
Tubuh tegap Alphonse malah mendekap Valerin, kala gadis itu tengah panik dengan perlakuannya “Valerin, tidak apa, kau aman bersamaku.” Ucap Alphonse mendekat erat tubuh Valerin.
Valerin bisa melihat para tamu undangan yang berbisik-bisik, raut wajah mereka berbeda, sebagian besar Lady bangsawan menatap kesal sementara para dewan hanya tersenyum-senyum “Cih.” Valerin mendecih dengan kesal, dia mendorong tubuh besar Alphonse menjauh darinya “Piss me Off, eh? Your Majesty.” Seringai tipis Valerin mengembang.
Panacea mendadak berlari mendekati Valerin, dia tahu sang Grayii bungsu itu tengah terancam “Tuan muda!” Panacea melemparkan kotak kecil, panel serba canggih yang pernah dibuat oleh Valerin. Panel itu juga yang menyimpan rekaman percakapan Lemaire dan Yang Mulia Caleum dari Dust Bones ini.
“Bagus!” Valerin langsung meraihnya, kemudian memutar panel itu. Suara keduanya pun terdengar.
“...Tidak ada yang tersisa?”
“Dia tak berada disini, Yang Mulia, seperti yang anda lihat.”
“Kupikir, kau Jenderal handal yang mahir menemukan pengerat dengan mudah... Jenderal Lemaire.”
Riuh suasana pesta mendadak hening, Para Dewan menatap tidak percaya kepada Raja mereka. Disaat yang bersamaan, Lemaire membuka topengnya menatap kearah Alphonse “Yang Mulia, perlu kuhabiskan sekarang?” Ujar Lemaire tersenyum dengan kedua taring yang tampak runcing itu.
“Vampir!” Seluruh dewan terbelalak kaget, pasalnya vampir memang menjadi musuh bebuyutan Dust Bones.
“Tenanglah, rakyatku.” Ujar Alphonse.
Lemaire terkekeh pelan “Ah, Yang Mulia memang terlalu baik.” Ujar vampir itu.
“Valerin... Kemari.” Pinta Alphonse dengan tatapan lembutnya “Apa, kau akan membiarkan calon suamimu?” Lanjutnya lagi.
Valerin terlonjak, wajahnya memerah. Sangat merah. Valerin pun melepaskan gelangnya menjadi pedang “Eh, E-eh... apanya yang calon suami ha?” Valerin langsung mengayunkan pedangnya, dia melesat ringan, sebenarnya Valerin memang mahir bertarung jarak dekat. Namun, Alphonse Caleum pengecualian. Dia jauh lebih tangkas dari Valerin.
“Hentikan penyusup!” Para prajurit terlanjur mengepung.
Alphonse tetap menghindar dari tebasan pedang Valerin “Ah, kau sangat indah Valerin Grayii.” Tangannya dengan cepat memengang tangan kecil Valerin, kemudian merengkuh tubuh Valerin dengan cepat “Kenapa kau tidak bisa melihatnya? Lihat aku Valerin.” Ujar Alphonse, sekaligus memberi arahan untuk para prajuritnya menjauh.
“Yang Mulia! Kenapa anda memperlamban? Earl Grayii malah menjadi penghalang ambisimu.” Ujar Lemaire, tampak tak suka.
Alphonse membuka topeng emasnya dulu kemudian mendekati daun telinga Valerin “Lihatlah vampir itu, kau membencinya bukan?” Alphonse meraih pedang Valerin, kemudian melempar pedang itu dengan serta merta menancap pada dada Lemaire “Baiklah, tugasmu sudah selesai tuan Lemaire...” Lanjut Alphonse lagi seraya menatap dingin tubuh Lemaire yang ambruk itu.
“Akh...k-kau...” Lemaire sudah sekarat, pedang milik Valerin menancap tepat pada dadanya.
Melihat hal itu, Panacea segera melesat, menggunakan sihirnya untuk menarik kembali Valerin yang masih berada dalam tangan Alphonse, namun Panacea segera dirantai oleh mantera khusus.
“Penyihir yang menganggu.” Ucap Alphonse dengan tatapan dinginnya.
Valerin tidak berdaya, pikirannya menjadi tumpul “Pana!” Pekik Valerin berusaha meraih Panacea yang terikat oleh rantai, dia juga tak berdaya.
Panacea menggeleng “Jangan, rantai ini sudah dibuat untuk menangkalku. Tuan muda...” Panacea yang terduduk dengan kedua tangan terikat itu hanya bisa tersenyum pasrah “Jangan libatkan dirimu lebih berbahaya lagi, tuan muda. Aku akan baik-baik saja.” Lirih Panacea berucap.
“Al, Al! Jangan sakiti Panacea kumohon!” Valerin meremat jubah Alphonse “Kumohon, dia satu-satunya keluargaku yang tersisa! Akan aku lakukan apapun!” Pinta Valerin setengah berteriak “Hiks... kumohon, jangan dia...” Isaknya juga.
“Sssttts...” Alphonse meraih wajah Valerin “Pelayan iblismu itu akan aman, jika saja kau menuruti perkataanku.” Ujar Alphonse dengan pelan.
