
Happy Reading
.
.
.
“Earl Grayii... Maaf atas sikap Yang Mulia.”
Valerin setelah makan siang diruangannya, harus mengulur waktu. Pasalnya pangeran kedua Dust Bones ini malah mengajak Valerin bersantai ditaman Hortensi yang ada dibelakang manor. Kini, pria bergelar pangeran kedua itu tengah berlari-lari dengan seekor kucing putih. Bahkan Valerin tidak tahu jika di Manor ini ada peliharaan seperti itu.
“Tidak apa-apa.”Valerin menatap pelayan sang pangeran. Kemudian, menegak kembali secangkir teh panas yang sudah disajikan oleh Friday. Ia duduk diatas bangku taman dengan meja yang dilengkapi cemilan kecil bersama tehnya.
“Tuan muda, apa anda membutuhkan sesuatu?”
“Tidak Friday, terimakasih sudah menghidangkan teh yang enak.”Valerin mengulum senyuman cantiknya.
Kedua pelayan pria dari tuan yang berbeda itu sama-sama tersentak kaget, sikap baru dari seorang Earl Grayii salah satu bangsawan kepercayaan kerajaan Dust Bones.
“Hai Valerin!”Alexander Caleum baru tiba dengan tersenggal-senggal “Ah sudah lama tidak bermain dengan Violet.”Ia menduduki tubuhnya tepat didepan Valerin.
“Maaf, siapa?”
“Violet, bukankah itu nama kucing kesayangan keluargamu Valerin? Ah, kau banyak lupa ternyata.”
“Maaf, kenyataannya memang aku tak tahu menahu.”
“Jangan memasang wajah murung begitu, aku tahu kau hanya belum begitu sehat jadi tenanglah. Kau yang biasanya bersikap baik dan lebih dewasa, bahkan kau sering ke pusat kota hanya untuk bertemu anak-anak pinggiran jalan. Kau begitu baik Val, jangan memaksakan dirimu.”
Valerin menatap pangeran kedua Dust Bones itu, dia tak menyangka jika pangeran itu teramat baik menyampaikan kesannya terhadap Valerin “Terimakasih Alexander, sekarang aku tahu harus bagaimana.”Valerin menyunggingkan senyuman kecil, ia tak perlu bingung lagi sekarang yang harus dilakukannya adalah mengikuti alur aliran seorang Valerin Grayii.
“Sama-sama, kita berteman. Seharusnya kau tak sungkan, benar begitukan. Leon?”Alexander Caleum berucap setelah menegak secangkir tehnya.
“Benar Yang Mulia.”
“Bagaimana dengan Friday? Dia pelayan barumu selain Panacea. Wah, kediaman Manor ini juga lebih sepi dengan para pelayan. Tapi kurasa ini bagus, berarti kau nyaman dengan orang-orang kepercayaanmu. Sungguh benar-benar dirimu, Valerin.”
Terimakasih atas karakter Alexander Caleum yang banyak berbicara, Valerin jadi tahu jika sudah ada perbedaan disini “Begitu kah? Benar, aku nyaman dengan sedikit orang disekitarku.”Valerin tersenyum dengan isi kepala penuh. Alexander tak mungkin berbohong, dia banyak bicara dan tampak polos.
“Yang Mulia Pangeran Alexander, lebih baik kita kembali ke Istana. Anda pasti dicari-cari oleh Yang Mulia Raja Alphonse.”
“Ah benar juga! Kakak pasti mencariku, hehe... Kalau begitu terimakasih untuk hari ini Valerin. Sampai jumpa, selamat siang.”
“Iya, terimakasih Alexander. Maaf aku tak bisa menghantarmu sampai depan, Friday akan menghantar kalian.”Ucap Valerin sambil menatap kaki kanannya, akan merepotkan jika harus digendong oleh Friday. Untung saja, Friday tak keberatan. Yah, memang tugasnya juga.
Panacea yang sedari tadi hanya mengamati dari kejauhan, mulai mendekati Valerin yang masih duduk ditaman dengan seorang diri. Ia mendekati Valerin, sambil mengemasi peralatan set cangkir yang sudah dipakai oleh tamu-tamunya.
