
Tengah malam, suara batuk Valerin Grayii ditahan dengan tangannya yang ditutup ke mulutnya sendiri. Noda kemerahan tampak pada telapak tangannya, Valerin Grayii tersenyum dengan nanar.
“Biar bagaimana pun aku tidak abadi, menggunakan kekuatan untuk obscure terus menerus membuatku semakin lemah. Ya?” Valerin Grayii bangkit berdiri, dia berjalan menuju jendela kamar penginapan yang terbuka. Bulan bersinar terang, dia menatapnya dengan hening.
“Bertahanlah, biarpun sebentar lagi. Diriku.” Ujar Valerin Grayii.
.
.
.
Keesokan paginya, Valerin Grayii mengganti gaun milik pemilik penginapan dengan setelan pakaian pria. Pakaian itu baru dibeli oleh Leon di toko pada desa itu, sekitar pagi mentari menyinari dengan hangat. Valerin Grayii turun dari anak tangga dengan penampilan semulanya, surai perak pendek selayaknya anak laki-laki, kemeja putih dengan pita dasi berwarna merah beserta celana cokelatnya.
“Ah, syukurlah ukurannya pas. Toko itu hanya menjual pakaian laki-laki, jika gaun perempuan harus menunggu tiga hari setelah dijahit.” Ucap Leon Sirius.
Valerin Grayii menggeleng “Tidak, terimakasih ini saja sudah cukup.” Ujar Valerin.
“Kalian sudah siap?” Itu William Rovana, dia tampak mengemasi dua tas berisi perlengkapan “Frederitch, kau sudah memeriksa kuda-kuda?” Tanyanya kepada Frederitch.
Pria muda yang tengah menggulung lengan bajunya tampak mengangguk “Val, kau baik-baik saja?” Pemuda itu mendekati Valerin, menyentuh wajah Valerin dengan kedua tangan lebarnya “Kau pucat...” Ucapnya lagi.
Valerin Grayii menggeleng sambil tersenyum “Ayo kita berangkat.”
“Tapi perkataan pangeran Frederitch benar, Earl kau tampak pucat.” Timpal Alexander yang ikut memperhatikan Valerin itu.
“Sungguh kalian ini, aku baik-baik saja.”
“Kalau begitu, kau harus bersamaku.”
Valerin mengangguki ucapan Frederitch, seperti kata pria pirang itu. Saat itu mereka bergegas meninggalkan penginapan. Frederitch dan Valerin selalu bersamanya, dalam perjalanan yang panjang. Frederitch senantiasa menemani Valerin.
Jalan berbatu, anakan sungai, hingga terjalnya pengunungan. Mereka terus berjalan menuju desa para alchemist, desa terjauh yang berada paling utara. Petang itu, mereka memutuskan untuk beristirahat di tengah hutan belantara. Api unggun diantara mereka, kelimanya melingkar mengelilingi api unggun.
“Menurut kalian, usia itu bagaimana?”
“Usia dari manusia lahir hingga tua, jika vampire kurasa Frederitch lebih tahu.” William langsung menjawab pertanyaan Valerin.
Frederitch yang duduk disamping Valerin mulai mengangguk “Separuh vampire, ibuku manusia dan ayahku sang Demeritch itu.”
Alexander membulatkan kedua matanya “Oh, astaga, kita sama. Tapi usiamu sudah ratusan tahun bukan? Mengikuti usia para vampire.”
“Benar, usiaku akan sama seperti manusia jika setengah vampire. Tapi kakek dan nenekku memberikan ramuan abadi seperti vampire. Sekarang aku sudah sempurna menjadi vampire setelah mengikat link dengan Valerin.” Ucap Frederitch sambil melempar ranting pada api unggun itu “Valerin sendiri, satu-satunya manusia yang terikat link denganku.” Lanjutnya.
“Berarti, kau akan menyaksikan kematianku kelak?” Ucap Valerin saat itu.
Hening. Tidak ada yang berbicara saat itu, Frederitch beranjak berdiri sambil meraih tangan Valerin “Kemari, aku ingin bicara sebentar.” Pinta Frederitch.
Mereka memasuki hutam, dibalik pohon wisteria besar yang tumbuh dengan kokoh. Kerah baju Valerin disobek oleh Frederitch.
“Hentikan...” Pinta Valerin sambil memalingkan wajahnya.
“Sejak kapan?” Tanya Frederitch menemukan berkas luka membentuk bunga Diphylleia grayi pada bahu kanan Valerin. Tanda jika kekuatan gandaria dan batu obscure yang saling berhubungan terus menggerogoti hidup Valerin.
Valerin hanya membungkam sambil memengang bahu kanannya “Aku... Tidak yakin.” Ucap Valerin dengan lirih.
“Ini setimpal, Frederitch.” Valerin menutupi bahunya dengan mantel hitamnya “Aku tetap manusia biasa, Frederitch.” Ucap Valerin lagi sambil berjalan kembali ke teman-temannya. Sebelum itu Valerin sempat mengentikan langkahnya sejenak “Aku harus bergegas menghentikan Obscure, hingga saatnya tiba, aku bahkan tidak yakin jika bisa tetap hidup atau tidak.” Lanjut Valerin.
