
“Ellis, terimakasih sudah kembali dikehidupanku...”
“Ellis?!”
“...Ellis, kenapa dia?”
Ellis langsung berjalan menuju lantai dua, dia menuju kamarnya tanpa mengubris panggilan Lyn dan Remington yang ada dilantai satu tepatnya didapur.
Ellis langsung menutup pintu kamarnya dengan rapat, dia masih memengang knop pintu dengan wajah merah bersama degupan jantung yang kuat.
“...Y-yang M-mulia... Aneh...” Gumam Ellis dengan bibir yang bergetar.
“Mungkin Yang Mulia hanya bercanda.” Tungkas Ellis.
Ellis berjalan menuju lemari, ia membuka seluruh pakaiannya dari sebagian pelindung besi hingga kemeja putihnya “Kurasa, mengenakan perban seharian terasa sesak.” Ucap Ellis sambil membuka balutan perban pada dadanya.
Ellis memang seorang wanita, tapi Ellis sangat suka dengan pedang bahkan Ellis berkeinginan menjadi seorang ksatria yang melindungi Dust Bones. Sayangnya wanita tidak boleh mendapatkan posisi itu di istana, maka Remington dengan tulus mengajari Ellis bahkan mulai menganggapnya sebagai seorang puteranya.
“...Ellis, kau kenapa?” Tanya Lyn yang sedang menata makanan diatas meja makan, ia juga tampak tengah melayani beberapa pesanan makanan tamu dari penginapan tersebut.
Ellis menggeleng singkat, dia mengambil celemek yang tergantung di pintu dapur “Aku baik-baik saja.” Ucap Ellis ikut membantu kegiatan Lyn.
“Oh iya, ayah sudah berangkat pergi berpatroli malam, dia akan pulang besok pagi.” Ujar Lyn sambil membawakan nampan berisi makanan ke meja pelanggan, lantai satu memang berupa restoran kecil yang keluarga ini kelola. Sebagian besar memang dikelola oleh Lyn.
“Selamat datang, silahkan tuan makanan penutup kami, pie apel...” Lyn sudah sibuk melayani pelanggan lainnya.
“Nona, satu bir dan daging panggang.” Salah seorang pelanggan berkata pada Ellis yang kebetulan melintas dihadapannya.
“Okay, satu bir dan daging panggang, tuan sayangnya saya ini pria.” Ujar Ellis usai membawakan nampan berisi pesanannya.
“Oh, Serius? Ingin adu kekuatan jika tangan kecilmu itu seperti wanita.”
“Tentu saja tuan...”
Lyn menggeleng melihat kelakuan Ellis “Ellis jangan patahkan tangannya, mengerti?” Peringat Lyn dengan acuh sembari membawa tumpukan piring kosong ditangannya.
“Haha! Buktikan jika kau lelaki sejati, nona manis...” Pria gempal itu menyingkirkan makanan diatas meja, melipat tangan gempalnya untuk menantang Ellis.
Hanya Ellis yang tersenyum kecil, dia duduk didepan pria itu kemudian menautkan pegangan tangannya “Adu panco bukan hal yang berat, tuan...” Ujar Ellis.
Mendadak, riuh suasana lantai bawah penginapan Wood Remington. Orang-orang menonton pertandingan panco oleh dua orang yang berbeda itu, salah satu mulai kewalahan sementara si pria manis malah tampak tenang.
Ellis tak gentar, tangannya yang tampak kecil itu kokoh tanpa bergerak oleh tangan besar si pria gempal itu “...Hoam, sampai berapa lama lagi?” Tanya Ellis menguap.
“Ck. Kau bocah, mempermainkanku!” Bentak pria itu kemudian mendorong tangannya.
Ellis tersenyum, membiarkan tangannya semakin mendekati meja. Dikala ia puas, Ellis langsung mendorong tangannya. Alhasil, pertarungan ini dimenangkan oleh Ellis.
“Wah! Putera tuan Remington memang kuat seperti rumornya.”
“Wah, hebat Ellis!”
Tepukan tangan dari seseorang yang berdiri diambang pintu, sebagian tubuhnya masih mengenakan zirah dengan jubah putih yang berkibar “Ellis Francieli, bukan?” Tanya pria bertubuh tegap itu.
“E-eng... I-iya tuan...” Ellis mengangguk kaku, dia melirik lambang kerajaan Dust Bones pada baju zirahnya.
“Yang Mulia memanggilmu ke istana.” Ujarnya lagi.
Ellis sempat menoleh kearah Lyn “Lyn...” Dia cemas meninggalkan Lyn seorang diri di penginapan. Lyn pasti kewalahan mengurus penginapan ini. Pikir Ellis.
