
.
.
.
“Yang Mulia, Earl Grayii datang untuk menemui anda...”
Seorang pria sedang berada didalam ruangan serba putih keperakannya ini, dia tengah membaca beberapa laporan. Atensinya menatap sang pelayan yang membungkuk dengan hormat, kini paras rupawan itu beralih tersenyum dengan teduh “Biarkan Earl Grayii masuk.” Ucap sang raja “Tapi jangan dengan pelayan yang terus menempelinya.” Nada bicaranya menjadi dingin.
Sang pelayan hanya mengangguk, dia pun kembali keluar.
Tak begitu lama, Valerin Grayii tiba dengan berdiri tenang. Perangaiannya yang manis dibalut kemeja putih, jas putih, pita berwarna violet dileher dengan sepasang sepatu boots yang menutupi sepasang kaki berlainannya itu. Surai hitam malamnya pendeknya disampirkan sebagian, ada pita perak kecil berbentuk bunga diphylleia grayi pada sebagian poni panjangnya.
“Yang Mulia.” Valerin Grayii menunduk hormat.
“Earl, bagaimana keadaanmu?”
Valerin Grayii kembali berdiri tegak, sepasang netra violetnya menatap sang raja yang kharisma itu “Lebih baik.” Valerin Grayii melihat pria berkemeja putih yang tersenyum ramah “Lebih muda dari dugaanku” Valerin membatin seraya menelisik sang raja.
“Apa ada yang aneh dariku, Earl?”
Valerin menggeleng “Ingatanku jelek, beberapa hal mungkin dilupakan. Maafkan saya.” Sekali lagi Valerin menunduk hormat, dia tahu harus lebih hati-hati dengan orang nomor satu di kerajaan ini.
“Kudengar begitu, ternyata benar juga. Selain tubuhmu yang semakin mungil, Earl juga bersikap jauh lebih tenang dari biasanya.”
“Yah... tidak salah juga sih, Kak Darly memang orang berenergi double” Dia membatin, rasanya perbedaan antara dia dan sang kakak memang sangat jauh. Hanya bagaimana anehnya orang-orang tak mengubris perbedaan itu “Seperti itulah Yang Mulia.” Valerin tersenyum pelan. Enggan mengatakan hal lain kepada Raja muda ini.
“Terus, apakah kau hanya diam disana tanpa ingin menanyakan sesuatu. Hm?”
Valerin mengangguk, tampaknya sang raja lebih cerdas dari dugaannya lagi “Mengenai surat, anda meminta saya menemui Yang Mulia sebelum turun kedalam misi ini.” Valerin mencoba bersikap seolah dia merupakan Valerin yang asli. Maka dari itu, dia memilih mengikuti sikap sang kakak. Biarpun sikap konyol dengan energi double sang kakak tak bisa ditirunya.
“Yang Mulia!” Valerin berseru.
“Kenapa, Earl?”
“A-anda, memiliki mata yang bagus.”
Sebelah alis tebal sang raja muda itu menaik “Maksudmu?” Tampak menatap heran.
“Sial. Kenapa harus itu?” Bisik Valerin kepada dirinya sendiri. Valerin tergagap membenahi posisinya berdiri. “Begitulah, kedua mata emerald anda cantik. Begitu segar, menatap lugas, lembut dan juga... anda memiliki penilaian yang baik. Sayangnya, anda selalu memiliki rencana tersembunyi.”
Raja itu tersenyum lebar saat dikritik oleh sang Earl mungil ini, dia langsung melangkah mendekati Valerin Grayii “Oh, Earl... Selain semakin manis, anda juga mencoba meruntuhkan pertahanan diriku.” Dia memojokkan posisi Valerin pada pintu ruangan, sebelah tangannya diletakkan pada pintu itu. Mengukung Valerin yang kecil dengan posisi seperti ini. Dia memojokkan Valerin.
Sekali lagi sang raja mengucapkan hal-hal yang tak diduga oleh Valerin “Valerin Grayii, sikapmu berbeda. Kenapa?” sepasang mata hijau itu menatapnya dalam. Menatap lurus hanya kepada dirinya seorang.
Valerin yang dipojokkan langsung memalingkan tatapannya “A-ah, tidak apa-apa. Hanya mencoba menganalisanya” Valerin menatap heran, kedua matanya berkedip-kedip polos. Wajah manis Valerin, dengan kedua iris violet terangnya yang unik menambah keindahan sosok Valerin Grayii.
