
“Benar, kami hanya memiliki keturunan Gandaria, tanpa pengetahuan Obscure dan kemampuan Gandaria. Hanya rambut dan mata.”
“Ha?! Kastil?”
Valerin terperangah, kedua mata violetnya lebar tak percaya “K-kau? Pana, ayolah aku tak mengerti.” Gerutu Valerin.
Panacea hanya tersenyum menanggapi tuannya “Ayo, kita harus menghangatkan tubuhmu yang gigil Tuan Muda.” Ujar Panacea, membawa serta Valerin dan Leon menuju portal itu.
Kastil, bangunan berbata tua yang tampak lama. Tapi yang pasti, beberapa perabotan didalam kastil ini seperti ada dijamannya. Bedanya hanya, tampak berkarat dan lama. Seperti pemanggang roti dengan daya listrik, setrika, freezer dan pembangkit listrik dengan generator set.
“Wow, tapi kalian masih menggunakan lilin?” Ucap Valerin, yang baru berganti baju dengan kemeja putih beserta selimut tebal ditubuhnya.
Pria muda bersurai perak panjang itu mengangguk “Aku hanya mendapatkan benda-benda itu disekitar desa, mereka aneh bukan?” Suara pemuda itu lembut dan ramah, seiras dengan parasnya yang cantik sekaligus tampan.
Valerin sampai bertanya-tanya, apakah semua Gandaria seperti itu. Batinnya dalam hati.
“Oh, iya namamu, Valerin Grayii dari Hortensiaburg bukan? Seorang Earl yang jenius.” Puji pria itu sambil menuangkan susu hangat ke cangkir gelas didepan Valerin.
“Kau, tinggal sendirian di kastil ini?”
“Eh, aku? Tentu saja tidak. Yang lain sedang berburu rusa untuk makan malam, temanmu pria kuat itu juga ikut bersama mereka.”
“Maksudmu William? Eh iya Alexander dimana?”
“Ah, pria muda setengah vampire itu? Dia beristirahat dikamar, tadi kuliat pemuda yang bersamamu juga ada disana menemaninya.”
Valerin melirik Panacea yang duduk disebelahnya. Panacea amat tenang, bagaikan pria bernama Lyn Sander ini bukan ancaman.
Bunyi pintu dari lantai dasar terdengar, Valerin segera menoleh setelah tahu langkah kaki mendekat kearahnya “Kau, sedang sakit bukan? Jangan memaksakan diri, Will...” Ucap Valerin sambil mengusap-usap lengan William yang mendekapnya dari belakang.
“Selamat datang kembali, Earl Grayii...” Ucap William melepaskan dekapannya.
“Frederitch?”
Valerin terdiam dengan pertanyaan William, tatapannya gusar dan berpaling menatap cangkir berisi susu hangat “Kali ini aku tak mengetahuinya.” Geleng pelan Valerin.
“Sulit rasanya percaya jika dia meninggalkanmu untuk kembali ke Crave Rose.”
“Aku tahu, bahkan aku tidak percaya.”
Lyn Sander menuangkan susu hangat ke beberapa cangkir “Aku rasa Earl sedang patah hati.” Godanya seraya tersenyum.
Valerin memiringkan bibirnya “Tahu apa kau? Soal diriku?”
“Eh, jahatnya, tapi aku pengangummu Earl Grayii... Orang di desa selalu membicarakanmu. Kau idola dikalangan para alchemist.”
“Oh, apakah kau berasal dari desa yang sama dengan Tobias Cross?”
Lyn Sander, menghentikan kegiatannya menuangkan susu panas. Tampaknya ia terkejut “Benar, begitulah, aku berasal dari desa yang sama dengan Jenderal.”
“Pana, berarti kau mengenal Lyn Sander?”
Panacea menggeleng pertanyaan Valerin “Aku tidak kenal tuan Sander tapi aku mengenal maker dari tuan Sander.” Ujar Panacea sambil menghela nafas, sesungguhnya, Valerin akan semakin penasaran “Danielle Cross, alchemist yang menciptakan anak-anak Gandaria buatan dengan gen asli Gandaria, Danielle Cross itu... Orang tua Tobias Cross.” Jelas Panacea.
“Oh...” Valerin bergumam dengan nada datar, dia sepeti tidak tertarik dengan hal ini.
Panacea tersenyum “Syukurlah.” Ucapnya dalam batin.
“Aku harus bagaimana, Earl? Ha~ bukankah aku terlahir dengan unik?” Tanya Lyn Sander seraya menatap lamat sang Earl Grayii itu.
Valerin Grayii beranjak berdiri dengan selimut yang menutup sebagian bahu dalam balutan kemeja putih polos itu “Aku, tidak ingin terlibat dengan siapapun lagi, Panacea berkemas. Setelah badai salju mereda, kita harus kembali ke Hortensiaburg.” Ucap Valerin meremat ujung meja kayu.
