
.
.
.
Panacea, seorang maid muda tengah membenahi tatanan rambutnya. Dia menyisir bagian yang terpotong lebih pendek, permintaan tuannya “Tuan muda, sudah selesai.” Katanya sambil mengemasi sisa-sisa potongan rambut pada sekitar leher jenjangnya.
“Ah, lebih baik...” Valerin Grayii tersenyum puas dengan surai hitam sependek lehernya “Terimakasih Pana, aku merasa lebih segar.”
Valerin Grayii mengenakan kemeja putih polos dengan celana hitam, kaki kanannya sudah terpasang kaki prostetik. Ia mencoba berdiri sendiri, walau pertama-tama kesulitan. Valerin harus memegang tepian ranjang “Hehe... susah ternyata.” Valerin terkekeh, namun perasaannya cukup senang.
“Tuan muda, mau dibantu?”
Valerin menggelengi tawaran Panacea “Kerjaanmu banyak bukan? Aku tak ingin terlalu merepotkan.” Brakhh—Valerin menoleh kearah pintu, disana si pelayan pria sudah berdiri dengan senyum lebarnya yang membuat Valerin keheranan.
“Tuan muda, Friday tak masalah direpotkan dengan senang hati.” Pria itu menyambar kedua tangan Valerin, ia menatap Valerin kemudian tersenyum “Mau latihan bukan?”
Valerin mengangguk, menurutnya Friday lebih kuat dan tangkas untuk melatihnya berjalan “Kalau begitu, bantu aku ya Friday.” Valerin berucap seraya tersenyum. Ia tak sengaja bersemu semerah itu, karena Valerin sangat senang untuk segera berjalan.
Friday saat itu tertegun sejenak, tuannya sangat manis. Ia mendeham kemudian tersenyum “Dengan senang hati, tuanku.” Deretan gigi putih dengan sepasang taring runcing turut tampak. Sang vampir juga senang dengan tawaran itu, ia menarik kedua tangan Valerin untuk digenggamnya.
Valerin terjatuh pada dada bidang pria vampir itu, wajahnya terbenam disana dengan perbedaan tinggi antara kedua insan berbeda ras itu.
“F-Friday...”
“Iya tuan muda?”
“Kau—menarikku~” Valerin memerah, degupan jantungnya berdebar kencang. Mencoba ingin melepaskan namun kedua tangan Friday amat erat memengang tangannya “Eungh~ vampir aneh. Apa yang ada dipikirannya?” Valerin sempat menanggahkan kepalanya sedikit, dilihatnya Friday malah tersenyum dengan jahil “Tch. Flirting, huh?” Valerin membuang pandangannya dari sang pria.
Friday tak hirau, dia memapah tubuh kecil itu untuk berpijak pada bumi “Coba berdiri dengan tegap.” Pinta Friday sambil terus tersenyum jahil.
“K-kau flirting, bukan?”
“Tuan muda...” Friday berkata dengan nada gemasnya.
“Hentikan itu!” Valerin mendorong tubuh Friday menjauh darinya “Apa yang kau pikirkan huh? Jelas-jelas kau mengejekku bukan?!” Valerin melipat kedua tangannya didepan dada. Dia tengah marah saat ini.
Friday tersenyum puas, ia bertepuk tangan “Tuan muda, anda memang memiliki kondisi tubuh yang bagus.” Puji Friday memperhatikan Valerin yang berdiri dengan tegap.
“Ah iya juga...” Valerin Grayii, tampak mencoba menghentakkan kedua kakinya. Ia merasa sangat aneh, kaki prostetik yang baru dipasang itu menompangnya berdiri dengan tegap “Oh iya, aku melakukan hal ekstrim tadi malam.” Valerin terkekeh, ia ingat tadi malam tengah dengan sengaja menekan beberapa syaraf pada kakinya dengan paksa. Jika dibenturkan bisa merusak, maka membenahi beberapa dislokasi dengan menekannya akan memperbaiki.
“Oh lihat ini, bagaimana jika ditambah dengan suntikan obat mujarabku tuan Grayii. Kalau tidak, kebahagiaanmu itu hanya sementara.” Wanita itu berucap dari ambang pintu, benar saja. Usai dia berkata, Valerin langsung jatuh. Jika bukan Friday yang menompang tubuhnya, ia sudah mendarat diatas keramik itu dengan kasar.
Valerin menatapnya “Benar, belum sempurna.” Valerin tahu, dunia asalnya diperlukan beberapa tindakan treatment tertentu. Sementara peralatan seperti itu mungkin tak ada saat ini.
