Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Episode 21




Happy Reading


.


.


.


 


Valerin Grayii, berada pada sebuah kereta kuda dalam perjalanan menuju istana kerajaan DustBones. Dari jendela yang dibiarkan terbuka, ia memandang beberapa anak-anak berdiri didepan sebuah restoran. Valerin mengetuk langit-langit kereta, menandakan ia ingin berhenti sejenak.


“Tuan muda, kenapa?” Friday langsung turun dari bangku kusirnya untuk menghampiri Valerin didalam kereta.


Valerin Grayii menggeleng pelan, wajah manisnya memasang raut yang datar. Ia menuruni tangga, mendekati anak-anak itu.


“Ah! Lihat-lihat itu tuan baik hati!” Seru salah satu anak, kemudian diikuti beberapa anak-anak jalanan lainnya “Wah, tuan lama sekali tidak kemari!” Pancaran tawa mereka menyambut Valerin Grayii.


Simpul senyuman nanar dari seorang Valyria didalam Valerin Grayii. Dia tahu, setidaknya buku catatan sang kakak sudah memberitahunya. Mengenai anak-anak jalanan di pusat kota yang gemilang, terlantar dari perhatian para bangsawan.


“Manusia, di zaman manapun tetap sama ya?”


“Tuan berkata apa?”


Valerin Grayii langsung menggeleng “Bukan apapun, oh iya kalian tinggal dimana?”


Mereka semua sama-sama menggeleng, tidak ada perkataan apapun lagi. Valerin Grayii pun tersenyum pelan “Apa kalian sudah makan?” Valerin Grayii tentu memiliki kepribadian yang beda dari Valerin Grayii yang asli.


“Tuan, apakah tuan sedang sakit?” Salah satu anak memengang ujung mantel Valerin.


“Iya, apakah tuan sakit? Tuan berbeda dari sekarang begitu murung.”


“Bahkan anak-anak bisa merasakan perbedaannya.” Valerin Grayii hanya bisa berkata didalam hatinya. Dia pun memberikan beberapa lembar uang dari dompetnya “Ayo makan.” Ajak Valerin Grayii memasuki restoran itu bersama mereka semua.


Tindakan berani Valerin Grayii menjadi sorot tatapan semua pelanggan yang tentu sebagian besar berasal dari kalangan bangsawan. Setidaknya berkat Valerin Grayii, mereka memesan tiga buah meja makan dengan set makan penuh.


“Bawakan makanan yang mereka pesan.”


“Baik tuan.”


Valerin Grayii menduduki tubuhnya diantara anak-anak itu “Makan ya, pesan yang kalian suka setelah itu aku harus pergi karena memiliki urusan.”


Friday, sedari tadi hanya bisa mendampingi Valerin Grayii. Dia turut tersenyum nanar, mengingat akan tindakan sang sahabat yang sama dengan Valerin. Walaupun tindakan jauh lebih berani dari pada sang kakak.


“Tuan muda, pembayaran.”


Valerin memberikan kantung dompetnya kepada Friday “Ah iya, tolong ya Friday...”


“Baik tuan muda.”


Valerin Grayii tak buta melihat banyak pelanggan yang menatapnya dengan sinis, namun Valerin berusaha mengabaikan. Gadis berpakaian selayaknya laki-laki itu membenahi dasi pitanya yang terasa gerah. Sebenarnya gerah untuk menyergah pelanggan lainnya.


“Tch.” Valerin mendecih.


Friday yang tiba disamping tuan mudanya segera menggengam pundak Valerin “Lebih baik biarkan saja tuan muda.” Ucap Friday menenangkannya.


Valerin Grayii tidak habis berfikir, sepertinya masalah kehidupan dimanapun nyaris sama. Valerin Grayii mengangkat sedikit topinya, mengucapkan salam perpisahan kepada anak-anak itu. Mereka berpisah di pusat kota.


“Terimakasih tuan baik!” Anak-anak jalanan itu melambaikan tangannya kepada Valerin yang menaiki kereta kudanya.


Valerin menompang dagunya sendiri, kini ia memandang bosan pemandangan jalan menuju jalan ke istana “Apakah aku harus mengatakan hal ini kepada Yang Mulia Alphonse ya? Seperti membuat tempat panti asuhan untuk anak-anak itu...” Valerin berpikir sendiri sampai-sampai ia tak sadar jika sudah berada di depan istana Dust Bones.