“Ha?!” Sepertinya Lyn Sander tidak ingin Valerin segera pergi “Kau membutuhkanku Earl!” Bentak pemuda itu. Dari yang ramah dan lemah lembut, berubah beringas dan emosian.
Valerin menatapnya, biarpun sesama Gandaria, Valerin mengetahui kegagalan dalam diri pemuda itu “Desamu, tempat tinggalmu, sudah tidak ditempati para alchemist bukan? Ini semua ulah dari pemburu vampire yang aku sendiri tidak tahu kenapa?” Valerin menatapnya dengan tajam “Aku Earl, loyalitasku tetap pada Dust Bones, tapi Rajaku bersikap salah. Aku Valerin Grayii, bukan sekedar Gandaria, tapi seorang manusia yang berpikir untuk manusia lain. Kau paham?”
“Kau bisa selamat dari desa itu saja, sudah cukup Lyn Sander. Selagi itu, kau bisa hidup bebas tanpa kewajiban seorang Gandaria, percayalah... menatap jiwa yang sudah mati berkat Obscure bukanlah hal yang keren.” Valerin berucap dengan memegang ujung cangkir yang terasa sudah dingin.
“Aku tak ingin terlibat dengan keluarga Caleum lebih jauh, baik itu Danielle Cross atau Tobias Cross...” Tatapan lelah Valerin tampak celos saat itu, dia membalikkan tubuhnya.
“Terimakasih sudah menolong teman-temanku.”
“Ah, listrik generator itu cukup kau tarik saja tali diujungnya. Itu sangat membantu kegelapan di kastil ini.” Kata Valerin lagi.
Kecewa, hal itu yang Valerin Grayii rasakan. Dia tengah mengikat tali sepatu boots, sudah mengenakan pakaian rapih. Kemudian, memerintah Panacea membuka portal menuju kediaman Sirius lebih dahulu.
“Sudah siap?” Tanya William, menatap Alex, Leon, Panacea dan terakhir Valerin yang paling lesu.
“Kita buka portalnya.” Usai merapalkan mantera, portal itu terbuka pada kediaman Sirius.
Hening, tenang seperti semula.
Hal pertama yang mereka lihat, anak-anak yang sedang menanam berbagai bunga dihalaman Sirius. Mereka riang tertawa bersama Sabrina Sirius.
“Lihat, itu Tuan baik!” Seru Mario.
Valerin merentangkan tangannya. Membiarkan anak-anak itu berhambur dalam pelukannya “Kami merindukanmu...” Seru anak-anak kepada Valerin.
“Hm, aku juga rindu kalian. Maafkan aku yang selalu meninggalkan kalian semua.” Ucap Valerin nyaris menitikkan air mata.
“Selamat datang Earl...” Sambut Sabrina dengan senyumannya.
Valerin Grayii mengangguk “Edward, apakah dia dirumah?”
Pertanyaan itu membuat Sabrina membeku, dia gusar dan takut “Kakak, sudah dua minggu diutus turun dalam perang antara Dust Bones dan Crave Rose.” Pelan ucapan Sabrina “...Pihak Crave Rose memenangkan peperangan ini.” Lanjut Sabrina.
“Edward?!” Pekik Leon Sirius mendekati sang adik, meremat pundak Sabrina dengan erat “Apa dia baik-baik saja?”
Sabrina menangguk “Telegram kakak selalu tiba setiap tiga hari sekali, kakak memang turun perang tapi dia hanya mengawasi gudang persenjataan. Kepolisian memang tidak berwewenang banyak, katanya.” Ucap Sabrina.
“Earl Grayii...”
“Apapun itu Sabrina.”
“Earl, Yang Mulia Alphonse memintamu untuk menghadap beliau. Harap Earl memikirkannya, kami, tidak bisa menahanmu lebih jauh lagi Earl... Edward... juga.” Ucap Sabrina nyaris seperti bisikan.
Valerin Grayii mengangguk “Aku akan menemui Al sendiri.”
“Jangan!” Panacea dan William sama-sama berseru.
Valerin tersenyum “Alphonse, dia tak akan melakukan hal gila. Percayalah padaku.” Pinta Valerin Grayii.
“Val, berbahaya, dia jauh lebih gila.” Bujuk William.
Valerin menggeleng singkat “Sudahlah Will, sekarang pun aku tidak terlalu cemas, percaya saja padaku. Kau disini, jaga Pana dan anak-anak, bisakah?” Pinta Valerin.
William tahu tatapan pasrah seorang Valerin Grayii, gadis berpenampilan lelaki itu sudah lelah. Cintanya seperti akan berakhir, tapi Valerin pasti memikirkan sesuatu “Baiklah, kabari aku jika sesuatu buruk terjadi.” William berucap, hatinya berat sejujurnya cemas.
Valerin mengangguk kecil, sebaliknya Valerin tidak ingin orang-orang terlibat karenanya.
“...Tuan, ingin pergi lagi?” Tangan kecil Mario meraih tangan Valerin.
“Tapi aku akan kembali. Jangan khawatir...” Belai Valerin pada puncak kepala anak kecil itu.
.
.
.