Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Season 2 : Episode 51




“Tuan muda ah, maksudku nona muda.... Apa anda baik-baik saja?” Panacea berujar panik seraya menghampiri Valerin Grayii yang baru tiba di ambang pintu masuk kediaman Edward Sirius.


“Hm,um... baik. Bagaimana keadaan Alex dan William?” Tanya Valerin tersenyum kecil.


Panacea mengangguk “Viscount Rovana sedang istirahat, sementara pangeran Alex berangsur-angsur membaik.” Panacea membantu Valerin membuka mantel hitamnya.


Menyisakan kemeja putih dengan rompi hitam ditubuh ramping Valerin, surai peraknya diikat ekor kuda. Tetap berpenampilan nacis seorang pemuda bangsawan, biarpun identitas aslinya sudah banyak yang tahu.


“Friday...”


Frederitch mengeryitkan dahi, ini kali pertamanya dia kembali mendengar Valerin memanggil dirinya dengan nama lama sebagai pelayan “Iya? Kau perlu sesuatu, Val?” Tanya Frederitch yang sama-sama baru tiba di kediaman Edward Sirius ini.


“Aku ingin teh buatanmu.” Ujar Valerin sambil berjalan masuk kedalam koridor “Apakah tuan Sirius sudah pulang?” Ucap Valerin ketika berpas-pasan dengan Leon Sirius.


Pemuda itu mengangguk “Kakak juga ingin bertemu denganmu, Earl. Dia ada diruang kerjanya, ruangan itu berada diujung koridor.” Jawab Leon Sirius yang membawa wadah berisi air dan handuk didalamnya.


Valerin melirik Frederitch sejenak “Temui aku dengan secangkir teh buatanmu, Friday.” Valerin yang dirudung rasa kesal akibat tahu jika Frederitch pernah ia temui dimasa lalu, membuat sikap Valerin sedikit berbeda saat ini.


Panacea langsung menoleh kearah Frederitch “Pangeran, kenapa dengannya?”


Frederitch mengangkat kedua bahunya dengan acuh “Tidak tahu.” Ucap Frederitch berjalan ke dapur “Leon, dimana letak dapur?” Ujar Frederitch menghampiri pemuda itu, berujung mereka yang berjalan beriringan menuju dapur.


Panacea hanya mematung, dia tahu. Sesuatu telah terjadi diantara mereka berdua.


Tok...tok...tok...


Valerin mengetuk pintu yang terbuat dari kayu mahoni itu, tepat disana, pintu itu tak terkunci. Usai mendengar suara sang komandan kepolisian kerajaan mempersilahkan masuk, Valerin pun segera memasuki ruangan itu “Tuan Sirius...” Sapa Valerin dengan raut wajah seriusnya.


“Kau, apakah kau menemukan tuan Odolf?” Tanya Valerin lagi.


Pria yang duduk diruang kerjanya, mengangguk singkat “Benar Earl, kami berhasil menemukan tubuhnya. Di dermaga pusat kota.” Ada helaan nafas berat dari pria itu “Turut berduka atas kematian tuan Odolf, Earl...” Lanjutnya lagi.


Valerin mengangguk, walaupun ia sulit menerima kenyataan ini “Padahal, aku menyuruhnya untuk pulang.” Sesal Valerin. Dengan tatapan sendu, dia pun duduk disalah satu sofa sambil menagahkan tatapannya “Orang pergi dan mati, seperti itu saja...” Ujarnya lagi.


“Maaf Earl, jika aku lebih waspada dengan keadaan...”


“Tidak perlu.” Valerin Grayii memotong omongan pria itu “Kau tak salah, malah, terimakasih sudah membiarkan kami beristirahat disini. Jika kau tahu, Alphonse mungkin juga mengincarku.” Toleh Valerin menatap pria itu, perlu Valerin akui. Edward Sirius, terlalu baik kepada mereka “Aku tak ingin keluargamu juga terancam, sampai disini. Perjalananku akan berlanjut, Alexander Caleum dan adikmu Leon Sirius, mereka tak bisa mengikutiku lagi.” Jelas Valerin, dia tak ingin semakin membebani tuan Sirius.


“Baik Earl, jika itu yang kau inginkan.” Ucap Edward Sirius.


“Omong-omong, Leon pernah berkata jika kalian memiliki seorang adik. Dimana dia?” Ujar Valerin sambil menegapkan posisi duduknya “Apakah dia juga sedang sakit?” Lanjut Valerin lagi.


Anggukan Edward Sirius disertai tatapan sendu “Dia sakit, sangat sakit. Jiwanya sakit, bahkan seorang Avicenna sepertimu tidak bisa menyembuhkannya...” Pria itu mengusap wajah frustasinya.


