
.
.
.
“Tuan, terimakasih atas makanannya!”
“Hm~ tentu saja. Makan yang banyak dan tersenyumlah.”
Pria muda itu baru membagikan roti-roti hangat yang baru ia beli, berdiri ditengah kerumunan tawa dan canda anak-anak yang terlantar disebuah, wilayah kumuh pada ujung kota pusat disebuah negara kerajaan yang megah. Nasib yang tak berpihak kepada anak-anak kumuh itu membuatnya menghibur anak-anak ini “Ayo, aku punya permainan. Kalau kalian bisa menjawab kuis ini, aku punya...”Pria muda itu mengeluarkan sekantung permen dari saku mantelnya.
“Wah permen!”Hampir semua anak berseru menginginkan permen yang dipegangnya itu.
Pria muda dengan pakaian mahal bak bangsawan itu, hanya bisa terkekeh “Kalau begitu jika kalian memiliki tiga belas apel jika aku minta tiga apel dari kalian. Kira-kira kalian masih memiliki berapa apel ya?”Ujarnya dengan nada yang sengaja didramatisir.
“Tiga puluh, Tuan!”Jawab asal seorang anak, dikala semua teman-temannya melongo kebingungan.
Iris Violet itu menatap dengan lembut, dia mengusap-usap puncak kepala bocah laki-laki itu “Jawabanmu tidak salah, hanya kurang tepat. Lebih tepatnya sepuluh apel, bocah kecil.”Biar pun begitu, pria dermawan ini memberikan sekantung permen itu.
“Disini kau rupanya. Apa kau tak lelah selalu mampir kemari, Earl Grayii?”
“Hehe... hai Frederitch! Tidak kok, kita harus membantu sesama bukan? L’Histoire se Répète membosankan jika kalimat itu terjadi kembali.”
Pria yang mengenakan mantel cokelat marun itu menatap dengan bosan “Seharusnya kau hentikan sikapmu ini.”Terlampau baik hati pun, tak boleh. Pria beriris raven blue itu berpendapat seperti tak habis pikir dengan tindakan rekannya ini. Dia pun menarik pergelangan tangan pria bermantel putih dengan dasi kupu-kupu yang ditengahnya dasi kupu-kupu itu ada batu ametis ungu kebetulan senada dengan sepasang warna matanya. Mengenakan pakaian rapih, dengan aksesoris seperti mereka pastilah berasal dari kalangan bangsawan.
“Oi, hei! Frederitch hentikan, aku belum berpamitan dengan anak-anak itu.”
Enggan didengar, pria beriris raven blue itu terus menyeret pria beriris violet itu untuk masuk kedalam kereta kuda yang sudah menanti dihadapan mereka “Kau masih memiliki banyak pekerjaan, pahami itu Valerin.”Ketus pria itu sambil mendorong tubuh pria bermantel putih itu kedalam kereta kuda.
“Baiklah, baiklah. Tapi aku tak salahkan, Pana?”Ujarnya mencari pembelaan terhadap seorang gadis yang tampak sudah lama duduk didalam kereta itu.
Gadis berjubah hitam, menyilangkan kedua kakinya sementara kedua tangannya bersidekap “Earl Grayii, sesekali seriuslah dengan kerjaan ini. Aku tak mau lembur.”Dipalingkan wajahnya.
“Hehe... maaf-maaf. Aku hanya sedang rindu dengan adik kecilku.”
Menghela nafas sang iris raven blue itu “Primavera, bukan orang yang bisa negosiasi. Ingatkan posisimu ini, Earl Grayii.”Pria itu memijit dahinya yang terasa pening itu, dia tak habis pikir dengan orang yang rentan diincar keamanannya ini.
“Benar, Yang Mulia Pangeran Frederitch mengatakan sesuatu yang tak seharusnya kau abaikan Earl Grayii.”
Pria muda beriris violet itu mengulum senyumannya “Yang Mulia, sampai dijaga olehmu merupakan suatu kehormatan. Tapi, tuan puteri Primavera tak akan bisa menjangkau diriku dan Pana. Bukan begitu Pana?!”Ujarnya dengan cengiran lebar, menampaki deretan gigi putih dengan raut wajah tak berdosa.
Gadis itu menggeleng “Kita memiliki tujuan yang sama-sama menguntungkan, selagi perjanjian kita belum tercapai. Earl Grayii masih menjadi mitraku. Tetap saja, bersikap ceroboh itu membahayakan.”Gadis berjubah hitam itu masih menundukkan tatapannya “Lagi pula, namaku Panacea. Bukan Pana saja.”Ralatnya dengan nada yang kesal. Sayang wajahnya tak tampak berkat tudung hitam dari jubah bernada sama yang digunakan gadis ini. Tak tahu saja raut wajahnya itu sama kesalnya dengan nada bicara gadis ini.
Kehidupan, yang tak disangka-sangka pun terjadi malah kepadanya. Dia merasa kehilangan jati diri aslinya saat tahu kebenaran hidup yang harus ia pertanggung jawabkan. Bergerak mundur pun percuma, kini dia hanya bisa melangkah maju pada ketidakmasukakalan lapis kehidupan ini.
