Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Episode 38




“Val, apa yang sudah kau lakukan?” Friday baru tiba bersama dua anggota lain dari Paladin of Dustbones. William Rovana dan Leon Sirius. Atas permintaan Valerin, Friday dengan senang hatinya membawa kedua orang itu.


Valerin menyeka keringatnya, berada diruangan pabrik keluarga Grayii. Pabrik yang sudah lama ditinggalkan itu kini disulap seperti ruangan berteknologi muktahir. Setidaknya gadis bersurai pendek ini sudah mempermak pabrik itu menjadi markasnya.


“Tidak ada, hanya memperbaharui beberapa alat yang ada disini.” Valerin Grayii memberikan ketiganya tiga buah chip berbentuk earphone “Mampu melacak keberadaan, alat komunikasi, dan radar koordinat. Bisa digunakan untuk musuh.” Ucap Valerin sambil berjalan ke arah komputer yang ada ditengah-tengah ruangan itu dengan layar monitor tipis transparant “Keluargaku, ayah dan ibuku berserta kakakku. Membuat dan menitipkan semua peralatan ini bahkan tanpa Dustbones dan Crave Rose tahu.” Valerin Grayii tersenyum kecil.


“Val kau bercanda? Ini sangat luar biasa.” Ucap Friday.


“Yah. Seharusnya...”


Panacea Erie juga baru memasuki ruangan itu, ia menatap Valerin Grayii “Tuan muda, kendaraanmu sudah selesai sesuai permintaanmu.” Ucap Panacea.


“Apakah kalian bisa menjelaskannya pada kami?”


Valerin Grayii menjentikkan jemarinya “Sebelum itu apakah diantara kalian berdua ada yang bisa mengakui? Siapa yang mengatakannya kepada Al?” Valerin Grayii terkekeh kecil.


William Rovana mengangkat tangan “Alphonse hanya bertanya padaku kemana kau saat itu. Kupikir, dia tak melakukan hal berbahaya kepadamu bukan?”


“Nyaris. Tapi tak juga.” Valerin Grayii kembali sibuk dengan komputer raksasanya itu, sinar pada setiap panel berwarna violet seperti kedua matanya “Setidaknya arsip yang ada didalam benda ini cukup mengatakan sesuatu yang sebenarnya. Obscure bukanlah sebuah wabah tanpa penyebab. Manusia membuatnya dari pecahan komet yang sudah terinfeksi oleh sesuatu penyakit yang bukan berasal dari bumi.” Valerin Grayii menggeser panel layar yang menampilkan gambar sebuah batu bercahaya kemerahan “Kemudian, setelah berhasil menyaringnya, inti dari batu ini memiliki energi.” Valerin Grayii menatap Friday.


“Energi bagi manusia menjadi kesembuhan, kekuatan dan kemurnian. Inilah asal kaum Gandaria, warna violet setelah penyaringan energi itu sementara merah adalah lapisan yang sudah terkontaminasi seharusnya dimusnahkan.” Dengan tatapan was-was Valerin kembali mengobrak-abrik seluruh arsip dalam dokumen diruangan itu. Secarik kertas terbang keluar diantara tumpukan berkas itu.


Friday memungutnya, itu sebuah foto “Seperti ayahku, ratu Alexandria, dan siapa wanita ini?” Friday memberikannya kepada Valerin.


“Oh, tidak... Ini ibuku.” Valerin Grayii menatap dengan sendu “Ibuku? Ibuku menyeberangi masa yang juga berbeda sepertiku?” Valerin Grayii menggeleng “Itu tak penting, ibu dan ayahku berasal dari jaman yang berbeda. Kini ras vampir, iblis dan manusia pun ada. Tak penting, yang penting bagaimana cara mengakhiri wabah ini dan mengembalikan mereke seperti semula.” Ucap Valerin Grayii.


“Earl, anda mengatakan jika Crave Rose bukan masalah prioritas saat ini?” Leon Sirius tampak menatap Valerin dengan tak suka.


Valerin Grayii paham, ia mendekati pria itu kemudian memengang bahunya “Crave Rose, bukan masalah dan bukan ancaman. Jika kita bisa bersama-sama menyakinkan mereka. Crave Rose dan DustBones akan bersama memerangi energi merah ini, asal dari Obscure itu sendiri.” Ujar Valerin Grayii.


