Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Season 2: Episode 63




"Huh?" Sebelah alis Frederitch menaik.


"Iya kemarin, yang katanya aku lupa. Itu aku bohong."


"Oh, aku tahu kok."


"Ck, vampire bodoh." Ketus Valerin berjalan dengan menghentak kakinya.


William Rovana menggeleng "Kalian berdua, saling mencintai juga saling bertengkar seperti anak kecil"


"Hm, Hm, benar..." Angguk Panacea.


"Ck, kalian berdua sama saja." Ketus Frederitch sambil menyusul langkah Valeirn "Hey, Val... Tunggu!"


Syashhh...


Sebuah anak panah nyari mengenai tubuh Valerin Grayii, beruntung gadis berperawakan lelaki itu mampu menghindar. Refleksnya masih baik.


“Val!” Melesat Frederitch, melindungi gadis itu sambil menoleh kepada pelaku.


Sepasang pria dan wanita dengan seragam serba hitam. Berdiri didepan rumah dari Tobias Cross, seorang wanita memegang panahnya dengan sebagian wajah ditutupi masker hitam.




“Tch. Pemburu vampire.” Ujar Frederitch.


“Ha? Mereka?”


“Benar, tapi kenapa mereka malah membidik dirimu.” Ucap Frederitch seraya menggandeng tangan Valerin Grayii.


Wanita berseragam hitam mendecih “Ck, ternyata pembawa wabah itu lumayan lincah juga.” Katanya.


“Benar, seperti Yang Mulia katakan... Oh, jiwa yang tersesat dalam kegelapan iblis. Earl Grayii yang malang.” Sambung si pria berseragam hitam itu.


Valerin Grayii menaikkan sebelah alisnya “Fredericth, kurasa aku punya ide.”


“apa?” Bisik Frederitch.


“Jadi...”


Valerin Grayii berdiri didepan Frederitch “Seragam hitam? Lambang Dust Bones? Sepasang anak muda yang loyal terhadap Yang Mulia Alphonse, hey kalian buta? Aku manusia kok...” Ledek Valerin Grayii.


“Val, apa yang kau lakukan?” William Rovana mendekati Panacea, tampaknya mereka berempat juga terpojok.


Valerin Grayii mengedipkan sebelah matanya “Ini keahlianku, ketika mereka berdua kualihkan. Pana dan William segera bawa Alex menjauh. Okay?” Valerin Grayii itu tahu, sepasang pemburu  vampire ini memiliki target ganda. Bukan hanya memburu vampire, pada timnya hanya Frederitch seorang vampire. Sementara Valerin menjadi sasaran, karena Alphonse terobsesi padanya. Alex? Menurut Valerin, Alex masa depan dari Dust Bones untuk selesainya masalah kelak.


“Begitu ya? Tampaknya Al, mengirim orang yang kuat.” Batin Valerin menatap sepasang pemburu vampire itu.


“Apa yang kalian bisikkan? Ayolah, aku ingin segera memegal vampire itu.” Kata si wanita.


William sempat meraih pundak Valerin “Kau yakin?”


“Yakin, aku bersama Frederitch akan menjadi umpan. Setelah itu kita menyusul.” Ucap Valerin sambil mengangguk.


“Pergilah, Pana kuperintahkan lindungi Alex.”


“Baik, Tuan Muda. Setelah itu, tuan muda tetap berada pada lindunganku.”


“Aku tak akan mati dengan mudah, tenanglah.”


Valerin menatap William dan Panacea yang berlari menuju pintu belakang “Sekarang, kita imbang bukan?”


“Val, kau yakin?” Frederitch memang kuat, dia sanggup melindungi Valerin. Tapi, ada kecemasan tersendiri dari pemuda vampire itu.


Valerin mengangguk seraya tersenyum “Kalau hanya menghindar, itu keahlianku. Jadi tolong, lindungi aku ya.” Pinta Valerin dengan senyum manis.


Frederitch tidak bisa menolak permintaan itu, dia hanya mengangguk pelan seraya merubah matanya mejadi merah “Jangan jauh-jauh.” Peringatnya.


“Oh, kau pintar juga, Earl Grayii? Apa kau tahu rencana kami?”


“Uhm? Tidak sopan memanggilku, karena aku tidak kenal kalian berdua. Sehebat apapun itu, maaf ya...” Ejek Valerin.


“Tch. Si pendek itu!” Si wanita berseragam hitam tersulut emosi. Hendak maju namun ditahan oleh rekannya.


Valerin tertawa kecil, cukup dibuat panas sedikit ternyata pemburu vampire sudah terpancing “Hahaha. Benar, tanpa kupaksa sudah kau katakan. Dasar bodoh.”


“Kau!” Sebuah panah sengaja ia lepaskan.


Frederitch dengan mudah memegang panah itu “Val, berjaga dibelakang.” Ujarnya sambil melempar sembarang anak panah tersebut.


“Ck, Vampire...”


Si wanita berseragam hitam itu melesat menyerang Frederitch dengan sebuah pedang, bahkan serangan itu kombinasi antara dia dan pria berseragam hitam.


Frederitch tidak mudah diruntuhkan, kakinya menangkis pedang si pria dan tangannya memengang pergelangan si wanita. Boot yang dikenakannya terdapat logam disana, jadi pedang itu dapat ditangkisnya.