Termangunlah pria muda itu, setelah beberapa hari berada diatas ranjang kasur besarnya. Baru dia tersentak oleh lamunan saat tangan lain membantu tangan kanannya menggengam gagang cangkir yang terasa hangat “...eh? Yang Mulia Pangeran Frederitch?”Tatapannya linglung melihat pria yang tampak sebayanya itu memberikan cangkir berisi teh hangat itu kepadanya. Aroma chamomile meruah diindera penciumannya.
“Sudah begitu lama tak mendengarmu memanggilku secara formal, Rekanku. Earl Grayii.”Pria bermata biru tua itu tertawa menampaki deretan gigi putihnya yang terdapat sepasang taring runcing yang tersembunyi disana.
“Tertawamu itu kelihatan bodoh, lihat sepasang gigi vampir pun kelihatan.”Ketusnya, namun lekas menegak teh hangat itu “Tehnya sangat enak. Kau terampil juga menjadi pelayan, Yang Mulia.”Ledek pria yang tampak berwajah pucat itu.
Sang raven blue sempat menggeleng jengkel, kemudian duduk dipinggiran kasur si violet itu “Panacea, dia akan mengirimmu kembali keduniamu. Tak baik berlama-lama disini, Ratumu tak tampak melindungimu. Malang sekali nasibmu, rekanku... Bahkan kau kelelahan setelah menyembuhkan mereka semua.”Ucapnya sambil menagahkan pandangan, menatap langit-langit bernuansa merah temaram. Lengkap dengan ukiran-ukiran bunga berkelopak transparan, diphylleia grayi. Hampir seluruh penjuru manor kediaman pria beriris violet ini dihiasi ornamen berukir diphylleia grayi, secara tak langsung melambangkan loyalitas kebanggaan keluarganya terhadap kerajaan secara turun temurun.
“Kau salah, Frederitch... Yang Mulia Ratu Alexandria itu sudah mati.”
Kedua mata biru tua pria itu membulat “Jadi, gossip dipusat kota Ethereal West itu benar?!”
“Yang Mulia, hentikan rasa empatimu terhadap kaum manusia sepertiku ini. Kami ada tak lebih dari untuk menyembuhkan wabah ini, bagi kaummu para Vampir seharusnya kita saling bermusuhan. Yang Mulia, aku harus membanting stir takdirku ini...”Tatapan iris violet itu tampak kosong, dia hanya melihat secangkir teh yang tengah dipegangnya itu “Lebih baik dari sekarang kita berkomunikasi melalui surat, demi keamananmu juga Yang Mulia dari kandidat pengganti Ratu DustBones yang lebih berbahaya ini.”Tatapannya serius, tindakan patriotisme antara dirinya dan rekannya itu sudah terlalu jauh. Sampai pada akhirnya dia lupa dengan tujuan utamanya kemari.
Sang raven blue itu menatap dengan tatapan yang sulit diartikan “Kau ingin lari? Apa kau sudah menyerah dengan ambisi kita? Vampire dan manusia bisa hidup berdampingan. Kita hanya perlu bersama untuk menghabisi wabah ini!”
“Ck. Kaummu bahkan kebal dengan wabah ini Yang Mulia Frederitch—“
“Hentikan itu Valerin!”Pria bermata raven blue itu langsung menampaki jati diri aslinya, dengan kedua mata merah crimson yang berubah. Tatapannya menohok dengan tajam “Kau! membuatku muak dengan pembatas diantara kita ini, kau yang membuatku kagum dengan duniamu tapi kau pula yang menghancurkannya. Kalau begini, kau bukan rekanku lagi. Permisi Earl Grayii. Selamat pagi.”Tatapan kecewa itu jelas terpancar. Dia meninggalkan kamar gelap ini dengan langkah yang amarah dan penuh perasaan yang kesal.
Dilempar secangkir teh itu ke lantai, sampai cangkir itu pecah berkeping-keping “Hentikan itu Frederitch... Duniaku, dunia ini... tak layak lagi ditinggali.”Tak bisa dibohongi suaranya terdengar bergetar samar. Kedua tangannya yang bergetar samar itu menutup sebagian wajahnya, menutup raut frustasi itu “P-Pana... Pana...”Panggilnya bergumam.
“Earl Grayii... Disini.”Gadis berjubah hitam itu tiba dengan cepat, melesat seperti bayangan “Sesuatu hal terjadi Earl Grayii?”Dia melihat pecahan kaca itu, membungkuklah gadis berjubah hitam itu untuk mengemasi kekacauan yang dibuat Earl-nya ini. Pecahan cangkir itu melukai ujung jemarinya hingga darah mengucur keluar “Ah, pertanda sesuatu yang buruk akan terjadi.”Ujar gadis itu.
“Kau... berbicara sesuatu, Pana?”
Gadis itu beranjak berdiri, meletakkan pecahan kaca yang dikemasinya itu diatas nampan kayu yang ada dinakas meja “Bukan apa-apa, Earl.”
“Panacea, bisakah kau? Menuliskan semuanya yang sudah terjadi selama tiga tahun ini. Karena... aku tak akan layak lagi berpijak pada bumi ini.”Pria muda beriris violet itu membaringkan tubuhnya, memiringkan tubuh. Menatap taman bunga Hortensia ungu dari jendela melalui sepasang iris mata violet sendu itu.
“Baik Earl Grayii, selama perjanjian kita masih ada beserta tujuanmu yang belum tercapai. Semuanya masih sama.”
“Maafkan aku, Panacea...”
.
.
.