
.
.
.
Valerin Grayii, demam tinggi kala malam itu. Diluar diguyur hujan deras disertai angin lebat. Pada sebuah kamar berwarna merah temaram, dua orang berbeda usia sama-sama menatap panik akan mahluk non immortal didepan mereka.
“Mustahil memanggil dokter Louisa malam ini.” Panacea berujar cemas.
Friday mengganti mengambil kain dari dahi Valerin, kemudian memerasnya pada air dingin “Apa manusia seperti ini?” Kemudian meletakkannya ke dahi panas Valerin.
“Mana aku tahu, dia tak mengalami kelelahan kecuali hanya diberikan cairan obscure. Gadis ini berbeda, kau harus paham itu Yang Mulia.”
“Terus? Haruskah aku memberikannya darah?”
“Tsk. Dia manusia, garis bawahi itu.” Panacea mendecih, ia tak habis berpikir lagi.
Valerin bergerak gusar dalam tidurnya. Wajahnya yang kemerahan akibat demam, dengan kedua kelopak mata yang perlahan-lahan terbuka “Engh~ air...” Gumam kecil Valerin.
Friday langsung mengambilkan segelas air pada Valerin, ia bahkan membantu Valerin untuk duduk “Minumlah perlahan.” Ucap Friday.
Usai menegak habis segelas air putih itu, Valerin memengang dahinya sendiri “Aduh, panas ya?” Valerin memperhatikan maid dan butler-nya secara bergantian. Mereka sama-sama memasang raut cemas “Aku baik-baik saja, cukup minum air putih yang banyak kemudian istirahat yang cukup. Demam ini akan turun dengan sendirinya.” Ujar Valerin dengan senyum manis.
Panacea merasa nostalgia, dia nyaris lupa jika sosok tuan terdahulunya juga gemar berbicara dengan pasti “Apakah tuan muda membutuhkan sesuatu?”
“Tidak, aku hanya ingin istirahat. Besok pagi demamku pasti sudah turun.”
“Kalau begitu apakah ingin makan sesuatu?” Kali ini Friday berucap.
Valerin menggeleng pelan “Tidak ingin merepotkan tuan Odolf.”
“Dengar.” Friday duduk disamping ranjang kasur Valerin “Manusia harus makan bukan? Kau tak makan sejak siang tadi, biar sedikit harus makan.” Ujar Friday dengan nada ‘lupa’ sebagai pelayan di manor Grayii. Bahkan pemuda itu, tak canggung berkata demikian dengan tatapannya langsung kepada Valerin.
Panacea sampai harus mendehem “Ah, baiklah tuan muda. Bubur hangat akan siap lima belas menit lagi, permisi.” Ucap Panacea yang lebih dulu keluar untuk memasak bubur, sekaligus tidak ingin menganggu mereka berdua. Apalagi Valerin malah tampak tak terganggu sama sekali.
Friday tampaknya paham dengan gelagat Panacea, namun urung mengerti “Bagaimana?”
“Bagaimana apanya?” Valerin balik bertanya dengan jengkel. Dia memerah malu “A-apa yang dilakukannya? Friday aneh saat ini, tapi... kenapa nyaman berinteraksi seperti ini?” Valerin Grayii berkomentar dalam hatinya. Friday dengan rambut kebelakang, dan pakaian yang tak rapih itu begitu “Ugh... Sexy” Pikir Valerin diam-diam. Tapi ia merasa bersalah juga, sepertinya Friday sudah menemaninya sejak ia jatuh sakit.
Tangan lebar Friday memengang puncak kepala Valerin “Apa masih hangat?” Ucapnya dengan pelan.
“Ha... Ha... aku baik-baik saja.” Valerin tertawa canggung.
“Kau tak istirahat?”
“Aku?” Friday kelepasan “Ah maksud anda, saya tuan muda?” Buru-buru Friday bersikap formal kembali.
Valerin tertawa “Hahaha...” Dia pun membaringkan tubuhnya menyamping menghadap Friday yang beranjak berdiri dengan spontan, sangat kaku dan tegang “Lihatlah dirimu? Kau seperti seorang tuan muda yang bermain peran menjadi seorang pelayan.” Kedua mata violet Valerin menatap figur Friday, dia menawan dan indah. Valerin hanya merasa Friday cocok menjadi seorang bangsawan dari pada pelayan.
“Tuan muda...”
“Hm?”
“Maaf, anda memang sakit. Tapi aku sudah tiga tahun ini menahan diri mengkonsumsi darah.”
Valerin tak terkejut, ia hanya menyunggingkan senyuman “Ah... aku memang penasaran dengan vampir.” Valerin menduduki tubuhnya, ia melihat Friday. Pemuda itu tampak menahan ***** makannya sejak bersama dirinya, Valerin tahu. Ia sering melihat Friday yang menegak liurnya “Apakah kau izin untuk mencari makan?” Tanya Valerin.
