Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Episode 32




.


.


.


“Kalian, kumohon jangan makan dulu!”


Valerin Grayii, menyesal akan kebodohannya “Sial!” Valerin meruntuki dirinya. Dia tak dapat berbuat banyak, ketika makanan yang dicampur oleh serum Obscure bersatu dengan makanan anak-anak. Akibatnya, beberapa anak yang sudah makan makanan tersebut mendadak terinfeksi oleh virus Obscure.


“AKU SUDAH MENGUTUSMU MENGAWASI DIA!” Valerin memekik, amarah membumbung tinggi. Ia tatap Panacea Eerie dengan tatapan murkanya, Valerin sudah sejak awal curiga dengan panti asuhan ini. Tapi tidak menduga hal lebih parah malah terjadi


“Tuan muda, maafkan Panacea.”


“Tch. Ayo!” Valerin Grayii menggendong tubuh Elmer yang memang begitu mungil “Kalian belum makan apapun bukan?” Setidaknya Valerin sedikit lega, kelima anak-anak itu belum sempat memakan makanannya.


“Belum tuan...” Mereka menjawab serempak.


Valerin Grayii menatap Cerise “Bawa anak-anak ini keluar dari panti asuhan, jaga mereka seolah-olah kau memengang jiwaku. Ini perintah!” Ucap Valerin Grayii memberikan Elmer kepada Cerise.


“Baik master...”


“Bagus, kemudian cari bantuan jika kau melihat polisi kerajaan yang sedang patroli. Ucapkan padanya jika aku butuh anggota paladin kemari.”


“Baik Master...”


Valerin Grayii mengangguk “Sekarang pergi!” Perintah Valerin Grayii dengan kedua matanya yang menyalang.


Valerin Grayii pun bertahan diruangan itu, menatap nyonya Hugh dan para pelayannya yang hendak kabur juga “Panacea jangan biarkan mereka kabur, sementara itu aku akan mencoba mengobati anak-anak yang terinfeksi.” Ucap Valerin Grayii.


“Baik tuan muda.” Melesat Panacea dengan cepat.


“Kau bisa mengendalikan orang yang terinfeksi Obscure, karena kau memiliki kemampuan itu, aku tahu kau bisa melihat jiwa yang akan atau sudah mati, buatlah kesepakatan dengan mereka kemudian tundukkan mereka dalam perintahmu.”


“Oh ya Tuhan...” Valerin Grayii menatap dengan gemetar pada kedua matanya, menutup mulutnya dengan tangan kanan. Valerin Grayii tahu ia sudah terlambat, yang bisa ia lihat hanyalah anak-anak lain yang menjerit kesakitan. Menunggu hidup mereka digerogoti oleh virus obscure itu sendiri, bahkan beberapa diantaranya jiwa mereka sudah menguar pada pandangan Valerin Grayii “Maafkan aku...” Valerin Grayi mengepalkan kedua tangannya.


“Apa tujuanku hidup?”


“Kenapa aku harus hidup?”


“Kenapa hidupku tetap berlanjut?”


Valerin Grayii bertanya pada dirinya sendiri, dia tak tahu cara mengendalikan yang terinfeksi Obscure seperti penuturan kakaknya “Tidak semudah itu.” Ucap Valerin Grayii tersenyum nanar sambil berjalan mendekati mereka, sudah seutuhnya berubah menjadi lebih agresif bisa saja Valerin bahkan diserang dengan membabi buta. Namun ia tak perduli, meraih pisau makan yang tergeletak di meja panjang itu “Nah, aku harus apa?” Valerin Grayii sengaja menggoreskan pisau itu pada lengannya.


Mengorbankan diri. Valerin Grayii jauh lebih iba dengan anak-anak itu, dibandingkan hidupnya sendiri “Selamat tinggal, Frederitch...” Kedua kelopak mata Valerin Grayii tertutup. Suara erangan mereka didengar semakin mendekatinya, Valerin Grayii tersenyum.


Aroma harum musky dari bunga Erythranthe moschata merebah ruah diindera penciumannya. Aroma maskulin yang segar dan nyaman. Valerin Grayii mencium aroma itu tepat dibelakangnya.


Srayshhh...


Saat Valerin Grayii membuka kedua matanya dengan perlahan, ia bisa melihat punggung kokoh seorang pria yang berdiri membelakanginya. Mengenakan jubah merah marun, sang surai keemasan yang berdiri sembari memengang sebuah pedang ditangan kanannya.


Bagaimana mungkin Valerin Grayii bisa lupa? Akan sosok yang amat dirindukannya ini “Frederitch...” Panggil Valerin Grayii dengan begitu lirih.


Pria itu menoleh sambil tersenyum “Hai... Valerin.” Sepasang iris Raven blue itu menatap dengan teduh.


Direntangkan kedua tangan Valerin Grayii, berlari dengan cepat untuk menghamburkan pelukan kepada pria itu “Friday! Friday! Friday!” Panggil Valerin Grayii berulang kali ketika sudah menubruk dalam pelukan tubuh tegap itu.


“A-aku... terpaksa membunuh mereka. Maafkan aku...” Friday menutup kedua kelopak mata Valerin Grayii dengan tangan kirinya yang besar itu “Tidak punya pilihan lain lagi.” Friday pun menatap pedangnya yang berlumuran darah itu, mana mungkin ia membiarkan anak-anak yang terinfeksi itu menyerang gadis kesayangannya ini.