Kuat, jelas saja. Sebagai pangeran Vampire yang sudah berpengalaman di medan perang. Hal ini bukan apapun.


“Val!” Sentak Frederitch. Ketika si wanita nyaris mengayunkan pedangnya ke arah Valerin.


“Oh, Oh, nyaris aja. Kasar juga nona ini, memperkenalkan nama pun tidak. Ck, aku kan tidak tahu kalian? Oh jangan-jangan kalian memang tidak terkenal ya dikalangan pemburu vampire?” Sengaja, Valerin berkata menyulut amarah.


“Aku tak mengerti, apa yang dipikirkan oleh Valerin.” Batin Frederitch.


“Jangan alihkan perhatianmu vampire” Pria itu menarik pedangnya kemudian kembali mengayunkan pada Frederitch.


Valerin melirik Frederitch. Dia tak akan sempat menyusul arah Valerin. Kemudian Valerin mengangguk, seolah berkata dia akan baik-baik saja.


“Kau mengataiku pendek bukan nona sumbu pendek? Menyeramkan sekali sikapmu yang galak itu, apakah Lady seperti itu ya?” Ledek Valerin.


“Kau!” Wanita itu menggila dengan mengayunkan pedangnya.


Tapi, berkali-kali pula Valerin menghindar dengan ringan “Namaku Valerin Grayii, nona sumbu pendek.”Ucap Valerin yang sudah berada didepan pohon wisteria bersalju.


“Angelise! Namaku Angelise pendek, ck sudi saja tidak sampai namaku disebut oleh orang sesat sepertimu.”


“Woah, woah...” Valerin terkekeh, sejak tadi dia menghindar untuk mencari celah sekaligus mempelajari gerakannya. Biar bagaimana pun Valerin, sangat paham gerakan dari wanita itu.


“Terima ini! Kau akan mati!” Wanita itu mengayunkan pedangnya.


Valerin, cukup menendang tulang kering kaki kirinya. Bunyi retakan terdengar, retakan kayu “Yup, prostetik. Sama sepertiku dulu, eh tapi kenapa kaki buatanmu jelek sekali? Dari kayu? Yang benar saja?” Kata Valerin terhadap wanita yang sudah jatuh tersungkur itu.


Pria rekannya itu menepuk dahi “Angelise? Serius?”Keluhnya.


“Auguste bukan? Oh tidak salah Auguste Darlon, kau satu dari lima assasin. Kemudian nona bersumbu pendek ini, tampaknya Angelise Eclaire anak dari jenderal agung Dust Bones.” Ujar Valerin dengan tepat.


Keheranan Frederitch, bahkan dia tak mengenal dua orang utusan Alphonse ini.


“Aku Valerin Grayii, bertanggung jawab atas Obscure, katanya...” Valerin meringis pelan diakhir kalimat ucapannya “Jadi, apa yang membawa kalian kemari?”


“Menarik, kau orang yang elegan. Earl Grayii, kami memang bergabung dalam kavaleri khusus pemusnah vampire. Bagaimana anda bisa tahu kami?” Tanya sang pria berseragam hitam itu.


Valerin menaikkan kedua bahunya, padahal dalam pandangan yang samar dia melihat jiwa-jiwa samar yang sudah mati disini. Beberapa berbisik mengenai kedua pemburu vampire itu, Valerin tahu karena kekuatannya yang sudah berkembang itu “Tidak tahu, anggap saja aku google, oh jika dizaman ini mirip seorang pustakawan.” Canda Valerin.


“Angelise! Auguste! Stop, mereka tidak jahat.” Itu Leon Sirius, beruntung dia hanya bersama Tobias Cross.


“Bodoh.” Celetuk Valerin, dia susah payah mengulur waktu agar mereka semua melarikan diri. Tapi tampaknya hanya William, Panacea dan Alex yang melarikan diri.


“Leon Sirius, apa kau juga berkhianat?”


“Tidak, aku hanya berada di sisi pangeran Alex!”


“Bersama orang-orang ini?” Tunjuk pria itu menggunakan ujung pedangnya kepada Frederitch dan Valerin bergantian.


Valerin bukan orang yang tidak menghiraukan orang lain, Raut wajah Tobias Cross yang mengeras itu tampak mengebu-gebu. Pegangan tangannya pada kapak yang dibawa pun seperti mengeras “Kau! Pemburu yang membunuh seluruh warga desa tiga bulan lalu!” Bentak Tobias Cross.


Kedua mata Valerin Grayii membulat, desa ini merupakan desa para alchemist. Pantas saja sejak mereka tiba, desa ini begitu hening "Masuk akal,makanya jiwa-jiwa ini berkerumun disini." Ucap Valerin dalam batinnya.


Saat Valerin hendak berlari mendekati Frederitch, kakinya dipegang oleh Angelise, sehingga Valerin jatuh tersungkur “Aw...” Ringis Valerin.


“Kau, kau pria jelek, pendek dan menyebalkan!” Hina Angelise.


Valerin duduk sambil mengusap-usap kepalanya  “Aku ini wanita asal kau tahu.”


“Val!” Frederitch menatap cemas.


“Jujur saja, situasi ini gawat.” Batin Valerin memperhatikan Tobias Cross yang memanas, Leon Sirius yang terkejut, Frederitch yang mementingkan diri seorang Valerin dan dua suruhan Alphonse yang tampak tidak mau mundur itu.