
“Valerin Grayii. Kau kah itu?”
"Kau siapa?"
Valerin Grayi memicingkan matanya, sepasang violet milik Valerin bias oleh cairan air matanya yang hendak keluar. Samar-samar keluar.
“Val, kau kenapa?” Cemas Alphonse memperhatikan gelagat Valerin.
Gadis berpakaian necis seperti lelaki itu menggeleng pelan “Itu... Hologram, Hologram ibuku.” Valerin Grayii menahan isak tangisannya dengan tegar.
Hologram dengan siluet ibunya itu amat mirip dengan tampilan manusia, jika saja Valerin tak menyadari pantulan dari sensor alat hologram dari logo logo diphylleia grayi pada tengah-tengah ruangan “Aku Valyria.” Ucap Valerin berusaha tersenyum pada Hologram canggih dengan kemampuan sistem AI-nya itu.
“Oh, Aku mengerti.” Hologram ibunya tersenyum menatap Valerin “Kau Valerin saat ini.” Kata ibunya lagi.
Valerin Grayii mengangguk pelan “Ya... dan tak pasti.” Valerin menarik nafas, menahan bulir air matanya jatuh “Apakah, kau ingin memberikan informasi mengenai dunia ini lagi kepadaku?” Ucap Valerin.
“Aku mengerti perasaanmu, satu hal yang kau miliki dan tak semua orang miliki. Keberanian” Siluet ibunya sekali lagi tersenyum dengan tatapan teduhnya.
“Aku harus mengendalikan para terinfeksi Obscure untuk mencegah Crave Rose, sekarang jelaskan padaku bagaimana caranya? Aku yakin kau tahu, bu.”
“Hanya kau yang bisa.”
Valerin Grayii menggeleng pelan “Sampai detik ini aku tak bisa.”
“Satu hal yang kau miliki dan tak semua orang miliki bahkan saudaramu sendiri, sekarang kau hanya perlu percaya kepada dirimu sendiri. Keberanianmu adalah kekuatanmu, puteri kecil kami.” Hologram sang ibu menghilang dengan kalimat terakhir yang ia ucapkan.
Kedua tangan besar Alphonse memengang kedua bahu Valerin “Kau tidak apa-apa Val?” Ia turut cemas. Valerin seperti kesusahan bernafas, tampak dari deru nafasnya yang berat.
Valerin menggeleng pelan “Tidak, aku tak apa-apa.” Valerin melepaskan tangan Alphonse dengan pelan, sekarang ia tak mampu berkata hal apapun lagi. Valerin berjalan keluar dari pabrik itu tentu dengan isak tangisan dan wajah sembabnya.
“Hanya aku yang bisa?! Tentu saja, aku bisa. Sejak kalian lebih memilih Valerin daripada aku?!” Valerin mengoceh dengan kesal, ia berteriak dengan pilu diiringi oleh isak tangisannya yang deras.
Langit pun demikian sama, mendengar si iris Violet itu berseru dengan amarahnya. Meskipun diguyur hujan. Valerin tetap berdiri dibawah langit mendung itu. Kini, tetes air matanya tak lagi tampak berkat air hujan yang terus menguyur dirinya.
Valerin menundukkan kepalanya “Aku menerima diri Valerin dengan suka hati, karena aku ingin kehidupannya.”
“... Aku benar bukan? Aku tidak bersalah, aku hanya ingin semua kehidupan ini.” Valerin menaikkan tatapannya, seolah ia sudah tahu keberadaan pria itu yang ada dihadapan tatapan.
“Kau tak salah.” Sepasang iris biru tua itu menatap Valerin.
“Frederitch...” Valerin pun berlari untuk menubruk tubuh pria itu dibawah guyuran hujan “Hiks... Aku...” Valerin terisak didalam pelukan pria itu.
Friday dengan suka hati menangkap tubuh kecil itu, ia mendekapnya dengan erat “Maafkan aku Val, sungguh.” Tangannya mengelus puncak kepala Valerin yang terasa basah bahkan seluruh tubuhnya.
“Ayo, kita pulang dan keringkan tubuhmu.” Ucap pelan Friday terhadap Valerin, dia bahkan sempat menatap Alphonse dengan datar. Menatap pria itu dari tempatnya berdiri dengan memeluk Valerin.
***
Friday tiba dikediaman Grayii tepat pukul tujuh malam, ia menggendong tubuh Valerin dalam dekapannya. Seperti menggendong penggantinnya dengan kasmaran, biarpun sang Grayii itu masih terdiam dengan wajah sendunya didalam dekapan Friday. Valerin tak berucap apapun, hanya diam dan melekat pada Friday.
