telapak tangan Valerin dengan serbet yang masih bersih.


“Panacea akan mengambilkan obat-obatan.”


“Tidak perlu Pana, apakah kau masalah dengan makanannya manusia?” Sekali lagi Valerin berucap dengan santai. Padahal tangannya terluka. Tapi ia masih tersenyum lebar.


Panacea menggeleng “Tidak tuan muda, Panacea memakan makanan manusia.”


“Tentu tidak tuan muda.”


“Kalau begitu, ayo kita makan bersama” Valerin berucap, namun ia masih memperhatikan Friday yang masih menekan lukanya “Friday sudah hentikan. Lukaku akan sembuh, kau sudah membalutnya dengan baik.” Valerin melihat raut wajah Friday yang cemas itu, dia bahkan terlalu fokus dengan luka pada telapak tangan Valerin.


“...Friday, sudahlah.” Tapi ucapan Valerin tak indahkan oleh Friday.


“Ck. Frederitch hentikan! Pendarahannya sudah berhenti.”


Friday menatap Valerin, tatapannya tak suka “Jangan bersikap ceroboh lagi. Itu bahaya, asal kau tahu.” Friday beranjak berdiri. Dia duduk disamping Valerin.


“Padahal kau sendiri sudah biasa mengigitku sesukamu.” Cibir Valerin sambil memotong steaknya, kemudian menyuapkan potongan daging itu dengan lahap “Enak~” Puji Valerin.


“Tuan muda sangat bersemangat.” Tuan Odolf hanya bisa tertawa pelan melihat sikap Valerin. Dia jelas berbeda dengan tuan lamanya, koki tua itu tahu. Tapi loyalitasnya terhadap keluarga Grayii begitu besar.


Valerin menegak air putihnya “Kenapa tak kau minum?” Ucap Valerin kepada Friday.


“Sudah kubilang bisa memakan makanan manusia.”


“Jadi kau tak mau darahku? Ya sudah buang saja.”


Friday langsung menegak habis segelas darah Valerin itu, dia semakin kesal “Anda senang mengacam rupanya Earl Grayii.” Sergah Friday.


Valerin sangat puas hati melihat raut wajah Friday, dia terkekeh pelan “Kau lucu sekali Frederitch, omong-omong apakah tuan Odolf tahu siapa Friday?” Valerin berucap sambil menyuapkan makanannya.


Pria tua itu mengangguk “Pangeran ketiga Kerajaan Crave Rose. Yang Mulia Pangeran Fredericth Drew Raymond.”


“Curang, aku saja disini yang tidak tahu. Benarkan Pana?”


“Tidak begitu juga tuan muda, kami menunggu saat yang tepat untuk menjaga perasaanmu.” Panacea yang paling tenang menanggapi Valerin Grayii dengan menyantap makanannya. Dia juga canggung, selama ini bersama Valerin kali pertamanya makan bersama seperti ini “Tuan muda, kenapa ingin kami semua makan malam bersama?” Tanya Panacea.


“Itu...” Valerin menunduk sejenak “Aku tidak ingin bersikap sungkan dengan kalian.” Garpu yang dipegang Valerin tampak digunakan untuk mengaduk-aduk kentang tumbuknya.


Friday mengiriskan beberapa bagian daging pada piring Valerin “Kemana ***** makanmu yang menggerikkan itu?” Friday berkata dengan jahil. Sebenarnya, dia tak suka jika Valerin Grayii murung.


“Berbicara soal ***** makan, kau juga menyeramkan Yang Mulia Pangeran ketiga.” Valerin menaik-naikkan kedua alisnya “Terus ada hal yang ingin kutanyakan padamu juga.” Valerin menyuapkan sesendok kentang tumbuk.


“Ingin bertanya apa?”


“Friday itu siapa?”


Friday ber-oh ria terlebih dahulu “Frederitch Drew Raymond. Singkatan namaku, Fr dari Frederitch kemudian D dari Drew dan Ay dari Raymond. Hanya nama samaran, selain itu bukan bermaksud hal lain. Sungguh...”


