Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Episode 40




 


Valerin Grayii, baru tiba di sebuah pabrik lama keluarga Grayii. Dia menuruni kuda dalam sekali lompatan, rambut hitam pendeknya basah kuyup karena keringatnya sendiri. Valerin tidak tahu sudah bergegas dengan seberapa cepat untuk tiba kemari.


Jika dugaannya benar, maka selama ini jawabannya ada di sana. Bisa dibilang gegabah, tapi Valerin Grayii menjadikan dirinya sebagai umpan hidup. Kedua matanya melebar menatap beberapa orang yang sudah berdiri disana.


Valerin tertawa hambar “Haha... apakah aku terlalu cepat menemuimu?” Valerin Grayii tersenyum simpul “Yang Mulia Nikolai dan Puteri Primavera...” Ucap Valerin Grayii lagi.


“Untuk seukuran tikus kotor, dia cerdas...” Wanita dengan surai pirang itu menatap angkuh “Apa yang adik kecil kami lihat darimu? Kau tak cantik sama sekali, jelek dan tidak indah.” Dia mengangkat dagunya sedikit tinggi.


“Prim... Earl Grayii masih memiliki tawaran.”


“Benar juga, aku jelek dan berpura-pura sebagai laki-laki. Tapi Frederitch sangat tepat memilihku, dibandingkan seorang wanita yang ingin posisi terpandang menjadi keluarga Kerajaan. Aku hanya memiliki beberapa ide yang kalian inginkan, Frederitch dan aku... kami lebih suka membahas kehidupan singkat ini..” Valerin Grayii tertawa “Aku merasa nostalgia...” Tatap Valerin kepada dua orang penguasa kerajaan tetangga itu.


Surai panjang perak milik seorang yang berpakaian paling berwibawa itu tersapu ketika angin tiba-tiba saja berhembus dengan kencang “Kurasa, kau sudah menguasainya bukan begitu? Earl Valerin?” Kata si surai panjang itu.


Valerin Grayii menggeleng sambil tersenyum lebar “Cerise! Sekarang!” Pekik Valerin.


Bukan Valerin Grayii namanya jika tak bertindak dengan rencana. Dia hanya sengaja menjadi umpan, agar Friday yang ada disisi kerajaannya sendiri dapat leluasa masuk. Ketika Cerise tiba dengan bom berisi serbuk obat tidur, dilemparkan dengan cepat. Gadis itu melesat amat kencang sambil menggendong tubuh Valerin.


“Master, apa tidak terluka?” Ucap Cerise, sang robot yang kebal terhadapt serbuk obat itu tapi tidak dengan valerin yang mulai menatap sayup-sayup.


Valerin menggeleng “Kita harus menahan mereka, mengulur waktu setidaknya sampai matahari terbit.” Ucap Valerin sambil memejamkan matanya, dia berusaha fokus. Agar dapat menarik kendali beberapa orang yang terinfeksi guna menghadang kawanan Raja dan puteri Crave Rose itu “Kumohon, cegah mereka...” Sepasang iris mata Valerin berkilau kembali.


“Cerise...” Valerin bergumam lirih “Jika melindungiku memang susah, serahkan aku kepada mereka. Crave Rose itu...”


Cerise, sang robot yang memiliki tampilan selayaknya manusia. Dia berhenti berlari, berhenti tepat di depan sebuah pohon akasia yang kokoh di tengah hutan. Menurunkan sang tuan, menyandarkannya tubuh kecil dan rapuh itu di pohon akasia “Master, keinginan master adalah perintah master.” Ucap Cerise dengan wajah datarnya itu.


“Aku tahu...” Valerin tersenyum pelan.


“Melindungi master adalah prioritas Cerise.” Lanjut Cerise yang membalikkan tubuhnya, sang robot yang memiliki tubuh wanita cantik menghadang pandangan Valerin sekaligus menghadang setidaknya lima orang vampir yang ada dihadapan mereka.


Valerin menggeleng, dia ingin bangkit “Ah-ah...aw...” Valerin memengangi kaki kanannya, ada luka lecet disana sekaligus cairan darah merembes dibarengi dengan nanah. Luka pada kaki yang dipasang kaki prostetik itu infeksi “Sial, kenapa sekarang!” Valerin mengutuk dirinya. Dia tak sadar, sejak kapan luka sebesar itu ada dikakinya.


“Master? Tidak apa?” Biarpun Cerise menghadang, dia tetap mengkhawatirkan Valerin.


Valerin mengangguk, dia terpaksa melepaskan kaki prostetiknya. Membiarkan sebagian kaki yang telah diamputasi itu terbebas dari prostetik “Ya, baik. Sangat baik, kuharap kau juga Cerise. Mereka vampir, coba untuk serang bagian jantung ah jika tidak cut a head over- untukku.” Kini Valerin tergantung pada Cerise yang melindunginya.


Cerise melesat dengan cepat, menghajar setiap vampir yang berusaha mendekati Valerin. Gerakannya cekatan dan tangkas, sebagai senjata yang dibuat untuk membunuh Cerise sangat mahir melakukan hal itu.


Namun biar pun begitu, Valerin tak diam. Dia memiliki akal lain akan kemungkinan yang akan terjadi, membiarkan Nikolai dan Primavera dengan lima vampir itu begitu janggal “Kecuali, jika dia memang sengaja.” Ucap Valerin sambil mengikat luka di kakinya dengan sobekan kemeja putih yang tadi dikenakannya.


“Valerin...”