“...Kenapa?” Kedua mata violet itu sudah berkaca-kaca, wajah Valerin memerah akan tahan isakannya, hidungnya pun sama memerah. Wajah Valerin sudah sangat tidak kuasa menahan sedih.
Frederitch dengan mata tak percaya, langsung mendekap tubuh itu dengan erat “P-pamanku, pamanku pasti tahu suatu hal yang bisa menyelamatkanmu.” Ujar Frederitch.
“Hm.” Valerin mengangguk “Tapi, jangan memaksakan dirimu.” Lanjutnya lagi.
“Aku tidak tahu sama sekali soal ini, Val.”
“Aku pun begitu, jika bukan karena surat dari Emelie Rovana. Aku pun tidak tahu.” Suara Valerin bergetar samar. Dia melepaskan pelukan Frederitch dengan pelan, jemarinya mengelap ujung mata yang terdapat bulir air mata lalu tersenyum “Tidak apa-apa, Frederitch. Aku baik-baik saja.” Ujar Valerin menyentuh wajah tampan Frederitch.
“Bagaimana bisa aku tidak mencemaskanmu, Val. Kau tahu sendiri aku sangat mencintaimu.”
“Aku tahu...”
“Bagaimana bisa aku harus baik-baik saja setelah tahu akan kondisimu.”
“Aku tahu...”
Frederitch meraih tangan Valerin yang menyentuh wajahnya itu, meraih dan mengecupnya “Val, jangan tinggalkan aku. Janji? Kita pasti bisa menemukan caranya, pasti bisa.”
“Hm, janji...” Valerin itu hanya sudah pasrah dengan kehidupannya. Dia kembali memeluk Frederitch, dalam pelukannya Valerin dapat melihat bayangan samar, orang-orang bersurai perak “Ah, aku mulai sering berhalusinasi...” Batin Valerin sambil memejamkan matanya.
“Val? Val...”
“Aku dengar, hanya saja, aku mengantuk...”
Frederitch langsung meraih tubuh Valerin, sebaliknya mengantuk. Valerin yang tumbang begitu saja malah seperti seseorang yang pingsan. Bahkan hidung Valerin mengeluarkan darah.
“Val, Val... kumohon bertahanlah!” Kelemahanan ini, seharusnya Frederitch menyadarinya.
Valerin, hanya manusia biasa yang berasal dari ras yang memang selalu dikorbankan untuk Obscure.
tangannya langsung memeriksa nadi pergelangan tangan Valerin, deru nafas dan detak jantungnya. Mereka masih terhubung dan itu memudahkan Frederitch mengetahui kondisi Valerin. Gadis bersurai perak pendek itu memang sedang lemah dalam keadaan tertentu "Syukurlah... Kau mungkin kelelahan saja." Frederitch menggendong tubuh itu.
"Frederitch, apa yang terjadi pada Valerin?" William Rovana buru-buru menyelimuti Valerin dengan mantel lain miliknya.
Frederitch menggeleng "Setelah bertemu paman Tobi, baru bisa memastikannya." Ucap Frederitch yang tak sengaja melihat secarik kertas lolos dari mantel itam Valerin, sebuah kertas yang sudah lumus dan usang. Perlahan, Frederitch memunggut kertas itu.
"Valerin butuh beberapa obat-obatan, aku akan pergi sebentar, tolong jaga dia."
"Aku akan menjaganya."
Frederitch mengangguk kemudian lekas bergegas, dia menaiki kudanya. Kemudian memacu kuda itu bergerak.
Kertas yang ada digenggam Frederitch merupakan surat yang dimaksud oleh Valerin. Surat itu seharusnya terselip dibalik buku Coalesce. Frederitch tahu, karena ada sebuah celah khusus dari buku itu.
Dia pun berhenti sejenak dikeheningan malam.
"Dokter Grayii, setidaknya aku mencoba mengirimkan pesan ini, jika terlambat maka surat ini ada didalam Coalesce. perjalananku yang panjang akhirnya bisa bertemu dengan satu-satunya seorang manusia keturunan peri permata hijau yang legendaris itu. dia berada disebua desa dalam Crave Rose, kau tahu? Aku sangat akrab dengan para vampire. Aku tahu kau akan tertawa jika membaca suratku ini, namun aku sekarat, aku pun menyadari jika aku hanya manusia yang bergaul dengan para vampire yang abadi. Oh, abadi hanya untuk keturunan murni yang meminum ramuan abadi, semua itu sudah kucatat didalam coalesce. Sesuatu yang ingin kuberitahukan adalah, Ras gandaria akan hidup selama dua puluh tahun karena sejatinya, Obscure akan menyerap energi kehidupannya untuk batu itu tetap tersegel. Maaf, untuk informasi mengatasi kematian itu, aku belum menemukannya...
Emelie Rovana."
Frederitch meremat secarik kertas itu dengan erat "Apanya yang hidup selama dua puluh tahun?" Ucap Frederitch sambil membakar secarik surat itu dari tangannya sendiri "Huh? Keturunan peri permata hijau?." Rahang Frederitch mengeras, jelas pria muda dengan raut wajah kecewa itu menimbun perasaan kesal. Kedua tangannya terkepal erat.