
.
.
Seseorang mengenakan sebuah jubah hitam, penutup kepalanya menghadang sebagian wajah manisnya. Tangan kecil yang ramping itu membawa sebuah lentera, seorang yang berjalan ditengah sepinya malam.
“Ayolah, makanan kalian sudah tiba!” Ucapnya setengah berteriak, hingga pada saatnya dia sengaja melukai lengan kanannya sendiri dengan sebuah belati yang dipegang.
Ribuan manusia terinfeksi obscure mencium aroma darah Gandaria, darah yang memang beraroma manis melebihi manusia biasa. Mereka bahkan dapat memandang percikan kemilau violet dari seseorang bertudung hitam itu.
Seringai puas dari seorang Valerin Grayii, ia berlari memutar memasuki kembali manor Viscount Rovana “Ayo sedikit lagi!” Saat dikejar segerombolan manusia terinfeksi selayaknya zombie itu ia tiba-tiba saja berhenti, Panacea yang sudah berada disana menggantikan Valerin dengan cara Valerin yang sengaja memercikkan darahnya ke jubah hitam yang dikenakan Panacea.
Panacea berlari dengan cepat memasuki manor, diikuti segerombolan manusia-manusia obscure itu.
“Friday!” Valerin memekik nama sang pelayan, saat itu pula Friday tiba dengan kuda hitamnya. Ia meraih tubuh Valerin dengan mudah.
Valerin berada dalam dekapan Friday diatas kuda, selanjutnya mereka akan mencari adik dari Viscount Rovana. Sementara Panacea akan bertahan di manor dengan bantuan Leon Sirius dan Viscount Rovana. Valerin akan tenang dengan misi yang diberikan ke Panacea, mereka sudah dipersenjatai dengan lengkap untuk melawan para manusia terinfeksi itu.
Sepanjang perjalanan yang sepi berkabut, mereka hanya menjumpai beberapa manusia terinfeksi. Friday yang memacu kuda itu, sesekali menembak mereka yang terinfeksi. Terpaksa, dan harus. Sementara satu-satunya penawar sang tuan muda tidak memiliki energi yang cukup. Lagipula, mereka membutuhkan banyak darah yang diinduksi untuk menjadi penawar. Waktu dan kekurangan perlengkapan, mereka terlanjur jauh terinfeksi. Valerin sendirilah yang memutuskan untuk membasmi mereka, sementara misi lain menangkap nona Rovana.
“Kurasa, itu dia?” Ucap Valerin melihat sepasang manusia yang terinfeksi berjalan menyeret sambil berpengangan tangan “Oh, apakah itu Charles? Anak petani tua itu? Ternyata mereka bertunangan.” Valerin berseru saat melihat cincin dijemari mereka masing-masing.
“Berpegangan tuan muda.” Ucap Friday melaju, ia sudah bersiap dengan senapang laras panjangnya. Kemudian, menembakkan dua peluru kearah dada mereka. Dua peluru itu pengecualian, sudah dimodifikasi oleh Valerin beberapa jam yang lalu menjadi seperti injeksi daripada peluru.
“Semoga berhasil...” Valerin berharap banyak akan percobaannya itu, menunggu nona Rovana dan kekasihnya kembali normal.
Sayangnya Valerin. Menyadari hal lain “Friday, apakah nona Rovana itu sedang hamil?” Valerin tak salah menyadari perut buncit besar itu “Oh tidak, jika selamat pun nona Rovana tak akan bisa bertahan.” Valerin mengeluarkan sebuah granat asap, menandai lokasi mereka.
“Salah satu mereka bertiga harus tiba, kondisi nona Rovana mungkin tak akan bisa pulih.” Perkataan Valerin itu benar, saat pria itu perlahan-lahan membaik namun nona Rovana tidak. Ia malah mengigit tangan sang pria yang sempat dipegangnya itu.
“To-tolong.” Pria yang sudah pulih itu meringis kesakitan.
“Tuan muda, perintahkanmu?” Desak Friday. Ia sudah bersiap dengan senapangnya.
Valerin dibuat bingung, percuma saja pria itu pulih jika harus terinfeksi lagi sementara Nona Rovana tak menunjukkan kesembuhan. Ia masih terinfeksi, masih seperti zombie yang haus dengan kehidupan.
Hentakan suara kuda memburu cepat, menembus heningnya malam dikala sang penunggang melihat sepasang pria dan wanita muda berada dalam satu kuda. Mereka mengamati seorang terinfeksi yang terus menyerang pria lain.
“Ya Tuhan! Emelie!” Viscount Rovana berteriak.
“Hentikan Viscount!” Cegah Valerin berteriak dengan lantang “Dia hamil, kau menyelamatkannya pun percuma. Bayi didalam kandungannya terinfeksi, darahku tak akan bisa menyembuhkannya selama bayi itu masih didalam kandungannya. Keduanya, tidak bisa berharap besar.” Sepasang mata violet Valerin menatap tegas akan keyakinannya.