Mendengar suara itu, kedua mata Valerin membulat. Tepat disampingnya Nikolai sudah memengang pinggang dan dagu Valerin, dari ekor tatapan Valerin dia pun melihat taring runcing pria bersurai panjang itu “K-kau... Ini memang rencanamu bukan? Berpura-pura menyerang DustBones, agar Al panik. Kemudian menarikku keluar agar kau bisa mendapatkanku.” Ucap Valerin. Gugup namun, tetap berusaha tenang.


“Oh, kau sudah ditandai oleh Frederitch.”


“Ya, adikmu sudah menandaiku.”


Sang raja Crave Rose itu mendecak “Santapan selezat kau sudah bercampur dengan feromon Frederitch. Sayang sekali...” Ucap Nikolai, sang raja Crave Rose seraya mengangkat tubuh Valerin dalam gendongannya.


“Master!” Cerise berusaha menggapai Valerin, namun dalam sekejap tangannya putus oleh ulah Primavera yang menebas pedangnya “M-master...”Cerise sang robot menatap tangannya dengan kabel-kabel yang berderai keluar itu.


“Dancing Blind Maiden, rongsokan sepertimu bukan tandingan jurusku.” Cibir Primavera.


Seharusnya Valerin tak mengetahui kebenaran ini, tapi berkat tindakan Primavera kepada Cerise. Sekelebat reka ulang kematian sosok asli Valerin Darly Kinaru tampak dipenglihatannya, bahkan ketika seorang Valerin Darly Kinaru menukar jiwa kehidupannya diujung kematiannya.


Sekarang Valerin tahu kebenarannya, kematian dari sang kakak. Valerin Darly Kinaru “Kau yang membunuh kakakku?” Gumam Valerin.


“Hanya kubuat sekarat, berterimakasihlah kepada Frederitch. Jika tidak Earl Grayii sudah mati ditanganku.” Primavera berucap sambil mendekati Valerin Grayii “Dan kau... menjijikkan, berpura-pura menjadi orang mati yang lemah itu tapi kau jauh lebih lemah Valyria.” Ucap Primavera dengan nada sombongnya.


Valerin tersenyum pelan “Ya, benar... aku lemah.” Ucap Valerin Grayii sambil menekan tombol pada panel kecil yang ada disarung tangannya. Pisau kecil itu keluar dengan segera Valerin menancapkannya pada leher Nikolai.


“Akh.” Nikolai yang kesakitan melempar tubuh Valerin.


Valerin yang tak mengenakan kaki Prostetik itu hanya bisa terduduk di tanah lembab ditengah hutan ini “Seharusnya impas, tapi saudaramu hanya menerima luka kecil.” Ucap Valerin.


“Nik!” Primavera yang panik memengangi tubuh Nikolai. Dia menjerit kesakitan, namun seorang vampir akan mudah sembuh dengan luka itu.


Sekali lagi Valerin menatap panel kecil yang ada disarung tangannya, sinyal dari Frederitch mendekati lokasi ini dan dengan sontak Valerin Grayii terkekeh kecil “Dasar keras kepala.” Ucap Valerin Grayi bergumam kecil.


“Master!” Cerise yang tak memiliki tangan mendekati Valerin, dia berusaha membopong tubuh Valerin, padahal robot itu sudah rusak parah.


Nikolai menatap Valerin dengan murka “Kau Manusia lemah yang berani denganku.” Ucap sang raja dengan kedua runcing mencuat giginya itu.


“Hey, aku memiliki negosiasi.” Ucap Valerin “Kau ingin darahku bukan? Sebagai antidote Obscure.”


Terlambat, Friday alias Frederitch terlanjur tiba disana. Sama halnya dengan raut wajah murka Nikolai, Friday pun sama marahnya “Apa yang kau lakukan pada Valerin?!” Sergah Friday.


“Hey, hey Friday! Aku tak apa-apa.” Valerin meneriaki Friday “Dengar, aku bernegosiasi padamu Yang Mulia Nikolai. Kau bisa memiliki darahku, akan kuekstrak dengan jumlah yang kau inginkan. Kemudian berikan jantung Friday. Bagaimana?”


“Kau gila Val, aku tak mungkin membiarkannya.”


“Kau harus Frederitch!” Valerin menghela nafas “Jangka hidupmu akan semakin tipis jika tanpa jantung, bukan begitu?” Ucap Valerin lagi.


“Mereka licik.” Friday dengan serta merta meraih tubuh Valerin untuk digendongnya “Saudaraku, tidak bisa diajak kompromi. Percayalah kepadaku.” Ucap Friday lagi.


“Baiklah, Earl Grayii... Sepakat.” Ucap Nikolai dengan tegas “Kau harus memberikannya langsung kepadaku.” Ucap Nikolai lagi, bersama Primavera yang menghilang dari balik kabut yang menebal itu.


Frederitch menatap Valerin “Kau gila. Sungguh, nekat dan gila.” Ucap Frederitch sambil mengecup puncak kepala Valerin.


Valerin menggeleng kecil “Mereka tak akan mendapatkannya Frederitch, karena aku sudah tahu lokasi jantungmu.” Ucap Valerin tersenyum kecil.


“Bagaimana?”


“Sederhana, aku sudah menusuk leher Nikolai dengan memasukkan chip pelacak disana. Percayalah, Nikolai memang raja yang licik tapi dia sangat mudah ditebak daripada Alphonse. Saat ini, pasti dia pergi menuju jantungmu untuk memindahkannya ke tempat yang lebih aman. Kemudian memasang jebakan lain saat pertemuan kita kedepannya, negosiasi yang sudah terjadi.” Valerin Grayii tersenyum lagi sambil melingkarkan tangannya ke leher jenjang Frederitch “Sekarang, aku butuh kau untuk memperbaiki Cerise...” Ucap Valerin lagi.


“Val... Kau keterlaluan.” Ucap Frederitch.


 


.


.


.


.