“Tuan muda kita sudah sampai.” Ucap Friday sambil membukakan pintu kereta kuda Valerin.


Kedua mata Valerin mengedip-ngedip lucu, ia terkejut sebenarnya “Oh, ah... iya...” Valerin menuruni tangga, tak lupa dengan beberapa gulungan kertas yang dibawa bersamanya. Berisi laporan misi terdahulu.


Valerin berjalan berdampingan dengan Friday sang pelayan. Biarpun tahu kebenarannya, tapi mereka tetap bersikap seperti ini “Aku belum sempat menanyakannya kepadamu, apakah Vampir dan manusia tidak bermusuhan?” Ucap Valerin.


“Seharusnya seperti itu tuan muda.”


“Bukankah kita sama?”


Friday membulatkan kedua raven bluenya “Maaf tuan muda?”


Valerin yang berhenti pada sebuah koridor berjendelakan kaca itu, terpias oleh sinar mentari hangat sehingga binar kedua iris violetnya berkilau ketika sang empunya mata membalikkan tubuhnya menghadap seorang Frederitch Drew Raymond sang pangeran ketiga kerajaan musuh.


Valerin tersenyum “Kita sama, kami manusia juga hidup berdampingan dengan yang jahat dan baik. Begitupula dengan vampir, kalian juga ada orang baik yang bisa berteman dengan manusia bukan?” Wajah manis Valerin menjadi pemandangan terindah saat itu.


Friday, sampai harus mengalihkan tatapan sejenak. Dia tak mampu menatap keindahan adik dari sahabat terdahulunya ini “Tuan muda, kau tak salah mengatakannya.”


“Syukurlah...” Valerin pun kembali membalikkan tubuhnya, dia melangkah lebih dulu “Karena hidup berdampingan dengan vampir, bukan sesuatu hal yang buruk.” Ucap Valerin lagi.


“V-A-L-E-R-I-N” Panggil pangeran Alexander yang langsung menubruk tubuh Valerin dengan gemas “Kau punya misi tapi tak mengajakku ya! Ah, teganya kenapa Leon saja yang pergi?” Pangeran cerewet itu sudah merenteti pertanyaan kepada Valerin.


“Ah itu kare—“ Ucapan Valerin tertahan ketika Friday menegahi mereka.


Friday menarik pergelangan tangan Valerin saat itu “Maaf Pangeran Alexander. Tuan muda harus menemui Yang Mulia Alphonse untuk melaporkan misi yang sudah selesai.” Tegas Friday.


“Yang Mulia, kemari... jangan seperti itu kepada Earl Grayii...” Leon Sirius tampak kewalahan menghampiri pangerannya.


Alexander Caleum mengerucutkan bibirnya “Memiliki pekerjaan itu menyebalkan.” Ucapnya merajuk.


“Maaf-maaf, habisnya lucu saja.” Valerin mengusap ujung matanya yang terdapat air mata akibat tertawa “Aku permisi ke ruangan Yang Mulia Alphonse ya, sampai jumpa lagi Alexander...” Ucap Valerin.


“Baik Earl Grayii...” Leon Sirius sempat mengangguk hormat kepada Valerin.


“Pelayan baru Valerin menyebalkan, bukan seperti pelayan lihat dia menempeli Valerin seperti pasangannya.” Komentar Alexander kepada Leon Sirius pelayannya.


Leon Sirius menggelengi sikap tuannya itu “Ayo pangeran. Kita harus menemui tuan Ruthrein untuk kelas sejarah.”


Alexander yang memasang wajah masam pun menuruti ucapan Leon Sirius. Jika saja Alexander tahu, tapi pangeran kedua ini tampaknya terlalu polos menyadari penyamaran seorang Friday.


***


Kali ini Valerin tak mendatangi ruang kerja Raja muda Dust Bones. Menurut pelayan senior yang menghantarnya, sang raja ada di kebun bunga lily yang berada di halaman belakang Paviliun.


Valerin menghentikan langkahnya sejenak, mengingat sikap sang Raja yang kurang suka terhadap pelayannya Valerin memiliki kecemasa sendiri.


“Tuan muda, kenapa?” Tanya Friday.


“Begini, maukah kau menungguku di depan gerbang istana saja?”