“Sebelum aku pergi, apa boleh bertemu dengannya?”


*


*


*



Rumah Sakit Jiwa Kerajaan Dustbones, gedung tinggi dengan pilar-pilar berukir bunga bakung. Valerin Grayii berdiri disana seorang diri, setelah sejam yang lalu tiba disini dengan diantar kereta kuda dari kediaman Edward Sirius. Tak ada seorangpun yang tahu dia kemari, Usai mendengar ucapan Edward Rovana tentang adik mereka yang berhasil sembuh dari Obscure malah berujung bersikap gila. Disinilah Valerin Grayii berdiri sambil membawa seikat bunga mawar merah, gadis dengan setelan pakaian bangsawan pria. Surai perak yang diikat ekor kuda oleh pita berwarna merah marun, kemeja putih dengan rompi dalam berwarna hitam, pita dasi berwarna merah maruh dikerah leher jenjangnya dan sebuah jas panjang berwarna hitam juga.


Sepasang sepatu boots dengan heels, mengetuk-ngetuk lantai keramik ketika ia berjalan di koridor Rumah Sakit yang sepi ini. Sepasang mata violet Valerin melihat seorang perawat yang baru melintas “Permisi nona, dimana ruangan Sabrina Sirius?” Tanya Valerin dengan sungging senyuman lebarnya.


“Ah, pretty boy. Ruangannya diujung koridor sebelah kiri.” Perawat itu tersenyum malu-malu.


Valerin Grayii mengulum senyuman sambil mengangguk “Yup. Memang penampilan menipu...” Kekeh Valerin Grayii sambil berjalan menuju koridor Rumah Sakit.


Valerin Grayii tiba disebuah bangsal perawatan, satu ruang perawatan pribadi dijaga oleh dua orang polisi kerajaan. Valerin Grayii menghampiri ruangan itu “Selamat sore tuan-tuan.” Ucap Valerin Grayii.


“Siapa bocah lelaki ini? Dia tak boleh masuk kemari.” Salah seorang polisi berkata seperti itu.


Sontak, kedua polisi itu membungkuk hormat “Selamat sore Earl Grayii.” Ujar mereka bersamaan.


“Aku hanya ingin berkunjung.”


“Silahkan Earl...”


Ketika pintu yang terbuat dari besi itu terbuka, dalam ruangan dingin yang diterangi oleh beberapa pelita, Valerin bisa menangkap keberadaan seorang wanita muda yang duduk dengan tenang. Wanita bersurai perak, bermata kelabu dengan sebagian wajah terdapat bekas luka yang lebar. Dia cantik, dengan senyuman yang dikulum dengan manis.


“Selamat sore, Nona Sabrina Sirius...” Seraya tersenyum, Valerin Grayii berdiri didepan gadis itu. Dia meletakkan seikat bunga diatas nakas meja “Namaku Valerin Grayii, biarpun aku tahu tentangmu dari perkataan samar Leon Sirius. Kurasa, anda menjadi salah satu ambisinya.” Ujar Valerin Grayii sambil duduk didepan Sabrina Sirius, gadis itu tidak beraksi sama sekali selain raut wajahnya yang datar.


“Bagaimana perasaanmu hari ini Sabrina Sirius?”


“...E-earl Grayii...”


“Ya, itu aku.”


“...Aku selalu berdoa untuk kematian, rasanya sakit, Ed... Leo... kalian dimana?” Pandangan gadis itu kosong. Selain gumaman yang asal, dia mulai bersenandung pelan. Suaranya benar-benar indah. Mendengar senandung indah itu, dari orang yang sudah putus asa.


Valerin Grayii juga melihat sebuah buku kosong dengan pensil yang ada diatas nakas meja, dia mulai mengambil buku dan pensil itu. Valerin Grayii dengan tenang duduk didepannya, tetap memperhatikan gerak dan gerik dari Sabrina Sirius “Suaramu indah nona Sabrina Sirius.” Puji Valerin sambil menggambar sketsa Sabrina Sirius dengan kemampuannya, yaitu melihat fisik asli Sabrina Sirius sebelum terinfeksi Obsxcure. Dia hanya gadis manis yang senang bernyanyi, surai rambutnya dulu cokelat karamel dan kedua matanya kelabu berseri.


“Ini... aku menggambar dirimu, Sabrina.” Ucap Valerin memberikan hasil gambarnya. Valerin memang mahir menggambar dan melukis, hasilnya pun mirip.


Sabrina Sirius, tersenyum seraya menitikkan air matanya. Dia menggengam secarik kertas gambar dirinya dari Valerin Grayii dengan erat “Terimakasih...” Ucapnya lagi.