Wanita berjas putih itu menggeleng pelan “Apa yang ada dipikiranmu Earl? Kau tak perlu susah-susah berlatih. Fisikmu bisa berregenerasi dengan baik, apa jangan-jangan kau lupa jika terlahir dari klan Gandaria?” Biar pun mengomeli, wanita itu meminta Friday membaringkan Valerin Grayii, ia melihat beberapa bagian pada kaki kanannya itu “Ah... memang benar tak bisa tumbuh lagi, namun kakimu ini akan beradaptasi dengan mudah ketika—“ dengan tak teganya wanita itu menyuntikkan cairan berwarna violet terang pada paha kanannya.
“Akhhh!” Valerin menjerit dengan keras, rasanya kaki kanan itu hendak terbakar.
Wanita itu menatap Valerin “Apa tak ada perkembangan akan ingatannya?”
“Tidak dokter Louisa. Tuan muda bahkan tak ingat namanya sendiri.”
“Itu obat tidur, pasti menyakitkan untuk menstimulasi orang yang kebal dengan Obscure dengan Obscure itu sendiri. Valerin Grayii, satu-satunya klan Gandaria yang tersisa. Ia terlalu istimewa untuk wabah ini. Kuharap kau paham hal itu, Yang Mulia Frederitch.”
Friday membuka satu kancing paling atas dan melepas dasi yang menjerat dilehernya “Ah~ tentu saja, terus untuk apa aku seperti ini jika bukan untuk semua itu?” Ujar Friday sambil menyibakkan surai emasnya kebelakang.
“Kupikir, Yang Mulia tidak melihat kembalinya Valerin Grayii. Dia seperti sosok lain yang jauh lebih tangguh, tapi aku yakin gadis ini benar-benar luar biasa. Kaki prostetik yang disempurnakannya benar-benar detail, untuk fisiknya juga benar-benar tangguh tak seperti kelihatannya yang kecil dan mungil.”
Friday mengangguk-angguk setuju “Benar, memang benar-benar kekasihku yang terpilih bukan?”
“Yang mulia, lebih baik memikirkan Paladin of The Dustbones. Bukankah, tuan muda sudah mendapat surat itu? Sayang jika dia tak tahu menahu.” Wanita itu mengemasi alat-alatnya, kemudian beranjak berdiri “Saat Earl bangun, ia sudah bisa menggunakan kaki itu dengan baik. Aku akan kembali ke istana, sulit meninggalkan Dustbones berlama-lama.”
“Terimakasih dokter Louisa, pasti susah ya menjadi dokter istana Nikolai. Hehe...”
Dokter Louisa mengangguk sopan “Kalau begitu selamat siang Yang Mulia Frederitch.” Ucapnya sambil meninggalkan kamar Valerin Grayii.
Dia duduk ditepian ranjang kasur itu, Friday menatap Valerin dengan seksama “Paladin of Dustbones ya? Rasanya, aku yang berkhianat disini. Maafkan aku Valyria...” Ucap Friday sambil meraih tangan kecil itu dan mengecup Valerin yang pulas terlelap.
.
.
.
"Terimakasih dokter Louisa, semoga aman sampai tujuan" Panacea menghantarkan dokter Louisa sampai ke kereta kudanya.
"Ah, nona Eerie. Terimakasih, harap perhatikan selalu keamanan Valerin Grayii. Kurasa, Yang Mulia Frederitch tertarik padanya."
Panacea tertawa hambar "Begitulah, Yang Mulia Fredericth memang seperti itu."
Setelah dokter Louisa meninggalkan manor Grayii. Dia cepat-cepat menghampiri kamar Valerin.
"...Maafkan aku Valyria." Panacea bisa mendengar suara vampir elit itu berucap pada Valerin.
ia pun menerobos masuk "Maaf, Yang mulia Frederitch." Panacea berdiri disana sembari mengepalkan kedua tangannya "Semuanya sudah berbeda, tuan mudaku saat ini bukan tuan muda yang anda kenal. Jangan membahayakannya lebih jauh."
Friday menyeringai, dia semakin mendekatkan dirinya ke wajah Valerin Grayii yang terlelap tidur "Memang ini bukan dia, tapi gadis ini akan menjadi milikku."
Panacea terdiam, dia tak tahu harus berkata hal apapun lagi. ia ingin memisahkan vampir itu dari tuannya, dia ingat permintaan mantan tuan terdahulunya. Tapi jika salah langkah, Valerin Grayii yang ini bisa berakhir sama dengan Valerin Grayii yang terdahulu.
.
.
.
.
.
.