Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Episode 39




Valerin Grayii, sudah cukup lama tak merasakan senggang dalam waktunya. Dia kini tengah bersantai di kebun halaman belakang manor Grayii, keberangkatannya malam nanti dalam misi rahasianya. Dia tak sendiri, ditemani secangkir teh seduhan Friday dan pembuatnya tentu saja. Valerin tak henti-henti tersenyum, seperti gadis yang dilanda kasmaran. Menakutkan, ujar batin Valerin menggelitik kecil.


“Aku tak pernah membayangkan menjadi seorang remaja yang merasakan jatuh cinta. Ckck.” Valerin terkekeh pelan.


Sementara, Friday yang berada dalam setelan pakaian resminya menatap keheranan “Apakah teh yang kubuat membuat otakmu bergeser Val?” Ucap konyol, Friday yang berlutut didepan Valerin. Membiarkan jubah biru tua kelamnya menyentuh tanah dengan rumput yang lembab itu.


“Tidak-tidak, oh... kau tentu saja alasannya. Bukan teh yang kau buat Pangeran.” Valerin menangkup wajah sang kekasih, yang masih betah berlutut dihadapannya itu “Tampan sekali, apakah tidak ada gadis cantik dan anggun yang menggandengmu?” Ujar Valerin, tentu saja sudah tahu kebenarannya. Hanya senang bermain-main sedikit dengan Friday.


“Val, sungguh. Jika pun ada, aku tak bisa.” Friday menatap dengan sepasang iris raven bluenya.


Bagi Valerin, Friday sudah cukup. Dengan adanya Friday disisinya membuat Valerin berubah “Aku tahu...” Valerin tak berucap lagi, dia menurunkan bibirnya untuk mengecup puncak kepala Friday dengan lembut “Kau lebih cocok berpakaian seperti ini dari pada seperti pelayan Friday, oh Frederitch...” Valerin segera meralat ucapannya saat itu. Dia terkekeh kecil dengan bahagia yang besar.


“Aku mencintaimu, kau tahu. Baik itu bersamamu ataupun tidak, perasaanku tidak akan berubah.”


Friday melongo tak percaya, penuturan Valerin terasa tak nyata baginya “Ah... kurasa jantungku yang tersegel pun bisa kurasakan berdetak dengan kacau.” Cicit Friday dengan wajah yang gugup, berkerit didahinya.


Valerin menatap Friday yang beranjak berdiri dengan gelisah, dia pun berdiri juga dengan sepasang kaki berbeda. Prostetik dan daging manusia, ia terbiasa mengendalikan perbedaan ditubuhnya “Lihat aku.” Perintah Valerin.


Friday segera menatap gadis yang lebih pendek darinya “Kumohon, jangan berkata seolah-olah kau siap untuk meninggalkanku Val.” Mohon Friday menggengam kedua tangan Valerin.


“Maka dari itu, dengarkan aku.” Sepasang iris violet Valerin berbinar indah “Aku tak akan meninggalkanmu, jadi berjanjilah untuk berada disisiku? Okay?”


Friday mengangguk, ia menangkup wajah Valerin. Mengecup seluruh permukaan wajahnya “Aku mencintaimu.” Ucap Friday.


Perpisahan, ini adalah pilihan Valerin dalam memisahkan dua misi yang berbeda. Malam itu, mereka berlima berkumpul dikediaman Grayii. Valerin sudah mempersiapkan seluruh alat yang mereka butuhkan. Disana Valerin hanya menatap Friday, dia pun cemas tapi peran lainnya sebagai pemimpin kelima orang ini begitu penting.


“Val, kurasa kau yang tahu soal rencana ini. Tapi aku ingin tahu, lebih tepatnya kapan Obscure itu mulai ada?” Pertanyaan Willian Rovana, sang Viscount memudarkan lamunan Valerin.


Valerin yang sedari awal hanya fokus menatap Friday menjadi gelagapan, dia menggeleng “20...19... 2019 itupun hanya keberadaan meteor dari sebuah planet, masih berupa hipotetik dugaan.” Valerin Grayii kembali menatap Friday.


“Kau akan baik-baik saja, Frederitch.” Sebuah pelacak sengaja Valerin letakkan saat memeluk tubuh tegap itu, hanya dia yang tahu.


Valerin menghela nafas “Baiklah semuanya, aku tahu kalian pasti akan lebih jujur kepada Alphonse. Kali ini saja, percayakan misi ini kepadaku. Al tak perlu tahu...” Valerin juga memberikan masing-masing chip berbentuk earphone, benda itu memiliki sinyal yang dapat dipantau pada panel kecil yang ada disarung tangannya “Selain itu, apakah kalian masih memiliki pertanyaan?” Ucap Valerin sambil mengikat setiap pengait pada sarung tangan kirinya itu.


