Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Season 2: Episode 49




Seekor kuda yang mereka naiki berjalan terus kedepan, melewati setiap jalan berbatuan hingga anakan air yang mengalir kecil. Frederitch bersama Valerin, mereka berdua tiba disebuah kota yang teramat damai. Satu-satunya kota dengan dinding khusus anti Obscure, mengelilingi seluruh penjuru kota itu.


Clematis, kota mayoritas penduduk berdarah campuran. Tidak tahu berbahaya atau tidaknya kota ini bagi mereka, saat tiba didepan gerbang salah seorang penjaga mengenali Valerin.


“Earl Grayii? Ah, tidak, apakah anda anak dari Earl Grayii?” Penjaga itu menghampiri mereka, mendekati Valerin sambil menatapnya dengan seksama “Earl Grayii seorang pria yang bijaksana.” Lanjutnya lagi.


Valerin Grayii mengangguk, dia menunduk dengan hormat “Valyria, aku adik dari Valerin Grayii, tapi memang semua orang mengenaliku sebagai Valerin Grayii. Tuan, siapakah anda?” Ucap Valerin Grayii turun dari kuda tersebut dibantu oleh Frederitch yang mengangkat tubuhnya turun dari kuda.


“Frederitch Drew Raymond, dari Crave Rose.” Ucap Frederitch juga.


Pria penjaga itu mengulum senyuman “Seorang manusia dan vampir? Seorang pangeran ketiga, kalian berdua bersama?” Tanya pria itu menelisik.


Valerin yang pertama kali mengangguk dengan mantap “Benar, Frederitch milikku.” Posesif Valerin seraya menggandeng tangan Frederitch “Kami harus menemukan buku Coalesce.” Ujar Valerin Grayii lagi.


“Masuklah, masuk, kami sangat menghargai keputusan manusia dan vampir yang ingin bersama.” Ucap penjaga itu.


“Val, kau serius?” Bisik Frederitch kepada Valerin.


Sementara Valerin sudah jalan lebih dahulu “Ayo, cepat.” Katanya memerintah Frederitch.


Frederitch hanya bisa menghela nafas, sebenarnya dia turut senang, pengakuan Valerin begitu berani “Dasar.” Ucapnya sambil terkekeh kecil.


Pria yang disangka sebagai penjaga itu dihormati oleh penduduk Clematis, pria paruh baya dengan senyum ramahnya itu menemani langkah Valerin dan Frederitch memasuki kota Clematis.


“Namaku, San Nord. Buku yang kalian cari ada di perpustkan Clematis, dijaga oleh wanita paling cantik di kota ini. Isteriku, San Veya.” Ucapnya sambil tersenyum ramah “Kakakmu, Earl Grayii berjasa terhadap keluarga kami, membantu kelahiran puteri kecil kami Roselle.” Lanjutnya lagi.


Sementara mereka berjalan, Valerin memandang seluruh kota, ada pasar, aula kota, sekolah bahkan kedai-kedai makanan yang tampak beraktivitas dengan damai. Beberapa diantara penduduk menyapa dengan ramah, Valerin sempat terheran “Kedai itu, caffee bukan? Oh itu juga, rasanya seperti ada dikehidupan yang lalu. Corak kota ini sangat nostalgia.” Ujar Valerin.


San Nord mengangguk “Benar, kami mempertahankan sistem terdahulu, bahkan beberapa kota masih asli dari terdahulu, gedung itu, masih sama sejak berpuluh tahun lamanya.” Jelas San Nord menunjuk mantan gedung kontemporer yang sangat dikenal Valerin Grayii.


Mereka pun berhenti, disebuah gedung kecil yang sangat hangat, disana seorang wanita dengan kedua mata sklera putih menyambut dengan senyum “Nord, kau membawa tamu?” Tanya wanita itu.


Valerin yang tahu kondisi kebutaan dari wanita itu mengeryitkan alisnya, namun Valerin mencoba memaklumi saat melihat kedua taring dari giginya “Selamat pagi nyonya San, perkenalkan namaku Valyria, adik dari Earl Grayii.” Ujar Valerin.


“Selamat pagi Nyonya, Frederitch hanya menjaga nona Grayii.” Sambung Frederitch juga.