Tubuh Valerin pun digendongnya “Masukkan penyihir iblis itu kedalam penjara anti-sihir, pesta ini selesai. Rapat bersama para dewan dua jam lagi.” Ujar Alphonse sambil menatap wajah tunduk Valerin yang ada dalam bridal style gendongannya “Aku ingin menghantar calon isteriku.” Katanya dengan tersenyum puas.
“Baik. Yang Mulia!” Seluruh prajurit menjawab serentak.
Valerin diletakkan dengan pelan oleh Alphonse pada sebuah ranjang kasur yang besar, kamar yang megah, penuh dengan ornamen perak dan emas “Begini lebih baik.” Ujar Alphonse setelah membukakan topeng pada wajah Valerin.
Kamar megah itu pastinya ruang pribadi sang raja Dust Bones “Apakah kau ingin menahanku? Kenapa bukan dipenjara saja? Aku menentangmu, bukan, Yang Mulia?” Valerin berucap dengan nada tenangnya, sengaja memanggil Alphonse Caleum dengan Yang Mulia agar dia paham posisi mereka berdua.
“Istirahatlah, jangan berpikir macam-macam, Val.” Alphonse langsung beranjak berdiri meninggalkan ruangan kamarnya sendiri untuk Valerin.
Kini, Valerin seorang diri. Diam mematung memikirkan rencana kaburnya, dimulai dari jendela, tapi Valerin tidak bodoh menyadari setiap jendela yang sudah dikunci dengan jeruji kawat. Mendecaklah Valerin dengan kesal “Sial, dia sudah mempersiapkannya sejak awal.” Gumam Valerin kembali duduk dipinggiran ranjang kasur.
“Frederitch, andai kau tahu, rencanaku gagal lagi... Semoga rencanmu disana berhasil. Agar semuanya tidak sia-sia.” Ujar Valerin Grayii seorang diri. Meratapi kebodohannya, menyesal sendirian.
Valerin memukul ranjang kasur dengan keras, dia mengepalkan kedua tangannya "Ini salahku, Panacea, kau juga harus menanggung kesalahanku." Valerin mengigit bawahnya, rasanya kembali cemas, selain Panacea dia juga takut sesuatu terjadi atas ulah Alphonse yang sudah sangat menggila dengan obsesinya "William, Leon, tuan Sirius dan Sabrna, oh, anak-anak. semoga kalian baik-baik saja." Cicit Valerin dengan tak berdaya.
_o0o_
Alphonse baru keluar dari kamarnya, dia sengaja memerintahkan penjagaan ketat disekitar kamar pribadinya itu. Tatapan sang mata emerald tajam menusuk, dikala Jenderal kerajaan menghampirinya “Yang Mulia...” Jenderal itu memberi hormat kepada Alphonse.
“Bagaimana hasil persiapan penyerangan di perbatasan?” Tanya Alphonse sambil menyibak jubahnya.
“Yang Mulia, sudah selesai. Dini hari nanti operasi penyerangan perbatasan Crave Rose bisa dilakukan.”
“Bagus, sementara ini berikan anak buah terbaikmu untuk mengawasi calon isteriku, dia sedikit pemberontak.” Ujar Alphonse sambil melirik ruang kamarnya.
Jenderal itu tampak mengeryit heran “Tuanku, maksud anda apakah puteri Luciana?” Tanya sang Jenderalm yang tahu jika pasangan yang sebenarnya akan menikah bersama sang Raja adalah puteri dari kerajaan kecil disebelah Utara Dust Bones.
“Valerin Grayii.” Singkat jawab Alphonse.
Sang Jenderal gelak dengan tawa “Yang Mulia, Earl Grayii seorang lelaki, dan ia mengabdi padamu Yang Mulia.” Ujar Sang Jenderal.
“Jenderal Windsor, bisa kita lebih fokus dengan penyerbuan terhadap Crave Rose? Atau, kau ingin diganti jabatan? Aku tidak bisa bekerja dengan orang yang berisik soal isteriku kelak.” Tungkas Alphonse tersenyum dengan menawan, padahal telisik tatapannya amat sangat menajam.
“A-ampun Yang Mulia! Baik, baiklah saya akan melanjutkan penyerangan ini.”
“Bagus...”
Alphonse kembali berucap “Oh iya, bawa kembali Alexander kemudian tahan Viscount Rovana, Sirius bungsu dan semua orang yang terlibat membantu pembelotan Earl Grayii.” Perintah Alphonse.
“Siap, Yang Mulia!”
Alphonse kembali berjalan menuju lorong koridor istana, kini senyumannya mengembang dengan puas “Ah, Valerinku, sebentar tunggulah sampai semuanya selesai, dan kau hanya menjadi milikku.” Ujar Alphonse lagi.
Sepasang mata sudah sejak tadi mengawasi pergerakan Alphonse, mengenakan jubah hitam dan mantel hitam. Sepasang mata merah dari menara pengawas sudah memperhatikan seluruh perbuatan Alphonse sejak tadi, dia pun menyelinap kembali memasuki menara sambil bergegas dengan rapi, persembunyiannya sangat sempurna.
"Val, bertahanlah sebentar..." Ujarnya lagi.