Friday menggeleng pelan “Aku yang akan mengurusnya.” Ucap pria bersurai keemasan itu.
“Master!” Saat Cerise ingin menghampiri Valerin, dia pun dicegah oleh Panacea “Biarkan tuan muda istirahat.” Ucap Panacea.
Friday sedang mengeringkan surai hitam Valerin dengan handuk, sang Earl of Hortensiaburg sudah mengganti pakaian bersih dan kering. Dia juga tampak duduk dengan tenang, membiarkan Friday mengeringkan surai hitamnya.
“Katakan sesuatu kepadaku, Val.” Ucap Friday sambil menundukkan posisi tubuhnya agar berhadapan langsung dengan iris violet cantik itu “Katakan, jangan diam seperti ini.” Pinta Friday sambil meremat kedua tangan kecil Valerin.
“Aku melihat hologram ibuku.” Hanya itu ucap Valerin dengan kedua mata yang nyaris ingin menangis lagi “...Aku rindu kedua orang tuaku, kakakku... Apakah aku egois merebut kehidupan ini?” Bibir ranum Valerin bergetar dengan lirih.
Friday menggeleng “Tidak, sama sekali tidak.” Ucapnya sambil mencoba tersenyum pada Valerin.
“Kemari...” Ucap Friday sambil mengecup puncak kepala Valerin “Kau mampu melaluinya Val, lebih mampu dari yang kau kira...” Friday juga mengepalkan sebelah tangannya, pemikiran akan perjumpaannya dengan lady Berthan belum usai. Dia malah lebih ingin bersama Valerin dari pada wanita itu “Aku mencintaimu...” Ucap Friday lagi sambil memeluk erat tubuh Valerin.
Kedua mata Valerin berkedip-kedip heran “...A-aku ya, a-aku...” Valerin salah tingkah gelagapan.
“Val...” Friday melepaskan pelukannya “Aku tak ingin meninggalkanmu, bohong jika aku harus meninggalkanmu sendiri.” Dipegangnya permukaan wajah Valerin yang manis itu “Sungguh, jika aku melakukannya berarti aku bohong kepadamu.” Friday menyukai sepasang iris violet Valerin yang berbinar itu. Ia pun terus menatapnya.
“Aku tahu...” Ucap Valerin meraih tangan Friday dan menggengamnya “Tapi aku harus jujur, gelisahku sering merundung akan membayangkanmu bersama tunanganmu Frederitch” Valerin tersenyum hingga pipinya bersemu kemerahan “Kuharap disudut hatimu, kau selalu mengingatku. Fridayku, Frederitch terkasihku...” Valerin menunjuk dada atletis Friday yang dibalut kemeja putih itu dengan jemari telunjutnya “Itupun jika jantungmu masih ada...” Kekeh Valerin diakhir ucapannya.
Friday ikut tertawa mendengar ucapan Valerin “Jantungku ada ataupun tidak ada, tetap kau yang menyatu dengan jiwaku. Val...” Ujar Friday menatap angkasa violetnya itu.
Atas permintaan Valerin yang seharian ini menolak menggunakan kaki Prostetik, ia mengeluh nyeri pada kakinya. Maka, Fridaylah yang membawa tuan mudanya itu sepanjang hari, senantiasa didalam gendongannya dengan manis seperti pasangan suami isteri yang baru usai honeymoon.
Panacea mendeham “Jika pangeran lelah, aku bisa membawa tuan muda.”
Valerin menggeleng, ia meremat pakaian Friday.
Panacea menghela nafas “Tuan muda, Yang Mulia Pangeran tidak memiliki jantung. Energinya terbatas, biarpun dia sanggup berdiri dan membawamu sepanjang hari. Tapi pangeran belum meminum darah. Bisa dirasakan energinya semakin berkurang.” Nasihat Panacea. Dia tahu sebenarnya Valerin hanya ingin bersama pelayan vampirnya itu.
“Ah sungguh?” Kedua mata Valerin membelalak.
Friday tersenyum canggung “Tak masalah, itu bukan masalah sama sekali.” Ucap Friday.
“Tidak kau harus minum sekarang! Ayo hisap leherku!” Teriak Valerin.
“Errr... Val, ada anak-anak disini.” Bisik Friday.
Valerin menoleh melihat anak-anak itu menatap Valerin dengan polos.
“Hehe...” Valerin terkekeh akan kebodohannya.