Wanita itu mengulum senyuman “Aku buta, tapi suara kalian berdua sangat berwarna, terutama anda nona Grayii, pasti anda sangat indah sampai pangeran ketiga menempeli anda.” Wanita itu terkekeh pelan, disebelahnya seorang gadis cilik bersembunyi dari bawah kakinya.


Valerin kembali terasa terulang, mengingat pertemuannya dengan Bobby sepupu Tarra sahabatnya “Tentu saja nyonya San, Frederitch sangat disayang jika jatuh ke wanita yang tak tepat.” Sindir Valerin dengan pelan.


Frederitch mendeham, dia pun menyentuh pundak Valerin dengan pelan “Kalau begitu sayangku, bisakah kita kembali ke tujuan utama?” Bisik Frederitch.


Valerin terkekeh sambil mengeluarkan liontin kalungnya “Kami mencari buku Coalesce, milik Avicenna bernama Emelie Rovana.” Ujar Valerin.


“Emelie? Ah, apa kabarnya? Dia gadis baik yang mengabdi kepada kota ini, dokter yang sangat baik berkat dia juga Roselle bisa sehat, tentu juga berkat Earl Grayii.”


“Kakaku sudah meninggal.”


“Maafkan aku, nona Grayii.”


“Tidak masalah, saat ini akulah Earl of Hortensiaburg, kakak menyerahkan semuanya kepadaku nyonya San.” Ujar Valerin “Semuanya, termaksud keselamatan buku Coalesce agar berada ditangan yang benar.”


San Nord dan San Veya, kedua suami isteri itu saling menatap “Masuklah nona Grayii dan pangeran Frederitch.” Ujar San Veya.


Sebuah ruangan perpustakaan, buku-buku disetiap raknya. Berjejer dengan satu. Nyaris setiap dinding merupakan rak buku itu sendiri, lampu-lampu temaram dengan ornamen ukiran kayu bermotif bunga clematis. Valerin bersama Frederitch dipersilahkan duduk pada bangku-bangku yang ada ditengah-tengah ruangan ini.



“Nyonya San Veya, kami melalui banyak hal, kakakku dan Emelie sama-sama sudah meninggal. Anda harus yakin buku itu untuk diberikan kepada kami, karena Viscount Rovana ingin buku itu untuk berada bersamaku.”


“Benar, Valerin benar. Anda tahu sendiri, Crave Rose dan Dust Bones saat ini. Buku Coalesce hanya mempermudah Crave Rose ataupun Dust Bones menyerang satu sama lain.”


“Kalian berdua, pasangan yang serasi.” San Veya mengulum senyuman sambil meraih tangan Valerin Grayii “Link diantara kalian berdua begitu kuat, insting pangeran akan selalu bersamamu Earl Grayii. Kemari, buku itu akan kuberikan kepadamu.” Ucap San Veya beranjak berdiri sambil menggandeng tangan Valerin Grayii.


Frederitch juga berdiri, namun ia ditahan oleh San Nord “San Veya, tertarik dengan kekasihmu pangeran. Dia akan mengajari sesuatu, tunggulah disini.”


Frederitch mengeraskan rahangnya, kemudian ia menghela nafas “Baiklah...”


Valerin Grayii berjalan mengikuti langkah anggun San Veya, wanita bergaun putih itu menaiki tangga tanpa bantuan apapun, dia buta tapi selayaknya tidak. Valerin Grayii menelisik, dia pun sadar jika San Veya juga seorang vampir.


“Anda, sedang menimbang tentangku, bukan begitu Lady Grayii?”


Valerin Grayii mendeham “I-iya, tapi tidak masalah nyonya San. Aku juga sempat menggunakan kaki palsu.” Sahut Valerin Grayii.


“Begitu, pantas saja aura yang menguar dari dirimu sangat unik. Kau yang tampak paling violet diantara yang lain, apakah kau sudah paham menjadi seorang Avicenna? Lady Grayii?”


“Tidak begitu paham, beberapa mungkin saja.” Valerin tertawa sekenanya.


“Kalau begitu kau Avicenna paling unik, satu-satunya yang bisa menyembuhkan Obscure.” Ucap San Veya sambil berhenti pada sebuah pintu bermotif ornamen melati “Ini ruangan kerja Emelie Rovana saat dia bertugas di Clematis, selain itu villa miliknya ada di timur kota Clematis. Kau bisa mengunjunginya setelah ini Lady Grayii.” Ujar San Veya sambil memasukkan kunci kedalam pintu itu.


