Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Season 3: Episode 79




“Sekarang giliranmu anak muda, apa yang terjadi pada kalian?” Tanya Remington.


Lyn sander, tampak ragu-ragu kemudian menghela nafas sejenak “Gadis yang kutolong itu, dia Earl of Hortensiaburg. Valerin Grayii...”


Sejenak, Remington mulai menyadari. Pantas saja, gadis itu tampak familiar baginya “Tak kusangka dia seorang wanita, tapi dia hanya anak-anak. Kau tak salah mengiranya Lyn? Jika benar, dia buron bagi Dust Bones atas pengkhianatannya.”


“Inilah yang membuatku ragu mengungkapkannya...” Lyn menghela nafas “Dia seharusnya berada di Dust Bones, entah bagaimana caranya Earl Grayii berada di desa Lotus bahkan didalam sebuah kereta para tahanan. Aku hanya menolongnya, karena dia sangat berarti bagiku, jika saja tuan tahu... Earl Grayii itu manusia yang baik, aku...” Lyn tak sanggup melanjutkan perkataannya lagi.


“Aku mengerti...” Ujar Remington seraya beranjak berdiri “Sementara ini, tutupi diri anak itu sebagai Earl Grayii, kalian akan aman selama berada bersamaku.” Ucap Remington lagi.


Tiga Tahun, bukan waktu yang singkat. Bahkan Earl Grayii yang dimaksud oleh Lyn Sander, tampak berbeda dari perilaku dan gelagatnya. Ia banyak diam dan melamun, bahkan kedua matanya sangat-sangat kosong.


Bulan pertama kali, Lyn dan sosok sebagai Earl Grayii dibopong masuk kedalam kediaman dari Remington, sebuah gedung bekas penginapan yang ia beli dari gajinya sebagai ksatria kerajaan.


“Bagaimana?” Tanya Remington kepada Lyn yang membantu Earl Grayii itu masuk kedalam penginapannya.


Lyn Sander mengangguk semangat “Bagus... sangat bagus tuan.” Ucap Lyn.


Remington tersenyum, hidupnya lebih berwarna dengan kehadiran Lyn dan Earl Grayii biarpun sang Earl seperti boneka kosong tanpa nyawa.


“Ellis... apakah kau suka tempat tinggal baru kita?” Remington yang menundukkan tubuhnya sedikit, menatap langsung Earl Grayii dengan tatapan hangatnya, ia pun memengang puncak kepala Earl Grayii kemudian mengusapnya dengan lembut “Kasihan sekali, anak ini...” Remington seolah tahu, penderitaan yang sudah dilalui oleh Earl Grayii itu.


“Ellis?” Ulang Lyn.


“Ellis, aku dan Danielle mendambakan anak dalam pernikahan kita kelak, kami sepakat jika perempuan akan menamainya Ellis.” Ujar sendu seorang Remington.


Lyn mengangguk setuju “Memang benar, kita harus menyembunyikan jati diri asli dari Earl Grayii.” Ucap Lyn Sander “...dan aku pun sama, rumor mengenai ras Gandaria berkat Earl Grayii mungkin sudah didengar oleh penduduk Dust Bones.”


“Kalian bersamaku, anak-anak...” Remington memeluk Lyn dan Earl Grayii yang ia panggil Ellis secara bersamaan itu.


Satu tahun berlalu...


Rintik salju menghujani Dust Bones dengan dingin, hari berganti minggu, bulan berganti tahun. Remington sudah hidup bersama anak-anak yang ia anggap seperti anaknya sendiri itu.


Remington baru pulang dari misinya, menghabiskan waktu empat bulan. Kali ini, ia pulang untuk menemui ‘anak-anak’nya. ia baru menggengam gagang pintu.


“Selamat datang, Remington.”


Pertama kalinya dalam setahun, ia mendengar suara mengalun merdu dari sosok Ellis yang baru. Gadis muda bersurai pirang dengan iris mata emas, sangat berbeda dengan sosok Earl Grayii yang sebelumnya. Iris violet yang kosong sudah berganti menjadi iris emas yang hangat itu.


“Danielle...” Iris mata emas dari Ellis bahkan mirip dari mendiam kekasihnya.


“Ellis!” Remington langsung memeluk tubuh Ellis yang lebih hidup ini “Bagaimana kabarmu, nak? Apa kau sehat saja? Lyn, apakah Lyn mengurusmu dengan baik selama aku dalam misi?” Tanya Remington bertubi-tubi.


Ellis dalam pelukan Remington mengangguk “Benar, Lyn merawatku dengan baik.”


“Selamat datang, tuan...”


Bahkan Remington juga menemukan sosok Lyn Sander yang berbeda, dengan surai peraknya yang berganti jadi hitam.


“Kenapa? Apa yang sudah kau lakukan Lyn?” tanya Remington.


Lyn hanya diam, ia menggeleng, memberi kode isyarat agar menunggu sosok baru dari Ellis ini tertidur “Nanti malam... Kita akan membicarakannya.” Ujar Lyn.


Remington mengusap puncak kepala Ellis “Kakakmu dan aku akan membicarakan penginapan kita.” Senyum Remington.