Raut wajah serius Friday saat menjelaskan ucapannya sangat lucu menurut Valerin “Kau tak pernah serius sebelumnya, tidak masalah. Aku hanya bertanya” Valerin tersenyum kecil.


Seharusnya makan malam yang mereka nikmati akan terasa begitu khidmat. Sayangnya, tiba-tiba saja gemuruh petir berbunyi dengan kuat. Diiiringi angin yang bertiup begitu kencang sampai salah satu jendela kaca ruang makan pecah, sebuah dahan pohon jatuh kedalamnya.


“Tuan muda...” Panacea berseru, bersamaan dengan lilin-lilin yang bermatian.


Valerin yang tetap tenang, masih sempat menegak segelas air putihnya. Biarpun petir dan gemuruh berbunyi keras. Gadis berperawakan mungil dalam kostum prianya malah tak terkejut sama sekali “Aku tidak apa-apa Pana.” Ucap Valerin.


“Friday, apakah menurutmu dahan pohon itu jatuh dengan sendirinya?”


Friday beranjak berdiri “Maaf meninggalkan makan malam lebih dulu tuan muda.” Pria itu mengambil salah satu lilin, dia menghidupkannya “Friday akan melihat keadaan diluar.” Ucap Friday sambil menatap Panacea.


“T-tuan muda, lebih baik segera istirahat didalam kamar.” Panacea meraih pergelangan tangan Valerin dengan kesan sedikit dipaksakan “T-tuan Odolf, berkenan untuk membereskan sebentar? Panacea akan menghantar tuan muda kekamar.”


Pria tua itu tetap memasang wajah ramahnya “Tentu, nona Eerie...” Ucapnya sambil tersenyum.


“Pana?” Valerin hanya bisa menurut ketika tangannya digenggam erat oleh Panacea berjalan menaiki anak tangga ke lantai dua. Sekilas Valerin merasa nostalgia dengan keadaan ini. Sama seperti saat itu, di sebuah kereta “Panacea, apa terjadi sesuatu?” Ucap Valerin saat sudah berada didalam kamar.


Panacea menutu pintu kamar Valerin “Tidak, terjadi apapun.” Panacea jelas sedang berbohong, wajahnya memasang raut wajah cemas.


“Tidak apa-apa, katakan padaku. Sudah dua kali hal seperti ini terjadi.”


“Tuan muda, keselamatan anda adalah prioritas kami.” Ucap Panacea memengang kedua bahu Valerin dengan pelan “Apakah anda membaca seluruh buku Clandestine?” bukan menjelaskan, Panacea membawa Valerin duduk dipinggiran ranjang kasur.


Diluar hujan jelas mengguyur dengan deras, Valerin menatap jendela kamarnya yang menampaki langit gelap. Tak jauh berbeda dengan keadaan kamarnya saat ini “Sudah, semuanya sudah kubaca semua. Aku mengingatnya dengan baik.” Ucap Valerin merangkak naik ke tengah-tengah ranjang kasurnya. Dia berbaring disana, setelah melepaskan dasi pita yang menjerat lehernya.


“Apa yang anda tahu mengenai Crave Rose?”


“Sebuah kerajaan para vampir, bukan?”


“Benar...” Panacea menghidupkan pematik api, ia menghidupkan lilin diatas nakas meja kayu “Kemudian, apakah anda mengetahui mengenai Diablerie?” Panacea sekarang mengambil pakaian tidur Valerin.


“Aku tahu, itu nama untuk seseorang yang terinfeksi Obscure dalam tahapan tertinggi bukan?”


“Jika tuan muda memahami lebih dalam, Obscure sendiri bisa menjadi bagian dari mahluk hidup.”


“...Virus Obscure akan memasuki tahap malignan bukan? Jika sudah ada didalam tahapan itu manusia akan memiliki ketahanan tubuh yang bagus, regenerasi yang cepat namun cenderung memiliki kerusakan dalam pikiran. Sebanding, tunggu...” Valerin menatap Panacea “Bagaimana kau bisa tahu isi dari dalam buku itu?” Tanya Valerin lagi.


 


 


 


 


 


.


.


.