“Tuan muda, anda kenapa?”Ia melihat Valerin yang tampak melamun dengan tenang.
“Tidak apa-apa, ucapan Alexander membuatku kepikiran. Apa benar Friday pelayan baru?”
Panacea mengangguk kecil “Tuan Odolf, koki senior dikediaman ini. Dia yang mempersilahkan Friday menjadi pelayan, tapi tuan muda juga tak keberatan saat itu.”Ujar Panacea dengan dusta. Dia hanya ragu mengucapkan kebenaran, namun Friday bukan sosok bahaya untuk Valerin Grayii justru sebaliknya. Friday sangat dibutuhkan untuk berada disisi Valerin.
“Friday bilang, aku dan dia sudah sering bersama.”
“Iya tuan muda, anda begitu akrab dengan Friday. Maksudnya jika anda sangking akrabnya seperti teman lama. Kadang Friday memang suka berkata berlebihan.”Panacea tertawa hambar. Dia kerepotan menanggapi pertanyaan Valerin Grayii.
Friday terkekeh pelan, dia baru tiba dengan memandang raut wajah Panacea yang kikuk itu “Tuan muda, anda ingin melanjutkan pekerjaan atau ingin istirahat dulu?”
“Maaf Friday, bisakah bawa aku kembali keruangan kerja?”Valerin, dengan malu-malu merentangkan kedua tangannya. Dia tak mungkin meminta bantuan Panacea yang seorang wanita atau tuan Odolf yang sudah tua itu. Satu-satunya yang bisa menggendong dirinya dengan mudah hanya Friday.
“Baik tuan muda.”Friday tersenyum lebar, dia malah menyukai perintah ini.
Tubuh Valerin digendong dengan mudah, sama seperti sebelumnya. Friday membawa tubuh Valerin dengan cara bridal style. Dia tampak memasang raut wajah tenang dengan Valerin didalam gendongannya.
Valerin Grayii, harus menahan wajah memerahnya. Sampai di ruang kerja pun dia tampak menghindari tatapan Friday sangking malunya. Sebagai gantinya, Valerin sibuk memperbaiki kaki prostetik itu.
Hari larut malam, sekitar pukul sebelas malam. Valerin sedang duduk dibangku itu dengan raut wajah serius, ia masih berkutat disana.
“Friday, aku bilang kopi bukan? Kenapa malah susu?”
Friday tak mengiyakan. Dia meletakkan secangkir susu itu diatas meja kerja berantakan “Tidak baik untuk kesehatan Tuan muda, manusia harus makan-makanan sehat dan istirahat dengan cukup.”
“Uhm... motor penggerak di lutut, kemudian elektroda diletakkan di kaki Vawter agar dapat mendeteksi sinyal-sinyal elektrik dari kontraksi otot harmstring...”Valerin bergumam sendiri, ia masih berkutat dengan kaki prostetik itu.
Valerin Grayii, ia pun mengambil cangkir berisi susu hangat itu “Baiklah, akan aku minum...”Ia pun menegaknya sampai habis. Namun, Valerin masih melihat kaki prostetik yang sudah nyaris sempurna itu.
Raut wajah serius Valerin Grayii, tampak begitu manis. Friday sampai tertegun beberapa saat “Bagaimana tuan muda? Apa ada yang belum selesai?”
“Uhm, rasanya sudah beres. Mungkin bisa dicoba besok pagi, benarkan Friday?”Valerin menatap Friday setelah sekian lama bergumam seorang diri dan mengabaikan pelayannya itu.
.
.
.
Seiring pagi pun tiba, Valerin meregangkan tubuhnya. Dia mengenakan piyama putih kebesaran milik sang kakak. Ia pun tahu, orang-orang sekitarnya tak lama lagi akan menyadari perbedaan antara Valyria dan sang Earl Grayii. Sebelum itu, beberapa hal harus sudah dipastikan.