“Pergilah, kau memiliki kerjaan bukan?” Lyn malah mendatangi Ellis dengan membawakannya mantel seragam Dust Bones beserta jubah putihnya. Lyn memasangkan mantel dan jubah itu pada tubuh Ellis “Jaga dirimu, saudaraku...” Lyn berucap dengan menyentuh permukaan wajah Ellis.
“Hm, aku pergi dulu...” Ellis mengangguk.
.
.
.
Ellis bahkan masih mengenakan kemeja putih polos dengan celana kain hitamnya, rambut pirang Ellis tidak ditata klimis seperti biasanya. Sebagian poni panjang itu tergerai bebas, Ellis tahu jika seorang ksatria yang diutus menjumpainya. Sesuatu sudah terjadi...
Istana tengah tegang, tampak dari semakin banyak prajurit yang berjaga disetiap sisi istana.
“Ellis, seharusnya sebagai ajudan Yang Mulia, kau tinggal diistana...” Ujar pria itu.
“Maaf tuan.”
“Oh, kau belum mengenalku ya? Namaku Mathias Lavandula, kita memang baru bertemu karena aku selalu bertugas diperbatasan Crave Rose dan Dust Bones. Salam kenal, Ellis...”
Ellis sontak membungkuk hormat, pria yang suda lama dikenal sebagai pahlawan dibalik kemenangan Dust Bones melawan Crave Rose “J-jenderal tingkat satu, Mathias Lavandula!” Seru Ellis.
“A-ah, iya... Panggil aku Mathias saja, Remington saja sudah kuanggap seperti pamanku... Jangan sungkan ya Ellis.” Sang jenderal sangat ramah, bahkan usianya masih muda.
“B-baik Jenderal! Eh? Ma-mathias...” Ellis heran, dipanggil selarut ini, dia pun bertanya kepada Mathias Lavandula “Apakah sudah terjadi sesuatu di istana?” Ucap Ellis yang berjalan berdampingan dengan Mathias di lorong dasar istana, diikuti beberapa prajurit dibelakang mereka.
Mathias mengangguk “Penyusup dari Crave Rose menyebar terror, lima belas maid sudah ditemukan tewas dihisap darahnya. Sementara sebagian pelayan dapur mendadak berubah menjadi mayat hidup obscure, mereka semua terjangkit akibat memakan apel yang sudah dilumuri virus, seperti itu kata Penasehat Louisa...”
Tanpa Ellis sadari, Mathias sedikit meliriknya, pria kekar dengan bersurai merah cerah “Ellis, kau memiliki liontin yang indah.”
Sontak, Ellis memengang liontin yang melingkar di lehernya itu “Benar, walaupun aku tidak tahu siapa yang memberinya tapi aku merasa kalung liontin ini sangat berharga.” Ellis mengulum senyuman “Eh, tapi yang terpenting... bagaimana keadaan raja?” Tanya Ellis.
“Kurasa, tidak terlalu baik...” Sahut Mathias dengan pelan.
.
.
.
Ellis, berjaga didalam kamar sang raja. Dia terbaring setelah menerima luka dibagian perutnya, bahkan sang raja belum sadar.
Sulit dipercaya, menurut Mathias, sebelum sang raja tumbang akibat bertarung dengan penyusup itu. Dia meminta Ellis yang menjaganya, tanpa orang lain yang ada di kamar ini. Itulah, tujuan Mathias menjemput Ellis di penginapan Wood Remington. Ellis hanya berdiri dengan kaku diujung ruangan, dia senantiasa menggengam pedangnya yang masih bersarung itu.
“Maafkan aku...” Ellis bergumam, sambil memperhatikan deru nafas sang raja yang menaik dan turun dengan seirama. Ellis bisa melihat perban yang membalut perut atletisnya itu, juga bekas luka-luka yang menghias kekar tubuhnya.
Sesuai ucapan Louisa, sang raja tak akan bangun hingga esok pagi, dia terluka parah dan sudah diberi obat tidur untuk mempercepat pemulihannya.
Saat itu, Ellis melihat jendela kamar sang raja yang terbuka sebagian. Ellis mencoba menutup jendela itu agar sang raja tidak kedinginan “Kenapa pelayan membiarkannya terbuka ya?” Ucap Ellis.
Grep...
Pergelangan tangan Ellis diraih oleh tangan lain, sosok pria berjubah hitam sudah berdiri didepannya. Ellis membulatkan kedua mata emasnya, namun segera menarik pedang dan mengayunkannya.