Viscount Rovana mematung, tubuhnya bergetar. Ia bisa melihat sendiri sang adik yang gagal menerima serum penawar. Dia tetap mengigit pria yang merupakan tunangannya itu dengan beringas “Emelie... hentikan, dia Charles bukan? Kau mencintainya, kau sampai meninggalkan keluarga kita, Emelie...” Viscount Rovana menatap dengan frustasi.
Valerin tiba-tiba saja melebarkan netra matanya, ia melihat jiwa Charles yang tersenyum padanya seraya mengarahkan telunjuknya pada senapang yang dipegang Friday “Tolong kami...” Gerakan bibir itu teramat jelas, Valerin sudah sadar jika Charles diserang habis oleh tunangannya.
“Maafkan aku Viscount, membiarkan mereka hidup menderita jauh lebih menyakitkan.”
Tampaknya ucapan Valerin benar kembali, Viscount Rovana dengan tatapan datarnya menembak sang adik dengan pistolnya. Kemudian menembak calon bayi mereka pula “Semoga, hidup selanjutnya akan bahagia.” Tatap Viscount Rovana dengan nanar.
Valerin tak sadar sudah meremat tangan Friday, ia sudah tahu. Bukankah sejak awaal Friday bisa melihat kematian itu sendiri? Dimulai dari ibu Tarra sang sahabat dikehidupan lamanya, kini Valerin menyaksikan kembali untuk lebih sering pastinya.
“Tuan muda?” Friday memengang pundak Valerin.
Tubuhnya Valerin yang mendadak lunglai, langsung ditangkap oleh Friday “Valerin! Hey bangun!” Panik Friday. Dia menyentuh wajah Valerin dengan pelan, ucapannya tak lagi formal. Semakin mendekap tubuh itu dari atas tunggangan kudanya.
“Viscount Rovana...”
Friday menatap Viscount Rovana “Baiklah, jika kau berkata begitu berarti di mannor?”
“Panacea sudah menyelesaikannya bersama Leon.”
Friday tak lagi berkata, ia menarik kendali kudanya. Meninggalkan pria itu yang meratapi jasad sang adik yang sudah tak bernyawa.
***
“Engh...” Valerin terbangun, mendapati tubuhnya berada pada sebuah kamar penginapan. Ia menduduki tubuhnya, memengangi kepalanya yang terasa pening bahkan ia merasa tubuhnya lumayan lemas.
“Selamat malam tuan muda.” Friday muncul dari ambang pintu yang terbuka, membawa trolly berisi makanan “Anda sudah tertidur cukup lama, makanlah sedikit.” Ucap Friday berdiri di sisi kanan Valerin sambil menyiapkan secangkir teh hangat.
Valerin meraih secangkir teh yang diberikan oleh Friday “Apa yang sudah terjadi padaku? Bagaimana Viscount Rovana?” Ucap Valerin sebelum menyesap tehnya.
“Sudah tertidur selama satu harian, tuan muda bangun-bangun malah cerewet ya?” Friday mencubit pipi Valerin dengan gemas “Makan dulu, setelahnya Friday akan menceritakan semua hal yang telah terjadi.”
"Sungguh?!"
Friday hanya bisa mengangguk "Sungguh, tuan muda."
Tanpa berkata lagi, Valerin mulai memakan makanannya. Ia menjadi lebih tenang dan pendiam.
"Tuan muda, kenapa ya?" Ia membatin sendiri sambil menatap Valerin yang melahap makannnya dengan diam.
Valerin, hanya merasa bersalah sejak misi yang lalu. Kematian adik sang Viscount Rovana beserta reaksi dari sang Viscount itu sendiri menohok perasaannya. Valerin tak berkata apapun, ia hanya makan dengan diam lebih tenang dari biasanya.
Friday mungkin berkat mengamati gerak gerik Valerin mulai terbiasa "Apakah ini soal adik Viscount Rovana?" Friday menduga dengan tepat.
Gusarnya sepasang iris violet itu sudah berkata, Valerin menghentikan aktivitas makannya dengan mengigit bibir bawahnya "Iya..." Jawabnya tak ragu.
Friday menghela nafas "Tetap saja, misi ini sukses. Setelah makan lebih baik kita bicarakan hal ini sambil menyusun laporan untuk Yang Mulia Nikolai."
"Viscount Rovana, bagaimana keadaannya?"
"Dia menuju pusat kota, tak berbicara banyak. Mungkin Viscount Rovana memiliki urusan."
"Aku ingin bertemu dengannya untuk minta maaf, berkat rencanaku kita gagal menyelamatkan Emelie Rovana."
Friday entah harus bahagia atau sedih, setidaknya sedikit sifat Valerin Grayii yang asli melekat pada sosok adiknya sang Earl ini "Tidak salah, misimu sukses dan rencananya." Sungguh Friday ingin mengusap puncak kepala itu, namun ia urungkan.
"Friday permisi, segera habiskan makanannya tuan muda." Ucap Friday, seraya melirik jendela kamar Valerin.
dia tahu, jika sudah diawasi sejak kemarin.
"Selamat malam, tuan muda."
""Hm, terimakasih Friday."
.
.
.