Friday tersenyum, ia tahu gelagat Valerin yang mengkhawatirkannya “Baik tuan muda.” Angguk Friday sembari meninggalkan Valerin.


Tepat setelah berada di hamparan lily putih. Valerin menatap sang raja yang berbaring diatas bangku taman pada sebuah gazebo ditengah-tengahnya.


“Apa tidak masalah membangunkannya?” Tanya Valerin kepada pelayan paruh baya itu.


“Yang Mulia akan senang hati jika itu Earl. Permisi...” Pelayan itu malah meninggalkannya.


Valerin menghela nafas, dia pun berjalan mendekati gazebo itu dengan beberapa gulungan berkas yang dibawanya “Yang Mulia...” Panggil Valerin.


“...Yang Mulia...”


“Alphonse, kau hanya berdua denganku Valerin. Lebih baik memanggil namaku saja.” Pria itu berbicara dengan kedua kelopak matanya yang tertutup.


Valerin memperhatikan raja muda yang memiliki paras rupawan itu “Baik, Alphonse... Aku ingin memberikan berkas laporan misi.”


“Terimakasih sudah bekerja keras atas misimu Valerin.”


“Bukan masalah Alphonse, juga demi kesetiaan keluargaku terhadap kerajaan.”


Alphonse Caleum, sang raja muda Dust Bones. Kedua kelopak matanya terbuka menatap Valerin yang berdiri tak jauh darinya “Boleh kuminta sesuatu?”


“Apa itu?”


“Kemarilah...” Ucap sang raja sembari beranjak duduk. Dia menepuk-nepuk bangku yang kosong disampingnya. Memerintah Valerin untuk duduk disana.


Valerin pun mengikuti permintaan sang raja. Dia duduk disana, kemudian sepasang iris violet Valerin terkejut ketika Alphonse Caleum membaringkan kepalanya diatas sepasang paha Valerin yang terduduk “A-ah... uhm... Y-yang mulia?” Gugup Valerin.


Alphonse Caleum malah merebahkan dirinya dengan santai, dia kembali memejamkan kedua kelopak matanya “Cuaca hari ini bagus bukan?” Ucap Raja muda itu kepada Valerin.


“A-ah. Uhm... bagus.”


“Bagaimana keadaanmu sekarang? Kakimu sudah bisa digerakkan?”


“Sudah lebih baik.”


“Nah, Valerin. Saat aku kecil, aku sangat suka berbaring seperti ini bersama ibuku.”


Valerin mengetahui sisi lain dari sang Raja muda ini “Pasti menyenangkan.”


“Seharusnya, sebelum ibuku meninggal dan ayahku yang menikah lagi dengan Alexandria... Kau tahu, dia bukan manusia.”


“Vampir?” Duga Valerin.


“Benar, Alexandria vampir. Ibu dari Alexander, tapi aku tetap menyayangi Alex.”


“Valerin... aku rindu ibuku.” Ucap Alphonse meraih tangan Valerin kemudian meletakkannya kepada puncak kepalanya sendiri “Ibu sering mengelus kepalaku, bisakah kau lakukan itu sebentar?”


Valerin dengan wajah datarnya mengarahkan tangannya mengusap puncak kepala Alphonse Caleum, dia mengusapnya dengan pelan. Membelai surai sang raja “Yang Mulia... apa menurutmu jika kerajaan mendirikan panti asuhan?”


“Ide yang bagus. Apakah kau ingin mengolah panti asuhan itu? Jika mau aku bisa membantumu.” Ucap Alphonse yang masih memejamkan matanya.


“Akan sangat berkesan jika Yang Mulia setuju.”


“Alphonse... Valerin panggil namaku.” Ucap sang Raja meraih tangan Valerin kemudian mengecup telapak tangannya “Akan sangat manis jika seorang wanita sepertimu memanggil namaku.”


Valerin menatap dengan datar “Jadi kau sudah tahu Alphonse?”


“Tentu saja, Valerin-ku...”


Angin yang bertiup lembut, beberapa kelopak lily yang turut berterbangan. Sepasang iris Violet itu menatap dengan dingin, berbanding terbalik dari wajah manisnya yang indah “Nah, apakah kau tahu semuanya?” Sergah pertanyaan itu bernada sedingin puncak gunung es.


.


.


.