“Benar.” Ucap Friday “Aku tahu ini tak sopan, sungguh sangat tak dimaafkan untuk seorang pelayan yang meninggalkan tuan yang sedang sakit. Tapi Panacea, bisa menemani tuan muda hingga fajar. Saat itu aku akan sud--“
“Minumlah darahku.”
Friday tersentak kaget, ia melihat sang tuan muda dengan kedua netra raven blue yang melebar “Maaf?” Ujarnya kembali.
Valerin tersenyum, disaat hujan sudah reda. Malam digantikan oleh bulan terang yang bersinar dari balik jendela dengan gorden terbuka. Begitu terang menjadi latar indahnya “Minumlah...” Ucap Valerin membuka satu kancing piayamanya. Mempersilahkan leher putih jenjang itu kehadapan Friday “Hati-hati, jangan mengenai nadi karotisku—disini.” Tunjuk Valerin pada bagian tengah lehernya.
“Tidak tuan muda, tidak bisa. Anda sedang sakit.”
“Bukan masalah, aku tak bisa membiarkanmu kelaparan. Lagipula Friday, kau terlalu sering membantuku.”
“Sial! Kau tak tahu saja, aku hanya menjalankan tugas.” Batin Friday menolak, ia melirik leher putih dengan aliran darah lezat itu “Tidak bisa tuan muda.” Ucap Friday mengepalkan kedua tangannya yang sudah tampak kuku-kuku hitam memanjangnya itu. Friday sangat lapar, ia memang tak bisa mati hanya karena kelaparan tapi dia sudah lama tidak ‘makan’ sementara gadis menawan didepannya itu terus mendesak.
“Oh, Friday yang malang.” Ucap Valerin Grayii yang harus beranjak berdiri kemudian berjalan mendekati pemuda itu “Ayo... tunjukkan padaku, apa tujuanmu yang sebenarnya?” Ujar Valerin lagi didalam hatinya “Apakah tuanmu ini harus menyuapimu, hm?” Kedua tangan Valerin sengaja dilingkarkan pada leher Friday, pria itu lebih tinggi bahkan ia harus berjinjit “Lihat, makanamu sudah dekat. Kenapa belum dimakan?” Sepasang mata Violet itu tak menatap tenang seperti biasanya, intimidasi dengan tatapan sayu.
Friday menegak ludahnya, ia tak bisa menahan lagi “Semoga, kau tidak menyesal tuan muda.” Ucap Friday menarik pinggang ramping Valerin menghimpit tubuhnya. Kedua taring runcing itu pun menusuk ceruk leher kanan Valerin.
“Ugh” Valerin menahan sakit dilehernya, ia merasa darahnya terus dihisap rakus oleh Friday karena terdengar dari suara tegakan dari kerongkongan pemuda itu.
Aroma manis dari Valerin menguar keseluruh penjuru ruangan. Aroma wangi chamomile dengan rasa semanis madu. Darah milik Valerin Grayii tiada duanya, begitu nikmat dihisap oleh Friday.
Valerin yang masih berada didalam dekapan Friday menatap langit-langit kamarnya. Rasa sakitnya sudah hilang, ada rasa perih sedikit namun masih bisa ia toleransi “...Nama asliku, Valyria Soga Kinaru. Valerin yang kau sebut itu, nama kakakku...” Valerin semakin lemas, itulah yang membuat pikirannya sangat ringan. Ia meraih surai keemasan Friday kemudian mengusapnya dengan pelan “Aku berbohong padamu selama ini, aku tak mengakui jati diriku sendiri...” Ucap Valerin.
“Sudahlah tuan muda.” Friday menegakkan tubuhnya, ia meraih tangan Valerin yang tadi sempat mengelus lembut puncak kepalanya “Lihatlah dirimu, kau seperti meminta untuk dimakan lagi.” Ucap Friday dengan seringai lebarnya, melihat Valerin dengan kedua mata sayu dan wajah bersemu merah.
Ia menggendong tubuh Valerin tanpa hambatan, kemudian membaringkannya di ranjang kasur “Tidurlah, terimakasih sudah mengizinkanku meminum darahmu.” Ucap Friday sambil menyelimuti tubuh Valerin.
“Syukurlah... Friday tidak kelaparan lagi. Pasti susah ya menahan rasa lapar.” Valerin tersenyum sayu, kemudian perlahan-lahan terlelap tidur.
Friday mengusap ujung bibirnya yang tersisa darah Valerin “Kau lihat? Dia yang memintaku untuk meminum darahnya.” Ucap Friday sambil membalikkan tubuhnya, ia mendapati Panacea dengan nampan berisi mangkuk. Sudah diduga, Panacea hanya diam menyaksikan dia dan Valerin sejak tadi.
“Itu tak membuatnya mati, kontrak kami hanya melindungi Valyria Soga Kinaru dan tujuan Valerin Grayii.” Panacea segera melangkah meninggalkan kamar itu.
Friday terkekeh pelan “Oh, membuat janji dengan seorang iblis memang sesusah itu bukan Valerin?” Gumam Friday seorang diri.
.
.
.