Ellis mengangguk patuh, ia melirikpedang dari Remington yang bertengger dipinggangnya “Pedang itu, aku ingin belajar berpedang!” Seru Ellis.


Remington tertawa seraya mengusap puncak kepala Ellis “Lady, seharusnya belajar memasak, kakakmu saja lebih baik memasak.”


Ellis mencebik dengan menggemaskan “... Tidak adil, aku ingin menjadi pria saja biar bisa berpedang.” Rajuknya dikala itu.


Lyn mengecup puncak kepala Ellis yang sudah tertidur itu, baginya Ellis kembali seperti anak-anak. Bahkan setiap tidur selama beberapa bulan ini selalu memintanya dibacakan buku dongeng atau mendongengkannya. Selama empat bulan ini, sudah menjadi rutintas Lyn melakukannya.


“Maaf, Ellis memang seperti itu sekarang.” Lyn baru menuruni tangga seraya mengikat surai hitam panjangnya, tanpa Lyn Sadari bahkan jenggot tipis sudah mulai tumbuh didagunya. Ia memang jarang merawat diri karena mengurus Ellis.


Remington yang menyadarinya hanya tersenyum tipis “Apakah kau kesulitan merawat Ellis?” Tanyanya sedikit tertawa.


“Benar, tapi dibandingkan dulu, jauh lebih baik.” Ujar Lyn yang duduk disebelah Remington.


“Apa yang sudah terjadi?”


“Aku membuat ramuan untuk merubah warna rambut dan mata dari Valerin Grayii, sementara sikapnya itu, maaf... aku melakukan teknik terlarang yang kupelajari dari Makerku.” Ujar Lyn seraya menunduk “Aku tak ingin melihat Valerin terus-terus diam seperti boneka hidup itu, dia tak lebih dari manusia tak berjiwa karena... kekuatannya sebagai Gandaria sudah menggerogoti jiwa dan ingatannya.”


Remington kembali menengak segelas minuman keras dari gelasnya itu “Aku tahu dari Danielle, seorang gandaria yang menanggung pemurnian wabah obscure. Ia dan obsesinya dalam gandaria.” Ucap Remington.


Lyn mengangguk “Aku terpaksa memasukkan ingatan palsu dalam ingatannya, agar kembali membuat hidup Ellis.”


“Itu lebih baik, dia hanya gadis manis yang hidup... seperti anak yang kami inginkan.” Racau Remington dalam keadaan setengah mabuknya.


Lyn mengangguk kembali “Yang Mulia, dia membantuku dalam menemukan ramuan-ramuan ini.” Jujur Lyn “Maaf, aku baru mengatakannya...”


Remington menatap Lyn “Dia yang menetapkan Earl Grayii sebagai Buron? Sekarang bagaimana bisa dia menemukan kalian?” Sekarang, Remington yang setengah mabuk itu tertawa terbahak-bahak.


Lyn menggeleng “Aku ceroboh...” Sebaliknya, Lyn malah murung.


“Kau juga mabuk tuan.” Ujar Lyn melirik pria paruh baya yang masih memiliki tubuh kekar itu, Lyn pun beranjak berdiri “Diantara aku dan Ellis. Kurasa, kau lebih memilih Ellis sebagai anakmu. Lantas aku ini apa?”


.


.


.


Kembali pada masa kini, tiga tahun silam bukan berarti apapun hanya proges seorang Ellis Francieli dari desa Lotus. Remington yang baru sadari dari lamunan masa lalunya di tiga tahun sebelumnya itu, kini memperhatikan Lyn Sander yang sudah tumbuh seperti pria dewasa yang penyayang terhadap keluarga kecilnya ini.


“Aku selalu berpikir, kenapa kau merubah rambutmu menjadi hitam? Kau malah mirip seperti Ellis seperti awal sementara Ellis kau buat sedemikian mirip dengan Danielle, kenapa Lyn?” Celetuk Remington yang tengah duduk dikursi.


Lyn sampai tertegun, ia memengang nampan berisi semangkuk ramuan obat dan juga bubur untuk Ellis “Karena aku dan kau sama-sama berada diposisi yang sama.” Ujar Lyn.


Lyn Sander meremat ujung nampan yang dipegangnya dengan amat keras “Kau memiliki kekasih yang tak bisa kau miliki seumur hidupmu dan aku pun sama, aku ingin seseorang yang sudah memiliki ikatan dengan vampire. Sementara tiga tahun ini, kulakukan semuanya yang kubisa untuk menghapus seluruh jejak dari masa lalunya, semua itu hanya karena aku ingin Ellis hidup bersamaku biarpun cuman seperti ini.” Bibir bawahnya sengaja digigit, menutupi rasa kesal yang berusaha dibendungnya itu.


Remington menatap Lyn yang menaiki tangga, untuk menuju kamar Ellis “Danielle, semakin hari... puppet yang kau buat semakin mirip denganmu.” Decak Remington, pria itu sudah bertahun-tahun frustasi. Kini, ia hanya bisa kembali seperti tiga tahun lalu. Mabuk pada malam dengan sisa kenangannya.