Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Season 3 : Episode 75




“...Tuan Lyn Sander, Earl mendatangi kediaman Hortensiaburg.”


“K-kau bercanda? Ellis tak mungkin mendatangi tempat itu, semua ingatannya sudah hilang.”


“Benar tuan, itulah yang terjadi, dia mendatangi tempat itu atas perintah Yang Mulia”


“Tak bisa dibiarkan, apa maksud Yang Mulia melakukannya?!”


Wajah penuh amarah itu, Lyn Sander langsung bergegas meninggalkan penginapan. Baru saja ia membuka pintu, disana sudah tampak Ellis bersama Noah Cyprus dan Remington.


“Kau mau pergi kemana Lyn?”Tanya Ellis dengan polos.


Lyn segera menggeleng “Tidak kemanapun.”


“Oh ada pelanggang juga.” Ellis yang menyelonong masuk juga melihat pria bertudung hitam itu. Ellis dengan acuh langsung memasuki dapur penginapan “Eh, Lyn. Aku bantu menyiapkan makan malam ya.” Ellis mengenakan celemek.


Rencana Lyn mendatangi sang raja gagal, ia pun tersenyum hambar sambil memasuki dapur. Dia tak mungkin membuat Ellis curiga dengan gelagatnya.


“Bagaimana pekerjaanmu Ellis?” Tanya Lyn yang mulai memasak.


“Tidak ada yang luar biasa, sehari-hari menjaga Yang Mulia kemudian menjadi orang yang dirudung sang Ratu.”


“Kau tidak apa-apa? Apa yang dilakukan wanita iblis itu terhadapmu?!” Reaksi Lyn berlebihan, dia memengang kedua bahu Ellis dengan cemas.


Ellis menggeleng “kau seperti baru mengenalku, aku ini bisa jaga diri.”


“Benar juga...” Lyn melepaskan pegangannya kepada bahu Ellis.


“Kau jangan khawatir, sang ratu bukan apapun, dia hanya takut suaminya berpaling apalagi sifat Yang Mulia lumayan populer dengan para wanita.” Tatapn Ellis sendu saat itu.


Tak lepas dari pandangan Lyn, dia langsung menggengam tangan Ellis “Kau masih memilikiku, jangan ragu.”


“Kau saudaraku Lyn, tentu saja aku tak akan ragu.”


Lyn mendadak membelalak matanya, dia meremat ujung meja kayu “Bodoh, Sejak awal Ellis hanya tahu jika aku saudaranya.” Batin Lyn.


“Lyn, kau kenapa?”Tanya Ellis dengan cemas.


“Bukan apa-apa.” Lyn sadar, Ellis selalu perduli kepadanya seperti seorang saudari. Bahkan Ellis tidak memiliki rasa cinta kepada Lyn yang besar, jelas tatapan sendu Ellis saat bercerita tentang sang raja berbeda. Lyn tahu, Ellis mulai menyukai sang Raja “Ellis, jangan jatuh cinta kepada Yang Mulia.” Tegas Lyn.


Ellis langsung tertawa “Aku ajudannya, semua orang tahu jika aku pria, hentikan bercandamu Lyn.” Padahal Ellis diam-diam merasa sakit, ucapan Lyn ada benarnya.


Usai makan malam bersama, Ellis berpamitan dulu ke istana, malam yang telah larut Ellis menunggangi kudanya yang tiba didepan gerbang.


“Selamat malam, Ksatria Francieli.” Ucap salah seorang pengawal gerbang.


“Selamat malam.” Ellis tersenyum sambil menunggu gerbang itu terbuka, kemudian memacu kudanya memasuki istana. Sesekali menguap, Ellis turun dari kudanya yang tiba di kandang kuda belakang halaman istana. Ellis mengikat kudanya disana.


Ellis berjalan di koridor istana, sambil membuka satu kancing kerah atasnya, sesekali menguap “Mengantuk, hoam...” Ujar Ellis.


Ia berjalan menuju ruang kerja sang raja, disana tidak ada para penjaga dan pintu sedikit terbuka. Ellis pun bergegas memasuki ruangan itu “Yang Mulia anda tidak apa?” Ellis berdiri diambang pintu setelah membuka pintunya.


Yang ia dapati, Alphonse yang mengenakan kemeja polos dengan celana hitamnya sembari memengang cangkir berisi kopi panas “Ah, aku menunggumu Ellis. Selamat datang...” Sambut sang raja.