Valerin Grayii mengangguk “Kau cantik, suaramu indah, kau hanya perlu menerima semuanya dengan lapang dada.” Ujar Valerin Grayii lagi.


Valerin Grayii keluar dari ruangan Sabrina Rovana setelah dua jam lamanya disana, dia tak lagi melihat kedua polisi yang berjaga didepan ruangan ini “Ini Rumah Sakit, loh..” Ucap Valerin kepada seseorang yang muncul dari kegelapan koridor.


Seorang pria, dengan senyuman sinisnya menatap Valerin Grayii “Jangan banyak bertele-tele Earl, apakah buku Coalesce bersamamu?” Tanya pria itu.


“Oh, Tuan Lemaire, kedua polisi itu tidak salah. Sebaliknya juga aku, aku tidak bersalah.” Ucap Valerin Grayii menyunggingkan senyumannya “Aku tak menyangka, dia nekat kemari.” Valerin bergumam dalam hati “Gawat, Nona Sirius.” Teringat akan gadis itu, Valerin masuk kembali kedalam ruangan Sabrina Sirius.


“Kau tidak apa-apa? Nona Sirius?”


Sabrina Sirius mengangguk kecil, biarpun tubuhnya tampak bergetar “Ayo ikut aku.” Valerin mengulurkan tangannya, teringat akan kematian tuan Odolf akibat ulah vampir. Dia tak mau jika Sabrina Sirius mengalami hal serupa, Valerin yang cerdirk menggunakan kemampuannya merubah kedua polisi yang sudah mati itu menjadi mayat Obscure untuk menghambat gerakan Lemaire “Maafkan aku...maaf.” Gumam Valerin seraya berlari bersama Sabrina Sirius.


Kedua gadis itu berlari beriringan, Valerin terus menggandeng tangan Sabrina Sirius agar mengikuti langkahnya “Bertahanlah nona Sirius, kita harus segera melarikan diri.” Ujar Valerin.


“Sial!” Langkah Valerin mendadak berhenti, ketika tahu Lemaire sudah ada didepan mereka “Nona Sirius, dibelakangku saja ya.” Valerin berkata dengan tersenyum, baginya. Sabrina Sirius yang tidak menolak keberadaan dirinya sudah membuat Valerin senang.


“Nona Sirius, dibelakangku saja ya.” Ucapan Valerin terulang dibenak Sabrina Sirius, seolah bagian ingatannya kembali mereka ulang, bedanya ucapan itu keluar dari seorang pria yang sama parasnya dengan Valerin. Sabrina Sirius mengangguk kecil “Ba-baik...” Ia pun mundur kebelakang Valerin.


“Earl Grayii, anda sadar jika sedang membuang nyawa?”


“Tidak tuan Lemaire, sebaliknya. Apakah kau ingin mengataka sesuatu?”


“Tepat sekali, berikan buku Coalesce dan jantung Frederitch akan kuberikan padamu.”


Valerin Grayii tersenyum miring “Kau gampang ditebak tuan Lemaire...” Valerin tidak bodoh, ia tahu keberadaan jantung Frederitch. Bukan bersama Lemaire, pria vampir itu hanya menjebak Valerin. Tak berkata lama, Valerin melompat seraya menendang pria itu biarpun ditangkis oleh kedua tangannya.


“Eh, anda mahir bertarung juga Earl Grayii.”


“Didunia ini, ada namanya belajar. Belajar menjadi orang bijaksana yang kuat, bukan belajar menjadi pengkhianat busuk.” Valerin Grayii berkata sambil membuka lengan kemejanya, didalam sana terpasang panel yang berfungsi mengetahui keberadaan jantung Frederitch dari Nikolai Raymond serta bisa menjadi pisau kecil yang melekat disana. Valerin dengan cepat bergerak maju untuk melukai kedua mata Lemaire, dia pun berhasil. Kesempatan itu digunakan untuk melarikan diri.


“VALERIN GRAYII!”


Sempat menoleh mendengar Lemaire melolong dengan teriakannya, Valerin Grayii dan Sabrina Sirius sudah berada di luar Rumah Sakit, mereka berbaur ke jalan raya yang terdapat banyak lalu lalang orang-orang. Bahkan Valerin terpaksa mencuri sebuah kuda yang diikat didepan sebuah bar.


“Ayo, nona Sirius.” Ucap Valerin, meraih Sabrina Sirius agar menaiki kuda bersamanya. Matahari tenggelam, berakhirnya senja. Valerin memacu kudanya kembali ke kediaman Edward Sirius.