Gerakan Ellis ditangkis hanya dengan belati bergagang mawar itu, angin kuat masuk melalui jendela. Tudungnya terbuka, mulailah tampak paras pria dibalik jubah hitam itu.
Mata merah, surai pirang panjang sebahunya, hidung bagir dan sepasang taring yang tampak di giginya. Pahatan wajahnya indah, seperti seorang dewa dari langit yang gelap.
Rupawan, indah dan hampa. Itulah yang Ellis lihat dari pria itu. Sepasang mata emas Ellis menubruk tatapan dengan si iris merah yang perlahan berubah biru raven dengan taring yang hilang pula.
“Val... Maafkan aku, sungguh maafkan aku...” Pria itu menyentuh sisi kanan wajah Ellis dengan lembut.
Ellis yang diam tak mengerti, hanya menatapnya dengan bingung. Tapi tatapan Ellis enggan berpaling.
Pria itu menatap sendu merindu, dan sorot tatapan itu sangat menderita “Katakan sesuatu, Val...” Pinta pria itu dengan memelas.
Pedang dan belati itu sama-sama jatuh, ketika tangan dua insan itu saling bertautan, menggengam satu sama lainnya.
Ellis dibuat terkejut “Lepaskan tanganku!” Bentak Ellis.
“Katakan kau mencintaiku, Val...”
“Ha?! Apa yang kau katakan?! Kau musuh Dust Bones, penyusup!”
“Val... Ini aku Frederitch, Friday-mu...”
“Ha?! Jangan bercanda! Aku tak mengenalmu!”
Pria itu membelalak kedua matanya, dia kembali menatap pria muda yang ada didepannya. Surai pirang dengan kedua mata emas, tentu asing. Tapi wajah dan tubuh itu tidak asing sama sekali, karena kehadirannya sama “Kau Valerin Grayii!” Sentak pria itu menyobek kerah kemeja Ellis.
“Tidak mungkin...” Pria itu bergumam, yang ia lihat bahu ataupun leher dengan tanpa tanda mawar disana. Hanya bahu polos dengan kulit putih yang bersih.
“Keterlaluan!” Ellis memungut pedangnya dengan cepat kemudian menyerang pria itu bertubi-tubi tanpa ampun, Ellis hanya berhasil melukai bahunya setelah melihat pria itu melompat dari jendela untuk melarikan diri.
Tok...tok...
“Ellis! Apa yang terjadi didalam! Kenapa ribut-ribut.” Itu suara Mathias Lavandula dari depan pintu.
Ellis dengan nafas tersengal menutupi sobeknya kerah bajunya. Dia menggeleng dengan pelan “Mathias, penyusup itu melarikan diri.” Pekik Ellis dari dalam.
“Kemana dia?” Mathias yang mendadak masuk dengan raut waja cemasnya.
“Kau baik-baik saja Ellis? Dan Yang Mulia?”
Ellis mengangguk “Yang Mulia baik-baik saja...” Ucap Ellis.
“Lalu dia melarikan diri kemana?”
“Dia menuju arah timur...” Ellis berdusta, padahal penyusup itu berlari ke utara menuju gerbang utama “Kerahkan seluruh prajurit kesana, Mathias, dia belum begitu jauh...” Ucap Ellis.
“Baik, kau diamlah disini menjaga Yang Mulia...” Ujar Mathias “Oh, ini pakailah.” Mathias menyampirkan jubah putihnya pada tubuh Ellis, saat melihat bagian kerah kemeja Ellis yang sobek itu “Syukurlah, kau baik-baik saja...” Ujar Mathias lagi sambil berjalan keluar ruangan kamar sang raja.
Ellis menghela nafas, pria bersurai pirang itu seperti mengenalnya “Lagi-lagi Valerin, padahal aku tak mengenali orang itu.” Kata Ellis diiringi helaan nafas yang berat.
“Bagaimana bisa aku tidak mencemaskanmu, Val. Kau tahu sendiri aku sangat mencintaimu.”
Ucapan kalimat itu terbesit dibenak Ellis saat ini, kepalanya mendadak berat dengan deging yang kuat. Ellis memengangi kepalanya “A-akh...” keluh Ellis memengangi kepalanya yang terasa seperti ditusuk dari dalam itu.
Pandangan Ellis mendadak blur, sebelum semuanya tampak hitam. Ellis melihat samar sang raja yang meraih tubuhnya itu dengan tatapan datar seperti biasanya.
“...Ellis.” Suara berat itu yang terakhir didengar Ellis sebelum semua kesadarannya hilang.