“Ah iya, surat kemarin belum kubaca.”Valerin menatap surat diatas nakas meja tepat disampingnya, Valerin pun meraih surat itu tanpa ia sadari sebuah buku dan kunci ada di nakas meja. Valerin mengeryit heran.
“Selamat pagi tuan muda, pancakes dengan madu dan teh panasnya.”Friday mendorong Trolly.
Valerin menunjuk nakas meja “Buku itu?”Kata Valerin menatap horror Friday.
“Benar, buku agenda tuan muda dan kunci cadangan manor ini. Kenapa tuan muda? Apa anda tak mengingatnya?”
Valerin mengangguk pelan “Percuma menjelaskannya, Friday akan menganggap candaan. Tentang diriku ini.”—Valerin beralih membuka secarik surat itu, dia mulai membaca tulisan tangan sang raja Dust Bones ini “Friday, seperti apa Yang Mulia Alphonse Caleum ini?”Valerin meletakkan secarik surat itu usai dibacanya, ia beralih dengan teh hangat buatan Friday.
“Pria yang mengayomi rakyat, pria dewasa yang membosankan dan baru dilantik beberapa bulan lalu.”Suara Friday terucap teramat datar.
“Eh?”
“Kenapa tuan muda?”
Saat itu Valerin mendengar suara Friday yang tak seramah seperti biasanya. Mungkin perasaannya saja tapi Friday benar-benar berwajah masam saat ini “Ah, begitu ya. Friday hari ini aku akan mencoba kaki prostetik, apa kau punya waktu luang?”ia duduk dipinggiran ranjang kasur.
“Tentu saja, tuan muda. Friday akan membantumu.”Kini, raut wajahnya kembali seperti semula. Seulas senyuman tampan, dengan raut wajah ramahnya.
Wajah Valerin menelisik Friday dengan aneh “Dia kenapa?”
Valerin Grayii, ia memilih mengabaikan gelagat aneh Friday. Kemudian gadis itu, meraih sepiring pancake yang diberikan oleh Friday “Uhm, Friday...”Panggil Valerin.
“Kenapa tuan muda?”
“Kau tahu, sulit berjalan tanpa kaki bukan? Hari ini aku akan mencobanya. Kau mau membantu?”
Friday menuangkan teh kedalam cangkir “Kebetulan, dokter Louisa juga akan datang kemari. Tuan muda, pasti akan segera pulih.”
“Friday...”
“Kenapa tuan muda?”
“Apa kau tahu,... aku ini perempuan?”
Friday, pelayan rupawan itu sedikit tertegun. Dia mengulum senyuman dulu, kemudian membantu Valerin meletakkan cangkir dan piring pada trolly “Sangat tahu tuan muda.”Ucap Friday tanpa berkata apapun lagi seraya mendorong trolly makanan “Kalau begitu permisi, setelah ini tuan muda akan membersihkan diri.”
“Friday! Kalau itu, biar Panacea saja yang membantu.”
Friday membungkuk sedikit “Baik, tuan muda.”Ucapnya seraya menghilang dari pintu kamar yang ditutup itu.
“Oh ya, oh ya... Lihatlah siapa yang menguping disini?”Friday tersenyum, melihat Panacea yang berdiri didepan pintu kamar Valerin Grayii.
Gadis bergaun maid itu hanya menghela nafas “Berjaga-jaga tentu saja, bagaimana mungkin tenang membiarkan predator sepertimu berkeliaran disekitar seorang Valyria?”Panacea mendekati pintu kamar, ia memengang gagang pintu “Pergilah, aku akan membantu Valyria membersihkan diri.”
“Seperti itulah permintaan tuan muda. Tak perlu repot mengatakannya.”
“Menjijikkan. Kau menikmati permainan peran ini, bukan begitu Yang Mulia Frederitch Drew Raymond?”
Seringai lebar, dengan deretan gigi putih dikedua sisi ada taring yang runcing “Yah, sebaiknya kau bisa menjaga rahasia. Panacea...”Ucap Friday sambil berjalan menjauhi gadis itu.
.
.
.