Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Episode 43




Hal pertama yang dilihat Valerin Grayii saat terbangun adalah berkas cahaya matahari, dari sebuah jendela yang tepat menghadap ke wajahnya. Valerin meringis pelan, ketika berusaha untuk bangun. Tubuhnya terasa baru saja ditimpa berbagai benda berat. Ya, Valerin kembali berbaring untuk pasrah merasakan sakit di sekujur tubuhnya terutama kaki kanannya.


“Ugh... Sial.” Umpat Valerin dengan raut wajah kesalnya.


“Cantik, pagi-pagi sudah mengumpat?” Itu Frederitch atau Friday. Biasanya dia tidak menggoda Valerin. Tapi kali ini dia gemas menjahili gadisnya itu.


Valerin menggeleng dengan kedua bola matanya memutar malas “Ah, kau. Pagi ini? Baik, moodku hilang.” Celetuk Valerin.


Frederitch biasanya menjadi Friday sang pelayan yang super tabah. Kali ini dia mendelik heran “Ini aku. Okay?” Katanya.


“Ya, aku tahu...” Ucap Valerin membalikkan tubuhnya. Enggan melihat Frederitch.


“Aku membawakanmu makanan.” Ucapnya juga dengan senampan berisi mangkuk bubur dan segelas susu hangat.


“Tak perlu. Hentikan, aku muak melihatmu berpura-pura menjadi seorang pelayan.” Sekali lagi, ucapan tak terduga dari Valerin yang terdengar amat ketus.


Frederitch memilih mundur dengan meletakkan nampan itu diatas meja “Okay, jika perlu sesuatu kabari aku.” Ucapnya dengan pelan, kemudian langsung berjalan keluar ruangan Valerin.


***


“Bagaimana?” Ucap William Rovana pertama kali saat melihat Frederitch keluar dari ruangan Valerin “Oh, tidak... sabar ya.” Ucap William lagi setelah melihat gestur tubuh disertai wajah melas dari Frederitch.


Panacea menahan tawa, tingkah Valerin yang ‘memusuhi’ Frederitch si pangeran ketiga secara tiba-tiba itu sangat lucu “Aku atasi ini Pangeran.” Ucap Panacea sambil masuk kedalam kamar Valerin.


“Tuan muda...” Sapa Panacea.


Valerin bergumam, tampaknya dia kesal dengan Frederitch “Bahkan rambutku sudah panjang seleher, apakah masih terlihat seperti laki-laki?” Celetuk Valerin bernada kesal “Aku tahu, Rhea pasti mengenakan gaun, aksesoris, gelang, kalung dan riasan rambut super mewah khas bangsawan.” Kini nada Valerin menggusar.


Oh, dia sedang patah hati. Pikir Panacea, memilih duduk dipinggiran ranjang dengan pelan. Mendengarkan keluh dan kesah seorang Earl muda, atau bahkan termuda sejagat raya saat ini.


“Aku bahkan mengenakan kaki palsu, jangankan piawai dalam berdansa... menari atau ah, apalah itu!” Ucap Valerin membalikkan tubuhnya menatap Panacea “Aku hanya aku...” Kedua mata Valerin menatap cemas.


Panacea mengangguk “Anda, berani, lugas, kokoh dan indah. Earl Grayii...” Ucap Panacea sambil meraih tangan Valerin “Anda sungguh indah, keindahan ini tak semua orang miliki dan pangeran benar menilai anda.” Panacea tersenyum, mungkin ini sudah kesekian kalinya Panacea tersenyum.


“Hentikan rasa cemas berlebihan ini.” Lanjut Panacea.


Valerin menghela nafas “Okay, kita dimana dan apa yang sudah terjadi sejak aku terluka dan oh, dimana Cerise?”


“Kita ada dikediaman lamaku, Boerhavia. Wilayah terisolisir dari Crave Rose dan Dust Bones.” Panacea menepuk punggung tangan Valerin “dan yah, Cerise membutuhkanmu agar dia dapat bangun.” Panacea tersenyum sekenanya, karena Cerise memang sudah serusak itu. Selain tangannya yang putus, dia juga mati total akibat kehabisan daya.