“Earl kau tak mengerti, ras kita juga nyaris musnah di era ini. Sebagian besar terinfeksi obscure dan sebagian lagi mati ditangan para Vampir!” Leon Sirius berteriak dihadapan wajah Valerin.


Sebaliknya Valerin mengerti arti tatapan itu “Aku tahu... aku juga kehilangan keluargaku.” Valerin Grayii tersenyum “Tapi kita harus bergerak maju Leon, menyelamatkan jiwa yang masih hidup bersama harapan kita bukan?”


“B-bagaimana kau tahu?” Leon Sirius menatap Valerin dengan tak percaya “Keluargaku sudah dibantai kaum vampir. Seluruh warga desaku.” Pria itu melirik Friday dengan tajam.


“Aku tahu...” Valerin Grayii bergantian berdiri disamping Friday “Frederitch berada dipihak kita, informasinya mengenai Crave Rose yang akan menyerang Dust Bones. Dia tersenyum diantara anak-anak manusia yang berada bersamaku, sebaliknya kau juga begitu Leon. Tak semua vampir itu jahat, dan tak semua manusia itu baik. Iblis pun ada yang berpihak padaku, kita harus bekerja sama. Percaya satu sama lain.” Valerin berucap dengan tenang, kali pertamanya seorang yang kerap merasa seorang diri sangat ingin bersama-sama dengan orang-orang yang dipercayanya.


“Crave Rose hanya ingin memperluas wilayahnya, ambisi rakus itu sudah tak bisa kuterima lagi. Sekali lagi, izinkan aku bergabung dengan Paladin of DustBones.”


“Yah, kawan. Aku setuju.” Wiliam Rovana menepuk pundak Friday.


“Yang Mulia Pangeran Frederitch selamat datang kembali.” Panacea Erie mengangguk dengan hormat.


Valerin melirik Leon Sirius, saat pria itu juga menatapnya Valerin mengangguk sembari tersenyum “Kita bisa melakukannya bersama Leon...” Ucap Valerin dengan lembut.


“Baiklah, Yang Mulia Frederitch.” Leon memberikan tangannya.


“Terimakasih Leon...” Friday meraih tangan Leon untuk berjabatan tangan.


Valerin Grayii kembali menatap panel layar monitor “Baiklah, untuk tahap pertama kita harus memantau armada perang Crave Rose dan mencari wilayah-wilayah yang terkena wabah Obscure kemudian mengumpulkan mereka yang terinfeksi menjadi satu wilayah.” Ucap Valerin sambil menatap layar monitor “Tim akan dipecah menjadi dua, Friday dan Leon kalian paling cocok memantau armada perang Crave Rose. Panacea dan William kalian akan mencari wilayah yang terkena wabah obscure.”Ucap Valerin lagi.


“Ha?! Kami mencarinya kemudian apa lagi? Lebih spesifik Val.” William tampak mengeryitkan dahinya dengan heran.


“Ini...” Valerin Grayii mengeluarkan sebuah kotak, berisi alat yang mampu menadai daerah “Kedua tim akan memasang benda ini, kita akan melakukan track dan mapping yaitu menandai wilayah dan lokasi. Informasi ini akan kita tampung.”


“Untuk apa mengetahui armada perang Crave Rose?”


“Pertanyaan sempurna Leon, kita harus tahu persiapan mereka. Kita tak akan membiarkan perang terjadi, jika tahu kondisi persenjataan mereka mungkin aku dan Panacea bisa meretas pusat komunikasi dan mengacaukan strategi penyerangan Crave Rose. Sementara itu meredam Dust Bones dengan cara mengembalikan seluruh yang terinfeksi Obscure menjadi sediakala.” Valerin Grayii memengang dagunya sendiri.


Panacea Erie mulai berbicara “Itu berresiko untukmu tuan muda.”


“Aku tahu, mengendalikan sebanyak Obscure itu pasti menguras energi. Tapi itu jalan satu-satunya.” Valerin Grayii tersenyum “Maka dari itu aku butuh bantuan kalian.” Ucapnya lagi.


“Okay Capt!” William Rovana menjentikkan jemarinya “Kau leader kami lakukan yang kau bisa Val.”


“Yah senang kau kembali. Leader.” Ucap Leon Juga.


“Val... Kemari.” Friday langsung memeluk Valerin “Aku tetap melindungimu.”


Valerin Grayii tersenyum kecil “Yah aku tahu.”