
.
.
.
“Kurasa ini bukan rute menuju manor?” Valerin Grayii bersama Friday berada dipacuan kuda yang sama “Bukankah kita harus melewati pusat kota?” Tanya Valerin Grayii.
Angguk Friday, sesekali mengecup puncak kepala Valerin Grayii “Seharusnya, tapi tidak untuk sekarang. Beberapa rute umum pasti sudah dicegat untuk menangkapmu.” Friday memacu kudanya melaju “Dan aku tak mungkin membiarkan itu terjadi...” Katanya lagi.
Valerin Grayii tahu, dia menyentuh punggung tangan Friday “Tapi rute ini bukan rute yang terbebas dari obscure... Lihat, mereka banyak didepan kita.” Valerin remat tangan pria itu dengan erat. Jarak yang jauh dia tahu, dia rasakan sementara kuda yang mereka naiki pun sama. Mundur karena merasakan ketakutan itu.
“Tenanglah... tenang.” Friday mengusap kudanya, tiba-tiba saja kuda itu bergerak tanpa panduan dari pria bersurai pirang itu.
Valerin dan Friday saling bertatapan, mereka sekarang sudah sadar bahaya didepan mereka. Suara kaki dan erangan bukan hanya satu orang tapi puluhan.
“Sekarang apa?” Valerin bertanya, tanpa senjata dan ketidaktahuannya.
“Aku melindungimu.” Tangan Friday yang masih memiliki simbol mantra dari Panacea membantu, seperti energi tambahan dari Panacea. Pria itu memacu kudanya kearah yang berlawanan “Pegangan, kedua tanganku akan sibuk.” Ucap Friday.
Valerin tidak tahu, tapi dia menuruti. Melingkarkan kedua tangannya pada leher tegap Friday, kedua tangan kecil Valerin meremat dengan kuat. Getaran dan goyangan kuda yang terpacu kuat itu sungguh gila “Aku bisa mabuk berkendara...” Celetuk Valerin.
Pedang yang sejak tadi terbungkus didalam sarungnya, Friday buka dalam sekali tebasan. Sepanjang jalan, ia mengayunkan pedang itu untuk membuka jalan dari orang-orang obscure yang terus mendatangi mereka “Val, pegang kendali ini.” Friday memberkan tali yang terhubung pada kuda ke tangan Valerin.
“Ha?! Kau memintaku memacu kuda sendirian?”
Friday mengangguk “Aku akan didepan, membuka jalan untukmu. Sesudah itu pacu kuda ini sampai keluar hutan. Mengerti?”
“Ha?!” Valerin menatap Friday sudah melompat dengan gesit, ia menghadapi orang yang terkena Obscure mirip seperti mayat hidup itu seorang diri.
“Terus jalan!” Friday memerintah Valerin Grayii.
Valerin, cukup terkesima dengan sepasang iris ruby terang dari Friday. Kekuatannya berkali-kali lipat menebas dan bergerak dengan cepat membasmi seluruh mahluk obscure itu “Tsk.” Valerin mendecih, kesal tak bisa membantu hanya bisa memacu kuda hitam ini bergerak keluar dari hutan seperti ucapan Friday.
Valerin menarik kekang dengan sekuat tenaga, kuda itu berhenti tepat didepan hutan gelap nan rimbun. Valerin grayii turun dari kuda itu sambil memengang hackamore hitam yang melekat di mulut sang kuda, ia berdiri disamping kuda itu sambil memengangi hackamore, takut jika kuda itu melarikan diri.
“Friday...” Valerin Grayii bergumam, ia tak bisa melanjutkan perjalanan tanpa si surai keemasan itu.
Friday keluar dari hutan dengan langkah kaki yang pelan, wajahnya masih belum tampak karena minim penerang dimalam ini. Saat, rembulan bercahaya. Valerin Grayii bisa menatap wajah Friday serta sekujur tubuhnya yang penuh dengan noda kemerahan.
“Friday!” Valerin tadinya berseru senang, tidak setelas melihat iris mata merah yang mengecil itu. Selain tatapan buas, tak ada tatapan teduh seorang Frederitch Drew Raymond dalam iris raven blue-nya.
Brukhh—Jatuh terbaring ditanah berrumput itu. Valerin Grayii merasakan kedua bahu sempitnya dicengkeram keras oleh Friday yang menindih diatasnya, tatapan buas kelaparan itu menatap wajah Valerin yang diam dengan tenang.
Kraukk...
“Ssshhh...” Valerin Grayii mendesis, terasa perih tak ketara pada perpotongan leher kanannya. Gigi runcing yang tajam menancap disana, mengigit berulang kali hingga darah segar seorang Valerin Grayii keluar dengan deras.