Sebuah ruangan yang penuh dengan pot tanaman melati, ruangan kerja yang sangat rapi serta ditata sedemikian rupa nyamannya. Valerin bisa membayangkan Emelie Rovana yang duduk sambil menulis jurnalnya disini. Valerin pun menyentuh meja kerja itu, dia mendadak menatap sendu “Apakah anda tahu, Emelie Rovana adik kesayangan Viscount Rovana? Kadang, aku paham perasaan kehilangan Viscount Rovana.” Ucap Valerin tiba-tiba.


“Tentu, semua orang bisa merasakan kehilangan.” San Veya mengambil sebuah buku dari salah satu rak “Coalesce, sebelum Emelie Rovana pergi dari kota ini dia sempat berpesan untuk berikan buku ini kepada seseorang yang memiliki tatapan tangguh, maju tanpa ragu dan rela mengiba untuk kesedihan orang lain.” San Veya memberikan buku itu kepada Valerin Grayii “Hanya seorang Earl Valerin Grayii yang seperti itu, kini ada saudarinya yang sangat seiras dengan Earl Valerin Grayii.” San Veya mengulum senyuman.


Valerin Grayii menerima buku itu, dia mengusap permukaan buku bersampul cokelat dengan sebuah ikatan kelopak melati yang sudah mengering. Coalesce sangat berbeda dari Clandestine, jurnal Coalesce lebih seperti pengamatan sudut pandang Emelie terhadap kehidupan vampir “Seorang vampir memberikan link untuk berbagi kehidupan dengan orang lain.” Valerin Grayii membaca halaman pertama dari buku itu. Dia tak sadar sudah tersenyum sendiri.


“San Veya, apa menurutmu Frederitch mencintaiku?” Tanya Valerin Grayii.


“Kau lebih mengetahuinya Lady Grayii, tanpa dikatakan pun Pangeran Frederitch sangat mencintaimu.” San Veya dengan ramahnya menjawab pertanyaan Valerin.


Valerin Grayii hanya mengangguk, dia pun segera menuruni tangga. Langkahnya teramat ringan sehingga surai peraknya ikut bergerak kesana dan kemari, senyum merekah Valerin langsung tertuju pada Frederitch Drew Raymond yang menunggu dibawah dengan tatapan harap-harap cemasnya.


“Val, bagaimana? Kau baik-baik saja?” Frederitch menatap Valerin, gadis anggun yang masih mengenakan pakaian pria necis itu.


Valerin Grayii mengangguk “Apa kau mencintaiku?”


Frederitch tak langsung menjawab, dia menatap lekat kedua iris violet Valerin yang berbinar itu. Kedua tangan lebarnya terselip pada wajah manis Valerin, membawanya mendekat. Kemudian mengecup Valerin Grayii dengan lembut “Sangat, terlalu sangat sampai takut kau hilang.” Ucap Frederitch usai mengecup Valerin Grayii.


Si gadis bersurai perak panjang itu hanya tersenyum lebar dengan semu kemerahan pada pipinya “Aku ingin pergi ke suatu tempat. Ayo.” Valerin Grayii berujar sambil menggandeng tangan Frederitch “Oh iya, Viscount San Nord dan Lady San Veya terimakasih atas waktunya. Aku dan pangeran Frederitch permisi untuk pergi.” Ucap Valerin Grayii.


“Ha? Bagaimana kau tahu?” Frederitch keheranan sambil berjalan keluar dari perpustakaan kota Clematis itu.


“Tentu saja aku tahu, apa kau terlalu bodoh?”


“Aku tidak tahu kalau Tuan Nord seorang Viscount kota ini.”


“Benar, kau pangeran yang bodoh.”


Keduanya ditatap oleh San Veya dan San Nord, sepasang suami isteri itu terkekeh sambil menggeleng kepala “Seperti melihat kembali masa muda Ratu Raymond dan Earl Grayii.” Ucap San Veya.


“Benar, Pangeran Frederitch sangat mirip dengan ibunya sementara Lady Grayii pun sangat mirip seperti ayahnya. Terdahulu kedua orang tua mereka tak bersama, siapa sangka takdir malah membuat anak-anak mereka bersama.” San Nord, merangkul isterinya. Mereka hanya menatap keduanya dari jauh.