Ellis mengedarkan pandangannya kekiri dan ke kanan, ia salah tingkah kemudian mengangguk “B-baik Yang Mulia...” Cicit Ellis.


“Ellis, kau mau mandi dan berganti baju dulu? Karena aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu.”


“Baik Yang Mulia.”


Ellis pun berjalan kembali menuju ruang pribadinya, letak ruangan Ellis berada di ujung koridor tepat didepan perpustakaan. Jaraknya tak begitu dekat dan tak begitu jauh dari ruang sang raja.


Ellis membasuh wajahnya, juga membersihkan tubuhnya. Kemudian mengganti pakaiannya dengan pakaian panjang atasan berwarna hijau dengan ikat dilehernya, celana kain berwarna hitam. Ellis duduk dulu di pinggir ranjang untuk memasang sepatu bootsnya.


Ellis sempat melirik sepasang senjata perak yang diberikan kepadanya “Apa harus kulaporkan kepada Yang Mulia?” Namun, Ellis langsung menggeleng. Ia tak bisa membiarkan Alphonse tahu pertemuannya dengan kedua kerabat dari sang Earl.


Kemudian, yang Ellis bawa hanya pedang bersarung putih.


Tok... Tok...


“Yang Mulia?” Ellis menyembulkan kepalanya, ia segera melihat sang raja yang duduk di meja kerja dengan kacamata yang bertengger di hidung bagirnya.


“Ellis, kemari...”


Ellis mengangguk, ia segera menutup pintu kemudian masuk kembali ke ruang kerja sang raja. Ia duduk diseberangan sang raja dengan tegang.


“Ellis, bagaimana menurutmu Valerin Grayii itu?”


“Ah, itu lagi.” Ellis mendesah dalam batin, pembicaraan sang Yang Mulia tak pernah jauh-jauh dari Valerin Grayii. Ellis mengulum senyuman sambil menggeleng “Kurasa, aku Valerin Grayii itu.” Ellis sebenarnya bercanda, sekaligus ingin melihat raut wajah sang raja. Sebenarnya, Ellis jengah mendengarnya.


Kedua iris hijau sang Alphonse melebar, binar cerah seolah menemukan harsa rasanya. Segera ia mendeham “Ellis, kau bercanda bukan?”


Ellis mengangguk dengan senyuman lebarnya “Tentu, Yang Mulia.”


Alphonse memberikan tumpukan berkas kepada Ellis “Periksa kembali, jika ada yang terlewati. Katakan padaku.” Ucap Alphonse.


Ellis pun mengangguk, ini bukan pertama kalinya Ellis membantu sang raja dengan dokumen-dokumen kerajaan. Ellis sudah terbiasa membantu sang raja, dia pun membuka setiap lembarnya.


Alphonse memperhatikan si pirang emas itu, dia tahu Ellis seorang wanita yang berpakaian selayaknya ksatria. Mirip seperti Valerin Grayii, tapi Valerin sang ungu yang tak kehabisan akal itu tampak berbeda dari si emas Ellis. Valerin Grayii yang misterius, berbeda dari Ellis yang periang bahkan Ellis terlalu kaya akan ekspresi “Valerin... mengetahui dunia ini lebih dari pada aku.” Ujar Alphonse.


“Tak mengapa Ellis, lanjutkan saja.” Alphonse kembali melihat berkasnya, sesekali melirik Ellis.


“Ayah...” Suara kecil itu terdengar dari luar pintu.


Ellis segera beranjak berdiri “Itu suara Pangeran Victorine, Yang Mulia.” Ucap Ellis yang dengan gesit membukakan pintu. Ia jumpai bocah lelaki kecil yang mengantuk sesekali menggusak matanya “Ayah...” Katanya lagi.


“Ellis, bisakah kau antar Victorine kembali ke kamarnya?” Ucap Sang Raja.


Ellis melirik Victorine, kemudian memasang wajah cemburut “Yang Mulia, dia menginginkanmu.” Sergah Ellis yang menggendong Victorine.


“Ellis...”


“Apa Yang Mulia, bermimpi buruk?” Tanya Ellis kepada Victorine.


Bocah lelaki itu menggeleng.