“Analisamu benar, semua yang kau ucapkan benar apa adanya. Hebat, seperti kata orang-orang.” Sang Raja tampak terkagum-kagum, didalam kungkungannya sang Raja juga menelisik sang Earl dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Memangnya seperti apa?” Valerin membatin dengan heran.
“Tidak Earl, bagaimana bisa memojokkan mahluk manis sepertimu?”
Valerin Grayii tersentak kaget, dia mendeham “B-baiklah Yang Mulia, sekiranya ada yang ingin anda sampaikan sebelum misi dijalankan.” Ucap Valerin Grayii.
“Selesaikan misi dengan selamat.”
“Hanya itu?” Celetuk Valerin.
Sang Raja tertawa kecil, dia mengangguk “Benar, hanya itu Earl. Berhati-hatilah selalu.” Sang Raja mengulum senyumannya, jelas-jelas dia menggoda sang Earl Grayii ini.
Valerin Grayii melihat sekeliling ruangan ini, satu hal yang tak ditemukannya “Yang Mulia, sebelum saya pergi ada hal yang ingin ditanyakan.” Beralih lagi sorot mata Valerin dengan tajam dan tangguh.
“Kenapa Val?”
“Dimana lukisan Yang Mulia pemimpin sebelum anda.” Valerin tersenyum penuh arti, dia sudah menduga-duga jika sesuatu memang terjadi di Istana megah ini.
Sang raja muda itu bersandar pada meja kerjanya “Kau tahu, Sejak kita berada diakademi yang sama. Kau paling mencuri perhatianku Junior Valerin.”
“Kalau begitu, selamat siang.” Valerin mengangguk pelan. Bukan jawaban yang mau ia tahu, tetapi reaksi pemuda itu terhadap pertanyaannya. Dilihat dari gelagatnya yang tak langsung menjawab sudah pasti menyembunyikan sesuatu “Yang Mulia Alexandria, sengaja dihilangkan.” Dugaan akan kesimpulan dari Valerin saat ini.
Dia keluar dari ruangan kerja sang Raja, baru saja menutup pintu ruangan itu. Friday langsung memasangkan mantel panjangnya kepada Valerin “Terimakasih Friday.” Ucap Valerin tersenyum manis.
“Dengan senang hati, tuan muda.”
Valerin mengisyaratkan jemarinya kepada Friday untuk menunduk sedikit “Kemari...”
“Kenapa, tuan muda?”
Valerin Grayii berbisik disamping telinga Friday “Rahasiakan genderku, lebih baik saat ini seperti ini saja.” Ucap pelan Valerin Grayi.
“Baik, tuan muda.” Friday tersimpul senyum.
Pastinya Valerin Grayii aka Valyria Soga Kinaru memiliki juga memiliki rencana sendiri, mereka berdua berjalan berdampingan pada koridor megah serba keramik putih ini. Istana indah terasa asing bagi seorang Valerin tapi tidak bagi Valerin sang kakak selaku Valerin yang asli. Ia tetap berusaha berjalan dengan tenang seiring dengan tenangnya pula menjalani kehidupan sebagai Earl Grayii itu sendiri.
Sepanjang perjalanan yang luas nan megah ini. Banyak pekerja istana yang mengenalnya dengan baik, mereka kerap kali menegur dan menyapa Valerin. Biarpun hanya diangguki saja.
Valerin langsung memasuki kereta kudanya, saat sampai di depan gerbang istana Dust Bones.
“Tuan muda, ingin pergi melakukan misi kapan?”
Valerin menduduki tubuhnya didalam kereta kuda “Besok saja, hari ini kita berkemas dan biarkan aku mencari informasi lebih banyak lagi setibanya dirumah.” Ucap Valerin sambil menutup pintu kereta kuda ini.
Friday membungkuk hormat “Baik tuan muda.” Ia menaiki bangku kusir, dengan Friday yang mengendarai kereta kuda itu. Seorang Valerin didalamnya hanya diam dengan tatapan menelisik.
“Nikolai Caleum... anak tertua Ratu Alexandria. Menarik, lihat saja nanti.” Gumam Valerin seraya terkekeh kecil.
.
.
.