Valerin Grayii masih terkejut, dirudung perasaan yang bercampur. Ia memilih diam sambil meremat pakaian Friday dengan erat “Aku juga tak berguna, aku tak bisa menyelamatkan mereka.” Ucap Valerin Grayii.


Friday yang mendengar hal itu langsung mengecup puncak kepala Valerin Grayii “Kau tak salah, kau hanya masuk kedalam jebakan Alphonse.” Ucap Friday “Kemudian, aku tak bisa menggunakan kekuatan sihir. Mereka menyegel jantungku, maaf... kuharap lain kali keamananmu akan menjadi prioritasku.” Lanjut Friday lagi.


“Tuan muda!” Panacea setengah berteriak “Cepat keluar dari sini tuan muda!” Ujar Panacea lagi.


“Apa yang terjadi? Dimana nyonya Hugh?”


Panacea menatap Friday saat itu, mereka sudah sama-sama serius kemudian mengangguk satu sama lain seolah sudah memahami kejadian ini “Aku akan menyusul Cerise dan anak-anak, tuan muda harus menghindar dari pasukan khusus yang sudah mengepung gedung ini.” Ucap Panacea kepada Friday.


“Mereka bertindak lebih cepat dari dugaanku.” Friday tampak menahan amarah, ia mengeraskan rahangnya “Aku bersama Valerin. Sebaiknya kita bertemu di Hortensiaburg.”


Panacea mengangguk “Ini tak bertahan lama tapi bisa membantumu sedikit bertenaga.” Ucap Panacea kepada Friday sambil menggambarkan simbol pada telapak tangannya “Tuan muda ayo... aku akan membuka jalan untukmu melarikan diri.” Panacea merapalkan sebuah mantra lagi. Semua pergerakan berhenti, waktu berada dalam jeratannya.


“Ayo...” Friday menarik pergelangan tangan Valerin.


Mereka bertiga keluar dari gedung panti asuhan, bisa dilihatnya pasukan khusus dari kerajaan DustBones dengan sengaja mengepung tempat ini. Tapi mereka tak bergerak sama sekali, berkat sihir Panacea.


Setidaknya mereka sudah keluar dari gedung panti asuhan itu “Aku akan mencari Cerise dan anak-anak.” Panacea menjentikkan jemarinya, ia merubah pakaian maidnya menjadi gaun hitam dan jubah hitam “Maaf atas penampilan ini tuan muda.” Panacea tersenyum sambil mendekati Valerin Grayii “Jangan terpisah dari Pangeran Frederitch, aku tahu kau sangat ingin anak-anak itu selamat melebihi nyawamu sendiri.” Panacea meraih tangan Valerin Grayii, kedua mata hazelnya menatap langsung violet terang itu


“...Kau memang baik, diphylleia grayi.” Panacea pun melesat dengan kilat. Menghilang dari pandangan Valerin Grayii dengan cepat.


Friday kembali menarik Valerin Grayii menuju halaman belakang, disana sudah ada kuda hitam yang menunggunya. Tanpa berkata apapun lagi, pria itu menggendong Valerin menaiki kuda itu bersamanya “Pegangan...” Perintah Friday kepada Valerin yang ada didepannya.


“Kita akan menghindari mereka dulu.” Ucap Friday sambil memacu kuda hitamnya ini bergerak dengan cepat.


Valerin Grayii mengedip-ngedipkan kedua matanya “Siapa?”


“Sihir Panacea tak bertahan lama saat sang perapal mantra menjauh dari jangkuan sihir penjerat waktu. Sekarang, pasukan itu pasti sudah menyadari kalau kita semua melarikan diri.” Friday mendecih kecil “Apakah kau mengatakan pada seseorang jika Crave Rose akan menyerang Dust Bones?”


Valerin Grayii mengangguk “Viscount Rovana dan Leon tahu.”


“Berarti diantara mereka berdua sudah memihak pada Alphonse.”


“Maksudmu?”


“Menurutmu untuk apa virus Obscure itu tercipta?”


Valerin Grayii terdiam ia tak tahu. Tak bisa menjawab pertanyaan dari Friday sang pelayan berkedok pangeran itu.


“Sejak awal Obscure diciptakan sebagai perlawanan terhadap Crave Rose. Alphonse tahu hal itu, dia ingin menggunakanmu untuk mengendalikan pasukan dari yang terinfeksi Obscure.”


Sepasang mata raven blue seorang Frederitch Drew Raymon atau Friday ini berubah memerah terang “Melawan Crave Rose dalam pertempuran...” Ia memandang jauh jalanan berbatu yang memasuki jalan berhutan.


“Tapi tak masalah...” Pria itu bergantian menatap Valerin “Karena aku bersumpah akan melindungimu...” Katanya lagi.


Sepasang iris crimson itu membias oleh sinar rembulan yang terang. Sepasang iris merah menyala mahluk immortal tak berjantung, mahluk yang seharusnya sudah mati “Friday...” Valerin Grayii bisa merasakan kebangkitan itu, kekuatann yang tak main-main tengah merengkuh tubuhnya dengan erat.


.


.