 


 


 



Panacea yang sedari tadi memperhatikan Valerin, mulai menatapnya dengan seksama "Tuan muda, apa yang akan anda lakukan setelah kami menjalani misi masing-masing?"


"Ah benar juga." Ucap Valerin menggulung lengan kiri bajunya "Aku akan disini, mengawasi pergerakan kalian dan secepat mungkin tiba jika sesuatu menimpa kalian." Senyuman manis Valerin menggembang.


Leon Sirius dan William Rovana saling mendeham "A-ya..." Ucap mereka bersamaan.


"Mana mungkin kami membiarkan leader semanis ini keluar dari zona amannya." William menggoda Valerin.


Jika saja Friday tak disana, mungkin hal itu semakin menjadi. Friday yang tak suka meraih tubuh Valerin.


"Engh..." Valerin Mengerang tentu saja, lehernya terasa perih.


Dikecup ceruk leher itu, hingga bekas lukanya menghilang "Tunggu aku, jangan bertindak gegabah." Ucap Friday berbisik pada Valerin.


"Ayo." Ucap Friday sambil mengangguk pada Leon Sirius yang berpakaian serba hitam itu.


William Rovana menyiku Valerin "Hey, apakah kalian sepasang kekasih?" Ucap William sambil melirik Friday yang sudah pergi bersama Leon.


Valerin mati-matian menahan rona merah pada wajahnya "A-ah pergilah sana!" Ucap Valerin memukul pundak William.


"Aw- yah tentu saja. Ayo nona Eerie... Sungguh tuan mudamu galak tiba-tiba." William Rovana mengeluh pelan. namun ia mengusak puncak kepala Valerin saat itu juga "Hati-hati disini, ucapan Frederitch itu benar. Jangan bertingkah gegabah." William Rovana pun keluar dari manor lebih dahulu, pria yang mengenakan jubah merah gelap itu sudah melesat dengan cepat dengan sebuah senapang dipunggungnya.


"Yah tentu saja." Valerin menatap Panacea yang sejak tadi melihatnya "Aku baik-baik saja Pana, sungguh."


"Baik tuan muda, berhati-hatilah disini." Ucap Panacea sambil melesat menyusul William Rovana.


Valerin melipat kedua tangannya didada "Aku akan baik-baik saja." Senyum Valerin sambil berjalan kehalaman belakang manor, dia menaiki sebuah kuda.


"Tuan muda, anak-anak sudah dipindahkan ke kediaman tuan Edward Sirius." Ucap tua Odolf yang menghampiri Valerin dengan lenteranya.


"Terimakasih tuan Odolf, segera kosongkan manor. Pulanglah kerumah keluargamu tuan Odolf." Valerin berkata dari atas kudanya "Berbahaya jika berdiam diri di manor. Siapapun bisa menyelinap kemari." Ucap Valerin lagi.


"Baik tuan muda, berhati-hatilah dalam perjalananmu."


"Tentu tuan Odolf." Ucap Valerin sambil memacu kudanya.


Valerin sempat menatap panel kecil yang ada pergelangan tangan kirinya, beberapa tanda akan semua anggotanya ada disana "Bagus, berhati-hatilah kalian semua." Ucap Valerin meletakkan sebuah tanda pemancar pada jalan yang menuju gerbang keluar dari mannor.


dimalam sunyi itu, Valerin seorang diri menaiki kudanya menembus jalanan berbatu yang sepi. Wajahnya tertutupi tudung berwarna putih, dari balik tudung itu sepasang violetnya berbinar dengan tajam.


"Aku harus memastikannya seorang diri, benar. jika memang seperti itu maka semuanya sudah jelas." Ucap Valerin seorang diri.


Tubuh kecilnya itu terus memacu kuda dengan mahir, beberapa yang terinfeksi obscure sempat menghadangnya. Kuda yang Valerin naiki sampai meloncat panik, membuat Valerin dan kuda itu terjatuh.


"Ssshhh... kenapa sampai bisa kemari? Seharusnya ini masih wilayah bebas dari Obscure." Meringgis pelan Valerin sambil memengangi bahunya yang menghantam tanah berbatu. Valerin berdiri perlahan. secara Tiba-tiba sepasang mata violetnya bisa melihat berbeda manusia yang terinfeksi Obscure itu, semakin berbinar sepasang iris valerin sanggup membuat manusia yang terinfeksi tak bergerak menyerangnya.


"Bagus, aku tahu sekarang." Ucap Valerin Grayii yang mengarahkan tangannya "Sekarang kalian menjauh." Sesuai dengan ucapannya, manusia yang terinfeksi itu mematuhi ucapan Valerin.


Dia pun segera menaiki kudanya lagi "Hey, hey tenanglah kawan." Ucap Valerin sambil mengusap-usap kudanya.


"Maaf, aku harus tahu cara menyembuhkan kalian semua." Ucap Valerin lagi sambil menaiki kudanya dan bergegas pergi dari sana.


.


.


.