“Aku sudah mati sekali.” Kata Valerin Grayii “Kau ingin membuatku mati kedua kalinya, Frederitch?” Valerin Grayii melirik Frederitch yang menggila disana, dia terus menghisap darah Valerin Grayii dengan rakus “Leherku bisa saja putus, asal kau tahu.” Valerin Grayii menghela nafas. Kepalanya terasa pusing dan lemas, wajar saja darahnya banyak keluar saat ini.
Valerin Grayii mengadahkan tatapannya menatap langit kelam dengan hamparan bintang yang terang itu, kedua matanya sayu menatap hamparan bintang itu “...L’Histoire se Répète” Lirih kecil Valerin Grayii sebelum ia seutuhnya tak sadarkan diri.
“Valerin! Bangun, hei!” Ia menyesal, segera digendong tubuh kecil itu kedalam dekapannya “Maafkan aku Val, sungguh maafkan aku...” Friday membawa tubuh Valerin, ia memacu kudanya lagi menuju kediaman Grayii yang sudah tak begitu jauh itu.
***
Panacea Eerie berdiri didepan halaman manor Grayii, dia menanti kedatanagn sang tuan muda yang tak kuncung datang. Tatapannya mulai cemas, takut terjadi sesuatu kepada sang tuan muda.
“Nona Panacea, anak-anak sudah tertidur di kamar mereka.” Ucap Cerise melapor kepada gadis bertudung hitam itu.
“Terimakasih Cerise, maaf merepotkanmu.”
“Tidak masalah nona Panacea, master kemana?”
Panacea menggeleng kecil “Dia bersama pangeran Frederitch, seharusnya sudah tiba.” Panacea berucap sambil menatap jalan luas yang membentang diantara kebun hortensia itu. Kedua iris hazelnya melebar dikala melihat Friday yang menggendong tubuh Valerin memacu kudanya dengan laju.
“...Tubuhnya begitu lemas!” Saat tiba, Friday langsung menggendong tubuh Valerin memasuki manor itu “Tanpa jantung, aku tak bisa memberi sihir pemulih kepadanya.” Ucap Friday lagi, ia masuk ke ruang tamu kemudian meletakkan tubuh Valerin Grayii ke sebuah sofa panjang.
“Master...” Cerise menyentuh punggung tangannya “Semuanya lemah.” Kata Cerise.
Panacea mengangguk “Kau hilang kendali bukan, Vampir?” Ucap Panacea dengan nada dinginnya “...Tuan muda, bangunlah...” Panacea mencoba membangunkan Valerin.
“Maaf, aku tahu ini resikonya.” Friday berdiri dengan gelisah, dia tak bisa melihat Valerin seperti itu “Lakukan sesuatu! Kau sudah membuat kontrak padanya bukan?”
Panacea mendelik, dia cukup kesal dengan Friday “Suva Videnca...” Cukup menyebutkan mantra seraya menyentuh dahi seorang Valerin, perlahan-lahan tubuhnya kembali memulih. Baik itu dari luka, energi yang kurang dan tenaganya.
“Kau harus tahu satu hal vampir!” Sergah Panacea “Aku bukan penyembuh, sekali lagi hal ini terjadi aku tak bisa menjamin kesembuhannya.” Ucap Panacea sambil menunjuk Frederitch.
Panacea kembali menatap Valerin yang tertidur pulas itu “Ah, sudahlah...” Akhirnya Panacea beralih masuk kedalam manor “Kau bisa memindahkannya kekamar bukan?” Ucap Panacea kepada Friday.
“Akan kulakukan...”
“Baiklah, aku harus membersihkan hama disekitar kediaman ini. Ayo Cerise.” Ucap Panacea lagi.
“Baik, nona... Yang Mulia master baik-baik saja, kemapuan regenerasinya saja yang belum bangkit. Harap Yang Mulia membina master seperti yang master Valerin ucapkan.”
Friday mengangguk “Itu pasti.” Friday menatap Cerise, dia menghela nafas “Oh ternyata kau seri pertama.” Friday menyadari sesuatu, bahkan ia nyaris tahu seluruh penemuan sahabatnya.
Cerise mengangguk, ia pun berjalan menyusul Panacea.
Menyisakan Friday dan Valerin, pria itu mendekati Valerin yang tertidur pulas. Wajahnya disentuh dengan ujung jemarinya yang dingin. Friday menggeleng, ia pun segera menggendong tubuh Valerin Grayii dengan mudah.
“Val, kulakukan sebisaku untuk melindungimu. Jika terlanjur terlambat jangan ragu untuk mengakhiri hidupku.”
.
.
.