Valerin berjalan dibantu kedua tongkat, dia bersama Panacea menuju ruang tengah. Dimana ketiga pria berlainan surai kepala, warna mata dan sekaligus pemikiran berbeda ada disana. Mereka diam dengan tegang, ketika Valerin tiba.


“Apa yang terjadi?” Ucap Valerin yang peka membaca situasi.


“A-aku tak sengaja, sungguh. Aku menyenggol Cerise dan dia jatuh ke lantai.” Leon Sirius yang biasanya dingin, sopan, dan bertingkah sangat profesional mendadak hampir merengek kepada Valerin. Memohon pengampunan.


“Dia tak sengaja.” Timpal Frederitch, si surai pirang itu tampaknya habis berdebat dengan William Rovana.


Valerin menghela nafas “Tidak apa...” Ucap Valerin sambil melihat kondisi Cerise yang semakin hancur, menyisakan wajahnya yang datar tanpa kilau dikedua matanya “Oh, Cerise...” Valerin menyentuh puncak kepala Cerise “Aku tak yakin bisa memperbaikimu.” Ucap Valerin lagi. Dia pun dengan terpaksa membuka kepala Cerise dengan bantuan Panacea dan sihirnya. Membuka segel, kemudian mengambil chips kecil disana “Memori... Oh, Cerise...” Valerin menggeleng, menerpa perasaan sedihnya. Cerise berkorban banyak, dan Valerin menyalahkan rencana ceroboh ini.


“Ini salahku...” Ucap Valerin “Ini rencanaku, membahayakan dia dan kalian. Ini salahku...” Valerin merasa bersalah, dia bahkan tak sanggup menagahkan kepalanya selain menunduk “Aku sadar, rencanaku gila.” Lanjut Valerin lagi.


“Cerise rusak, Crave Rose tetap menyerang Dust Bones dan semuanya berakhir...”


“Tidak sepenuhnya Val.” Ucap Frederitch, mendekati Valerin dan memengang kedua bahunya “Tidak jika akulah Rajanya.” Lanjut Frederitch lagi.


William Rovana nyaris tersedak dengan segelas airnya, Leon Sirius melongo tak percaya dan Panacea. Ya, dia hanya menahan senyuman lebarnya.


“Apa maksudmu?”


“Lihat, aku butuh kau berpikir seperti Valerin dirimu dan aku perlu berpikir seperti Valerin sahabatku. Bisa?” Ucap Frederitch menatap langsung kedua mata Valerin.


Valerin mengerti arti tatapan itu, dia pun mengangguk “Okay, berarti kita datangi perjanjianku. Kemudian menghancurkan Crave Rose dari dalam setelah kau bersedia menjadi wadah dari leluhurmu tapi tetap mempertahankan kesadaranmu, begitu?” Ucap Valerin menarasikan isi kepala Frederitch.


Pria bersurai pirang itu mengangguk “Benar! Benar sekali.” Ucap Frederitch.


“Itu gila dan berresiko.” Komentar William Rovana.


“Tidak, itu benar dan patut dicoba.” Celetuk Panacea.


“Okay, aku pihak yang mengikut saja.” Sambung Leon, dia menatap paling pasrah diantara keempatnya.


Valerin menatap sinis “Ayolah, kita butuh suaramu agar bulat. Iya atau tidak?” Geram Valerin.


Pemuda itu mengangguk “Baiklah! Okay, ayo ke Crave Rose dan selesaikan.” Ucap Leon Sirius mengangguk kikuk.


Valerin Grayii menghela nafas “Kau menang, aku ikut.” Ucap Valerin lagi.


“Ya, kau ikut. Sebagai isteriku, link dan pendampingku.”


“Oh, Oh, Oh tidak...” Valerin menggeleng dengan cepat “Aku Gandaria, ingat? Aku punya kontrol sepenuhnya atas Obscure dan kau Vampir, yah Vampir elit. Kau gunakan aku sebagai bahan bakar dan kau mesinnya.” Valerin bahkan langsung mengalihkan tatapannya kepada Frederitch.


“Ah, menyebalkan...” Ucap Valerin sambil meninggalkan ruangan itu.