“Pelayan yang lain, memang tidak setanggap Margaret, sayang sekali dia harus terbunuh.” Ucap Alphonse.


Ellis membawa Victorine yang ada dalam gendongannya masuk ke ruangan, ia duduk didepan Alphonse sembari memangku Victorine “Yang Mulia... Apa anda menyelidiki kematian Margaret?”


“Mathias yang menyelidikinya.”


Ellis mengusap kepala Victorine “Yang Mulia sedang bekerja pangeran, apakah kau mau Ellis yang menghantarkanmu kembali ke kamar?”


Victorine mengangguk.


“Yang Mulia...”


“Hm, antar saja anakku dulu.” Ucap Alphonse yang masih sibuk dengan berkas-berkasnya itu.


Dalam keheningan malam di istana, beberapa pengawal yang berjaga turut menghormati Ellis yang berjalan dengan Victorine dalam gendongannya. Semula, Ellis tak menghiraukan ruang sang ratu yang akan ia lintasi. Namun dari jauh tampak seseorang pria baru keluar dari ruangan itu. Ia masih berdiri diambang pintu.


“Melian... Felix Melian?” Ellis mengenali sosok itu dari jauh. Merasa janggal, Ellis langsung bersembunyi dibalik pilar “Ssstttss...” Ellis meletakkan telunjuknya di bibir Victorine, bocah itu mengangguk mengerti dan diam dengan tenang.


“Baik Yang Mulia, terimakasih sudah mau berbagi informasi dengan Brunia. Kejadian kemarin, merupakan bukti keseriusan kami.”


“... Kalau begitu, selamat malam Yang Mulia.” Ucap Felix Melian. Tampak mengecup punggung tangan sang ratu.


Ellis mengeryitkan dahinya, kecurigaannya semakin besar “Ucapan Friday, berarti benar.” Gumam Ellis.


Mathias, bersama sepasang wanita dan pria berjubah putih berpas-pasan dengan Ellis.


“Bermain petak umpet malam hari?” Tanya Mathias.


Ellis menggeleng “Pangeran terbangun, dia menghampiri ruangan Yang Mulia, aku hanya kembali menghantarnya.” Ucap Ellis.


“Tampaknya Pangeran sudah tidur tuh.” Mathias melirik bocah kecil yang pulas tidur dalam gendongan Ellis.


“Seorang ksatria yang merangkap menjadi pengasuh?” Pria itu jelas meledek Ellis, pria yang berada bersama Mathias.


Ellis langsung memandang tajam “Suatu kehormatan berada disisi pangeran.” Tegas Ellis.


“K-kau...” Wanita berjubah hitam menatap langsung wajah Ellis, kemudian menelisiknya “Kau si pendek itu bukan?” Tunjuk wanita itu.


“Angelise, Auguste jangan ganggu ajudan Yang Mulia.” Mathias segera menegahi “Maaf Ellis, ini teman-teman regu Assasin dia membantu misi besar Dust Bones. Angelise Eclair dan Auguste Darlon. Perkenalkan, Ellis Francieli, Ajudan baru Yang Mulia.” Lanjut Mathias.


Ellis mengangguk, walaupun tak suka dengan sikap mereka “Ellis Francieli...” Ucap Ellis.


“Kau bukan bangsawan? Francieli terdengar asing...” Celetuk Auguste.


Ellis mengangguk “Francieli dari desa Lotus.” Ucap Ellis.


“Oh, beruntung...” Angelise wanita itu melintas dengan acuh “Maaf, aku tak akan menatap keberadaanmu, rakyat biasa.” Cibir Angelise lagi.


“Ayo Auguste...”


Mathias nyaris menyusul mereka, tak suka dengan sikap keduanya terhadap Ellis.


“Tidak apa-apa Mathias.” Sambar Ellis.


“Tapi Ellis...”


Ellis menggeleng “Mereka benar, aku bukan bangsawan.” Ellis tersenyum “Aku harus kembali menghantar, pangeran.” Lanjut Ellis lagi melangkah meninggalkan Mathias.


.


.


.


Dear All,


pembaca setia Avicenna Est Panacea dan seluruh karya saya. Terimakasih. Sudah menyisihkan waktu didunia saya, tapi... untuk beberapa saat saya akan hiatus sementara, terimakasih atas dukungannya bagi pembaca yang baik hati dan juga setia.


All of my Heart with you,


Arta